Thursday, February 28, 2008

Politisi Kahot di Pilgub Jabar

Pilkada yang paling sepi dan diluar dugaan, apa karena rakyat Jawa Barat apriori, mungkin yang menang itu lagi-itu lagi, kalau tidak nu karahot dan birokrasi lama yang sudah tak terpilih dipusat serta yang status cuo yang biasanya berkolaborasi dengan politisi kahot partai lainnya sisa jama orba juga.

Ternyata dibalik birokrasi kahot ada juga yang masih segeur atuh, apa kagak bosan yah. sok kembalilah rakyat jabar mah berfikir realistis, jangan sampai kejadian di Batawi, Mas Bowo yang janjinya setinggi langit untuk rakyat tapi luar biasa, penggusuran perumahan, penggusuran para pedagang, belum lagi permasalahan baru lainnya dan keberpihakan kepada rakyat omong kosong pisan.

Kejadian sama kalau ternyata gubernur kita sama, kagak tahu dah kalau orang Bekasi yang pada loyo, alias kecapaian dengan pilkada kemarin yang meloloskan birokrat kahot juga dengan slogan "pendidikan dan kesehatan gratis" yang sampai sekarang hanya tinggal kenangan saja tidak tahu arahnya dan dari awal sebagai seorang pendidik tidak percaya pada inohong kolot yang magang dulu sebelum jadi petinggi dan slogan ini juga dipakai oleh Abah Danni Setiawan untuk pilkub Jabar. Sok atuh barareunta orang sunda ulah haripeut sama janji tak jelas. coblos yang dikira masih punya peluang pencerahan.

Wednesday, February 27, 2008

Intifadah di UNHAS Makasar

Bukan berita baru kalau sering terjadi pertempuran dikalangan mahasiswa yang terkadang hanya melanjutkan tradisi kakak tingkatnya. Masih ingat juga sekitar 90-an fakultas sosial diserang fakultas olah raga yang terus dibalas langsung ke Cicaheum tapi sayang FPOK-IKIP Bandung sedang libur jadi sasarannya hanya ruangan kelas dan pos satpam dan kalau ditanya tawurannya apa masalahnya ? Jawabannya he..hehe alias tak jelas.

Jadi kalau lihat Mahasiswa kita yang katanya calon inteletual dan pengganti para pemimpin kitadimasa depan ternyata sangat memprihatinkan sekali, kok mahasiswa masih mengikuti otot daripada otak dalam membahas masalah apalagi model penyerangannya kayak dilakukan bocah Palestine yang melempari dengan batu kearah tentara zionis yang jelas sekali tujuannya "Fisabilillah", bukan mati konyol, babak belur kena lemparan batu temannya.

Kita amati bukan mahasiswa makasar saja kayaknya tapi berlaku untuk semua kampus yang hobby sparing partner dengan berpedoman pada warisan musuh yang turun temurun, tapi mudah-mudahan bukan tomasiri yang lajim dilakukan dalam adat Bugis Makasar. tapi masalahnya tawuran mahasiswa ini, kok berlarut-larut. Takutnya jadi stigma negatif terhadap pola prilaku dan karakter tomasiri yang salah kaprah di Makasar.

Usulan si Aa ke Depdiknas misalnya dibuat draft kerjasama Depdiknas dan Departemen Pemuda dan Olahraga, disetiap kampus diwajibkan dibuat ekstrakulikuler kampus seperti klub tinju atau latihan intifadah atau sekalian buat klub LAKBOK alias sepakbola tinju biar menampung juga aspirasi para bobotoh dan bonek sepakbola yang mau kuliah khusus tawuran yang nantinya juga bisa diterapkan di Dewan terhormat yang belum tersalurkan ilmu kanuragannya dalam bertinju, kalau belum puas kalau bisa diwajibkan WAMIL bagi mahasiswa dan kirim ke medan pertempuran paling depan. Maaf ini hanya ide gila saja..maklum si Aa bukan mahasiswa, jadi biasa capetang ngaler ngidul, tapi mudah-mudahan pemda Sulsel menanggapinya, ini memalukan sekali, Daeng?

Monday, February 25, 2008

China Anjurkan Masyarakat untuk Laporkan Perokok



Untuk menunjukkan keseriusan pemerintah China melawan para perokok, baru-baru ini pejabat kesehatan meminta masyarakat untuk melaporkan para perokok

ImageHidayatullah.com--Pejabat kesehatan di Kota Chongqing, China mendesak masyarakat untuk melaporkan kerabat mereka ke pemerintah bila terbukti melanggar larangan merokok. Kebijakan ini bagian dari kampanye di dua distrik di kota itu guna mengatasi efek negatif dari merokok pasif.

Nama orang yang dituduh merokok itu akan diposkan ke dalam daftar peringatan yang dipasang di papan pengumuman untuk masyarakat.

Selain itu, larangan merokok di tempat kerja juga akan diuji coba di bangunan publik. Seorang atasan di rumah sakit, yang organisasinya ikut dalam uji coba itu, berjanji akan memberi bonus buat tim yang anggotanya berhasil menemukan orang yang ketahuan merokok. Merokok sangat populer di China.

Tiongkok memiliki 350 juta orang perokok, mulai dari usia 15 tahun dan lebih tua, atau satu di antara tiga perokok di dunia.Ada sekitar 350 juta perokok di sana akibat merokok.

China sudah mengeluarkan larangan merokok di tempat umum sejak 1996. Akan tetapi, larangan tersebut tidak dilaksanakan, sehingga selama dasawarsa terakhir jumlah konsumsi rokok di China bertambah.

Sejauh ini China adalah konsumen tembakau terbesar, maka saat China menandatangani perjanjian FCTC pada tahun 2005 merupakan saat yang bersejarah.

Berbeda dengan larangan merokok pada tahun 1996, pemerintah China kini merencanakan berbagai sanksi yang nyata terhadap penggunaan tembakau. [www.hidayatullah.com]

Wednesday, February 20, 2008

Salah Pikir dan Etnis Minoritas Tionghoa

Oleh LIMAS SUTANTO

Sudah sering dikatakan betapa bangsa Indonesia adalah bangsa yang merangkum keanekaragaman, pluralitas, dan diversitas, yang begitu kaya. Sering pula didengungkan ucapan tentang perlunya warga menghargai keanekaragaman budaya dan perbedaan-perbedaan yang menandai kehidupan bangsa ini.

Mungkin ucapan seperti itu disuarakan berulang karena secara de facto bangsa ini memiliki banyak pengalaman kekerasan yang dicoraki sentimen rasial, terutama yang terkait dengan etnik minoritas Tionghoa. Terutama di zaman Orde Baru, bangsa ini mengalami berbagai peristiwa kekerasan terhadap etnis minoritas itu.

Salah satu peristiwa kekerasan terhadap etnik Tionghoa yang paling tragis terjadi pada bulan Mei 1998 di Jakarta, Solo, dan beberapa kota lain. Pada titik ini mencuat sebuah pertanyaan, sungguhkah rakyat Indonesia kurang memiliki kompetensi untuk menghargai keanekaragaman? Jika memang rakyat Indonesia memiliki kompetensi yang memadai untuk menghargai keanekaragaman, mengapa peristiwa-peristiwa kekerasan terhadap kaum minoritas berulang terjadi?

Kamis pagi, 7 Februari 2008, saya mengantar dua dari tiga anak saya ke Kelenteng Eng An Kiong di Malang. Kami bukan jemaat kelenteng tersebut, namun di hari perayaan Imlek itu kedua anak saya sangat ingin menonton pertunjukan barongsai yang akan digelar di halaman kelenteng. Karena merasa belum akrab dengan situasi kelenteng, mereka meminta saya mengantar.

Kami sampai di kelenteng kuno di Kota Malang itu pukul 09.00. Kami masih harus menunggu satu jam untuk dapat menyaksikan pertunjukan barongsai yang dijadwalkan digelar pada pukul 10.00. Selama sekitar satu jam menunggu, saya menyaksikan halaman tempat ibadah orang-orang Tionghoa itu makin dipadati warga masyarakat bukan Tionghoa, yang dengan tertib dan sabar menantikan pertunjukan barongsai.

Raut muka mereka pada umumnya tampak memancarkan kegembiraan, seolah mereka --tanpa kata-kata-- menunjukkan betapa mereka juga ikut bergembira bersama saudara saudari mereka warga Tionghoa yang pada hari itu merayakan tahun baru.

Selama pertunjukan barongsai, hamparan warga bukan Tionghoa memadati halaman kelenteng Eng An Kiong untuk menyaksikan kelincahan para pemain barongsai dan liong (naga) dengan tertib dan penuh semangat. Mereka memberikan tepuk tangan meriah, ketika adegan-adegan bagus ditampilkan para pemain. Seusai pertunjukan yang digelar oleh para pemain yang mayoritas adalah pemuda bukan Tionghoa itu, warga yang memadati halaman kelenteng membubarkan diri dengan tertib dan tenang.

Pada titik ini saya melihat setidaknya dua hal penting. Pertama, rakyat pada dasarnya memiliki kemampuan yang memadai untuk menghargai keanekaragaman. Kedua, barongsai dan liong yang dianggap sebagai pertunjukan kesenian khas warga Tionghoa itu, ternyata dapat diterima dengan amat baik oleh rakyat pada umumnya, bukan hanya oleh warga Tionghoa saja. Hal ini mungkin makin membuktikan betapa rakyat di negeri ini memiliki kemampuan yang memadai untuk menghargai keanekaragaman.

