Saturday, June 30, 2007

Budaya malu dan memalukan.



Malu atau memalukan bahasa yang terasa asing bagi bangsa ini sehingga kalau si Aa dulu dikampung ada peristiwa aib pasti si pelaku tidak berani keluyuran oleh karena sekampung tahu karena aib dan malu bahkan biasanya mereka mengadakan hajatan saja sembunyi-sembunyi sampai si jabang bayi nonghol kedunia, tapi dikampung sekarang sudah lajim dan nampak biasa saja. Itu khan dulu, beda atuh kalau dibandingkan sekarang dimana si bapak bangsa saja yang diketahui menerima uang DKP dari pak Rachmin Damhuri biasa saja dan tidak apa-apa. Namun kalau kita berkaca ke negeri tirai bambu yang memancung siapa saja yang menggerogoti uang negara tidak peduli anak menteri kalau korup yang dighantung dan diput seoluruh media dinegeri ini dan jangan kaget pertumbuhan ekonomi Cina termasuk tercepat didunia. Itu negeri komunis bung, kenapa dengan negeri agamis seperti kita bisa kagak kalau para pejabat dan konglomerat kita yang diketahui korup udah aja digantung kakinya di tugu Monas sampai minta ampun dan terkencing-kencing kapok sehingga BLBI dan semua kredit macet pengusahapun bisa dikembalikan sehingga kita bisa nyicil hutang. Tidak bisa begitu A, mungkin karena pejabat kita teh kalau mau nilep uang negara selalu berjamaah jadi akhirnya dilajimkan tidak apa-apa..dan dipolitisasikan sehingga perlahan juga lupa. dan rakyat kita memang gampang dibohongi dan luar biasa pemaafnya padahal harga minyak, gula dan terakhir si aa dengar harga susu-pun ikut naik.
Biasa aja kalau korupsi dinegeri ini sulit dihapuskan karena sudah jadi karakter bangsa dan menjadi bagian budaya primodial yang khas sehingga butuh adanya revolusi sosial dan budaya kata rekan sejawat. Namun kita berkaca skandal dinegeri ini mungkin ini bagian krisis moral yang berlanjut pada krisis peradaban yang mungkin berbalik akan melahirkan sebuah peradaban baru yang jauh lebih baik dengan menyisakan kebobrokan warisan masa lalu seperti warisan hutang, warisan budaya malu dan memalukan yang sampai sekarang belum tahu siapa yang bertanggungjawab."Gitu aja kok dipikiran", kata Gusdur ringan.

Thursday, June 21, 2007

Berkaca homeschooling H. Agus Salim.
Agus salim muda dikirim pemerintah Belanda untuk menyelidiki gerakan Sarekat Islam. Tapi bersama Oemar Said Tjokrominoto, ia malah menjadi dwi tunggal penggerak SI. Justru Agus Salim penentang Belanda yang gigih sepanjang hayatnya. Padahal ia anak seorang hoofdjaksa di Riau dan keturunan kaum ambtenaar (priyayi), yang biasa mendukung dan bekerja pada penguasa Belanda, walhasil ia menyempal dari lingkungannya.
Salim juga dikenal gigih memegang prinsip. Pada tahun1917, Salim yang telah menikah beberapa tahun sebelumnya, sempat terpaksa menganggur. Saat itu, ia sudah jadi kepala keluarga ditawari Belanda menjabat controluer belasting di Pontianak. "Lebih baik makan kerikil daripada saya menerima tawaran Belanda", tolaknya pedas.
Dimasa belanda, Agus Salim pernah menemui temannya yang bekerja disalah satu kantor Belanda. teman itu mengejek, "coba kalau kau mau bekerjasama dengan belanda, tentu kau tidak seperti sekarang". Tak lama, datang salah seorang adviseur belanda. Teman Salim sama sekali tak diliriknya, tetapi sewaktu dilihatnya Agus Salim, maka cobee, adviseur itu, datang padanya dan mengulurkan tangan dengan hormat. Setelah ia pergi, Salim berkata pada temannya, "Coba kalau saya bekerja sama dengan belanda, tentu seperti kau. meskipun saya tidak bekerja, tetapi mereka ternyata hormat pada saya"
pada awal pernikahan, Agus Salim berpesan pada isterinya, "kamu mesti banyak membaca dan belajar. sebab kalau nati kita mendapat anak kemungkinan tidak akan kita sekolahkan".Bagaimana mungkin putra tuan demikian lancar berbahasa inggeris, kalau dia tidak pernh bersekolah?" dengan ringan ia menjawab, "
Benarlah Agus Salim memang mendidik sendiri anak-anaknya dirumah, tanpa disekolahkan. Bukan saja membaca, menulis, berhitung, keislaman dan lainnya diajarkan, tapi juga berbagai bahasa asing. Anak-anaknya pandai berbicara berbagai bahasa asing. Pernah seorang tamu keheranan, "Pernahkah tuan mendengar tentang tentang sekolah dimana kuda belajar meringkik? kuda yang tua meringkik dan anak anaknya meniru meringkik pula. Demikian saya meringkik dlam bahasa inggeris dan sekarang anak saya meringkik juga dalam bahasa inggeris".

Dari kutipan : Tarbawi, ed.14 th 2, 30 November 2000.

