Dilema Kebijakan Ekonomi *
Oleh : Muhammad Chatib Basri, Direktur LPEM
FEUI
Pagi ini mungkin baik kita mengingat kalimat kuno dari mantan Presiden
Perancis Charles De Gaulle, to govern is always to choose among
disadvantages (memerintah berarti memilih di antara pilihan yang tak
menyenangkan). Pilihan kebijakan memang jadi semakin sulit.
Kenaikan konsumsi energi telah mendorong peralihan produksi dari
makanan kepada biofuel. Perubahan iklim juga telah mengakibatkan
produksi pangan dunia menurun. Dapat diduga, harga komoditi melonjak
seiring dengan naiknya harga energi. Untuk menjamin pasokan dan harga
domestik, beberapa negara lalu memutuskan melarang ekspor. Tak salah
memang. Namun, bila sebagian besar negara memilih langkah ini,
ketersediaan pangan di pasar dunia akan semakin terbatas, akibatnya
harga akan semakin melangit. Situasi eksternal yang tak bersahabat ini
tampaknya masih akan bersama kita kedepan. Indonesia, juga berada
dalam yang amat dilematis. Tekanan harga minyak dan komoditi membuat
beban subsidi pemerintah melonjak dan stabilitas makro dipertanyakan.
Kita punya dua soal, pertama, bagaimana menjaga daya beli kelompok
miskin akibat tekanan kenaikan harga pangan? Kedua, bagaimana menjaga
stabilitas ekonomi makro?
Pertama, perhitungan dari data SUSENAS menunjukkan bahwa porsi
pengeluaran untuk makanan di kelompok yang paling miskin (decile 1)
adalah sebesar 29.5% dari total pengeluaran mereka. Sedangkan di kelas
menengah keatas hanya sebesar 16.1%. Artinya kenaikan harga makanan
akan sangat memukul mereka yang miskin. Itu sebabnya bantuan atau
subsidi kepada penduduk miskin harus dilakukan. Sayangnya, anggaran
terbatas. Kalau begitu, mengapa pemerintah tidak mengurangi sedikit
subsidi premium dan mengalihkannya kepada makanan? Porsi konsumsi
premium jelas lebih kecil dibanding porsi konsumsi makanan di dalam
keranjang konsumsi penduduk miskin. Mekanismenya, bisa melalui program
cash for work, dimana pemerintah menyediakan lapangan kerja, dalam
periode waktu tertentu, bagi penduduk miskin melalui program
pembangunan infrastruktur desa seperti irigasi dalam skala kecil,
konservasi tanah, pembangunan jalan desa atau program reforestation,
Bantuan Langsung Tunai, subsidi pangan seperti raskin.
Kedua, dalam kaitan stabilitas ekonomi makro, harga minyak yang tinggi
telah menimbulkan inflation overhang. Pelaku ekonomi menganggap:
dengan harga minyak dan komoditi yang tinggi, inflasi akan meningkat.
Selain itu akan ada tekanan yang kuat pada anggaran kita, sehingga
dibutuhkan pembiayaan yang lebih besar pula. Padahal kita tahu, dalam
situasi pasar keuangan dunia yang bergejolak seperti ini, pembiayaan
dari pasar tak mudah dan biayanya relatif lebih mahal. Ekspektasi
inflasi yang tinggi akan mendorong depresiasi. Akibatnya rupiah akan
melemah. Pelemahan rupiah yang tajam dapat menganggu stabilitas makro,
inflasi naik dan pertumbuhan ekonomi menurun.
Diskusi di Asian Economic Panel di Seoul juga mengingatkan, dalam
situasi ketidakpastian akibat krisis sub-prime, ketidakstabilan makro
dapat mendorong terjadinya arus modal keluar secara tiba-tiba. Ini
jelas berisiko. Karena itu pemerintah harus berupaya mengurangi
subsidi BBM. Ada dua cara, melalui pembatasan kuantitas seperti
program smart card dan subsidi terbatas kepada kendaraan angkutan umum
atau melalui mekanisme harga.
Pemerintah sendiri menyatakan kenaikan BBM adalah pilihan terakhir dan
lebih memilih pembatasan kuantitas. Sayangnya, kita tahu pembatasan
kuantitas membutuhkan administrasi dan pengawasan yang tinggi
–sesuatu
yang kerap kali pemerintah lemah. Pilihan smart card misalnya,
menuntut dilakukannya pendaftaran jutaan kendaraan. Bisa dibayangkan
betapa rumit proses administrasinya. Pilihan pemberian BBM bersubsidi
hanya kepada kendaraan angkutan umum juga tak kurang rumitnya:
kendaraan yang bukan angkutan umum harus membeli Pertamax yang
harganya nyaris dua kali lipat Premium. Artinya beban kenaikan harga
yang harus ditanggung masyarakat tinggi sekali. Bukankah ini jauh
lebih memberatkan? Selain itu apakah semua SPBU dapat menyediakan
Pertamax dalam waktu singkat? Di sini terlihat bahwa pembatasan
kuantitas amat sulit dilakukan dan lebih membebani masyarakat. Pilihan
rasional yang tersisa adalah melalui mekanisme harga. Secara
admnistrasi lebih mudah dan transparan. Dengan kebijakan ini ada
beberapa hal yang dapat diperoleh. Pertama, setiap kenaikan Premium
sebesar Rp 500 akan meningkatkan penerimaan pemerintah sebesar Rp 9
trilyun yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan daya beli
penduduk miskin. Kedua, kenaikan harga akan menurunkan insentif untuk
penyelundupan. Selain itu -walau terbatas- kenaikan harga juga akan
mengurangi konsumsi BBM. Menurunnya penyelundupan dan konsumsi akan
membuat impor BBM menurun. Akibatnya rupiah akan menguat. Penguatan
rupiah akan membuat inflasi dapat dikendalikan.
Dari perspektif ekonomi makro, pilihan ini akan mengatasi problema
inflation overhang. dan mengembalikan stabilitas ekonomi makro. Tentu
pilihan ini ada dampaknya. Kenaikan harga Premium dan solar sebesar
10% misalnya akan meningkatkan inflasi sekitar 1%. Jika kenaikan tidak
terlalu besar, dampak pada inflasi terbatas. Kenaikan harga juga harus
dikompensasi dengan program untuk penduduk miskin, sehingga dampak
negatif dapat diatasi dan daya beli penduduk miskin yang terpukul
karena harga pangan, dapat di kompensasi.
Saya tahu, ini bukan pilihan mudah. Tetapi di hari-hari ketika situasi
eksternal tak bersahabat, kita memang dihadapkan pada pilihan sulit.
Pilihan ini mungkin terkesan tak populer, sebuah pilihan yang sepi,
tak ramai dijejaki orang. Mirip bait akhir puisi Rober Frost, The Road
Not Taken:
"I took the one less travelled by And that has made all the
difference".
* Tulisan ini dimuat di Analisis Ekonomi Kompas, Senin 28 April 2008.
foto: perspektif.net
Rizal Ramli Tantang SBY Debat Terbuka Soal BBM Oleh : Rizal Ramli,
Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia
Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia Dr. Rizal Ramli menantang Presiden
SBY untuk melakukan debat terbuka berkaitan dengan rencana pemerintah
menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Presiden diminta tidak
menghindar dari tantangan tersebut.
"Kalau perlu SBY menyertakan semua menteri ekonominya dalam debat
terbuka tersebut. Waktu dan tempatnya silakan SBY yang tentukan, asal
jangan terlalu lama sejak tantangan ini," kata Rizal Ramli yang juga
dijuluki Sang Lokomotif Perubahan dalam siaran persnya.
Dr. Rizal Ramli, Sang Lokomotif Perubahan
"Kehidupan rakyat sudah sangat berat. Kondisi sekarang sangat berbeda
dengan tahun 2005. Rakyat kini sudah babak belur dihantam kenaikan
harga pangan dan merosotnya pendapatan. Sementara omset UMKM anjlok
hingga 30-40%. Semua ini terjadi karena pemerintah tidak mampu
menstabilisasikan harga. Saya tidak habis mengerti, bagaimana mungkin
pemerintah mengabaikan kenyataan ini. Ini kok malah mau menaikkan
harga BBM lagi," tukas Rizal yang juga mantan Menko Perekonomian dan
Menteri Keuangan.
Fakta menunjukkan, dampak dua kali kenaikan BBM pada 2005 sampai
sekarang belum hilang. Jumlah orang miskin melonjak dari 31,1 juta
jiwa (2005) menjadi 39,3 juta jiwa (2006). Demikian pula inflasi naik
tajam 17,75% (2006). Jumlah penganggur naik dari 9,9% (2004) menjadi
10,3% (2005) dan naik lagi jadi 10,4% (2006). Di sisi industri,
kenaikan harga BBM telah mendorong percepatan deindustrialisasi. Pada
2004 sektor manufaktur masih tumbuh 7,2%, namun tahun 2007 hanya
tumbuh 5,1%. Ini terjadi karena industri ditekan dari dua sisi, yakni
peningkatan biaya produksi dan merosotnya permintaan akibat anjloknya
daya beli masyarakat.