Akan tetapi mengapa sejarah bangsa ini ditebari berbagai peristiwa kekerasan terhadap kaum minoritas? Ketika berusaha menjawab pertanyaan ini, saya teringat pada beberapa distorsi kognitif (kesalahan pikir) yang dirangkum dengan baik oleh dokter David D. Burns dalam bukunya Feeling good: The new mood therapy (Avon Books, 1999). Berdasarkan inspirasi dari Aaron T. Beck (seorang psikoterapis tersohor yang menjadi salah seorang pelopor terapi kognitif), dokter Burns menegaskan bahwa manusia memang dapat memiliki kecenderungan untuk mengalami distorsi kognitif dalam memandang diri sendiri dan orang-orang lain di tengah kehidupannya sehari-hari. Akibatnya, antara lain, hubungan antarinsan mengalami kerusakan dan timbul ketegangan, serta kecurigaan-kecurigaan nonrealistik di tengah hubungan itu. Di tengah realitas relasi antarinsan yang buruk itu, dapat terjadi kemerosotan kompetensi untuk menghargai keanekaragaman.

Berikut diperinci beberapa distorsi kognitif yang mungkin melandasi pengikisan kompetensi untuk menghargai keanekaragaman. Pertama, all-or-nothing thinking. Jika manusia dilanda distorsi ini, ia akan memandang orang lain hanya dengan acuan dua kategori ekstrem, hitam dan putih. Jika misalnya si manusia menemukan seorang warga dari kelompok atau suku tertentu berbuat jahat, ia akan cenderung memiliki pikiran bahwa warga itu sama sekali jahat dan tidak mungkin memiliki kebaikan apa pun.

Kedua, generalisasi berlebih. Distorsi kognitif ini mendorong manusia untuk menganggap peristiwa negatif tunggal sebagai pola yang akan terus berlanjut tanpa akhir. Karena distorsi ini, seorang warga minoritas yang pada saat tertentu menunjukkan sifat kikir akan cenderung dianggap memiliki pola kekikiran yang terus berlanjut di tengah kehidupannya.

Ketiga, keterpakuan pada peristiwa negatif tunggal. Distorsi ini mendorong manusia untuk terpaku pada sekadar sebuah peristiwa negatif dan kemudian menganggap peristiwa tunggal itu sebagai keseluruhan realitas. Akibatnya, pandangan si manusia tentang keseluruhan realitas menjadi suram. Ini bagaikan membiarkan setetes tinta menghitamkan seluruh air jernih yang ada dalam tandon penampungnya. Dalam bayang-bayang distorsi kognitif ini, ketika seorang warga minoritas melakukan perbuatan buruk, orang-orang lain akan menganggap perbuatan buruk itu menjadi tanggung jawab keseluruhan kelompok minoritas itu.

Keempat, pengabaian ciri positif. Proses mental ini akan mendorong manusia membutakan mata terhadap hal-hal positif yang dilakukan oleh orang lain. Etnik minoritas yang diberi cap (stigma) buruk, dianggap buruk melulu, tanpa menghiraukan berbagai hal baik yang sesungguhnya juga dimiliki dan ditampilkan oleh etnik minoritas itu.

Kelima, penalaran berdasarkan perasaan (emotional reasoning), yaitu proses pikir keliru yang menyamakan apa yang dirasakan dengan kenyataan. Seseorang yang mencurigai warga etnik minoritas sebagai orang yang tidak mencintai bangsa Indonesia, akan serta merta menganggap kecurigaan yang ia rasakan itu sebagai kebenaran atau fakta, tanpa melakukan pengecekan di tengah kenyataan yang sesungguhnya.

Demi memperkuat dan menumbuhkembangkan kompetensi untuk menghargai keanekaragaman, warga bangsa perlu menyadari kemungkinan dirinya dilanda kelima distorsi kognitif itu di tengah hubungannya dengan orang-orang lain. Kesadaran itu kemudian perlu ditindaklanjuti dengan upaya mengatasi dan melampaui (upaya mentransendensi) kelima distorsi kognitif, sehingga pola pikir yang dioperasikan sehari-hari adalah pola pikir yang rasional dan realistik, bukan pola pikir yang terdistorsi.

Kaum elite, media, dan para pemimpin niscaya memelopori upaya mentransendensi kelima distorsi kognitif itu. Jangan justru menyuburkan distorsi kognitif untuk mengeruhkan keadaan dan kemudian memetik keuntungan bagi diri sendiri. ***

Penulis, psikiater konsultan psikoterapi, pengajar psikoterapi dan konseling di Universitas Negeri Malang.

Budaya dagang etnis Tionghoa : ”Dapat sepuluh, dipakai dua”

Benarkah keberhasilan sebagian besar para pengusaha etnis cina lantaran dekat penguasa। Bisa benar dan bisa juga salah, karena ada juga yang berjuang tanpa dekat dengan kekuasaan bahkan sangat prihatin sekali। Ada yang mengatakan karena etos kerjanya yang luar biasa bahkan sejak kecil warga keturunan selalu diajarkan untuk tahu diri, sebab mereka merasa sebagai kaum minoritas। Begitu juga dalam bertindak tidak boleh terlalu menonjol atau berlebihan dan gampang minta bantuan pada orang lain, sebab kalau minta bantuan biasanya orang yang mau bnatu jadi sungkan. Beda kalau bantuan itu diberikan karena kemauan yang membantu, biasanya lebih tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari kalau memiliki penghasilan Rp10, hanya Rp 2 yang kami gunakan selebihnya kami tabung. Ini sduah disosialisasikan sejak kecil dilingkungan keluarga. Sedang dalam kerja, orang tionghoa selalu diajarkan agar tidak tergantung pada orang lain. Kami harus mampu menguasai jenis pekerjaan dari yang paling mudah samapai yang sulit. Bahkan beranggapan kalau pekerjaan itu tdiak permanen seperti layaknya roda berputar, suatu saat diatas, lain waktu dibawah.

Maka modal yang paling penting bagi etnis tionghoa adalah sikap dapat dipercaya. Berapapun uang yang diberikan kalau tidak bsia dipercaya ya tidak akan berhasil. Begitu juga kalau memiliki usaha sendiri.

Bisnis bagian dari budaya

Prinsip orang Tionghoa, ”Apa yang kami lakukan hari ini, bukan untuk hari ini saja, tapi untuk kedepan” Jadi kedepan untuk apa ? Sehingga perlu modal, modal bukan hanya uang saja, tapi bisa juga keterampilan, semangat dan kepercayaan sehingga harus pandai bergaul serta berkomunikasi. Nah, perdagangan adalah lahan satu-satunya yang paling memungkinkan untuk saling berkomunikasi dan bergaul, saling kenal dan membangun relasi.

Begitu juga menjadi pedagang bukan karena faktor keturunan. Ini lebih berkaitan dengan pendidikan awal di lingkungan keluarga sebagai akar budaya khas, dengan alasan keluarga tionghoa tidak semudah suku lain sehingga mereka bekerja keras. Lalu kenapa banyak orang Tionghoa jarang menekuni profesi lain? Sebagai kaum minoritas, mereka menyadari akan keterbatasan peluang bagi mereka. Namun setelah reformasi politik sejak mulai priode Gusdur sedikit banyak perubahan paradigma perubahan profesi, banyak orang Tionghoa yang terjun ke dunia politik. Banyak dari keturunan Tionghoa yang terjun ke politik, kita kenal Kwiek Kian Gie, Alvin Lie, dll. Mungkin yang belum terdengar kalau mereka menjadi ABRI atau birokrat, mereka beranggapan masih sulit. Keterbatasan dan diskriminasi inilah yang menyebabkan mereka harus memaksakan diri memilih wiraswasta atau perdagangan. Dan disektor inilah mereka leluasa mengatur hidup. Itulah sebabnya ilmu berdagang ditanamkan dilingkungan keluarga sejak kecil yang akhirnya menjadi bagian dari budaya.

Monday, February 18, 2008

Unsur Agama dan Kultur dalam Upacara Pernikahan


Diakui atau tidak, upacara pernikahan (walimatun nikah) pada sebagian besar ummat Islam seringkali dimasuki unsur adat istiadat suatu daerah. Sebagian mereka menganggap hal itu sebagai bagian dari ajaran Islam. Dan tidak sedikit yang menganggapnya sekadar adat keduniaan. Tetapi ternyata upacara-upacara seperti itu bukan bagian dari syari'at Islam, melainkan sebagiannya berasal dari agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan di luar Islam, terutama berasal dari agama-agama kultur. Drs AD El Marzdedeq, AV, lulusan Sejarah Agama PTIS tahun 1970, Avasinolog lulusan Ma'had At-thib Al-Islami Jakarta tahun 1966, dan penulis buku Parasit Aqidah ini, menjelaskannya kepada RISALAH. Berikut petikan wawancaranya?

Dalam upacara adat pernikahan di kalangan ummat Islam, seringkali dimasuki unsur-unsur agama lain. Apakah benar demikian?