Monday, June 18, 2007


Pendidikan proses yang hilang
Menanggapi sistem UAN yang telah melahirkan beberapa kontroversial karena sistem ini tidak memperhatikan proses pendidikan dimana pendidikan bukan sekedar penanaman nilai kognitif semata tapi didalamnya juga perbaikan sikap (apektif) dan keterampilan siswa didik (psikomotor). Sistem ini juga akan melahirkan politisasi pendidikan dikalangan birokrasi pemerintahan dengan dalih prestise keberhasilan sebuah pemerintahan yang dibebankan pada strutur vertikal sampai pada guru yang harus membuang jauh-jauh idealisme dan hati nuraninya untuk meloloskan agar siswanya lulus. Jelas sebuah dilema satu sisi menyangkut hati nurani dan sisi lain masa depan siswa serta beban psikologis siswa dan tidak pernah memperhatikan bagaimana mungkin proses pendidikan tidak diperhatikan hanya sebatas nilai. Jelas yang harus diperbaiki adalah 1) Perbaikan kultur ketidak jujuran akan hati nurani 2) Memperhatikan proses dalam pendidikan, 3). Berilah independensi sekolah dari intervensi diknas dalam penentuan kelulusan sehingga akan melahirkan kemandirian sekolah.4). Kalau seandainya masih memperhatikan perbaiki kualitas sistem paket yang materinya disesuaikan dengan jurusan bukan dengan mencampuradukan antara SMA dengan sekolah kejuruan, sungguh lucu siswa SMK harus diuji materi SMA seperti sosiologi-antropologi yang tidak pernah dipelajarinya. ini menunjukan pemerintah tidak begitu siap dengan sistem paket ini selain legalitas pengakuan ijazah ini seandainya lululusan paket ini ingin bekerja dan kuliah, sehingga bisa sederajat dengan lulusan normal.

Saturday, June 16, 2007


Peran buku

Seorang dikenal arif dan bijaksana, Ahmad bin Ismail, berkata :

Buku adalah teman bicara yang tidak mendahuluimu ketika kamu sibuk.
Tidak memanggilmu ketika kamu bekerja.
Tidak memaksamu berdandan ketika kamu menghadapinya.

Buku adalah teman kencan yang tidak menyanjungmu.
Sahabat yang tidak membujuk rayumu.
Dia adalah kawan yang tidak membosankan.
Penasehat yang tidak mencari-cari kesalahanmu."

Friday, June 15, 2007

Model pembelajaran sebuah alternatif?
suatu hal yang sering menjadi bahan perdebatan mengenai model belajar yang bagaimana yang sesuai dengan siswa ternyata sangat relatif sekali sehingga banyak sekolah yang terus mengkaji kembali sistem pengajaran klasik dikelas dengan siswa duduk sidakeup (tangan diatas meja dan diam tidak boleh berisik) kemudian menerima transfer ilmu yang sedikit basi dengan kekinian karena seandainya gurunya senang bernostalgia terkadang banyak contoh belajar jaman baheula lalu diceritakan pada anak sekarang dan beitu menjenuhkan siswa dan tidak bisa meningkatkan kompetensi siswa secara maksimal, sehingga bermunculan stigma masyarakat terhadap cara beljar klasikal ini seperti home schooling yang memperhatikan kemandirian dan improvisasi siswa dan kebebasan belajar kapan dan dimana saja, atau sekolah alam yang memadukan sistem pembelajaran yang lekat dengan suasana alam dan siswa bukan hanya mendengar tapi melakukan langsung.
Fun learning mencoba menciptakan suasana belajar yang menarik dan bahagia sesuai dengan kondisi anak dan jelas ini membutuhkan keterpaduan antara kurikulum, guru dan fasilitas serta kondisi sosial budaya siswa...?

Thursday, June 14, 2007


Memanusiakan Pendidikan ?
Ungkapan yang menyentuh hati kita nya, Lo! memang ada apa di dunia pendidikan kita? kenapa banyak orang yang sudah tidak percaya lagi pada pendidikan formal maka lahirlah homeschooling sebagai alternatif, bahkan Ivan Illich mengkritik : "Seseorang pergi ke sekolah, meningkat dari kelas yang satu ke grade lebih tinggi, lalu tamat sekolah, tetapi ia tidak terdidik" sehingga kita perlu memanusiakan kembali pendidikan yang menurut A.M Said (Media Dakwah, April 2007) karena pendidikan modern ini sudah tidak manusiawi lagi dengan berbagai alasan :
1>. Pendidikan tidak bisa menjadikan lebih baik dan malah menciptakan penistaan kehidupan (dehumnanisasi), Paulo Freire mengartikan those whose humanity has been stolen...a distortion of the vocation of becoming more fuly human.
2>.Rata-rata manusia modern sudah kehilangan dimensi diri yang sentral seperti nilai persaudaraan (ukhuwah), kerjasama (ta'awun), saling mengenal (ta'aruf), perdamaian (sulh), kasih sayang (rahmat), kebaikan (ihsan), toleransi (tasamuh) dan pemaaf (afwun) 3>.Pendidikan modern yang sekuler dan liberal tidak memperhtikan sewajarnya kepada aspek pembentukn akhlak dan rohani yang sehat. Hans Kung berpendapat era modern ini sebagai era yang tidk alami (not natural) dan kehilangan sense of God sehingga manusia telah menjadi manusia tanpa Tuhan (godless being) dan dunia tanpa Tuhan (godless World)
4>. Pendidikn modern menghasilkan manusia yang cold hearted, knowledge barbarians dan skiller barbarians seperti presiden dunia yang demen menguasai dan menjajah manusia lemah
Humanizing :"a) To potray or endow with human charcteristics or atributes; make human b). To inbue with humaness or human kindness;civilize.

Dapat kita lihat renungan kecil tentang pendidikan :
Anak-anak belajar dari kehidupan :
Jika seorang anak hidup dalam suasana kemarahan, ia belajar untuk mengutuk
jika seorang anak hidup dalam suasana permusuhan, ia belajar untuk ribut
jika seorang anak hidup dengan cemoohan, ia belajar untuk ragu
jika seorang anak hidup dengan aib, ia belajar untuk merasa salah
jika seorang anak hidup dengan toleransi, ia belajar untuk sabar
jika seorang anak hidup dengan kemarahan ia kan belajar untuk yakin
jika seorang anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai
jika seorang anak hidup dengan keselamatan, ia beljar untuk percaya
jika seorang anak hidup dengan persetujuan, ia belajar untuk menyukai
jika seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar untuk menemui kasih sayang didunia ini.

Kutipan : A.M.said, Media dakwah, ed.377, mei 2007, hal.9-12

Wednesday, June 13, 2007

Siapa sebenarnya orang sunda?