Banyak Solusi Lain
Rizal Ramli mengaku sangat prihatin dengan pembentukan opini yang
dilakukan pemerintah dan berbagai lembaga penganut Jerat Washington
(Washington Consensus), bahwa seolah-olah kenaikan harga BBM adalah
langkah terakhir. Kalau saja pemerintah kreatif, mau dan berani,
sejatinya banyak alternatif lain untuk menyelamatkan APBN tanpa harus
menaikkan BBM. Beberapa langkah itu antara lain, mereformasi tata
niaga migas dan menghapuskan mafia impor migas.
"Telah menjadi rahasia umum, proses pengadaan dan distribusi BBM oleh
Pertamina sarat dengan KKN dan ketidakefisienan. SBY harus berani
menyikat mafia yang mengutip minimal US$2/barel dari impor minyak.
Kenapa ini tidak dilakukan?" katanya.
Masih seputar migas, cara lainnya dengan merevisi formula perhitungan
alokasi dana bagi hasil migas, meningkatkan mobilisasi dana alternatif
dengan melakukan berbagai langkah kebijakan burden sharing kepada
semua stakeholders baik pemerintah pusat, Pemda, kreditor kalangan
bisnis maupun masyarakat luas. Pemerintah juga diminta mengefektifkan
program anti kemiskinan, dan menyusun strategi diversifikasi energi.
Rizal Ramli juga menilai program Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai
kompensasi bagi rakyat miskin untuk mengurangi dampak kenaikan BBM,
tidak akan efektif. Pemerintah mestinya belajar dari kegagalan BLT
pada 2005. Banyak kelemahan dari pelaksanaan program kompensasi.
Antara lain besaran BLT tidak memadai untuk mengurangi beban orang
miskin. Kendati BPS telah melakukan pendataan, tapi BLT juga banyak
yang salah sasaran. Diprediksi ada sekitar 15-20% keluarga miskin yang
tidak terjaring karena berbagai alasan.
"Tahun 2008, pemerintah SBY tanpa persiapan matang akan mengulang
program tersebut. Padahal koreksi terhadap data, program, dan
mekanisme belum dilakukan. Demikian juga data yang akan dijadikan
acuan adalah data yang telah out of date karena akan menggunakan data
penerima BLT tahun 2005. Dengan gambaran ini dapat dipastikan tingkat
efektivitas dari program BLT akan sangat rendah. Apalagi sejak 2006
muncul keluarga miskin baru yang belum terdata akibat berbagai
kebijakan ekonomi pemerintah SBY yang tidak berpihak kepada kelompok
masyarakat bawah," paparnya.
Dari kenaikan harga BBM, pemerintah berharap bisa menghemat subsidi
sekitar Rp 25 triliun-Rp 30 triliun. Jumlah ini sangat tidak berarti
dibandingkan dampak ekonomi dan sosial yang pasti akan dirasakan
masyarakat. Di sisi lain, ada pos pembayaran bunga obligasi rekap
perbankan puluhan triliun dan utang luar negeri yang jumlahnya ratusan
triliun. Ditambah dengan efisiensi di Pertamina dan PLN, akan banyak
dana yang bisa dialokasikan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.
Rizal Ramli menilai SBY tidak berani melakukan renegosiasi dengan
kreditor untuk memperoleh penundaan pembayaran utang, tidak berani
mengurangi subsidi bank rekap, tidak berani memberantas mafia impor
BBM, dan tidak mampu mengurangi inefisiensi di Pertamina dan PLN.
"Jangan hanya beraninya kepada rakyat," tukas Rizal Ramli.
Saturday, May 24, 2008
TEPATKAH KEPUTUSAN PEMERINTAH MENAIKKAN HARGA BBM DEMI SELAMATKAN APBN?
Kepentingan Asing Di Balik Kenaikan BBM
Kenapa pemerintah begitu ngotot menaikan lagi harga BBM? Ternyata itu dilakukan agar segera mencapai tingkat harga yang diinginkan oleh pemain asing. Jadi kenaikan BBM itu tidak untuk rakyat dan tidak juga untuk menyelamatkan APBN.Demikian disampaikan Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia, saat berbicara di depan ratusan peserta acara diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38, bertema BBM Naik, SBY-JK Turun?, di Jakarta, Senin (19/5). Hadir pembicara lain dalam acara diskusi rutin FKSK itu seperti Jhony Allen Marbun (Ketua DPP Partai Demokrat Bidang OKK), Ramson Siagian (Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan DPR RI), Abdullah Sodik (Ketua Serikat pekerja Pertamina), dan Hendri Saparini (Ekonom Tim Indonesia Bangkit).
Menurut Ismail, kesimpulan itu berdasarkan pernyataan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro yang ditulis Di Kompas, 14 Mei 2003. Purnomo mengatakan, “’Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.”
Meski pernyataan itu sudah lama, tapi menurut Ismail kita baru menemukan faktanya sekarang. “Ini ironi, kita membeli minyak milik kita sendiri di halaman rumah kita, dengan harga yang ditentukan oleh asing,” ujar Yusanto.
Saat ini saja, tambahnya, mengutip pernyataan Dirjen Migas Dept. ESDM, Iin Arifin Takhyan, di Trust, edisi 11/2004, terdapat 105 perusahaan yang sudah mendapat izin untuk bermain di sektor hilir migas, termasuk membuka stasiun pengisian BBM untuk umum (SPBU). Perusahaan migas raksasa itu antara lain British Petrolium (Amerika-Inggris), ShellPetro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika).
Hal yang sama juga disampaikan Abdullah Sodik. Menurutnya, problem kelangkaan BBM itu sebenarnya diakibatkan oleh rusaknya sistem yang diberlakukan pemerintah, yang membuka peluang privatisasi pengelolaan gas. “Serta memberikan kewenangan kepada perusahaan asing dan domistik untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak. Bahkan dibiarkan juga untuk menetapkan harga,” ujarnya.
Wajar bila kemudian, kata Sodik, minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen. Selebihnya masuk kategori Major, seperti [/color=red]Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex[/color], yang menguasai cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. “Sedangkan perusahaan independent menguasi cadangan minyak 12 persen, dan gas 5 persen,” terang Sodik.
Melihat fakta itu logis bila kemudian kita mengalami masalah dengan BBM. Logis pula bila rakyat banyak yang menolak rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi itu. Sebab rakyat lah akan menjadi korban akibat kebijakan yang tidak populis ini. “PDIP menolak kenaikan harga BBM. Karena kalau naik BBM bersubsidi maka rakyat akan menderita, UKM yang 80 persen akan menjadi korban, inflasi akan meningkat, suku bunga akan naik, sektor industri kita jasa menengah ke bawah akan jadi korban. Jadi kemisikinan bertambah,” ujar Ramson Siagian.
”Saya juga tidak setuju kenaikan BBM,” ujar Abdullah Sodik. “Kita harus menyadari minyak bumi itu bukan dibuat oleh pemerintah. Tapi minyak bumi itu dibuat oleh Allah. Karena itu rakyat berhak mendapatkan subsidi. Kenapa ketika pemerintah menyubsidi rakyat sendiri pemerintah kalang kabut,” tambahnya.
Sementara itu Jhony Allen Marbun mengatakan, kalau untuk kepentingan pribadi dirinya tak setuju kenaikan BBM. “Namun kalau tidak naik, kondisi ekonomi kita makin ambruk, kemiskinan makin meningkat,” ujarnya.
Hendri Saparini juga tidak sepakat bila harga BBM dinaikkan. Pertimbangannya adalah ekonomi. Ketika pemerintah mengatakan kita akan kolaps kalau tidak segera menaikkan harga BBM, maka publik harus tahu bahwa yang dimaksud kolaps menurut pemerintah itu adalah APBN. Sementara APBN itu terhadap kue ekonomi besarnya hanya 20 persen. “Jadi kalau harga BBM dinaikan, maka yang kena dampaknya 80 persen adalah rumah tangga dan industri,” ujarnya.
Hendri mengatakan, kalau ada kenaikan harga minyak dunia, jika memang pemerintah itu akan menyelamatkan APBN maka semestinya pos yang boleh dikotak katik tidak hanya subsidi BBM. Karena kita punya pos-pos lain yang dalam kondisi darurat mestinya bisa direvisi. “Kenapa yang halal hanya subsidi BBM, kenapa pembayaran utang luar negeri menjadi tidak halal,” ujar Hendri heran.
Ismail menegaskan ini semua terjadi karena adanya liberalisasi di sektor migas, yang merupakan bagian dari liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik, liberalisasi sosial, budaya, pendidikan. Inilah yang harus dilawan. Sebab Indonesia makin hari makin menuju kepada negara liberal. “Dan siapa yang menjadi korban, kita semua,” terangnya.
Solusi
Seperti dikatakan Hendri Saparini, pemerintah seharusnya tidak menaikan harga BBM, sebab masih banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan APBN, terkait meningkatnya harga minyak dunia itu.
Peserta Diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38 mengusulkan solusi jangka pendek yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, pemotongan bunga rekap di APBN sebesar 40-60 triliun. Kedua, pemotongan bunga utang 95 triliun, Ketiga, Winfall profit dari hasil minyak bumi tidak perlu dibagi ke daerah, tetapi digunakan untuk menutupi subsidi BBM. Keempat, membatalkan kontrak/nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak asing. Dan kelima, mengubah sistem pengelolaan BBM, gas, batu bara dan energi lainnya dari swasta ke pengelolaan negara.