Memang betul, dalam upacara pernikahan di kita banyak hal-hal yang dianggap oleh sebagian ummat Islam berasal dari ajaran Islam atau bahkan dianggap sekadar adat keduniaan. Tetapi ternyata upacara-upacara seperti itu tidak terdapat dalam sumber hukum Islam, yakni al-Quran dan Sunnah Nabi Saw, melainkan berasal dari agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan di luar Islam, terutama berasal dari agama-agama kultur.

Misalnya apa saja?

Misalnya upacara sawer, itu berasal dari agama kultur di Cina dan Asia Tenggara pada umumnya. Di sana ada upacara yang bernama "tabur beras". Upacara itu ada kaitannya dengan kepercayaan mereka terhadap Dewi Padi.

Menurut kepercayaan mereka, tersebutlah pada suatu waktu Yang dan Yin hendak mendirikan sebuah istana baru di langit ke sembilan. Dewi-dewi pun disuruhnya mengangkut bahan-bahan. Semua Dewi bekerja, tetapi Yang penurun hujan hanya menangis karena tidak dapat membantu. Dari air matanya menjelma sebutir telur, lalu Yang menyuruh Naga untuk mengeraminya, sehingga menetaskan seorang gadis yang cantik, bernama Lo Yien (Dewi Padi). Gadis itu diangkat anak oleh Yang dan Yin.

Ketika gadis itu menginjak remaja dan tampak kecantikannya Yang jatuh berahi kepadanya, sehingga antara Yang dan Yin terjadi pertengkaran. Alam sakit begitupun manusia, padahal semula manusia tidak pernah sakit dan tidak mengenal makan. Yin pun menjadi cemburu kepada Lo Yien. Lo Yien diberinya buah ajaib, yang ketika dimakan Lo Yien langsung mati. Maka dikuburkanlah ia. Tidak berapa lama keluarlah dari kuburnya padi, pulut dan tumbuh-tumbuhan. Manusia pun menjadi lapar. Yang dan Yin menyuruh pembantunya untuk menurunkan beras ke bumi dalam keadaan sudah masak.

Namun karena ulah laki-laki yang ingin serba tahu timbullah kesukaran, sehingga padi itu harus ditanam, ditumbuk, dan dimasak. Dari sanalah kemudian mereka memuja Dewi Padi. Pemujaannya antara lain pada musim menanam padi, mengetam dan menyimpan padi di lumbung, pada hari-hari tertentu, dan termasuk upacara menabur beras kuning atau sawer dalam upacara perkawinan.

Apakah benar dalam ajaran mereka juga ada upacara "Sembahyang Perkawinan"?

Memang betul. Dalam ajaran mereka ada beberapa macam sembahyang, Ada sembahyang ketika pendirian rumah baru, sembahyang menjelang gadis, sembahyang bersalin, dan termasuk sembahyang perkawinan. Sembahyang perkawinan dilakukan manakala seorang gadis telah mendapatkan jodoh. Ia dipertunangkan dan dikawinkan dengan upacara. Kawin yang umum ialah kawin beli. Dan ada kebiasaan, jika memiliki anak kembar sepasang dipisahkan dan setelah dewasa dikawinkan. Pengantin dimandikan dan diperciki air berkat lalu disisir oleh seorang anak-laki-laki kecil, Dipertemukan, disandingkan, dan ditepungtawari, beras kuning pun ditabur untuk mencari kerelaan Dewi Padi. Sembahyang perkawinan dilakukan sejodoh, menghadap patung Dewa jodoh. Lepas dari kawin terdapat upacara "Pecah Dara" dengan membagikan makanan pada tetangga, melepaskan kambing, burung atau kura-kura kecil berpuluh-puluh ekor.

Kalau upacara "Mandi Kembang" dari ajaran mana?

Mandi Kembang, Ketuk Pintu, Menginjak Telur, dan Tanya Jawab itu dari agama Brahman, yaitu agama Kultur Aria India. Dalam Kitab Wedaparikrama (Kitab Perkawinan), lepas Swayamwara bagi seorang Ksatria dan lepas pembayaran seolah membeli suami bagi kasta Waisya, terdapat upacara "Mandi Kembang" yang diteruskan dengan meminta berkat orangtua dengan mencucui kakinya dan bersujud kepadanya, menyalakan pelita saji dan menyalakan dupa, sajian di antaranya untuk Dewa Kama dan Dewi Rati, "Ketuk Pintu", dan "Tanya Jawab" agar terbuka berkat dan terhindar dari Dewa Perintang. Kemudian "Menginjak Telur" untuk Dewa Parnipa (Dewa Pengurus Kaki), "Mencuci Kaki Suami dan Menciumnya", "Bersanding dengan selembar kerudung berdua" dengan sikap tangan menyembah, "Memercikan air suci" dan "Pembacaan mantra-stotra" oleh seorang Brahmana, "Makan Sepiring Berdua" dan "Suap Menyuapi" yang dalam adat sunda disebut Huap Lingkung, "Tabur Bunga Rampai", melepaskan sepasang merpati untuk Indra (Dewa Angkasa), dan menari.

Dalam upacara itu ada Salam pada tamu Dewa, yang dilakukan dengan mengatupkan kedua belah telapak tangan ditaruh di dada, sambil berdiri atau bersimpuh, sedangkan untuk Dewa adakalanya diangkat ke atas lalu bersujud pada patungnya.

Dalam ajaran Brahmana juga ada tuntunan hidup bersuami istri dan pelajaran seks. Kitab tuntunan bersuami istri telah lama dikarang dan kelak disadur yakni salah satunya kitab "Kamasutra".

Selain kedua ajaran di atas, ajaran agama mana lagi yang memiliki upacara pernikahan?

Di dalam ajaran ummat Yahudi juga ada upacara pernikahan. Mereka punya upacar-upacara tertentu. Di dalam Kitab Yehezkil disebutkan "Maka adalah keadaan pengantin laki-laki itu ia berpakaian serba indah, bercelak matanya dan berharuman dengan minyak narwastu lalu diarak oranglah untuk mendapatkan pengantin perempuannya itu. Maka akan hal pengantin perempuan itu sesuai berlaku adat padanya, ia berpakaian serba indah, berkalung permata dan bergelang tangan dan kakinya. Maka pengantin perempuan itu duduk di pelaminan dan wajahnya pun bercadarlah kerudung sehingga tertutuplah ia".

Hatta manakala pengantin laki-laki hendak mendapatkan ia maka berlakulah adat bertanya jawab lalu iapun masuk dan ia pun menyingkapkan kerudung penutup wajah dan kepalanya itu, seraya ia berbaca: "Dengan nama Tuhanmu Hua, Elohim yang amat pengasih dan amat penyayang." Maka serta dijawab pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki, katanya: "Semoga Elohim, Hua Tuhanmu memberkatimu." Maka keadaan pengantin perempuan itu terlalu amat malu tampaknya, dalam ketika ia menyampaikan jawabannya itu. Maka kedua pengantin itupun bersandinglah dan kepala keduanya pun berkerudung dengan selembar kain, yakni pengantin laki-laki menundukkannya pada pengantin perempuannya itu, demikianlah adat pengantin menurut tatacara Israel itu.

Dan bersetuju dengan firman Hua: :Aku pun mengembangkan sayapku atasmu dan menudungilah ketelanjanganmu dan akupun bersumpah setia kepadamu dan aku pun masuk janjilah dengan dikau, demikianlah firman Hua maka demikianlah engkau telah menjadi aku punya." (Yehezkil 16:8).

"Maka demikianlah berlaku adat pula jika ia mau memadu kawin kepada seorang perempuan sahaya yang ia beli, karena sesungguhnya seorang laki-laki itu bolehlah ia bersitri lebih daripada seorang dan tiada sedikitpun ia tercela, sepanjang tiada larangannya akan wasiat Imam dan ini pun telah berlaku bagi Raja Daud dan Raja Sulaiman dan raja-raja kemudian daripada ia." (Wasiat Imam 46:16-18)

Di dalam ajaran Islam ada istilah Khitbah sedangkan di luar Islam ada upacara "tukar cincin". Nah, sebetulnya upacara "tukar cincin" itu dari ajaran mana?

Ritus Tukar Cincin itu sebenarnya dari agama Yunani dan Romawi Kuno. Dalam pandangan mereka cincin kawin itu dikeramatkan dan dianggap sebagai pengganti alat pengikat dari Cupido. Jika cincin itu jatuh, dianggap berbahaya pada jenjang perkawinan, maka dibuatlah penangkal-penangkal. Bila hujan selalu turun dan mengganggu upacara, diletakannya cincin itu di halaman dan disajikannya sajian pada Cupido dan Dewa Penurun Hujan. Di dalam Islam tidak ada tukar cincin. Semua itu tidak diajarkan oleh Nabi SAW. Ritualnya begini, calon pengantin diikat dan dibawa dalam sebuah kereta. Lalu Cupido memberi jalan pengganti dengan ikatan cincin. Cincin laki-laki diberikan pada perempuan dan cincin perempuan diberkan pada laki-laki. Cincin itu dikenakan pada jari manis. Tukar cincin merupakan pengikat cinta dan Amor pun turun melepaskan anak panah pada hati keduanya. Ada tukar cincin yang langsung diikuti perkawinan dan ada yang ditangguhkan.

Lalu, dalam ajaran agama Yunani dan Romawi sendiri bagaimana upacara perkawinannya?