Siapa sebenarnya yang disebut orang Sunda? Pertanyaan ini kembali menggelitik setelah Acil Bimbo saparakanca sukses mengadakan acara Gempungan Urang Sunda di Gasibu, Senin 11 September, yang dihadiri ribuan warga Sunda dari berbagai kalangan.

Menurut Acil, Gempungan Urang Sunda merupakan bentuk kegelisahan Acil dan tokoh masyarakat Sunda lainnya terhadap eksistensi Sunda yang saat ini terpinggirkan. Tidak hanya di bidang politik, di hampir semua bidang, masyarakat Sunda seolah tak berdaya meski berada di urutan kedua etnis
terbesar di Indonesia.

Pada acara puncak, personel grup musik Bimbo ini pun berteriak lantang menyebutkan tiga poin deklarasi warga Sunda. Intinya, ikrar itu untuk membangun kebersamaan dalam menjaga Jawa Barat agar tetap kondusif.

Ada dua kata yang kerap dipertukarkan begitu saja-bukan hanya terdengar pada acara Gempungan Urang Sunda itu seakan-akan memiliki arti yang sama: Sunda dan Jawa Barat. Sebab, kenyataannya, tidak semua orang Jawa Barat adalah orang Sunda. Wong Cerbon dan Dermayu banyak yang tidak merasa diri mereka orang Sunda.

Sebaliknya pun begitu, tidak semua orang Sunda berada di Jawa Barat. Bukankah di wilayah Provinsi Banten berdiam banyak orang Sunda? Jangan lupa, di bagian barat Provinsi Jawa Tengah, di Kabupaten Brebes, dan Cilacap terdapat juga masyarakat yang sehari- harinya berbicara bahasa Sunda, memelihara bermacam seni Sunda (wayang golek, calung, jaipongan, dan lain-lain), dan merasa diri mereka adalah orang Sunda. Kerajaan Sunda

Sunda sebagai sebuah etnis boleh jadi sudah ada sejak zaman prasejarah. Berdasarkan data dan penelitian arkeologis, wilayah (yang sekarang disebut) Jawa Barat (dan Banten) telah dihuni oleh masyarakat Sunda secara sosial sejak lama sebelum Tarikh Masehi. Situs purbakala di Ciampea (Bogor), Klapa Dua Jakarta), dataran tinggi Bandung, dan Cangkuang (Garut) memberikan bukti dan informasi bahwa lokasi lokasi tersebut telah ditempati oleh kelompok masyarakat yang memiliki sistem kepercayaan, organisasi sosial, sistem mata pencarian, pola permukiman, dan sebagainya, sebagaimana layaknya kehidupan masyarakat manusia betapa pun sederhananya.

Namun, sebagai sebuah wilayah (kerajaan), nama Sunda baru muncul pada abad ke-7, ketika Tarusbawa, raja terakhir Tarumanagara, mengubah nama kerajaan itu menjadi Sunda, tahun 669 M. Tak lama setelah Tarusbawa mendirikan Kerajaan Sunda, maharaja Galuh, Wretikandayun, melepaskan diri dan membentuk sebuah negara yang berdaulat. Jadi, pada saat itu di belahan barat Pulau Jawa terdapat dua kerajaan yang (relatif) besar, yakni Galuh dan Sunda, yang dibatasi Sungai Citarum.

Sebagai sebuah wilayah kerajaan, Sunda mengalami pasang-surut. Pada awalnya, kerajaan Sunda hanya meliputi wilayah seluas kira-kira separuh Jawa Barat, yakni dari Ujung Kulon hingga Citarum. Ketika Sunda dan Galuh bersatu, wilayahnya pernah mencapai Banyumas dan Brebes. Kerajaan Sunda mengalami kemunduran setelah Sri Baduga meninggal. Para penggantinya (Surwisesa dan seterusnya) gagal mempertahankan kejayaan Sunda. Kerajaan ini pun makin lama makin surut, hingga berakhir pada masa Ragamulya Suryakancana tahun 1579 M. Titi mangsa inilah yang kita kenal sebagai saat runtagna Pajajaran.

Sebagai sebuah wilayah administratif, Jawa Barat merupakan provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (Staatblad Nomor: 378). Provinsi Jabar dibentuk berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat. Toh, 50 tahun kemudian dengan lahirnya UU Nomor 23 Tahun 2000 tentang Provinsi Banten, wilayah administrasi pembantu gubernur wilayah I Banten resmi ditetapkan menjadi Provinsi Banten, yang meliputi Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten/Kota Tangerang, dan Kota Cilegon.

Bisa disimpulkan, sekali lagi bahwa Sunda tidak sama dengan Jawa Barat dan Jawa Barat tidak sama dengan Sunda. Sebagai sebuah etnis, warga Sunda bisa berada di mana saja, di Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Papua, bahkan Eropa, Amerika Serikat, dan lain-lain. Warga Sunda adalah warga dunia. Sebagai sebuah wilayah, Tatar Sunda juga berbeda dengan Jawa Barat.
Untuk menentukannya pun lebih sulit lagi, dan rasanya tak relevan lagi menentukan wilayah yang disebut Tatar Sunda secara administratif. Siapa orang Sunda?

Jadi, siapa sebenarnya yang disebut orang Sunda? Pendapat HR Hidayat Suryalaga, inohong yang tak perlu diragukan lagi kesundaannya, menarik untuk dicermati, kemudian diresapi dan diimplementasikan. Menurut Hidayat, siapa pun Anda yang memenuhi salah satu saja dari empat kriteria berikut:

pertama, merasa diri menjadi orang Sunda;
kedua, orang lain menyebut Anda orang Sunda;
ketiga, ayah dan ibu Anda orang Sunda asli;
dan keempat, tingkah laku dan cara berpikir Anda sehari-hari persis orang Sunda meskipun orangtua Anda bukan Sunda, maka Anda adalah orang Sunda.