“BBM bersubsidi sebetulnya tidak perlu naik. Pemerintah kan mengatakan yang diperlukan efesiensi itu 35 Trilyun. Sementara bunga utang dalam negeri itu ada 60 Trilyun. Itu saja sudah beres, “ujar Ramson Siagian.
Sementara itu terkait nasionalisasi, pilihan ini memang banyak pihak yang menentangnya.. Hendri Saparini mengatakan, kita memang selalu sering dicekoki bahwa nasionalisasi itu tidak boleh. Padahal banyak fakta, ketika negara lain melakukan nasionalisasi tidak ada masalah. “Fakta terbaru, Inggris barus saja melakukan nasionalisasi bank –nya. Jadi jangan kita kemudian ditakut-takuti oleh sesuatu yang sebenarnya itu bisa terjadi di negara-negara maju,” ujar Hendri.
Bukan hanya nasionalisasi, kata Hendri, kita juga selalu ditakut-takuti siapa pun yang menjadi presidennya dia pasti menaikan harga BBM. Padahal jawabannya tidak. “Pertama untuk beban subsidi misalnya, sekarang ini PLN masih menggunakan BBM. Kalau kemudian kita mengganti dengan gas maka tidak perlu ada tambahan subsidi. Masih juga ada hal lain. Jadi tidak sama. Bukan siapa pun presidennya akan menaikkan BBM, tapi kalau kebijakannya sama maka akan menaikkan BBM juga,” ujar Hendri.
Ismail Yusanto mengatakan, kesalahan utama pengelolaan migas dan SDA kita adalah terjadinya transpormasi atau perpindahan dari State Business Management ke Coorporate Business Management. Oleh karena itu yang perlu dilakukan adalah mengembalikan bagaimana agar entitas negara itu kembali menjadi pilar utama pengelolaan SDA, termasuk migas. Untuk itulah, katanya perlu dilakukan perubahan total atas UU migas dan PMA yang ada. Juga perubahan atas mind set ideologi yang ada.
“Kita harus membebaskan negeri ini dari penjajahan, yaitu dengan menegakkan sistem yang baik dan kepemimpinan yang baik. Sistem yang baik hanya lahir dari Dzat yang Maha Baik. Itulah syariah Islam. Dan pemimpin yang baik adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik tadi dan memimpin dengan penuh amanah,” terangnya. Untuk itu yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian baik dari dari pemimpinnya, DPR maupun masyarakat untuk melakukan perubahan itu.
[LI/Abu Ziad/HTI]
(Belanda),
Setelah mendegar pembicaraan yang berkembang dalam diskusi FKSK, maka forum MENOLAK rencana kenaikan harga BBM.
Solusi jangka pendek yang diusulkan, adalah:
- Pemotongan bunga rekap di APBN sebesar 40-60 triliun
- Pemotongan bunga utang 95 triliun
- Winfall profit dari hasil minyak bumi tidak perlu dibagi ke daerah, tetapi digunakan untuk menutupi subsidi BBM
- Membatalkan kontrak/nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak asing.
- Mengubah sistem pengelolaan BBM, gas, batu bara dan energi lainnya dari swasta ke pengelolaan negara
Hendri Saparini
Kita selau sering dicekoki bahwa nasionalisasi itu tidak boleh. Fakta terbaru, Inggris baru saja melakukan nasionalisasi bank –nya. Jadi jangan kita kemudian ditakut-takuti oleh sesuatu yang sebenarnya itu bisa terjadi di negara-negara maju.
Kita selalu ditakut takuti siapa pun yang menjadi presidennya dia pasti menaikan harga BBM. Jawabannya tidak. Pertama untuk beban subsidi misalnya, sekarang ini PLN masih menggunakan BBM. Kalau kemudian kita mengganti dengan gas maka tidak perlu ada tambahan subsidi. Masih juga ada hal lain. Jadi tidak sama, bukan siapa pun presidennya akan menaikkan BBM, tapi kalau kebijakannya sama maka akan menaikkan BBM juga.
Abdullah Sodik
UU Migaslah yang menyebabkan carut marut subsidi, sehingga kemudian Subsidi dan sebagainya dicabut dari BBM kita. Karena itu saya tidak hanya meminta kepada pemerintah untuk berani tapi juga kepada anggota DPR. UU Migas seperti ini harus dikaji kembali.
Ismail Yusanto
Sejak tahun 2000 sangat jelas kita mengalami penurunan lifhting (produksi minyak atau pemompaan). Tahun 2000 kita masih bisa menghasilkan 1, 4 juta barel, tahun 2001 1,3 juta barel, tahun 2002 1, 2 juta barel. tahun 2003 1,1 juta barel, tahun 2004 1,09 juta barel, tahun 2005 1,02 juta barel, tahun 2006 1 juta barel. Terus turun. Nah tahun 2007 angka yang resmi ada 910 ribu barel.
Kemelut BBM yang ada sekarang ini sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh dua kesalahan pemerintah, pemerintah dengan segala aparanya tidak bisa mengantisipasi kecenderungan penurunan Lifhting. Sesungguhnya kita tidak akan mengalami kerepotan yang luar biasa jika lifhting itu terjaga. Paling tidak kita tetap berada di angka 1, 2 juta barel.
Kemudian yang kedua kegagalan pemerintah untuk melakukan apa yang disebut dengan diversivikasi. Kita ini sebenarnya berada di sebua negara yang memiliki sumber daya energi yang luar biasa. Minyak bumi kita itu berdasar data ESDM tahun 2007, itu memiliki jumlah cadangan potensial 86, 9 Milyar Barel. Dimans yang sudah terbukti 9,1 Milyar barel. Dan ini kalau diproduksi itu akan bertahan hingga 25 tahun. Kemudian gas bumi kita punya 384 trilyun kubik, dimana yang terbukti 187 Trilyun kubik dan ini bisa bertahan 68 tahun. Dan yang luar biasa adalah batu bara. Dimana kita punya 90,5 Milyar ton dengan cadangan yang terbukti 18,47 ton yang bisa bertahan 100 tahun. Belum lagi tenaga air, agin, tenaga surya panas bumi, biomass. Jadi aneh kalau sekarang kita ini mengalami krisis energi. Ironis kita ini berada di sebuah negara yang potensi energi luar biasa, tapi rakyat antri gasm antri minyak tanah. Ini pasti ada sesuatu yang salah.
Yang ketiga adalah, ini juga dipicu oleh kekeliruan dalam tata kelola energi kita atau atau tata kelolo migas. Dan ini dipicu oleh undang-undang No 22 tentang minyak dan gas bumi yang terbit tahun 2001. ada beberapa cirri utama dalam uu itu, misalnya pada pasal 9 di sana menyamakan antara entitas bisnis negara dengan entitas bisnis swasta. Swasta ini meliputi swasta asing. Kenapa ini ada kesalah fundamental, karena telah secara sadar pemerintah dan DPR menyamakan anaknya sendiri dengan anaknya orang lain. Ketika kemudian pemerintah itu harus menanggung tanggung jawab publik, public sevice obligation (PSO), dia tidak memiliki cukup kemampuan, karena anak yang menjadi andalannya itu tidak cakap untuk menanggung seluruh tugas ini. Kemudian lebih parah lagi di pasal 10 ada amanah untuk melakukan unbundling. Jadi unbundling itu tidak hanya pada PLN tapi juga pada pertamina.
Ramson Siagian
PDIP menolak kenaikan harga BBM. Karena kalau naik BBM bersubsidi maka rakyat akan menderita, UKM yang 80 persen akan menjadi korban, inflasi akan meningkat, suku bunga akan naik, sektor industri kita jasa menengah ke bawah akan jadi korban. Jadi kemisikinan bertambah.
PDIP telah menyarankan tahun 2005 kepada pemerintah untuk meningkatkan lifhting produksi minyak. Kedua meminimalisir penyalanggunaan BBM bersubsidi. Jadi ada target keseimbangan antara produksi minya dengan komsumsi BBM bersubsidi. Kemudian menggeser pos-pos dalam anggaran belanja negara.
Abdullah Sodik
Saya juga tidak setuju kenaikan BBM. Kita harus menyadari minyak bumi itu bukan dibuat oleh pemerintah. Tapi minyak bumi itu dibuat oleh Allah. Karena itu rakyat berhak mendapatkan subsidi. Kenapa ketika pemerintah menyubsidi rakyat sendiri pemerintah kalang kabut.
Menyesuaikan harga BBM dengan harga pasar itu bertentangan dengan UUD 45.
Namru 2: Cengkeraman Asing Lewat Lembaga Kesehatan
Indonesia terus berusaha dicengkeram oleh kekuatan negara besar, terutama Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah dalam kasus Namru 2 (Naval Medical Research Unit 2). Namru 2 merupakan unit kesehatan angkatan laut AS yang berada di Indonesia untuk mengadakan berbagai penelitian mengenai penyakit menular.Dalam website resminya disebutkan bahwa program Namru 2 adalah melakukan pengembangan penyakit-penyakit tropis untuk kepentingan kesehatan dan keamanan anggota angkatan laut dan marinir AS. Namru 2 juga mendirikan laboratorium lapangan di Jayapura, Papua, dengan fokus mengembangkan nyamuk malaria. Dilihat dari tujuannya jelas sekali bahwa Namru 2 ini hanyalah diperuntukkan bagi kepentingan AS. Isu terkait Namru ini sudah lama beredar di kalangan tertentu. Namun, baru saat ini terkuak.