Ritus Perkawinannya begini, pengantin duduk berkerudung kuning lalu diperciki air oleh pendeta. Hadirin menyanyikan pujaan untuk Dewa Hymen, lalu dinyalakannya pelita dua buah atau lilin dua batang. Upacara perkawinan dilakukan di kuil atau di rumah keluarga perempuan. Disajikannya makanan dan minuman "prodeo" di antaranya untuk Amor. Roti pengantin dipotong dan dibagikan pada bujang dan dara, agar lekas mendapat kawan hidup. Pada awal perkawinan seorang Ksatria terdapat pula sayembara, lalu jika lepas upacara peresmian di kuil, kedua pasangan itu melalui lorong manusia di bahwah silang pedang.

Katanya dalam ajaran mereka juga ada istilah "kawin emas" dan "kawin perak"?

Memang betul. Itu istilahnya Pesta pembaharuan kawin. Jika usia perkawinan mereka sudah menginjak enam seperempat tahun diadakan kawin perunggu. Jika sudah duabelas setengah tahun, diadakan upacara kawin tembaga. Jika duapuluh lima tahun disebut kawin perak. Jika limapuluh tahun kawin emas dan jika lebih dari tujuthpuyluh lima tahun diadakan kawin berlian.

Pada ulangtahun perkawinan itu dinyalakan dua batang lilin besar, lalu diperhatikan mana yang lebih dulu habis, karena dianggap melambangkan siapakah di antara mereka itu yang lebih dulu mati. Upacara tukar cincin, perkawinan dan ulangtahun perkawinan Yunani dan Romawi hampir sama, hanya ada sedikit perbedaan dalam cara berpakaian. Masing-masing memuja Amor dan Venus.

Sumber : Risalah Online Edisi April 2001

Kolom Sastra

Ayu Utami Novelis feminis Indonesia


Bagi Ayu, dunia tulis menulis tak begitu akrab di masa kecilnya. Tubrukan dengan dunia jurnalistik baru terjadi ketika secara iseng Ayu mengirim cerpen humor dalam lomba yang diadakan Majalah Humor sekitar tahun 1989 - 1990. Ia memperoleh juara harapan. Kendati begitu, darah seni bukannya tak mengalir dalam tubuh Yustina Ayu Utami begitu nama lengkap yang diberikan orang tuanya, yang dilahirkan di Bogor, 21 November 1968. Bude-nya adalah seorang penembang lagu-lagu Jawa. Ayu kecil sendiri memiliki bakat melukis. Maka tak perlu kaget jika Ayu besar bisa "melukis" dalam "kanvas" yang berbeda.

Ada cerita menarik tentang bakat melukisnya itu. Kala itu Ayu menjadi ketua sanggar seni di SMU-nya, Tarakanita Jakarta. Dalam suatu pameran, lukisan yang dipamerkan ternyata kurang jumlahnya. Sebagai ketua tentu Ayu tak ingin pameran itu gagal. Di sinilah bakat melukisnya sangat membantu.


Ayu pun mengisi kekurangan jumlah itu dengan lukisan yang dibuatnya dengan bermacam-macam gaya dan nama. Ada yang menggunakan nama lengkapnya, ada yang mencantumkan sebagian namanya. Pameran itu akhirnya sukses juga, bahkan dimuat di beberapa majalah. Yang membuat dia bangga, kebanyakan foto lukisan yang ditampilkan adalah hasil karyanya. Namun, ia menghindar dari wartawan. Takut ketahuan kalau kebanyakan lukisan yang dipamerkan itu dibuat oleh satu pelukis.

Dari lukisan itu pula Ayu bisa memperoleh uang. Ia sering memperoleh order melukis dari teman atau keluarganya. Bahkan impian banyak pelukis pernah menghampirinya, yakni tawaran dari pembimbing melukisnya untuk mengadakan pameran tunggal. Sayang, impian itu tak menjadi kenyataan sebab Ayu tak bisa menyediakan sejumlah lukisan sebagai persyaratan.

Itulah sebabnya, selulus SMU Ayu ingin meneruskan ke Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Tapi bapaknya tidak memberi izin. "Dan itu untuk terakhir kalinya saya menurut dalam perkara besar dengan Bapak," tutur Ayu dalam wawancara dengan penulis Selasa (12/06) di Utan Kayu yang menjadi komunitas tempat ia bekerja sekarang. “Alasan bapaknya, tidak mudah mencari uang dengan melukis”tuturnya lagi.


Akhirnya, ia pun masuk Fakultas Sastra Jurusan Rusia, Universitas Indonesia. Dia mengaku, sejak kecil ia memang suka bahasa; utamanya bahasa yang aneh-aneh, eksotis. Latin, misalnya. Selain itu, bapaknya bilang - bukan dalam konteks bercanda, "Udah aja, siapa tahu kamu nanti jadi 'intel' kejaksaan" ujarnya kembali.


Sedangkan pilihan UI karena tidak ingin memberatkan orang tuanya. Selain lebih murah dibandingkan dengan kuliah di "luar negeri" (maksudnya swasta), semua kakaknya kuliah di UI. Meski ayahnya sering tugas di luar kota, sejak SMP Ayu tinggal di Jakarta bersama keluarganya.

Kuliah sambil kerja

Saat masuk ke Fakultas Sastra itulah Ayu seperti kehilangan arah. Kuliah dia jalani dengan malas. "Saya lebih banyak bekerja di berbagai tempat daripada kuliah," ujarnya. Tapi ia menyebutnya hal itu bukan sebuah pemberontakan. Ia hanya merasa tak ada gunanya lulus tanpa pengalaman. Selain itu, Ayu tidak ingin tergantung soal keuangan pada orang tuanya.

Apalagi sistem pengajaran di UI yang menurutnya waktu itu jelek sekali. Dan ia mendengar dari salah satu dosen bahwa jurusan itu hanya untuk menampung lulusan SMU. "Dosen 10 orang dengan ruangan seluas kira-kira 30 m2 dengan meja saling berhadapan. Bagaimana mungkin bisa melakukan penelitian dan sebagainya dengan serius karena tidak memiliki tempat kerja?" tanyanya. Di samping itu gaji dosen kecil sehingga banyak yang ngobjek. Pemerintah sendiri, di lain pihak, juga masih fobi dengan komunis, tuturnya panjang lebar.

Kuliah nyambi kerja yang dilakukan Ayu juga mendobrak kebiasaan di keluarganya. Pada zaman kakak-kakaknya, hal itu tidak bisa diterima oleh ayahnya. Jika Ayu bisa memecah tembok, "Saya pikir tergantung keras-kerasannya. Siapa yang keras, lainnya pasti luluh." Sifat keras-kerasnya itu pula yang membuat bapaknya mengalah ketika Ayu pulang pagi saat bekerja di Majalah Forum. "Daripada saya pulang jam dua pagi, 'kan bahaya. Lebih baik tidur di kantor dan pulang jam enam pagi. Sudah aman."

Pekerjaan sebagai purel hotel berbintang pun dia lakoni. Bahkan Ayu pernah menyelami dunia model setelah menjadi Finalis Wajah Femina tahun 1990. "Saat itu saya sedang senang-senangnya menjadi perempuan," tuturnya. Suatu perubahan yang besar mengingat di usia sembilan tahun ia merasa terganggu dengan adanya perubahan akibat hormon wanitanya. "Waktu itu saya merasa tidak suka sekali menjadi perempuan. Saya terganggu sekali dengan perubahan itu." Apalagi teman-temannya pun mendorong Ayu untuk ikut lomba Pemilihan Wajah Femina itu.

Toh, gemerlapnya dunia model tak menyedotnya masuk lebih jauh. Kegelisahan menderak-derak dalam dirinya untuk mencari rel hidupnya. Lebih dari itu, ia cukup tahu diri. "Saya nggak bakat jadi model. Nggak tinggi, nggak indo, nggak suka ke salon. Yang jelas nggak enjoy," kata bungsu dari lima bersaudara ini. Putri pasangan YH Sutaryo dan Suhartinah ini merasa tidak betah bila harus berdandan ala model. "Rambut diacak-acak, muka ditempeli kosmetika macam-macam," tuturnya menyebut beberapa contoh.

Kemenangan cerpennya di Majalah Humor menariknya menjadi wartawan paruh waktu di majalah itu. Berhubung kantornya berdekatan dengan Majalah Matra, Ayu pun jadi dekat dengan orang-orang Matra. Ia pun menjadi wartawan di majalah khusus trend pria itu. Di sinilah Ayu menyadari ada bakat menulis. "Soalnya, beberapa tulisan saya tidak pernah diedit total," katanya.

Bahkan ia sudah mengisi kolom tetap, Sketsa, di SK Berita Buana. Isinya berupa renungan tentang berbagai soal, entah itu politik, seni, ekonomi, dll. "Saya ingin membuat parodi catatan pinggir. Atau catatan pinggir yang konyol, lucu, lebih bermain-main, meski saya akui saya tidak sekaliber Goenawan Mohammad," jelasnya.

Jika akhirnya ia pindah ke Forum Keadilan, itu tak lepas dari sifatnya yang suka bertanya-tanya. Atau pengaruh kegelisahannya? "Tidak semua kegelisahan bisa dituntaskan," ungkap gadis yang mengaku tomboi di masa kecilnya ini. Oleh sebab itu, tidaklah perlu diherani jika Ayu hanya bertahan empat tahun di majalah berita itu, meski hal itu lebih disebabkan aktivitasnya di AJI (Aliansi Jurnalis Independen); institusi wartawan di luar PWI yang waktu itu tidak sedap dipandang oleh kaca mata pemerintah.