Bila kita memakai kriteria ini, jelaslah siapa yang disebut orang Sunda. Namun, kriteria ini pun menimbulkan pertanyaan. Misalnya, jika seseorang merasa diri orang Sunda, dan orang lain menyebut dirinya Sunda, serta orangtuanya Sunda asli, tetapi ternyata ia bertingkah laku yang tak sesuai dengan orang Sunda (misalnya, melakukan korupsi), pantaskah ia disebut orang Sunda?

Dalam kaitan ini, patut digarisbawahi orasi Jajang Cahyana, seorang yang diperkenalkan sebagai tukang becak, pada acara Gempungan Urang Sunda di Gasibu, dua pekan lalu.

Naha enya urang Sunda nu ayeuna jareneng teh nyaah ka rayat leutik? Naha enya urang Sunda nu aya di dieu malire ka jalma leutik siga kuring? Buktina, kuring nu cicing di pasisian kungsi nandangan lapar dua poe euweuh nu malire. Kuring ngalaman dibuburak pira jadi tukang mulung”.

“Saat pemilihan anggota dewan di Kabupaten Bandung, hampir semua tukang becak di daerah saya memilih seorang anggota dewan asal Sunda. Tapi sekarang, orang itu sama sekali tidak pernah lagi muncul, bahkan tidak pernah bersuara. Karena itu, orang Sunda jangan mau dibohongi lagi,” katanya.

Jadi, yang penting sesungguhnya bukanlah atribut atau engakuan, melainkan sikap mental dan cara berpikir. Apakah sikap mental dan cara berpikir kita sudah mencerminkan sebagai orang Sunda? Hanya kita yang bisa menjawabnya.

HERMAWAN AKSAN (kompas, 27 Sepetember 2006)
Penulis Cerpen, Novel, Esai

Cacing cau bagaimana melihat politik diatas?


Pertentangan politik dinegara teh membingungkan, coba setelah pak Amien berterus terang adanya penyaluran dana DKP saat kampanye presiden dan ditanggapi presiden kita...duh kumaha pemimpin kita teh begitu emosional atuh pada ribut, tidak memikirkan rakyat kecil seperti kita, duh ibu-ibu mengeluh harga minyak melesat, duh keluarga yang bingung menghadapi tahun ajaran baru gimana nasib penerus bangsa yang putus sekolah gara-gara uang bangunan yang mahal sekali, ditambah tidak tahu akibat press conference pak SBY untuk mengkantur fitnah bapak reformsi kita bisa berpengaruh menurunkan minyak curah ..itulah untuk urang lembur mah yang kerjanya swasta apalagi si Aa guru swasta tanpa UMK mah tidak ngaruh politik teh, tapi kita juga jangan sampai apriori terhadap politik, nya yang penting sekaran tapi lihatlah jauh bagaimana rakyat di pelosok-pelosok gimana sih janji saat kampanye.
Ada juga yang mengingatkan pak Amin sudahlah kembali kekandang lagi jangan buat terus sensasi nya, tapi ceuk si Aa mah jangan lihat Muhammadiyah-nya yang teu mais teu meuleum* jadi cela gara-gara keterusterangan dan kejujuran pak Amin yang kebetulan orang Muhammadiyah dan kebetulan dari PAN, isin atuh tapi untungnya urang lembur teu walakaya. masih banyak yang perlu kita benahi dari rakyat kita, sekali lagi rakyat itu tidak berdaya, uang rtusan juta bagi-bagi, sementara rakyat kita merintih-rintih, sok balikeun uang teh kembali ke rakyat. untungnya diurang mah rakyatnya baik-baik, tapi kalau dinegara lain ini bisa jadi skandal, mungkin namanya :DKP-gate dan kita tiru tuh orang jepun-mah pasti langsung menyerahkan uang itu ke negara dan langsung harakiri sebagai tanda penyesalan, tapi pemimpin politik kita berani, gak? ini hanya celoteh urang lembur jangan dimasukan ke hati nya bapak-bapak yang diatas......Bahasa kitanya, masih punya budaya malu kagak, kalau kagak mah inimah jadi sekedar wacana pemberantasan korupsi teh.

*teu mais teu meuleum=
tidak tahu menahu tapi kena akibatnya.

Cacing cau mah sekedar menyaksikan

Bahagia sekali saat mendengar pak SBY mau bertemu pak Amien, biar polemik negara tidak panjang. Tapi mereketehe jangan sambil lalu, DKP-gate-nya harus tuntas dan tentu saja banyak hal yang harus kita secepatnya perbaiki, jangan sampai polemik ini sekedar bumbu penyedap persiapan bapak-bapak bangsa kita untuk tahun 2009. Oleh karena kalau si Aa lihat mah ada unsur politiknya daripada korupsinya, padahal dilansir dana budgeter bukan hanya di DKP saja tapi didepartemen lain tidak terendus keberadaannya atau dana LBI kumaha sekarang keberadaaanya?
Ternyata korupsi juga merebak di PNS bukan hanya level departemen ada istilah gratifikasi yang menurut UU no 20 tahun 2001 pasal 21b ayat 21 gratifikasi diartikan :"Pemberin dalam arti luas yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginpan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya"
Sok kita lihat Menurut KPK contoh-contoh pemberian yang dapat dikategorikan sebagai gratifikasi :

  • pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terimakasih telah membantu.
  • hadiah atau sumbangan pada saat perkawinan anak dari pejabat oleh rekanan kantor pejabat tersebut.
  • pemberian tiket perjalanan kepada pejabat atau keluarganya untuk keperluan pribadi secara cuma-cuma.
  • pemberian potongan harga khusus bagi pejabat untuk pembelian barang atau jasa dari rekanan.
  • pemberian pinjaman tanpa bunga kepada pejabat dari rekanan.
  • pemberian biaya atau ongkos naik haji dari rekanan kepada pejabat
  • pemberian hadiah ultah atau pada acara pribadio dari rekanan
  • pemberian hadiah atau souvenir kepada pejabat pada saat kunjungan kerja
  • pemberian hadiah atau parsel kepada pejabat pada saat hari raya keagamaan oleh rekanan atau bawahannya. Tuh, keras nya menurut si Aa pejabat ayeunna tidak bisa serampangan semua kena delik gratifikasi. Ceunah aturan semakin ketat, leubih pintar manusia untuk mengakalainya, apalagi kalau hatinya sudah tertutup. Punten we, sanes ngajar ngojay ka meuri!