Namru 2 ada sejak ada perjanjian antara Indonesia dan AS pada 16 Januari 1970. Ternyata, sejak berdirinya, lembaga tersebut tidak pernah berhubungan dengan Departemen Kesehatan.
Karenanya, wajar jika ada yang menyimpulkan bahwa lembaga tersebut merupakan lembaga intelijen AS berkedok pusat penelitian kesehatan (ANTV, 16/4/08). Bahkan, Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Syamsir Siregar mengatakan: 'Di dalam lembaga penelitian Namru ada intelijennya' (TopikPetang ANTV, 24/4/08).
Di Balik Namru 2
Ada beberapa hal yang patut dicermati. Pertama: keberadaan Namru 2 selama 38 tahun tidak transparan. Seperti dilaporkan banyak pihak, lembaga riset medis angkatan laut AS tersebut tidak pernah melaporkan hasil penelitian kesehatan selama ini di Indonesia (Media Indonesia, 22/4/2008). Bahkan Menteri Kesehatan Indonesia Siti Fadilah Supari beberapa waktu lalu hampir-hampir tidak diperkenankan memasuki laboratorium Namru 2 tersebut.Padahal lembaga tersebut sejatinya berada dalam aset milik Departemen Kesehatan. Apa yang mereka lakukan dan sejauh mana hasilnya tidak diberikan kepada Indonesia. Barulah setelah masyarakat Indonesia mempersoalkannya mereka membolehkan media massa untuk meliputnya. Itu pun harus ada izin khusus dari Kedutaan Besar AS. Karenanya, pada satu sisi Namru 2 tidak memberikan keuntungan bagi Indonesia, dan pada sisi lain bukan hal aneh jika lembaga tersebut dijadikan kedok sebagai intelijen untuk mengumpulkan informasi terkait genetika, peta penyakit, pengembangan vaksin, dll.
Pada masa depan hal ini akan berbahaya. Sebab, dapat dijadikan dasar dalam pengembangan senjata biologis.
Kedua: Namru 2 disebut sebagai lembaga penelitian kesehatan, tetapi mengapa personilnya dari angkatan laut AS? Barangkali jawabannya adalah karena Indonesia ini negara maritim. Kalau demikian, maka yang menjadi persoalan bukan kesehatan, melainkan wilayah Indonesia itu sendiri.
Apalagi jika apa yang dinyatakan beberapa kalangan bahwa salah satu aktivitasnya adalah meneliti alur laut Indonesia. Lalu hal penting lagi adalah bagaimana mungkin angkatan bersenjata AS (dalam hal ini 60 personil angkatan laut) hidup secara ‘asyik-masyuk’ di wilayah Indonesia yang berdaulat? Bukankah ini lebih merupakan tindakan membiarkan adanya ‘pasukan’ asing di dalam negeri?
Ketiga: dalam praktiknya, sesuai dengan perjanjian tahun 1970: (1) seluruh peneliti dan staf Namru 2 yang berkewarganegaraan AS diberikan kemudahan-kemudahan dan kekebalan diplomatik layaknya diplomat; (2) dibebaskan dari pajak dan disediakan tempat tinggal oleh Pemerintah Indonesia; (3) seluruh fasilitas yang dibawa masuk untuk keperluan Namru 2 dibebaskan dari pajak. Sungguh, ini merugikan Indonesia.
Bahkan dengan kondisi seperti ini, Indonesia tidak tahu apa yang mereka bawa ke luar negeri dan apa yang mereka datangkan dari luar negeri. Mereka bersikap arogan dengan alasan kekebalan diplomatik. Padahal kekebalan diplomatik hanyalah diperuntukkan bagi utusan/duta besar. Anehnya lagi, sampai saat ini, yang diizinkan diberi kekebalan diplomatik maksimal 2 orang (direktur dan wakilnya). Namun, mereka tetap meminta semuanya memiliki kekebalan diplomatik. Lalu ada apa sampai harus ngotot meminta kekebalan diplomatik? Di negara mana ada kekebalan semacam itu? Pasti, ada sesuatu di balik itu, yang kalau suatu waktu ketahuan akan berlindung di balik istilah kekebalan diplomatik.
Keempat: perjanjian berakhir tahun 2005. Sejak 1998 pihak Dephan meminta Namru ditinjau ulang. Namun, aktivitasnya terus berlangsung. Bahkan pihak AS menghendaki ’kerjasama’ dilanjutkan. Hal yang aneh adalah, seperti diberitakan media massa, beberapa pejabat terkait seperti Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, Menteri Kesehatan dan kepala BIN sepakat mempertanyakan keberadaan Namru 2. Namun, justru telah dikirimkan draft memorandum understanding (MoU) dari Indonesia ke AS. Artinya, nadanya memang dilanjutkan. Mengapa ini terjadi?
Ada dua kemungkinan.
(1) Ada tekanan dari pihak AS. Hal ini ditunjukkan dengan kedatangan Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, ke Indonesia pada akhir Februari 2008 untuk membahas keamanan maritim. Juga, kedatangan Laksamana Timothy J Keating, Panglima Angkatan Laut AS wilayah Asia Pasifik, awal April ini. Pada 23 April 2008, kapal induk AS dari Armada Ketujuh, USSB Abraham Lincoln, berada di selatan Selat Sunda. Lalu Menteri Kesehatan AS Michael Okerlud Leavitt menyatakan AS menolak syarat Menteri Kesehatan Indonesia. Jika kesepakatan tidak tercapai, hal itu dianggap sebagai ketidakbersediaan Indonesia berpartisipasi dalam sistem influenza WHO (Koran Tempo, 28/4/2008). Inilah tekanan dari mereka kepada pemerintah Indonesia.
Kemungkinan (2), persoalan Namru 2 adalah persoalan interdepartemen. Padahal seperti telah disebutkan, departemen-departemen terkait cenderung untuk menolak kelanjutan aktivitas Namru 2.
Jadi, sebagaimana disinyalir oleh banyak media, ada orang di lingkaran atas yang menjadi agen asing.
Introspeksi
Wahai kaum Muslim! Marilah kita membaca firman Allah SWT: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa saja yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami) jika saja kalian memahaminya (QS Ali ’Imran:118).(Syahrizal Musa/eramuslim)
Wednesday, May 14, 2008
Benarkah lagu "Halo-halo Bandung"ciptaan orang Batak?
Judul lagu ini mengingatkan gaya hidap anak muda di Medan masa itu. Saking tergila-gila film koboi, mereka jadi latah menyapa ,”halo”. Lalu apa sumbangan orang Ambon dalam karya rame-rame ini?
BANYAK hal yang masih berselimut kabut dalam rangkaian peristiwa Bandung Lautan Api, 61 tahun silam. Tak hanya tentang sosok Mohammad Toha, tetapi juga tentang siapa pencipta lagu “Halo-Halo Bandung”. Sejauh ini, khalayak mengenal lagu perjuangan tersebut ciptaan Ismail Marzuki. Akan tetapi, banyak orang yang meragukannya. Pasalnya, komponis kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat, 11 Mei 1914 itu berkecenderungan mencipta lagu-lagu berirama lambat nan romantis. Sementara, “Halo-Halo Bandung” termasuk genre lagu mars yang berirama cepat dan heroik.
Simak saja, misalnya, sejumlah lagu karya Ismail Marzuki, seperti “Rayuan Pulau Kelapa”, “Sabda Alam”, “Indonesia Pusaka”, “Juwita Malam”, “Selendang Sutera”, “Sepasang Mata Bola”, “Melati di Tapal Batas”, “Bandung Selatan di Waktu Malam”, “Aryati”, dan “Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi”.
Komponis senior Indonesia, Abdullah Totong (AT) Mahmud, membenarkan adanya polemik tersebut. Hanya, dirinya tak berani menghakimi mana pihak yang benar dan mana yang salah. “Informasi yang saya dengar, lagu tersebut, seharusnya, NN (no name; pencipta tak diketahui-red.). Saya sendiri tak tahu bagaimana kemudian lagu itu jadi ciptaan Ismail Marzuki,” ungkapnya, ketika dihubungi, Kamis (22/3) petang.
Polemik ihwal siapa pencipta “Halo-Halo Bandung” itu sebenarnya sudah lama terjadi. Di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan disebutkan, polemik itu mulai terjadi pada 1995.
Pestaraja Humala Sadungan Marpaung –akrab disapa Bang Maung–, seorang pejuang yang sempat bergabung ke dalam Pasukan Istimewa (PI), di dalam buku itu, menyebutkan bahwa lagu tersebut bukan ciptaan perseorangan. “Halo-Halo Bandung” merupakan ciptaan bersama para pejuang Bandung.