Setelah melanglang ke Majalah D&R selama setengah tahun dan di BBC selama beberapa bulan, Ayu akhirnya menemukan terminal terakhirnya: Komunitas Utan Kayu. Ia pun masih bisa mengembangkan sayap kewartawanannya sebagai redaktur Jurnal Kebudayaan Kalam. "Saya bahagia sekarang. Di sini saya baru betul-betul merasa kuliah. Bergaul dengan berbagai kalangan yang memperkaya wawasan saya." Di sinilah Ayu melahirkan Saman, yang kemudian membikin heboh di tengah masa krismon.

Padahal, dulu Ayu tidak suka menulis fiksi. "Kesannya kok mengawang-awang." Akan tetapi kesan itu berubah setelah menyadari bahwa novel - atau dalam lingkup yang lebih luas, sastra - ternyata tidak sekadar persoalan ide atau cerita, tetapi juga persoalan pergulatan bahasa, pergulatan pemikiran. Cerpen dan novel adalah ide yang disampaikan dalam bentuk fiktif”.(wawancara, 12 Juli 2005)

Pergulatan pemikiran itu bisa jadi tercermin dari pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan Ayu semasa SMP dan SMU. "Saya memberontak pada orang tua dengan tidak mau membaca buku, nggak mau belajar. Pokoknya, meremehkan aturan orang dewasa, meminimalkan usaha saya untuk belajar." Baginya, membaca buku bisa mempengaruhi hidupnya. "Saya maunya tetap orisinil." Namun, soal membaca, Ayu masih menyisakan untuk Alkitab, "Satu-satunya buku yang saya baca mulai kecil sampai dewasa." Alasannya, Alkitab ditulis oleh banyak orang dengan gaya masing-masing; ada yang berbentuk puisi, buku, dan surat-menyurat.

Wajarlah kalau dalam roman Saman, terdapat petikan-petikan ayat Alkitab, "Meski aslinya itu adalah surat pribadi saya kepada pacar saya." Lebih jauh Ayu mengakui, Alkitab sudah menjadi bagian dari dirinya. Sehingga dalam novelnya Ayu mempunyai kecenderungan menulis tentang pastor, tentang suster seperti tokoh Saman yang menjadi seorang Pater yang merupakan salah satu sebutan buat seorang Pastor. Cerita-cerita yang pernah saya tulis cenderung agak religius, cenderung dari kelompok ini." Bahkan pada waktu kecil, Ayu ingin jadi suster.

Seks, problematika wanita

Setelah Saman diterbitkan, kritikpun langsung berdatangan, akan tetapi jika ada yang mengritik Saman dari segi seksualitas yang ditampilkan, Ayu hanya menyediakan dua jawaban. Pertama, "Saya hanya mau jujur. Kedua, saya tidak menampilkan seks sebagai cerita tentang seks, tapi seks itu problem bagi perempuan. Misalnya, Yasmin dan Saman membicarakan seks dengan rasa bersalah. Seks jadi diskusi, bukan peristiwa" (Wawancara, 12 Juli 2005).

Seksualitas memang menjadi tema Saman. Banyak mitosnya yang perlu diluruskan kembali. Demikian juga dengan pengkotakan laki-laki - perempuan dalam konteks seksual. Seks secara biologis menjadi sumber diskriminatif terhadap perempuan. Misalnya soal keperawanan yang selalu dituntut oleh laki-laki. Masalah ini menjadi kontrol dari masyarakat kepada wanita agar wanita selalu bergantung pada laki-laki, "Ayu juga mempertanyakan soal keperawanan yang menempatkan perempuan dalam posisi yang kalah. "Wanita yang sudah tidak perawan dianggap sudah cacat, tetapi nilai itu tidak berlaku bagi pria".

Penyuka Don de Lilo ini mengharap bahwa wanita jangan terlalu mengagungkan keperawanan. Dalam wawancara dengan penulis, Ayu Utami mengungkapkan pendapat ekstrimnya menanggapi masalah virginitas ini,

" Menanggapi keperawanan, maksud saya bukannya menganjurkan seks pranikah, tetapi cobalah menempatkan keperawanan itu sewajarnya saja. Karena bila wanita begitu memuja keperawanan, ia sendiri yang akan rugi. Keperawanan hilang, ia merasa sudah tidak berarti. Untuk soal keperawanan saya menganjurkan dihapus saja, biarpun eksrtrim tapi buat saya hukum yang berlaku dari satu pihak dan tidak berlaku pada pihak lain, itu batal demi keadilan. Karena itu mengagung-agungkan keperawanan itu tidak adil karena hanya bisa diterapkan pada perempuan saja”(wawancara, 12 Juli 2005)

Ayu merasa, masalah seks yang dia sajikan dalam Saman masih dalam batas yang wajar. "Karena saya menyajikan seks di situ bukan merupakan teknik persetubuhan, tetapi berupa pemaparan problematika seks untuk direnungkan karena banyak dialami oleh wanita". Dan bagi Ayu banyak hal yang dipersoalkan, bukan hanya masalah seks. Seks bukan masalah utama karena banyak persoalan lain, seperti sosial, pendidikan dan hukum yang juga dinilai tidak adil.

Eksplorasi penulisan dan bahasa
Mengacu kepada popularitas Saman, menurut Ayu, sastra tidak bisa dilepaskan dengan publikasi. Dengan begitu banyaknya media massa, tak ada satu pihak pun yang bisa menentukan baik-buruknya sebuah karya sastra. Apalagi orang sekarang sama sekali tidak bisa dipisahkan dengan publikasi. "Jadi, apresiasi pun tidak bisa dipisahkan dari publikasi."

Ia berpendapat bahwa sastra seharusnya menjadi eksperimen dari berbagai eksplorasi penulisan dan bahasa. "Dan mungkin bisa lebih bervariasi." Konsekuensinya, sastra menjadi elit dan tidak mudah diterima oleh banyak orang. Ayu mencoba membandingkan dengan adibusana yang jarang bisa dipakai oleh masyarakat awam. "Tapi toh ia berpengaruh dalam menentukan arah perkembangan mode. Jadi, saya membayangkan sastra sebagai eksplorasi yang gila-gilaan, akibatnya tidak bisa diterima orang banyak, namun berperan penting dalam perkembangan sastra selanjutnya." Semisal, dalam perkembangan kosa kata maupun bahasa. Untuk itu, penulis pun harus siap bahwa karyanya tidak akan menjangkau jumlah pembaca yang cukup luas.


Ayu tak setuju jika masalah perut menjadi ganjalan mengkonsumsi - dan akhirnya mengapresiasi - produk-produk susastra. "Bagaimanapun jika karya sastra tersebut memberikan pencerahan, maka hal itu sudah memberikan hiburan. Kalau kemudian sastra direduksi sebagai hiburan, maka sastra tidak bisa disebut hanya sebagai kebutuhan orang yang perutnya 'kenyang'. Jadi, sastra bukanlah karya yang demikian berat. Dalam beberapa hal sifatnya sama dengan hiburan. Ambil contoh cerpen dalam koran minggu yang bisa dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat". Memang, novel baru tidak banyak dibuat. "Tapi saya tidak setuju kalau kemudian dibilang sastra Indonesia tidak berkembang." Menulis novel itu pekerjaan yang berat, dalam arti perlu banyak waktu. Selain itu belum bisa diandalkan sebagai penghidupan keluarga. Lain dengan di luar negeri yang menyediakan grant.


Makanya, kalau orang itu bukan termasuk pengarang yang terkenal dan tidak ada pembajakan, sulit mengharapkan dari penjualan buku. Untuk itu, perlu diciptakan struktur yang memungkinkan pengarang bisa terus menulis. "Seperti zaman dulu seniman dipelihara oleh kerajaan." Pola seperti itu sudah dijalankan oleh Amerika atau Australia, "Seperti yang diperoleh Umar Kayam". Kesuksesan Saman ternyata tak menguburkan bakat melukisnya. Beberapa lukisan masih dia simpan, biasanya berupa sketsa. Ayu masih terobsesi untuk menjadi pelukis dan membikin komik.

Perkawinan

Mengenai perkawinan yang dulu dia rencanakan saat berumur 23 - 25? Ayu agak gamang menjawabnya. "Ini masalah terlalu banyak penduduk. Untuk itu, perlu ada orang yang harus punya keputusan untuk tidak menambah jumlah penduduk di bumi. Problem penduduk itu harus disadari betul" .