Ririungan urang lembur

Deur lagi gimana menyatukan kembali urang lembur biar kompak gitu, sok panas kalau melihat orang sumatra pulang kampung bukan sekedar buang uang, tapi membangun kampung, coba program bona pasogit orang batak atau pulang basamo-nya urang awak. kebetulan si Aa dapat isteri orang sumatra jadi bisa membandingkan, kalau kaya gitu bisa nggak diterapkan oleh orang priangan yang mencoba pulang kampung tapi aya hasilnya. kata si Uni sulit sekali, tidak sesuai dengan karakter sunda yang katanya individualistis sekali, untuk gaya dan penampilan boleh deh habis-habisan kalau bisa uang setahun ngempit-ngempit habis sehari karena untuk hura-hura, biar terlihat sukses di Jakarta.
Jadi untuk dikumpulkan untuk membantu saudara kita yang anak-anaknya mau masuk sekolah bulan juli besok sehabis ujian nasional yang tak kalah rumitnya. Ujian sulit, sakola rumit, bahasa si Aa, katurug katutuh dan urang lembur teu walakaya menghadapi tahun ajaran baru teh, coba budayakeun zakat profesi ti urang lembur anu gawe dikawasan jabodetabek keu membantu sekoahnya si ujang-nyai di lembur, berkah pisan. Ceuk si Uni mah hebat kalau orang sunda bisa seperti itu, kompak lain pagaya-gaya ka lembur, padahal tidak mampu berbuat apa-apa. si Aa malah era parada, da si Aa sendiri tidak mampu apa-apa hanya sekedar omdo di blog ieu, mudah-mudahan menghidupkan kembali paguyuban AS-Gar dimana sekarang posisinya ?

kawin silang, siga seling (bibit jeruk) wae.


Menikah antar suku antar bangsa kenapa tidak ? bukan suatu yang tabu, cuma terkadang kita termakan mitos yang kata kebanyakan ada benarnya, tapi menurut si Aa-mah itu teh tahayul buktinya sampai sekarang biasa saja, bahkan saya malah mengajak ke balarea untuk menghilangkan budaya pilih-pilih suku dalam menentukan calon pasangan karena "Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling taaruf".

Banyak keuntungan kalau menikah dengan beda suku, kita lihat dari bibit saja akan melahirkan ras baru, sok kebayang geulisna campuran sunda dan suku Batak, eksotik ceunah. belum lagi bisa menghindari penyakit keturunan yang diakibatkan terlalu dekatnya darah kita seandainya kita menikah dengan suku sendiri yang mungkin pertalian darahnya terlalu dekat. ditambah lagi sunnah rosul ceuk si upi mah yang katanya punya cita-cita untuk tidak menikah dengan pemuda awak. Apalagi dengan menikah beda suku semakin memperkaya budaya menambah saudara dan bisa saling memahami karakter suku lain sehingga kita bisa berempati dengan suku lain dan menghilngkan sentimen kesukuan yang kuat dan menutupi silaturahmi, kita dengar dari teman si Aa ada kata-kata : "Dasar Batak kerjaan begitu? dasar padang atau banyak kata-kata menyakitkan" Padahal kata-kata tersebut banyak hal yang tidak menghargai dasar kemanusiaan yang sama baiknya, padahal dimata yang Maha Kuasa hanya orang bertakwa, sanes kitu?
Cuma dasar pernikahan suku juga ada lika-likunya. Pertama. saat kita mengsosialisasikan calon kita pada orang tua kita harus sudah punya kekuatan untuk menepis anggapan-anggapan miring, artinya pelajari dulu dong budayanya, kebetulan dulu si Aa mengajar Antropologi sedikitnya tahulah kelebihan si upi, artinya kita harus meyakinkan sekali dengan keputusan yang pasti akan kena introgasi keluarga besar. Kedua, yang tak kalah penting jelas harus seakidahlah, biar biduk kita seirama didunia dan diakhirat. jadi agama ditempatkan sebagai posisi pertama saat kita menikah, artinya kalau beda agama yang bingung nanti buah hati kita mau ngikut agama siapa? janganlah beresiko walau cantik dan ganteng, sebab hidup kita panjang bukan hanya masalah nafsu semata tapi didalamnya. ketiga, jelas ada penyesuaian yang cukup lama karena kita beda budaya, beda selera makan dan beda kepribadian, intinya saling mau belajar budaya dan bahasa masing-masing. keempat. jelas menikah beda suku itu anugrah Allah yang bisa menguatkan kekokohan keluarga kita yang beragam. Terkhir. Harus mencoba dan jangan menutup pintu untuk mencoba menikah sebagaimana rasulullah menganjurkannya. Siapa takut, A!

Kacang lupa kulitnya


Mau nimbrung lagi tentang semakin lupa dan nyusutnya penguasaan bahasa daerah terutama urang lembur yang ngumbara (*perantau) kekota, jangan sampai ada ungkapan kacang lupa kulitnya. Mentang-mentang sudah lama tinggal di metropolitan yang katanya modern kita malah lupa dengan jatidirinya sehingga kita malah kebetawi-betawian saat kelembur sehingga bahasa sunda-nya amburandul bercampur baur dan malah jadi norak dan memalukan kita, pastinya bahasa urang teh kedah dimumule (**dipelihara) oleh siapa lagi kalau bukan kita.

Caranya bagaimana ? seperti biasakan kalau dirumah biasakan pakai bahasa daerah dengan keluarga kita sehingga pembiasaan ini akan tertanam pada anak-anak kita yang memang lahir dan besar di ibukota tidak melupakan asal-usul budayaanya termasuk bahasa ibunya. Hal lain, kenalkan budaya daerah dengan mengajak rekreasi liburan ketempat asal bapak-ibunya biar tahu kehebatan budaya asal daerah, sehingga akan melahirkan kebanggaan sukunya.