Sandiah Soerjono alias Ibu Kasur punya kisah soal ini. Suatu ketika, suaminya, Soerjono (Pak Kasur-red.) memberinya dua lagu baru, “Halo-Halo Bandung” dan “Gempur dan Rebut Bandung Kembali”. “‘ Halo-Halo Bandung’ memang bagus lagunya tuh. Kan bapak bilangnya begini, ’Pak, ini siapa yang bikin?’ tanya saya. ‘Ah, bocah-bocahe dewe.’ ‘Bocah Batak,’ katanya. Kalau tidak salah namanya Tobing…,” katanya.
Adjie Esa Poetra, pengamat musik, berpendapat berbeda. Menurut dia, kecenderungan seorang musisi tak bisa digeneralisasi. “Suatu ketika, bisa jadi seorang musisi mencipta lagu yang begitu lembut menyayat. Akan tetapi, di saat yang lain, bisa juga ia mencipta lagu yang garang dan penuh semangat. Ismail Marzuki, mungkin juga demikian,” ungkapnya.
Singkatnya, kata Adjie, proses mencipta seorang musisi tergantung suasana hati. Ia mencontohkan sosok Harry Roesli yang dikenal bengal. “Akan tetapi, suatu saat, ia mencipta sebuah lagu yang begitu menyayat, seperti ‘Jangan Menangis Indonesia’. Begitulah kira-kira,” katanya.
Melalui karya-karyanya, Adjie “mengenal” Ismail Marzuki sebagai sosok yang dinamis. “Saya kira, ‘Halo-Halo Bandung’, bisa jadi benar ciptaan Ismail Marzuki. Pada lagu itu, meski bergenre mars, saya menangkap ada sisi romantisme yang merupakan ciri khasnya. Lagi pula, Ismail Marzuki orang jujur. Rasanya, tidak mungkin dia mengakui sesuatu yang sebetulnya bukan karyanya,” ujar Adjie .
**
MENURUT Bang Maung, di dalam buku Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan”, proses penciptaan “Halo-Halo Bandung” dilatarbelakangi oleh perjuangan pemuda Bandung, tanpa melihat asal-usul suku bangsa. Hal itu tercermin dengan kata “Halo!” yang merupakan sapaan khas pemuda Medan, akibat pengaruh film-film koboi Amerika yang sering diputar, saat itu.
Ceritanya, pada suatu malam, di Ciparay, diselenggarakan perayaan Batak. Di sana, disediakan pula sebuah panggung dan memberikan kesempatan kepada pengunjung yang ingin menyumbangkan lagu. Seorang pemuda Batak bernama Bona L. Tobing, tiba-tiba menyapa, “Halo!” kepada Kota Bandung di kejauhan, “Halo Bandung!”. Kemudian sapaan itu memiliki irama, “Halo-Halo Bandung” seperti irama yang dikenal saat ini. “Akan tetapi, irama itu tidak selesai karena malam sudah larut,” tutur Bang Maung.
Sebagai pejuang, Bang Maung pun turut menyusup ke Kota Bandung, setiap malam, setelah peristiwa Bandung Lautan Api. “Siang hari tidak ada kerja. Jadi di Ciparay ini, anak-anak Bandung dari Pasukan Istimewa tiduran. ‘Eh, lagu yang kemarin itu mana? Halo! Halo Bandung! de-de-de— (berirama menurun).’ Setelah lama, orang Ambon juga ikut. Pemuda Indonesia Maluku itu, di antaranya Leo Lopulisa, Oom Teno, Pelupessy. Sesudah Halo-Halo Bandung, datang orang Ambonnya. … Sudah lama beta! tidak bertemu dengan kau!’ Karena itu, ada ‘beta’ di situ. Bagaimana kata itu bisa masuk kalau tidak ada dia di situ. Si Pelupessy-lah itu, si Oom Tenolah itu, saya enggak tahu. Tapi, sambil nyanyi bikin syair. Itulah para pejuang yang menciptakannya. Tidak ada itu yang menciptakan. Kita sama-sama saja main-main begini. Jadi, kalau dikatakan siapa pencipta (Halo-Halo) Bandung? Para pejuang Bandung Selatan,” ucapnya.
Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 23 Maret 2007.
Tuesday, May 13, 2008
DPRD BEKASI PROTES RENCANA PEMBANGUNAN MONUMEN BERLAPIS EMAS
dekat pintu keluar tol Bekasi Barat. Rencana pembangunan monumen yang menggambarkan jati diri Kota Bekasi dan mengandung nilai sejarah perjuangan bukan hal mendesak, sehingga tidak perlu dilakukan, katanya pada ANTARA di Bekasi, Selasa.
Seharusnya, Mochtar Mohamad sensitif terhadap kondisi masyarakat yang dilanda kesulitan ekonomi. "Tidak perlu membangun Monumen Patriot berlapis emas, karena masyarakat masih dihadapkan pada kesulitan ekonomi dan banyak pengangguran, " kata Ahmad Syaikhu.
Ia mengaku belum mengetahui asal dana yang akan digunakan untuk membangun monumen berlapis emas itu, namun yang jelas tidak berasal dari APBD Kota Bekasi.
"Saya mendengar informasi bahwa dana yang akan digunakan untuk membangun Monumen Patriot berasal dari kalangan pengusaha. Tapi apapun alasannya akan lebih baik jika dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat kecil," katanya. Wakil rakyat Kota Bekasi itu menilai, gagasan membangun monumen berlapis emas tersebut merupakan proyek mercusuar yang hanya menghambur-hamburka uang. "Oleh karena itu saya tidak setuju gagasan Mochtar Mohamad akan membangun monumen berlapis emas sebagai lambang sejarah dan jati diri Kota Bekasi," ujarnya.
Sementara itu, Walikota Bekasi, Mochtar Mohamad ketika akan dikonfirmasi soal rencana itu tidak berada di kantor bahkan saat dicoba dihubungi telepon genggamnya tidak aktif.
Wakil Walikota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan, rencana membangun monumen berlapis emas hanya spontanitas bukan gagasan yang dipersiapkan. "Itu hanya bentuk spontanitas Walikota Bekasi yang ingin agar jatidiri Kota Bekasi dikenal masyarakat," katanya.
Sumber : LP Antara
Ini Dia Gaya Berlibur Turis Arab
|
| Bunyi musik terdengar dari sebuah vila: bising, sejenis musik keras dengan irama dan lirik padang pasir. Sebuah jendela yang gordennya terbuka mengungkapkan suasana ruang tamu vila yang bising itu. Di bawah lampu nan terang, seorang perempuan berdiri di hadapan seorang pria sambil meliuk-liukkan badannya seirama nada. Kedua tangannya terentang ke atas, pinggulnya diputar-putar. Memang, tak sedahsyat goyang Inul, penyanyi dangdut yang ngetop akhir-akhir ini. Tapi ada yang lebih memicu aliran darah dari sekotak pemandangan lewat jendela itu: setidaknya, tubuh bagian atas penari itu tak ditutup apa pun. Sebelum segalanya jelas, rupanya penghuni vila menyadari gorden yang terbuka. Tiba-tiba jendela itu pun ditutup. Para pengintip yang berada di teras sebuah kamar di lantai dua Hotel Jayakarta, Puncak, Jawa Barat, pun kecewa. Mereka adalah wartawan TRUST. Di pertengahan Februari lalu itu, mereka meliput kawasan tersebut, desa yang dikabarkan pada bulan tertentu menjadi Kampung Arab dengan segala gaya berlibur turis Timur Tengah. Kampung Arab? Nama asli kampung itu sendiri yakni Kampung Sampay, satu dari tiga kampung di Desa Tugu Selatan, satu kilometer di atas Taman Safari, Cisarua, Bogor. Dari Jakarta, jarak menuju kampung ini sekitar 84 kilometer. Tapi, kalau Anda bertanya kepada penduduk sekitar tentang Kampung Arab, mereka tampak terbengong-bengong. Satu atau dua orang yang tiba-tiba memahami arah pertanyaan akan menjawab: O, maksudnya Warung Kaleng? Benar, lebih dari Kampung Sampay, lebih dari Kampung Arab, nama Warung Kaleng dikenal bukan saja oleh warga setempat, tapi juga sopir taksi di Bandara Soekarno-Hatta. Masuklah ke sembarang taksi, lalu sebut Warung Kaleng; dijamin Anda akan sampai ke Desa Sampay, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Bogor. Warung Kaleng sebenarnya adalah sepotong Jalan Jakarta-Puncak di kilometer 84, tak lebih dari 50 meter panjangnya. Di kanan-kiri jalan, berjajar 30-an warung. Ini yang unik, papan-papan nama warung itu bukan hanya berhuruf latin dengan kata-kata bahasa Indonesia, tapi juga (bahkan ada yang hanya) papan nama berhuruf Arab, dari wartel sampai toko roti, dari toko kelontong sampai rumah makan. Dan yang juga khas dibandingkan kampung lain, di sini banyak terlihat warga bertampang Timur Tengah. BIDADARI-BIDADARI Nama Warung Kaleng sudah menjadi nama alternatif bagi Kampung Sampay sejak zaman kolonial Belanda. Dulu, kawasan itu secara administratif adalah tanah partikelir, yang kemudian dijadikan basis perdagangan oleh pedagang pendatang dari Cina. Lambat laun, para pedagang itu berasimilasi dengan penduduk setempat, lantas masuklah Islam. Kata penduduk setempat, riwayat nama Warung Kaleng bermula dari warung-warung yang didirikan oleh para pedagang Cina itu: hampir semua warung beratap seng atau kaleng. Jadilah sepetak lahan itu kemudian di sebut Warung Kaleng. Nama itu tetap melekat meski suasana Cina praktis tak tercium lagi dan atap seng tak lagi terlihat. Kini, warung-warung itu bertembok dan sudah beratap genteng. Suasananya pun berganti ke-Arab-Araban. Belakangan, muncul sebutan baru itu: Kampung Arab—bukan hanya untuk sepetak Warung Kaleng, tapi juga untuk seluruh Kampung Sampay. Jadi, melihat lokasinya, bolehlah dibilang Warung Kaleng merupakan gerbang Kampung Arab. Di kawasan warung itulah pusat lalu lintas turis