Dalam tulisan essainya Si Parasit Lajang, Ayu menyatakan beberapa alasan untuk tidak menikah yang dijadikan sikap politik seorang Ayu Utami yakni:

  1. Memangnya harus menikah?
  2. Tidak merasa perlu
  3. Tidak peduli
  4. Amat peduli. Awalnya sederhana saja saya melihat banyak masyarakat mengagungkan pernikahan yang ideal seperti dongeng. Tapi sebenarnya bahwa pernikahan tidak ideal. Selain kasih sayang , juga ada kebosanan, penyelewengan, pemukulan. Tapi itu tabu dibicarakan. Sebaliknya masyarakat mereproduksi terus nilai yang mengagungkan pernikahan. Sementara menikah konstruksi sosial belaka dan selalu ada yang tidak beres dengan konstruksi sosial. Pada umumnya pernikahan masih melanggengkan dominasi pria dan wanita. Di masyarakat begitu banyak pengaduan kasus kekerasan domestik terhadap perempuan. Tapi puncak pengesahan supremasi pria atas wanita ada dalam poligami. Seorang lelaki boleh memiliki banyak isteri, tapi seorang isteri tidak dibenarkan memiliki banyak laki-laki. Saya anti poligami tetapi bukannya tidak bisa melihat rasionalisasi dibalik kawin ganda ini. Poligami adalah masuk akal didalam masyarakat yang amat patriarkal, yang berasumsi bahwa pria superior, bahwa pria menyantuni perempuan dan tak mungkin sebaliknya, sehingga tanpa lelaki seorang perempuan tidak memiliki pelindung. Dan saya peduli dan jengkel dengan idealisme tadi.
  5. Trauma. Saya punya trauma tetapi bukan pada lelaki sebagaimana yang dikira banyak orang, melainkan pada sesama perempuan yang tidak sadar bahwa mereka tunduk dan melanggengkan nilai-nilai patriarki.
  6. Tidak berbakat. Rasanya saya tidak berbakat untuk segala yang formal dan institusional.
  7. Kepadatan penduduk. Saya tidak ingin menambah pertumbuhan penduduk dengan membelah diri.
  8. Seks tidak identik dengan perkawinan. Pertama ini konsekwensi alasan ke-5 tadi: saya harus membuktikan bahwa perawan tua dan tidak menikah tidak berhubungan. Kedua, siapa bilang orang menikah tidak berhubungan seks dengan bukan pasangannya.
  9. Sudah terlanjur asyik melajang
  10. Tidak mudah percaya. Ibu saya mengatakan bahwa bahwa menikah membuat kita tidak kesepian di hari tua. Tapi, siapa yang bisa jamin bahwa pasangan tak akan bosan dan anak tidak akan pergi? Tak ada yang abadi di dunia ini, jadi sama saja (Utami, 2003:168-176)
Abstaraksi Novel

Novel Saman (1988)

Novel yang bertajuk “Saman” merupakan novel debutan pertama dari Ayu Utami dan menjadi kontroversi dalam sejarah sastra Indonesia karena perihal seks dan sastra. Novel yang dicetak pertama kali pada bulan April 1998 dan sampai tahun sekarang Novel Saman ini sudah mengalami cetakan sampai cetakan ke-24. Saman adalah pemenang sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998. karena karyanya dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya, sehingga mengantarkan novel Saman dalam meraih Prince Claus Award pada tahun 2000. Ketika pertama kali terbit, Saman dibayangkan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu yang mulanya berjudul Laila tak Mampir di New York. Dalam proses pengerjaan , beberapa sub plot berkembang melampaui rencana.

Ayu Utami mengungkapkan apa yang menjadi awal kenapa dia menulis novel yakni “ Secara tekhnis karena saya tidak mempunyai kesempatan menulis di media lagi secara terbuka karena waktu itu terjadinya pembredelan terhadap pers, jadi saya punya waktu untuk menulis novel, alasan kedua, karena ketidakpuasan saya terhadap eksplorasi bahasa di media massa yang terlalu terbatas karena fitrahnya bicara kepada publik yang luas” tutur ayu. Selain itu karena dorongan dan dukungan teman-temannya di komunitas Utan Kayu, yang menjadi alasan Ayu selanjutnya untuk menulis sebuah karya sastra” (wawancara, 12 Juli 2005).

Adalah Laila dan tiga temannya yakni Sakuntala, Jasmin dan Cok yang awalnya ingin dijadikan tokoh utama dari Novel Laila tidak Mampir di New York atau sekarang judul Novelnya berubah menjadi Saman. Meskipun perubahan peran utama yang awalnya empat tokoh perempuan menjadi Saman ini tidak disadari betul oleh penulisnya. “saya tidak tahu pasti kenapa jadi beralih ke Tokoh Saman, ini hanyalah proses, jadi ketika saya mau menceritakan laki-laki saya menceritakan perempuan begitu juga sebaliknya. Saya selalu melihat sesuatu dari lawannya atau titik yang lain” ujar Ayu menanggapi perubahan dari tokoh utamanya (wawancara, 12 Juli 2005). Tapi novel ini juga tidak kehilangan napasnya dalam mengungkapkan masalah-masalah yang banyak dialami oleh wanita.

Saman merupakan novel yang menceritakan tentang berbagai masalah yang dulu terjadi ketika Saman ini terbit yaitu tahun 1998 saat rezim Soeharto berkuasa dan tahun itu merupakan tahun dimana merupakan jaman Orde Baru dimana kekuasaan yang sewenang-wenang menjadi raja. Saman mampu menangkap carut marut zamannya dan mengisahkannya dengan fasih, bahkan tanpa beban. Dan dalam novel ini juga banyak menggugat banyak hal, bukan sekedar seks, melainkan bila kita membaca dengan jeli yang lebih kental dalam novel itu adalah nuansa politisnya, terutama gugatan terhadap kekuasaan Orde Baru yang militerisme dan segala kekuasaan patriarkis. Dan tahun itu merupakan suatu zaman yang hiruk pikuk dengan peristiwa maupun lalu lintas informasi kultural, sehingga sukar untuk dipahami. Dengan meminjam terminology Mikhail Bakhtin, novel ini mengandung hetroglossia, keragaman , layaknya sebuah karnaval. Novel ini berkisah tentang pemogokan buruh, kolusi pengusaha perkebunan dengan militer local, penyiksaan aktivis, fenomena gaib, sekaligus mempertanyakan iman katolik, dominasi laki-laki atas perempuan, juga seksualitas dan cinta, dibalut bahasa yang indah dan ekploratif.

Pembicaraan tentang seks dijadikan Ayu sebagai wacana pemberontakannya terhadap dominasi dan kesewenang-wenangan laki-laki, wacana disini dimaksudkan Ayu untuk menuntut kesetaraan perempuan yang selama ini dieleminasi oleh kuasa kaum laki-laki. Penentangan terhadap dominasi laki-laki pun tidak luput ayu tuangkan dalam novelnya dimana ayu mengangkat berbagai isu sentral tentang masalah dunia patrialkal yang selama ini banyak merugikan perempuan. Lalu Cinta, politik, dan agama serta perasaan-perasaan yang saling bertaut antar para tokoh digambarkan tanpa rigiditas, tanpa beban, bebas sebebas-bebasnya. Setiap rinci peristiwa dibangun berdasarkan riset yang rigid, keleluasaan dalam menggunakan bahasa kemungkinan dipengaruhi pula oleh pandangan betapa ambigu sesungguhnya moralitas itu. Perselingkuhan, tugas pastoral yang suci, percintaan yang sembunyi-sembunyi, ketidakadilan terhadap kaum yang lemah sampai kesewenang-wenangan militer pada waktu itu tidak didudukkan dalam sebuah kursi moralitas yang hitam dan putih.

Novel Larung (2001)

Setelah sukses dengan novel pertamanya “Saman”, lalu Ayu Utami mengeluarkan novel keduanya pada bulan November 2001 yakni “Larung”. Larung adalah merupakan dwilogi yang masing-masing berdiri sendiri. Meskipun pada awalnya, Saman dan Larung yaitu dua novel yang direncanakan sebagai sebuah buku berjudul Laila tidak mampir di New York.

Tidak kalah menariknya dengan Saman, Larung sendiri masih menceritakan kegelisahan-kegelisahan dari penulisnya. Disana berbagai konflik dan masalah-masalah disuguhkan dengan apik. Masih dengan tokoh yang sama dengan tokoh-tokoh yang ada dalam novel Saman, Larung mencoba mengungkapkan lebih gamblang tentang eksistensi seks perempuan, politik juga budaya patriarki.

Dalam hal ini Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan tersebut, lewat diary tokoh Cok, tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman, Laila dan Sihar” (hal.77). Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan.

Problema-problema seks perempuan, yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal, pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. Tokoh Yasmin yang sempurna, cantik, cerdas, kaya, beragama, berpendidikan, bermoral pancasila, setia pada suami kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman, sang bekas frater.

Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. Hanya saja, seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya.

Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. Naik gunung, berkemah, turun tebing, cross country, dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. Juga, tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu, menyangkal hal-hal yang lembek, dan ia merasa ada supremasi pada dirinya” (hal. 118).

Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Tapi keperawanan Laila yang terjaga seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia justru menjadi problema. Ekspresi libido seks Laila terhambat. Lelaki takut padanya. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab.

Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. Gabungan sosok Saman dan Sihar, dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. Penggambaran tentang dunia lesbian, yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah.