Ashobiyah (***fanatisme suku) menurut agama tidak boleh berlebihan tapi posisi ini adalah penanaman jati diri, biar bisa melestarikan bahasa daerah yang mulai tergeser posisinya dengan bahasa Indonesia. Bandung-pun tidak jauh berbeda dengan ibukota yang lainnya sudah terdesak dengan semakin sulitnya penguasaan bahasa sunda terutama generasi mudanya. Tentu saja suatu waktu kita akan sempat menyaksikan bahasa sunda hilang dari peredaran, tentu saja kerugian sebuah budaya yang memotong generasi dan sejarah masa lalunya. Sungguh sebuah ironi besar, bila itu terjadi didaerah pasundan. Aplagi materi bahasa sunda malah dipandang sebelah mata (kasus Bekasi) bila dibandingkan dengan bahasa lainnya, katanya sulit dicerna ditambah guru yang menyampaikan bukan orang sunda dan sama sekali tidak mengenal budaya sunda, sungguh sebuah kesalahan besar justru terjadi didaerah pasundan. wallahu alm bishowab.

Tuesday, June 12, 2007

Quovadis pendidikan kita?

Membahas pendidikan tidak pernah bosan selalu dihadapkan perubahan sistem. bahasa si Aa ganti mentri ganti sistem kurikulum. Sok hati nurani kita bagaimana dengan sistem sekarang dimana pentargetan kelulusan mendorong pengebiarian hati nurani,kata rekan sejawat hanya pendidik idealis saja yang begitu.
Coba pikirkan lagi betapa mahalnya pendidikan dikita sehingga bagi rakyat kecil dalam menghadapi tahun ajaran besok serasa sesak sehingga butuh dua kali untuk menyekolahkan dengan bergilir antara adiknya dan kakaknya, lalu kemana para aghniya yang kelebihan harta dan bagaimana dengan janji pemerintah yang sebatas BOS dan BKM yang tidak seberapa bisa membantu rakyat kecil. Pendidikan berat dan memberatkan tapi untungnya masih punya hati dan kebesaran jiwa sehingga rakyat kecil bisa terus menyongsong hidup yang serba berat tapi harus kita hadapi dengan modal keikhlasan terutama guru-guru hebat yang sama memikirkan bisa nggak anaknya sekolah seperti dirinya, bisakah mereka hidup jauh lebih baik, bisakah mendapatkan pendidikan gratis dan masih banyak pertanyaan yang entah pada siapa dia tujukan, karena tidak tahu dan tidak bisa menjawabnya, termasuk dirinya dan orang-orang yang sedang berhadapan dengan tahun ajaran baru sekarang ini.

Buku Murah Gimana bisa, Gak?

Si Aa sangat tertarik usulan dari IKAPI dalam pesta buku Jakarta 2007 tanggal 2 juni 2007 (kutipan Warta Kota, 4/6/2007) kemarin tentang regulasi bagi pajak kertas dan pencetakan buku dibebaskan biar harga buku bisa murah, termasuk pajak bagi penulis buku agar memacu produktifitas menulis buku-buku berkualitas menurut si Aa-mah perlu dipikirkan, kalau perlu kembangkan program buku murah bagi rakyat seperti people’s book di India untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap buku. “Jadi setiap buku dibuat dalam dua versi, versi bagus hardcover yang pasti harganya mahal bagi yang mampu membeli dan versi hemat dari kertas murah dan mendapatkan subsidi dari pemerintah

Memang berhubungan dengan buku di Indonesia memang serba sulit kalau urang lembur mah boro-boro untuk beli buku untuk makan sehari-hari saja susah. Begitu juga Keluhan bapak-ibu guru bagaimana bisa pintar untuk beli buku saja tidak sanggup, padahal guru katanya harus mengikuti kekinian yang selalu di update terus ilmunya yang nantinya siswa-pun bias mencocokan dengan perubahan teknologi masa kini. Untuk yang satu ini, kita para pengajar tertinggal jauh dengan Negara lain seperti Malaysia atau singapura. Apalagi sampai teknologi internet ataupun pemilikan laptop mah, kalah sama Tukul Arwana yang mengaku Ndeso tapi tag-nya sangat berpengaruh : “kembali ke laptop!” dan guru-guru teh sangat iri saat mendengar para abdi rakyat minta anggaran untuk beli laptop sampai 21 juta rupiah per-angota dewan.(keur naon gede-gede teuing!!) Mereketehe kalau punya keinginan teh sok membuat hati para pahlawan tanpa jasa pada ngaleungis (terharu) dan keuheul sok nyolok mata bunceulik* dan nyosok jero serta pikasebeleun**.

Jadi wajar kualitas pendidikan kita tidak pernah beranjak dan semakin rumit dan banyak teman si Aa yang akhirnya pasrah dengan kekurangan saat ini sehingga mengajar sesuai dengan ilmu yang dimilikinya terkadang siswa jauh lebih tahu, artinya siswa lebih pintar dari gurunya dan hal ini tentu saja sebuah ironi? Bagi si Aa sendiri gimana mengsiasatinya, sederhana pisan ngumpulkeun per-dua bulan untuk membeli buku atau banyak baca informasi di yayasan yang kebetulan berlangganan Koran dan sedikit terbantu setelah pihak yayasan memikirkan dibuatnya jaringan internet antar lembaga sedikitnya sangat terbantu sekali, apalagi untuk bahan materi perkuliahan malam termasuk untuk tugas kuliah mahasiswa.