Arab (kebanyakan dari Arab Saudi, Bah-rain, Kuwait, dan Qatar). Soalnya, sejauh ini, hanya di warung-warung itu tersedia segala kebutuhan turis Arab yang khas: mulai dari minuman (vodka yang didatangkan dari Jakarta), tembakau dan bumbunya (yang langsung diimpor dari Timur Tengah) untuk merokok gaya Arab, sampai roti arab (buatan lokal). Alkisah, di awal 1990-an, ketika Irak diserbu Amerika dan sekutunya, banyak turis Timur Tengah datang ke Kampung Sampay. Mereka menginap di vila-vila selama kira-kira satu minggu hingga satu bulan. Di tahun-tahun sebelumnya, turis Arab juga sudah datang ke Kampung Sampay, namun tak banyak. Dikenalnya Kampung Sampay oleh turis Arab tentunya dimakcomblangi biro-biro pariwisata, terutama biro yang berkantor di sepanjang Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Di kawasan ini, para turis itu boleh merasa setengah di rumah sendiri, setidaknya dalam hal makan, karena di jalan ini ada dua rumah makan khas Timur Tengah. Tapi kenapa Kampung Sampay? Konon, turis-turis dari padang pasir itu merindukan suasana yang berbeda dengan negeri mereka yang panas dan berpantai. Mereka mengidamkan berlibur di kawasan pegunungan yang sejuk dan hijau. Lalu, dibawalah mereka ke kawasan Puncak, dari Cisarua sampai Cipanas. Bila kemudian Warung Kaleng menjadi terpopuler di antara turis Arab, ada ceritanya. Menurut Syaiful Idries, Kepala Urusan Administrasi Desa Tugu Selatan, gambaran orang Arab tentang surga dunia itu adalah jabal ahdor atau gunung hijau. Di Kampung Sampay, kata Syaiful, mereka menemukan jabal ahdor itu. Di Puncak ini kan banyak bunga, air mengalir, lingkungannya hijau dan indah,tuturnya. Tapi kalau hanya gunung hijau, bukan hanya Kampung Sampay yang punya. Kampung ini menjadi istimewa buat turis Arab karena banyak bidadari, dan secara sosial lingkungan di sini longgar warganya tak begitu peduli dengan urusan orang lain. Jadi (Syaiful melanjutkan ceritanya sambil tertawa), bagi orang Arab, Warung Kaleng bukan hanya jabal ahdor, tapi juga jabal al jannah, gunung surga. ˜Bidadari-bidadari itu didatangkan dari desa lain yang cukup jauh, paparnya. MERACUNI ANAK-ANAK Singkat cerita, kerasanlah turis-turis itu berlibur di jabal al jannah. Bahkan, secara sosial keagamaan, suasana di sini pun okey: ada suara azan berkumandang saat menjelang salat wajib. Di Kampung Sampay, ada tiga pondok pesantren, dan ada pula satu pesantren baru yang sedang dibangun. Warga setempat pun menyambut para turis Arab dengan terbuka. Apa boleh buat, secara nyata, mereka memang mendatangkan fulus. Penginapan terisi, makanan terjual, sumbangan pun mengalir. Lihatlah Haji Samsudin, 65 tahun, yang sedang memimpin pendirian sebuah pondok pesantren baru di Kampung Sampay ini, namanya Pondok Sikoyatun Najah. Menurut Wak haji ini, sebagian biaya calon pesantrennya diperoleh dari sumbangan turis Arab. Di sebuah lorong di belakang Warung Kaleng, terpasang spanduk dalam tulisan dan bahasa Arab, yang artinya kurang lebih begini: Kami sedang membangun gedung untuk pondok pesantren di sini, mohon sumbangannya. Dengan bahasa dan huruf Arab, jelaslah sasaran spanduk itu. Lantas, Nanang Supriatna, salah seorang Ketua RT di Kampung Sampay, mengatakan: Enggak ada Arab, enggak hidup ekonomi orang-orang sini. Nanang yang sehari-hari berjualan kambing, pada Idul Adha yang lalu berhasil menjual 11 kambing. Kalau enggak ada Arab, kambing saya paling-paling laku dua ekor, tuturnya kepada TRUST. Dan ternyata bukan hanya 11. Begitu ia selesai bertransaksi untuk kambing yang ke-11 dengan Samid (mahasiswa Arab Saudi yang menginap di Vila Barita), datang pesanan dua kambing lagi dari turis Arab yang menginap di Aldita, vila pertama di daerah itu. Tapi tak seluruh penduduk mengangguk-angguk dan mengucapkan ahlan wasahlan kepada tamu-tamu Timur Tengah itu. Haji Ichwan Kurtubi, 55 tahun, seorang tokoh masyarakat Kampung Sampay, merasa tak enak melihat perilaku para turis itu. Para ulama, katanya, pasti tidak setuju warga di sini memfasilitasi para turis itu ber-dugem ria alias berdunia gemerlapan. Mereka itu enggak bener. Masa sih ada Arab kawin, walinya diambil dari sekitar-sekitar sini,ucapnya. Menurut Haji Ichwan, pernikahan baru sah bila dihadiri wali yang sah menurut Islam. Mereka itu meracuni anak-anak muda di sini, katanya seraya melampiaskan kemarahannya. VODKA DI TANGAN KANAN Tapi, anak-anak muda yang dijaga oleh Haji Ichwan itu sendiri tak peduli. Mereka dengan senang mengadakan ini dan itu untuk para turis. Dan dengan begitu—mulai sebagai pemandu wisata, mencarikan kambing korban, mengantar si turis dengan ojek, mencarikan vila, sampai menjadi preman penjaga keamanan—mereka mendapatkan penghasilan. Kata Haji Ichwan: Ulama di sini sudah kalah sama anak-anak muda itu. Sedangkan Zaki al-Habsy, pengelola gerai penukaran uang di Warung Kaleng, mencoba bersikap realistis. Yang tidak suka dengan turis-turis Arab itu hanya orang-orang yang tidak berbisnis melayani mereka, kata Zaki yang juga agen perjalanan itu. Sebenarnya, di balik ketenangan hijaunya bukit dan pepohonan Kampung Sampay, ada keresahan yang tersembunyi. Perilaku dan gaya berlibur lelaki-lelaki dari padang pasir itu—yang eksklusif dan tertutup bagi siapa saja, kecuali terhadap orang-orang yang mereka butuhkan—selain melahirkan kecemburuan, juga menimbulkan ketersinggungan. Benar, wanita-wanita yang mereka datangkan bukan warga Tugu Selatan. Yang terlihat dari jendela itu, misalnya yang diminta menari striptease atau tari perut, konon, adalah perempuan dari Cianjur, 20-an kilometer dari Tugu. Tapi, menurut Haji Ichwan, suasana seperti itu di depan mata mereka adalah racun buat generasi muda. Apalagi, setidaknya, ada dua turis Arab meninggal di salah satu vila di Kampung Sampay selagi berpesta pora. Orang Arab kan sudah terkenal dengan pemeo: vodka di tangan kanan dan cewek di tangan kiri, kata Abubakar Sjarief, Kepala Desa Tugu Selatan. Dan sebenarnya, Abubakar melanjutkan, yang mendapat rezeki dari turis Arab hanya beberapa orang saja. Pokoknya, rezeki (dari para turis) itu tidak berimbang dengan mudaratnya. Secara umum, ke depan, kami dirugikan,ungkapnya. Memang, di luar tukang ojek, penjaga malam, tukang masak di vila, dan preman penjaga keamanan kampung, semua lahan usaha yang berhubungan dengan Arab dijalankan oleh pendatang. Kendati warga setempat bisa berbahasa arab, mereka tidak bisa menjadi pemandu wisata. Soalnya, untuk menjadi guide, mereka harus terdaftar di Ikatan Guide Puncak yang pengurusnya adalah pendatang. Itulah, dari pemandu wisata, penerjemah, pengelola trans-portasi, sampai pengelola penyewaan mobil, hampir semuanya orang Jawa Tengah”terutama dari Solo dan sekitarnya”dan dari Jakarta. Juga toko-toko yang berderet di Warung Kaleng, sebagian besar dimiliki pendatang. Namun, soal rezeki ini tak pernah muncul ke permukaan sebagai konflik sosial. Konflik yang pernah terjadi adalah konflik moral. Tahun lalu, sejumlah santri”mulai dari Ciawi hingga Cisarua”menyerbu diskotek dan tempat mesum lain di kawasan Tugu Selatan. Gebrakan itu sampai sekarang masih terasa. Menurut Abubakar, sejak saat itu, wisata berbau seks di wilayah tersebut agak mereda. Turis Arab memang masih datang, tapi musik bising dari vila-vila jauh berkurang. Menurut seorang pemandu wisata di situ, untuk sementara mereka membawa turis Arab ber-dugem ke tempat lain: Cipanas, bahkan sampai ke Selabintana. Tapi, bisa jadi, wanita yang menari-nari di tempat menginap sama saja dengan perempuan yang terlihat dari jendela itu. Soalnya, nomor telepon genggam mereka sudah ada di tangan para calo. Jadi, kapan saja, per-empuan itu bisa dihubungi, baik secara langsung maupun dengan SMS. Sumber : warta economi |
Monday, May 12, 2008
The Millionaire's Secret
Orang yang memiliki banyak uang, belum tentu hidup sejahtera. Karena ada dua tipe orang yang memiliki uang banyak, banyak uang karena menang lotre dan warisan orang tua, atau banyak uang karena berusaha. Biasanya, track record orang yang mendapatkan uang mereka dari lotre atau 'durian runtuh' lainnya, akan berbeda dengan mereka yang menciptakan dan mengusahakan kesejahteraan mereka sendiri. Pemenang lotre atau undian biasanya akan dengan cepat menghabiskan uang mereka. Lebih dari 90 persen orang menggunakan uang kemenangan mereka itu kurang dari 10 tahun, bahkan ada yang menghabiskan uang mereka hanya dalam hitungan minggu atau bulan.