Didalam Larung juga diceritakan berbagai masalah politik, seperti tokoh-tokoh yang pernah ditahan karena afiliasi politiknya atau karena kekeliruan yang tak pernah diakui dimunculkan secara manusiawi. Tapol atau mereka yang dicap "antek komunis" itu tampil sebagai orang yang mencintai negaranya, yang menekuni profesinya, dan sebagai pribadi yang bisa menyayangi, membenci, punya cita-cita, rasa sakit, lapar, dan kesepian. Dalam novel Larung karya Ayu Utami, di balik stereotip-stereotip "Gerwani", "PKI", "Penimbun beras" ditunjukkan orang-orang kecil yang tak tahu apa-apa, seperti ayah tokoh Larung, seorang tentara yang mengatasi gaji kecilnya dengan menjual sisa beras jatah bersama sobatnya pedagang kelontong orang Cina. Keduanya dibunuh, yang satu dicap oknum PKI ketika sesama tentara terpaksa menyebut kawannya untuk menyelamatkan nyawa, dan sang pedatang dibantai sebagai "penimbun beras”

(Dina Mardiana, S.Sos, Alumni Fikom Unisba)

karya lainnya :
Essai Si Parasit Lajang terbit tahun 2002

Alamat : Jalan Utan Kayu, 68 H Jakarta Timur hanphone 08129696821 E-mail Ayutami@yahoo.com

Sumber :

Utami, Ayu. 1998. Saman. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

--------------. 2001. Larung. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

---------------. 2003. Si Parasit Lajang. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta

Kurnia, Anton. 2004. Sastra Feminis dalam Tiga Diskusi http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906Jakarta.

Tiana Rosa, Helvy. 2004. Seks dan Penokohan Perempuan dalam Tiga Novel Indonesia mutakhir, http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906,Jakarta.

Magdal, Mer. 2004. Ketika Seks (Lagi-lagi) Menjadi Bumbu Sastra, http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3379,Jakarta.

http://www.indomedia.com/intisari/1998/september/sex.htm.

Wawancara Ayu Utami, Jakarta, 12 Juli 2005

Thursday, February 14, 2008

Askar Watoniyah mengancam Stabilitas di Perbatasan

Lagi-lagi negeri termodern di ASEAN berbuat ulah lagi dengan berita perekrutan para militer Askar Wathoniyah yang justru dengan merekrut orang Indonesia dengan iming-iming gaji sekitar 2-3 juta rupiah per-bulan dan sangat mengiurkan dan menurut Menhan Juwono Sudarsono bahwa "Perekrutan WNI ke askar watoniyah ini sesuai dengan hukum ekonomi, artinya bukan masalah patriotisme tapi kebutuhan ekonomi", sebagaimana yng dikutip Media Indonesia Online

Persepsi kita berbeda tentang daerah diperbatasan, bagi Malaysia daerah perbatasan sebagai daerah strategis untuk memperluar wilayah mininya selain mencoba menduduki pula-pulau kosong milik Indonesia yang sulit terjangkau atau sebagaimana yang dilakukan negeri yahudi Asia dengan mengeruk pasir didaerah Riau daratan untuk memperluas daratan negeri Singa itu dan secara perlahan banyak pulau kita tenggelam dan hilang dalam peta kita sedang bagi kita dianggap daerah terpencil dan tidak begitu penting karena merasa memilki wilayah yang luas.

tentu saja sebuah keberanian yang luar biasa untuk terus merongrong negeri "harimau ompong Indonesia" dengan perbatasan yang dijaga kurang lebih 700 personil coba banding dengan Askar watoniyah, salah satu tugas mereka dengan menggeser patok perbatasan yang kurang terkontrol oleh militer Indonesia dan apabila ada konflik sebebarnya militer kita berhadapan dengan rakyat kita sendiri, sebuah strategi luar biasa dan sangat beralasan keberanian negeri Jiran ini setelah sukses besar tanpa conter dari pemerintah kita dengan lepasnya beberapa pulau, claim seni budaya terus lagi penyiksaan dan pemukulan terhadap para pekerja kita dan masih banyak perlakuan kolonialis yang terlihat bukan karakter bangsa Melayu yang mengaku sangat modern dan katanya Agamis, yang kita lihat justru karakter kolonialis seperti ayah kandungnya inggeris yang telah memberikan hadiah kemerdekaan tanpa tetesan darah sedikitpun.

Malaysia satu sisi sedang eforia kemaksmuran negerinya dan sisi lain sedang mengalami krisis peradaban dan semakin fobianya dengan masuknya orang Indonesia yang semakin mendominasi kultur-ekonomis masyarakatnya. Ketergantungan yang luar biasa terhadap tenaga kerja kita dan semakin sulitnya mencari tenaga kasar yang berasal dari orang Malaysia sehingga berbagai cara dilakukan walaupun dalam praktek sehari-hari seolah orang Indonesia saja yang sangat tergantung secara ekonomis. Dominasi orang Indon inilah menyebabkan terjadinya shock culture dan rasa curiga yang berlebihan, jangan-jangan suatu waktu orang Indon ini menjadi warga mayoritas yang bisa mengendalikan seeprti dominasi Chines di Singapure mengalahkan orang asli Melayu.

Boleh saja generasi pertama mereka buruh kasar dan tenaga babu, tapi anak-anak mereka bisa menikmati kemudahan pendidikan dan semangat kerja yang luar biasa yang ditunjukan para perantau walaupun dengan berbagai perlakuan tidak manusiawi dan dimana orang Indonesia tidak pernah pilih-pilih pekerjaan dan tidak pernah semalas dinegerinya sendiri. sehingga suatu waktu berbagai bidang kehidupan akan didominasi oleh orang Indon ini, jelas sebuah ancaman yang dahsyat seperti ketakutan negeri Eropa seperti Perancis dan Ingeris terhadap pendatang haram dari negeri muslim Afrika yang terus menggeser posisi orang Eropa dalam berbagai infrastruktur.

Menurut Sudarsono, "kita juga harus menjaganya dan mampu memberikan nilai ekonomi yang bisa menghasil crude palm oil" selain melayang protes diplomatik kemudian selain meninjau kembali status kewarganegaraan orang Indonesia yang ikut laskar ini dan langkah tegas peemrintah dalam pengamanan perbatasan, tidak ada kata terlambat sebelum konflik terjadi.

Claim kita tetap mengganti nama Malaysia yang terhormat ini dengan sebuatan "negara Malingsia" yang mengaku serumpun katanya.

Tuesday, February 12, 2008

Kolom Budaya



Saatnya Revolusi budaya
oleh : Mamat Hermawan Al (Budayawan Bekasi)

Sebuah keniscayaan "kebudayaan"dijadikan sebagai pijakan dalam perspektif membangun daerah dengan menengok dentingan tiga puluh tahun lalu, geliat anak-anak muda Bekasi marak dengan berbagai kegiatan kepemudaan, olahraga, seni dan budaya menjadi aktiftas yang tak pernah sepi, wabil khusus geliat dibidang seni budaya telah banyak mengukir prestasi, baik tingkat daerah maupun nasional.

Cita-cita dan obsesi para pelaku seni budaya masa lampau di Bekasi banyak yang tidak mengetahui, bahkan hampir generasi muda masa kini tidak ada yang mau menelusuri dan tertarik dengan histori masa lalu. Kita tidak sepenuhnya menyalahkan mereka, karena keterbatasan media informasi dan bukti-bukti fisik ataupun karya mereka hampir tidak ada dalam publikasi, baik berbentuk audio maupun visual atau juga secara tertulis.

sehingga perjalanan sejarah kiprah dan karya para pelaku seni budaya di Bekasi telah banyak meninggalkan kesan yang nyata ataupun maya, baik karya seni tradisi maupun karya seni modern kontemporer. Klimaks geliat seni budaya dapat kita ukur pada era tahun 70-an dimana booming seni budaya secara nasional membangkitkan gairah anak-anak muda diseluruh penjuru tanah air, begitupun Bekasi yang dikenal sebagai kota mangunpraja sejak jaman becokol-nya kerajaan di Bekasi yang muaranya terbangunnya lalu lintas air terpanjang yaitu sungai Bekasi, sungai yang bersejarah diera tahun 70-an itu kerap diadakan event kegiatan seni budaya, baik seni vocal menyanyi, seni tari dan bahkan seni drama.

Pada waktu itu sangat dominan sekali, karena setiap event apapun anak muda Bekasi memvisualisasikan kehidupannya diatas pentas, dimulai dari lingkungan yang terkecil sampai besar. Seni drama yang kini kita kenal sebagai "seni theater" yang pertunjukannya dihalaman-halaman desa dan kecamatan, bahkan ajang-ajang festival drama/tetater hampir tiap bulan dan dilaksanakan oleh lembaga apa saja termasuk andil dari kalangan militer seperti yang pernah dilakukan oleh tokoh teater dan komandan kodim Bekasi H. Sani'in (almarhum) sekitar di era tahun 60-70-an, maka tidak heran kalau pada waktu itu banyak bermunculan kelompok teater/drama yang mencapai 40-an jumlahnya yang diwadahi oleh "Teater Chandrabaga" yang mewakili Bekasi, tercatat juara II Festival Nasional Piala Ibu Tien Soeharto, juara umum dan terbaik festival teater pemuda di GGM Bandung piala Gubernur Jawa Barat Yogie S. Memet tahun 1985, termasuk aktif mengikuti festival purnadrama nasional di Monas Jakarta. Begitupun kiprah seni tradisonal topeng Bekasi yang telah melanglang buana ke manca negara. akan tetapi Seni teater menjelang tahun 90-an terjadi perubahan drastis setelah masuknya era sinematik dan sinetron yang menjamur sehingga mengalihkan perhatian anak muda dengan lesinematik sehingga satu persatu kelompok tetater Bekasi banyak yang menghilang.