Jadi biar dapat menyerap informasi murah banyak cara atuh, sok usuklan bagi para pemilik sekolah bagi peningkatan sumber informasi guru banyak cara atuh yang bisa dilakukan tapi jelas belum tentu diterima para kepala sekolah atau pemilik yayasan dengan berbagai pertimbangan komersial seperti :

Satu, sediakan berbagai jenis surat kabar diruang guru sehingga informasi kekinian bisa diserap sebagai bahan materi pengayaan saat mengajar. Kedua, sediakan lemari kaca referensi buku pengajaran sejenis handbook atau ensiklopedia pendidikan sehingga seandainya guru butuh materi pengembangan sedikitnya tersedia, ketiga buat program arisan buku bagi guru yang bisa menjembatani hubungan guru dengan sumber ilmu pengetahuan. Keempat, rada mahal tapi jauh lebih produktif dengan menyediakan jaringan internet yang bisa dimanfaatkn bapak ibu guru untuk mengkses IPTEK secara uptodate, baik yang berhubungan dengan kekinian maupun perkembangan pendidikan. Sok pasti para guru tambah pintar atuh Kelima, tambah berat dan sulit diwujudkan pada saat negara sedang krisis seperti ini dengan tingkatkan honorernya kalau bisa perlakukan guru swasta non-PNS seperti para karyawan PT dengan dikenakan UMR walau bagi rekan-rekan guru honorer-mah sebuah hayalan kelas tinggi karena pemerintah tidak akan berani memperlakukan guru seistimewa itu apalagi sampai meng-PNS-kan semua guru honorer yang ternyata jumlahnya jauh lebih besar. Bisa-bisa Negara bangkrut atuh untuk membayar guru sebanyak itu. Kalau kesejahteraan guru meningkat yakin dah mereka mampu menganggarkan untuk membeli buku setiap bulannya. Keenam, sekali-kali berikan reward bagi guru yang rajin dengan hadiah buku paket setiap tahun sekali.

Begitulah kiranya usulan urang lembur, bolehlah kita miskin harta tapi jangan sampai kita misikin spirit dan kreatifitas. Karena harta kita yang masih ada hanya spirit inilah yang sampai saat ini bisa tetap eksis di dunia pendidikan selain rasa syukur dan keinginan mau berubah dari tahun ketahun yang penting kita berusaha dengan kemndirian. Punteun sampaikan keluhan ini pada inohong dan para pemerhati pendidikan dan bagi yang merasa urang lembur di rantau sejabodetabek dan rekan sejawat si Aa di dunia pendidikan berikan komentarnya , moal digegel gara-gara berkomentar dan jangat takut sampai didengar oleh inohong rakyat.

*Istilah ingin enak sendiri sementara orang lain hidup susah.

**Berlebihan dan memuakkan rakyat.
Trik mencari sekolah ?

Menurut si Aa, Kalau terus dipikirkan memang pusing menyekolahkan anak berbenturan dengan kebutuhan tahunan lainnya, apalagi tidak sempat mengasuransikan pendidikan anak kita sebelumnya. baik kebutuhan pendaftaran dan alat peralatan sekolah baru plus sekolah yang cocok dengan keuangan dan minat serta bakat anak kita. terlebih disaat kondisi ekonomi masih belum mapan jelas efisiensi dan efektifitas keuangan kita harus dipertimbangkan.
Apa yang harus dipertimbangkan saat ingin memasukan sekolah terutama kejenjang menengah dapat dilihat dari beberapa hal : 1> Orientasi menyekolahkan (mau lanjut kuliah jelas anda harus memasukan ke SMA dengan pertimbangan keuangan, keuangan untuk kuliah tidak bisa diperkirakn dan anda akan lebih baik kalau dimasukan ke sekolah kejuruan yang sesuai dengan bakat dan minat sianak, kerena peluang kerja dari SMK lebih prosfektif. Apalagi kemungkinan pemerintah akan memperhatikan sekolah kejuruan karena kebanyakan lulusan SMA malah tidak kuliah, sedang jenjang sekolah dasar dan lanjutan orientasi penanaman keagamaan pada anak dijadikan landasan utama biar anda tidak lagi membenahi sendiri pemhmn keagamaan sejak dini setelah menitipkan sekolah berbasis agama yang kuat jelas bekal si anak sangat perlu dipertimbangkan bila dibandingkan dimasukan kenegri yang dirasakan masih kurang materi keagamaannya, baru membebaskan si anak saat masuk jenjang SMA/SMK) 2>. Status sekolah (negeri tidak masalah, tapi kalau anda memilih sekolah swasta biasa non unggulan (boarding school) harus melihat akreditas-nya) 3>. Lokasi sekolah jelas akan berpengaruh terhadap biaya transpfortasi harian dan kondisi fisik anak, sehingga perlu adanya informasi yang lengkap sekolah sekeliling rumah kita, selain bisa mudah mengontrol anak ke sekolah. 4>. keunggulan sekolah, poin yang tidak bisa dilewatkan untuk memasukan sekolah seperti adanya program akselerasi, atau kompetensi seperti hapalan juz 30 Al-Qur'an atau pelatihan dan ekstrakurikulernya yang lengkap, kegiatan karya ilmiah dan daya serap clink and mach di dunia kerjanya bagaimana?termasuk adakah beasiswa sehingga bisa meringankan bebasnya pendidikan 5>. Kualifikasi guru-pun harus kita tanyakan, apakah ada guru non-S1 atau bagaimanakah pengalaman dan kemampuan profesionalnya. 6>. Kemampuan pembiayaan, jauh lebih pentingkan karena kita ketahui biaya pendidikan di negara kita sangat mahal terutama sekolah swasta unggulan jauh lebih mahal harganya, jangan sampai anda idelis ingin memasukan ke sekolah terbaik sementara kemampuan keuangan kita masih minim 7>. jelas mencari sekolah yang prospektif untuk bekerja setelah lulus jauh lebih efektif untuk menghemat pengeluaran keuangan anda.
Sebagai orang tua kita selalu memberikan yang terbaik dan pendidikan terbaik bentukwarisan yang abadi dari kita sehingga masa depannya jauh lebih baik daripada pendidikan orang tuanya.