Namun ada beberapa pola di antara orang-orang yang mendapatkan atau berencana mendapatkan warisan, dan berikut adalah lima strategi yang dapat meningkatkan atau melipat gandakan uang Anda.
1. Hindari mental mendapatkan lalu dihabiskan. Michael LeBoeuf, penulis The Milionaire in You, menegaskan, jika Anda ingin meningkatkan kesejahteraan, maka berperilakulah seperti para jutawan. Jutawan melihat uang sebagai sesuatu yang harus ditabung dan diinvest, dan bukan semata dihabiskan. Beberapa orang yang sejahtera hidup cukup sederhana sebenarnya, seperti memilih memilih rumah yang tidak terlalu mewah daripada yang seharusnya bisa mereka beli dan memilih kebebasan finansial daripada kepemilikan material.
2 Fokus. Salah satu kunci kesuksesan adalah fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai. Mereka yang sukses biasanya menuliskan dengan jelas apa tujuan-tujuan mereka agar lebih mudah untuk fokus.
3. Lakukan hal-hal yang penting untuk mencapai tujuan Anda. Orang-orang yang mendapatkan pundi-pundi emas mereka tidak hanya fokus terhadap tujuan tetapi juga harus gigih dalam pencarian tujuan mereka.
4. Ambilah risiko. Anda harus berani mengambil risiko strategis untuk menghasilkan dan mengembangkan uang Anda. Sedikit keras kepala dan kenakalan terkadang juga membantu. Sebuah studi menarik mengatakan bahwa kebanyakan pengusaha pria yang sudah menjadi jutawan pernah bermasalah dengan kebijakan sekolah atau polisi selama masa remaja mereka.
5. Jadilah dermawan. Tentu tidak asing bagi Anda melihat bahwa kebanyakan jutawan biasanya sangat dermawan. Terkadang itu mereka lakukan sebagai ganti pajak, tapi seringkali juga tidak.
Lima kebiasaan para jutawan ini sebenarnya cukup baik untuk dilakukan untuk hidup bahagia bahkan jika Anda bukan seorang jutawan. Anda tidak harus memiliki uang berjuta-juta untuk menjadi bahagia. Anda bisa hidup bahagia walaupun uang yang Anda miliki hanya satu juta, asalkan Anda bisa mengaturnya dengan baik. (*)
Earphone Ganggu Pendengaran
Apa yang Anda lakukan jika Anda berada di dalam perjalanan? Perjalanan yang panjang dan lama mungkin akan membosankan, sehingga Anda berusaha mencari cara untuk menghilangkan rasa bosan tersebut. Ada yang mengatasinya dengan membaca, mengobrol, tidur, atau mendengarkan musik. Teknologi kini sudah semakin canggih, terutama di bidang hiburan. Jika Anda ingin mendengarkan musik, sudah ada alat kecil yang mudah dibawa kemana-mana, mulai dari mp3, mp4, handphone, sampai ipod. Anda tinggal memasang earphone atau headphone ke telinga Anda, dan Anda bisa memilih dan mendengarkan lagu favorit.
Tapi tahukah Anda bahwa penggunaan earphone atau headphone terlalu lama, apalagi ditambah dengan volume musik yang kencang, bisa menyebabkan ketulian pada telinga Anda? Dr. Damayanti Soetjipto, Sp.THT-KL (K), spesialis THT dan ketua Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (PGPKT), mengatakan bahwa penggunaan ipod dan sejenisnya secara berlebihan dapat menyebabkan ketulian.
Ada kasus dimana seseorang yang mendengarkan ipod selama perjalanan dari Amerika menuju Jakarta dengan pesawat, mengalami ketulian sesampainya ia di Jakarta, dengan derajat ketulian 110 decibel(dB), padahal normal pendengaran kita adalah kurang dari 30 dB. Pengobatan hanya bisa mengembalikan pendengarannya menjadi 55 dB, yang masih termasuk dalam ketulian derajat sedang-berat, dan tidak bisa kembali ke pendengaran normal.
Selain penggunaan ipod secara berlebihan, ketulian bisa juga disebabkan oleh bising di mal. Dr. Damayanti mengatakan bahwa bising di tempat permainan anak-anak di mal cukup tinggi, yaitu 90-95 dB. "Ini berarti bahwa anak-anak tersebut hanya boleh berada di tempat tersebut sekitar 1-2 jam. Lebih dari itu akan terjadi kelelahan koklea (rumah siput) yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran menetap," jelasnya.
Bising lalu lintas juga memiliki andil dalam penyebab ketulian. Bising di lalu lintas diakibatkan karena banyaknya kendaraan bermotor, tidak terawatnya mesin dan knalpot kendaraan bermotor tersebut, serta kerapnya penggunaan klakson. Intensitas suara yang dihasilkan dari bising lalu lintas ini adalah sekitar 80-88 dB, dan ini berarti seseorang maksimal hanya boleh berada dalam kebisingan ini selama 16-24 jam. Orang yang lebih beresiko terhadap kebisingan lalu lintas ini adalah polisi dan pengendara motor.
Selain itu, penyebab ketulian juga bisa berasal dari penggunaan alat-alat elektronik seperti radio yang volumenya terlalu keras, mesin pemotong rumput, blender, gergaji listrik, mesin-mesin bangunan, bahkan dering telepon. Itu semua mempunyai intensitas suara yang berbeda-beda dan maksimal penggunaan yang berbeda pula.
Jika batas waktu ini terlampaui, maka alat pendengar (koklea) dan rambut getar penerima suara akan mengalami kelelahan, rusak, dan tidak dapat kembali normal.
Selain karena bising, ketulian juga bisa disebabkan oleh faktor usia (presbikusis), kotoran telinga (serumen), dan tuli sejak lahir (kongenital). Tuli sejak lahir bisa terjadi akibat mudahnya mendapat obat keras saat kehamilan, kurangnya pengetahuan dan penyakit yang terjadi saat hamil, dan sebagainya.
Kurang Tidur Sebabkan Gangguan Jiwa
Jika Anda termasuk orang yang sering mengalami sulit tidur (insomnia), ada baiknya sedikit waspada. Menurut para periset dari Harvard Medical School dan University of California di Berkeley, Amerika Serikat, orang yang kurang tidur karena mengalami sulit tidur cenderung berisiko lebih besar mengalami psike, alias gangguan jiwa.Menurut penelitian tersebut, kurang tidur akan mengakibatkan berkurangnya beberapa fungsi tubuh. Termasuk pengaturan sistem kekebalan tubuh dan sistem metabolisme. Kurang tidur juga mengakibatkan berkurangnya daya belajar dan daya ingat. Pemindaian otak yang dilakukan dalam penelitian juga menunjukkan bahwa otak yang mengalami kurang tidur akan menjadi sangat lelah dan emosi menjadi abnormal.
Para periset meneliti 35 orang partisipan yang tidak tidur selama 35 jam. Dengan menggunakan alat Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI), periset mengamati aliran peredaran darah di otak. Dari alat itu pula, periset bisa melihat bagian otak mana yang mengalami peningkatan aktivitas.
Setelah sekian lama tidak tidur, para partisipan diminta melihat gambar-gambar yang merangsang respons emosional mereka. Tanggapan mereka bisa sedih, marah, atau senang. Ternyata, bagian otak amygdala menunjukkan peningkatan 60% jika dibandingkan dengan orang tidur normal. Amygdala merupakan bagian otak yang terkait dengan reaksi emosional manusia. Itu berarti, kondisi kurang tidur yang dialami bisa mengakibatkan keluarnya respons-respons yang berlebihan.