Sekarang ini sebenarnya kalau kita mau jujur di Bekasi itu banyak menyimpan potensi seni budaya yang dapat kita gali dan sebagai khasanah cermin budaya Bekasi, namun semuanya kembali pada konsistensi seniman dan budayawan selain keseriusan pemerintah kota Bekasi untuk mempertahankan ikon-ikon seni budaya yang pernah tumbuh di Bekasi. Kegiatan seni budaya bukan hanya sekedar ceremonial atau life in service semata atau seni hanya digambarkan seperti daun salam, habis dipakai sesudah itu dicampakan begitu saja termasuk para pelaku seni tradisional Bekasi yang kurang mendapat perhatian.

Dewan Kesenian Bekasi sudah berupaya memberikan penghargaan dalam DKB Award tahun 2005 yang dibuka oleh wakil wali kota bekasi saat itu, H. Mochtar Mohammad (sekarang Wali kota Bekasi), kemudian berlanjut dengan DKB award II pada bulan juni 2007 yang dibuka oleh wakil ketua DPRD kota Bekasi, H. Ahmad Syaikhu yang bercita-cita akan membangun perkampungan Bekasi yang berarsitek dan nuansa budaya Bekasi agar tidak punah.

Sangat ironis kalau seni budaya tidak bisa berkembang di Bekasi, soalnya pemerintah kota bekasi telah mencanangkan monumen yang terpasang dengan berlogo penari topeng dan bunga teratai yang bertuliskan slogan : " Bekasi kota patriot, seni dan budaya",
di area taman pasar baru Bekasi (depan Alfamart Grosir) dan kegelisahan para seniman-budayawan Bekasi dengan membetuk "Dewan Kesenin Bekasi" tanggal 13 Maret 1998 dan tercurah satu tekad kebangkitan seni budaya di Bekasi dengan membangun kemitraan untuk semua kalangan yang ditopang dan bersinergi dengan pemerintah kota Bekasi dan revolusi budaya Bekasi adalah amanat hasil Rakerda II di Subang tanggal 24-25 Desember 2007 seiring dengan Muhibah Budaya antar dewan kesenian se-wilayah IV plus Dewan kesenian Indramayu selin melahirkn gagasan temu bduaya antar kesenian pesisir Jawa Barat plus Jawa Tengah oleh Dewan Kesenian Tegal tanggal 26 januari 2008 di Indramayu.

Acara tahunan DKB kota bekasi tahun lalu menjadi inspirasi para pelaku seni bduaya yang akhirnya muncul sinyal pembentukn forum bduaya antar dewan kesenian se-Jawa Barat dan Jawa Tengah sebagai wadah komunikasi dan tukar pendapat para seniman.

Secara lengkap rakerta II dan muhibah budaya dihadiri Dewan Kesenian Karawang, Dewan Kesenian kabupaten Bekasi, Dewan Kesenian Subang, Dewan Kesenian Indramayu, dan Dewan Kesenian Tegal. DK Bekasi menampilkan tari topeng Blantek, musikalisasi puisi dan pembacaan puisi, sedang DK Indramayu menampilkan seni Syeran dan ditutup DK Subang dengan menampilkan seni tradisional Gemyung dengan 40 personil yang rata-rata pegawai pemda kabupaten subang dengan sinden yang bernama Nunung.

Diusianya yang ke 10 DKB telah melahirkan tokoh pimpinan : H. Soeci Oetomo, BSc. (1998-200), Dra Hj. Henny S. Djyodirono (200-2003), Drs Benoni R. Julius (2003-2006) dan sekarang Ridwan Marhid, SPd. (2006-2010).

Friday, February 8, 2008

Sketsa Hidup

Potret dedikasi pak Putu di tol Cibitung

Apabila melewati arteri tol Cibitung arah ke Kawasan Industri MM 2100, Cikarang Bekasi, hampir dipastikan akan menemukan kemacetan yang luar biasa pada jam masuk kerja dan saat bubaran karyawan yang diperpadat dengan keluarnya kendaraan jemputan dan truk tronton besar. Keluar masuk membawa muatan dari pabrik. Namun petang itu tidak seperti biasanya, kemacetan bisa dikendalikan oleh seorang yang sering diteriaki para karyawan yang mengaguminya dan salah satu fans berat pak Putu itu, Upi *, anak kesayangan ibu mertua yang kebetulan bekerja kawasan industri Cibitung.

Dia bercerita ketika keluar bubaran pabrik lalu berpapasan dengan pak polisi yang namanya Putu.. Terdengar teriakan histeris disertai lambaian para karyawan memanggilnya, “Pak Putu...pak Putu”. Pak polisi membalas dengan senyum yang khas tidak memperlihatkan kelelahan menghadapi lalu lalangnya kendaraan.dibalas dengan lambaian simpatik pak polisi itu. Terkadang disaat lenggang, kata si Upi, tiba-tiba ada masyarakat yang menghentikan sepeda motornya atau mobilnya lalu mendekatinya sambil memberikan sesuatu sebagai wujud simpatik pada pak Putu, tetapi pak polisi selalu menampik dengan halus. Padahal ironinya kebiasaan oknum pak polisi malah menilang disaat perjalanan macet, bahkan bertambah macet. Yang kena tilang terpaksa harus memilih damai daripada harus sidang dulu. “Ribet pisan kalau ditilang, mendingan damai”, bisik teman sambil mendelik melihat pak polisi. Kata si Aa menimpali, ”Bukankah damai itu indah

Si Aa Jadi ingat cerita teman, setiap kena tilang ada dua pilihan: ”Sidang atau pemberian uang damai”. Hal yang sama untuk membuat SIM, daripada ke SAMSAT mendingan ke biro jasa, da sarua biayanya atau laporan pengaduan yang berbuntut panjang bisa-bisa malah jadi terdakwa sehingga wajar kalau ada kejadian kriminal masyarakat malah malas untuk melaporkan ke kepolisian. Entah kebetulan kebiasaan pungli ini ternyata terus saat pak oknum polisi jadi birokrat, kata televisi mah ”malah malakin para TKW di Arab segala” dan biasanya dinegara kita mah bisa diusut kalau para pejabat sudah pensiun atau tidak bisa diusut dengan cara sakit.

Bahkan masyarakat merasa takut bukan segan lagi pada polisi, tapi pak Putu ini seorang polisi yang tegas menghukum para pelanggarnya sampai kapok. Kata para sopir, biasanya kalau diketahui melanggar, pak Putu hanya disuruh push-up diatas atap bis atau disuruh menggendong bergantian antara sopir dan kernetnya. Namun jangan coba-coba mau menyogoknya sangat sulit dan sangat wajar kalau pak Putu disegani sopir-sopir serta diidolain oleh para penumpang layaknya seorang celebrity yang merasakan manfaat seorang Putu dibandingkan dijaga oleh empat orang polisi tapi kemacetan luar biasa di tol menjelang senja.

Perlu dipahami tidak sepenuhnya salah pak polisi dong dan si Aa mah berempati sekali, Nasib pak polisi memang sama dengan nasib si Aa yang guru honorer dan sudah lewat usia untuk jadi PNS akhirnya malah jadi capetang mapatahan endog ka meuri. Punteun pak POLRI** Sekali lagi harus dipikirkan pemerintah karena memang gajih polisi kita ini terendah didunia. Coba kita bandingkan lebih gedean gaji yang kerja di PT dengan standar UMK plus uang lembur apalagi kerja longshift. kecuali tidak tahu kalau pak polisi ada uang lemburan atau hanya gajih toh. Begitu juga jumlah peralatan operasionalpun tidak secanggih dinas rahasia dan polisi di dunia lain seperti cerita dalam film-film barat, bahkan kuantitas personilnyapun belum sesuai dengan ratio jumlah penduduk Indonesia. Usulan mah naikan Anggaran kepolisian sehingga gajihnya bisa layak daripada uang negara dipakai untuk ngempani kebutuhan anggota dewan yang nyolok mata buncelik ka rakyat*** disaat harga sembako dan BBM naik, eh malah, marudul loba pamenta. Lebih baik dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan polisi, piraku we, lamun sejahtera mah yakin akan lahir pak Putu yang penuh dedikasi dan tidak mudah disogok bahkan pasti tidak mau jadi becking-becking-an sagala. Kemudian permudah kalau orang ingin jadi polisi tapi benar-benar diseleksi ulah main sogok sagala, biar terlihat bibitnya baik, mental dan akhlaknya baik dan terpilih paling unggul. Jangan sampai kayak seleksi PNS untuk guru malah sembilan kali tes tidak masuk-masuk, meureun kayaknya si Aa mah rada telmi alias telat mikir plus anti sogok menyogok.

Potret pak polisi idola si Upi diatas, sebenarnya si Aa masih penasaran sekali untuk melihat langsung profilenya. Namun menurut si Upi itu juga kalau kebetulan tol Cibitung dijaga oleh Pak Putu. Namun sampai sekarang pak Putu sudah jarang lagi jaga di tol Cibitung. ”orang baik sangat dibutuhkan dimana-mana, tapi sayangnya Cuma satu polisi”, kata si Upi ngaheulas. Iya memang begitu, masyarakat kita masih memimpikan para polisi yang idealis, penuh dedikasi kaya pak Putu dan jangan sampai masyarakat hanya membandingkan para polisi kita dengan kisah polisi di film Bolywood. Sanes kitu, Kang?
_____________________________

*Sebutan khas wanita muda Minang
** Sok tahu mengajari orang pintar
*** Istilah peribahasa sunda tidak memiliki rasa empati disaat orang lain menderita.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...