Monday, June 11, 2007

Mengamati bola lieur, apalagi menghadapi tahun ajaran baru?
Kalau ngomong persiapan sekolah, jauh lebih lieur kalau punya anak yang pas masuk semunya pada bulan juli besok. Banyak biaya keluar, sok siapkan baju, tas barunya selain uang masuk plus uang bangunan, plus untuk anak paling gede harus siap biaya SPMB. biasanya tabungan mang-tahun-tahun habis dengan hujan sehari, kalau tidak dikeluarkan bagaimana pendidikan itu penting, Lo! harus punya keinginan pendidikan anak kita kalau bisa melebihi bapaknya, bukankah kehidupan dari generasi harus lebih baik dari generasi sebelumnya. warisan yang paling baik itu adalah ilmu yang bermanfaat. Soalnya bukan itu nya, itu pulus-nya, apalagi hidup di Bekasi terasa sesak kaya si Aa yang guru honorer harus kerja keras ngajar sana ngajar sini, bisnis sana bisnis sini. Syukurnya orang kecil kayak si Aa yang berusaha dan menerima dan percaya lobang rizki ada dimana-mana, tinggal kita bagimana meningkatkan usahanya.

Friday, June 8, 2007

Sipat jalma dumasar kana rupa-rupa hitutna

Ditulis ku : ndoell - tukang teuing

Jalma jujur
Jalma nu daek ngaku mun geus hitut

Jalma teu Jujur
Jalma nu hitut tuluy nyalahkeun batur

Jalma belegug
Jalma nu nahan hitut mangjam-jam lilana

Jalma nu berwawasan
Jalma nu apal iraha kuduna hitut

Jalma nu Misterius
Jalma nu hitut tapi batur euweuh nu nyahoeun

Jalma nu sok gugup
Jalma nu ujug-ujug nahan hitut mun keur hitut

Jalma nu Percaya Diri
Jalma nu yakin yen hitutna seungit

Jalma nu Sadis
Jalma nu hitut bari dibekep ku leungeun tuluy dibekepkeun
ka irung batur

Jalma nu Isinan
Jalma nu hitutna teu disada tapi ngarasa isin sorangan

Jalma nu Strategic
Lamun hitut sok bari seuri ngagak-gak meh nutupan sora hitutna

Jalma nu Bodo
Lamun geus hitut tuluy narik napas keur ngagantian hitutna nu kaluar

Jalma nu Pedit
Lamun hitut dikaluarkeun saeutik-saeutik nepi ka disada
tit..tit..tit...

Jalma nu Sombong
Jalma nu sok ngambeuan hitutna sorangan

Jalma nu ramah
Jalma nu sok resep ngambeuan hitut batur

Jalma nu tara gaul
Mun hitut sok bari nyumput

Jalma nu Sakti
Mun hitut bari make tanaga dalem

Jalma nu pinter
Jalma nu bisa nyirian hitut batur

Jalma nu sial
Mun hitut kaluar jeung bukur-bukurna...

Tukang Kai

Aya tukang ngala kai di leuweung nu kahirupanana kacida miskinna. Hiji waktu, basa manehna keur nutuhan dahan kai nu ngaroyom ka walungan, kampakna locot, ngacleng ka walungan. Si Tukang kai teh ceurik bari ngadoa ka dewa, doana kadanguan ku Dewa, Dewa turun ti langit teras naros : "Hey...kunaon maneh ceurik?"

Si Tukang Kai eta ngajawab yen kampakna tikecemplung ka walungan, padahal manehna perlu pisan eta kampak keur balangsiar. Dewa langsung teuleum ka walungan, terus mucunghul bari mamawa kampak nu dijieun ku emas, "Ieu kampak anjeun teh?"

Tukang kai ngajawab : "Sanes!"

Dewa ngagejuburkeun deui ka walungan, terus teuleum deui, teu kungsi lila mucunghul deui dina leungeunna mamawa kampak nu bahanna perak, terus nanya ka tukang kai , "Sugan nu ieu kampak anjeun teh?" Sakali deui, tukang kai ngajawab : "Sanes!"

Gejebur deui, dewa teuleum deui, basa mucunghul deui mawa kampak tina beusi, anu memang kaboga si tukang kai, "Ieu meureun kampak anjeun teh?"

Tukang kai ngajawab: "Sumuhun, leres Gusti !"

Dewa kacida gumbirana, aya jelema jujur kacida, eta tilu kampak sadayana dipasihkeun supaya disimpen ku tukang kai. Tukang kai balik ka imahna bari jeung kacida bungahna.

Hiji waktu tukang kai teh leumpang jeung pamajikanana di sisi walungan. Dasar keur apes pamajikanana tikosewad, tepi ka tigebrus ka walungan. Si Tukang kai ceurik deui bari ngadoa ka dewa. Doana kadangueun ku Dewa, dewa turun ti langit teras naros : "Kunaon deui anjeun ceurik?"

Si Tukang kai ngajawab pamajikanana tikecemplung ka walungan, gancangan dewa neuleuman walungan, terus mucunghul bari mawa Deasy Ratnasari, terus naros: "Ieu pamajikan anjeun teh?" Na ari pok teh: "Leres, eta pamajikan abdi teh!"

Dewa teh kacida ambekna, teras nyarios : "Anjeun bohong!, teu jujur!"
Si Tukang kai teh ngajawab bari ampun-ampunan :

"Aduh gusti abdi nyuhunkeun dihapunten, sanes.....sanes....kitu maksad teh, ieu mah salah paham. Kieu geura Gusti, upami abdi ngajawab eta sanes pamajikan abdi, engke Gusti teuleum deui, nyandak... Dian Sastro, upama ku kuring dijawab deui eta mah sanes pamajikan abdi, Gusti teuleum deui nyandak pamajikan abdi, teras ku abdi disumuhunkeun eta pamajikan abdi. Engke ku Gusti nu tiluan sadayana dipasihkeun ka abdi. Gusti, terang nyalira abdi teh jalmi miskin teu mungkin gaduh pamajikan satilu-satilu, kumargi kitu abdi gancangan we ngajawab leres, waktos Gusti nyandak Deasy Ratnasari teh!"

  • hasil kutipan teuing si Aa poho sumberna, punteun nya nu gaduh carita ulah bendu!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...