Menurut periset Matthew Walker, seperti diungkap medicalnewstoday.com, tanpa tidur, otak beraktivitas tidak normal, tidak mampu mengolah pengalaman emosional yang masuk ke otak untuk diproses menjadi respons yang tepat dan terkendali. Beberapa studi sebelumnya memang telah mengindikasikan pasien gangguan psike umumnya juga menderita gangguan tidur.
(Wey/M-2)
Mematahkan Belenggu BBM
Perekonomian Indonesia dibangun dan dimanjakan kelimpahan minyak sejak 1970-an. Kita berperilaku--sampai sekarang--seperti negara kaya minyak. Padahal, faktanya kita telah menjadi importir minyak sejak akhir 1980-an.
Kemanjaan itu terlihat sangat jelas sampai sekarang. Yaitu Indonesia tetap bertahan sebagai anggota OPEC--organisasi negara-negara pengekspor minyak--padahal kita telah kehilangan status sebagai pengekspor.
Perilaku sebagai negara kaya minyak dipelihara melalui kebijakan subsidi BBM hingga saat ini. Dalam APBN 2008 yang telah diperbarui, subsidi BBM mencapai Rp126,8 triliun.
Padahal dari waktu ke waktu, ketika harga minyak bergejolak, subsidi BBM menjadi bumerang.
Tatkala harga minyak sekarang mulai menyentuh US$120/barel, lonjakan subsidi BBM bisa mencapai Rp250 triliun. Itulah angka yang mematikan bila terus dipelihara.
Dengan posisi sebagai importir, tidaklah masuk akal Indonesia mempertahankan kebijakan subsidi BBM. Negara biasanya memberi subsidi pada barang-barang yang ketersediaannya melimpah ruah. Air minum, misalnya, bisa disubsidi karena kita memiliki sumber yang banyak.
Yang amat menggelikan, Indonesia menempuh subsidi BBM yang persediaannya semakin langka. Subsidi itu pun dibakar mobil-mobil yang berseliweran di jalan raya tanpa banyak makna bagi kemaslahatan publik.
Jadi sangat jelas, subsidi BBM adalah kebijakan bunuh diri. Namun, pemerintah seperti kehilangan akal untuk mematahkan belenggu itu.
Begitu parahnya belenggu BBM, pemerintah tidak saja kehilangan akal secara substansial, yaitu menaikkan atau menghapus subsidi, tetapi juga kehilangan akal dalam cara menyampaikan kebijakan.
Belum tahu kapan diumumkan, pemerintah sudah memberi sinyal bahwa BBM akan naik sekitar maksimal 30%. Apa akibatnya? Pasar yang memperoleh sinyal itu segera menaikkan harga barang kebutuhan sesuai dengan perhitungan sendiri. Ketika harga BBM dinaikkan secara resmi, pasar menaikkan lagi harganya. Jadi, untuk satu kenaikan harga BBM rakyat memikul beban dua kali. Itu kesalahan prosedur yang fatal.
Belenggu BBM mungkin terlalu sulit dan riskan untuk dihapus serentak. Namun, opsi tentang penghematan tidak pernah dijalankan dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah. Semua penghematan BBM yang disuarakan beberapa kali adalah penghematan sebatas omongan belaka. Dalam praktik, tidak dilaksanakan, terutama oleh pemerintah sendiri.
Lalu tentang energi alternatif. Itu juga kebijakan yang tidak jelas skema, sasaran, dan operasionalnya. Rakyat di sejumlah daerah diiming-iming menanam jarak pagar, tetapi tidak jelas akan dijual ke mana dan diproses pabrik apa. Akibatnya, biji jarak membusuk dan rakyat membasmi tanaman jarak karena tidak memberi kontribusi pada kesejahteraan.
Penghematan BBM di sektor transportasi publik juga tidak dilaksanakan. Proyek kereta bawah tanah di Jakarta baru sebatas omongan selama dua dasawarsa. Monorel terancam jadi besi tua.
Belenggu BBM hanya bisa dipatahkan dengan keberanian luar biasa, yaitu tidak ada lagi subsidi BBM dalam perekonomian Indonesia mulai sekarang dan seterusnya. Untuk mematahkan itu diperlukan pemimpin yang juga berani luar biasa.
Indonesia Keluar dari OPEC, Bisa Berdampak Serius
"Kalau ini betul (Indonesia akan keluar dari OPEC), akan berimplikasi serius bagi security of supply minyak kita, " kata Anggota DPR Komisi VII Tjatur Sapto Edi kepada wartawan di Jakarta, Kamis(7/5).
Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, sebelum pemerintah benar-benar memutuskan keluar dari OPEC. Pertama, OPEC adalah satu-satunya organisasi negara berkembang yang disegani di forum internasional. Karena organisasi ini punya posisi tawar terhadap supply minyak mentah.
Kemudian kedua, OPEC memandang Indonesia sebagai wakil Asia dan negara Islam terbesar. Karena itu, meski iuran keanggotaan relatif besar, sekitar 2 juta euro, Indonesia masih membutuhkan keanggotaan. "Karena kita butuh keamanan pasokan minyak mentah, " tegasnya.
Lebih lanjut Tjatur mengatakan, di tengah tingginya harga minyak dan pasokan terbatas saat ini, negara-negara dengan tingkat konsumsi tinggi akan berebut.
Jika Indonesia keluar dari OPEC, komitmen pasokan yang ada bisa terputus dan beralih ke tempat lain. Sehingga Indonesia akan kesulitan mendapatkan pasokan walaupun dananya ada.
"Perlu diketahui di negara-negara OPEC yang memutuskan supply bagi industri perminyakannya adalah pemimpin negara bukan CEO dari perusahaan tersebut. Yang kurang adalah lobi-lobi dari kita mendapatkan harga yang lebih baik, " katanya.
Untuk itu, dia meminta pemerintah tidak emosional memutuskan hal ini. Sebelum kilang-kilang yang ada di Indonesia mampu mengolah minyak dan jangan sampai security of supply terancam.
Seperti diketahui, Presiden Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan rencana keluar sementara dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengingat posisi Indonesia yang kini juga menjadi negara pengimpor minyak
Saat ini produksi minyak di dalam negeri masih di bawah satu juta barel per hari. Sementara, konsumsi minyak sekitar 1, 3 juta barel per hari.
“Oleh karena itu dalam sidang kabinet terbatas kemarin (Senin), kami memikirkan apakah akan masih tetap berada di OPEC, atau sementara mengundurkan diri saja, ” kata Presiden saat meresmikan pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional yang diselenggarakan Bappenas, di Jakarta, Selasa lalu.
Sementara itu, Wakil Ketua Badan Pelaksana Hulu Migas (BP Migas) Abdul Muin mengatakan, pemerintah perlu mengkaji secara menyeluruh rencana keluar dari keanggotaan OPEC.
"Jangan karena kita lagi stres kita cari cara-cara yang sifatnya sementara. Jadi harus dilihat matang-matang karena pengaruhnya jangka panjang, terutama masalah keamanan pasokan dalam negeri, ” pungkasnya.(novel)
Deplu: Tidak Ada yang Dirahasiakan dari Kehadiran Bill Gates
"Kedatangan itu nggak ada yang rahasia-rahasiaan kok, buktinya ada di media cetak mewawancara, " ujar Juru Bicara Deplu Kristiarto Soerjo Legowo kepada pers, di Kantor Departemen Luar Negeri, Jakarta, Jum'at (9/5).
Menurutnya, kunjungan itu bertujuan jelas, menawarkan bantuan software gratis bagi sekolah tingkat SMP dan SMU di seluruh Indonesia yang belum memiliki laboratorium komputer.
"Ada rencana dia memberikan kuliah umum di Jakarta convention center, dan rencana memberikan sortware gratis, " jelasnya.
Diketahui, Bill Gates tiba di Istana negara tanpa pengawal khusus dari kepolisian, dia hanya dikawal menggunakan tiga mobil dan dikawal tiga orang bodyguard berkulit putih.
Mengenai keterlibatan agen pengamanan khusus dari Amerika untuk menjaga perjalanan Bill Gates selama di tanah air, Kris mengaku, tidak mengetahuinya. "Kata siapa, saya malah tidak tahu. itu informasi dari mana, " kilahnya.
Kunjungan Bill Gates ke Indonesia memunculkan kekhawatiran dikalangan pengamat dan praktisi teknologi informasi (IT), kehadiran bos Microsoft Inc yang bermarkas besar di Amerika Serikat itu, kental dengan urusan bisnis untuk mengeruk keuntungan besar dari negeri pasar yang tak berdaya ini.
"Bill Gates memang wirausaha paling sukses di dunia informasi teknologi. Tapi, kalau datang sekadar urusan bisnis, tak berarti apa-apa, '' ujar ahli IT dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Romi Satria Wahono.
Namun, sambutan pemerintah dianggap terlalu berlebihan. Sebab, jika pendiri Microsoft itu hanya mencari keuntungan dan tidak melakukan investasi terutama untuk riset peranti lunak (software), maka kehadirannya tidak memberi manfaat apa-apa.
Padahal, apabila Bill Gates berkaitan dengan persoalan pembajakan peranti lunak Microsoft yang masih terjadi di Indonesia, ini bisa menjadi momentum bagi dunia IT ditanah air untuk mengembangkan open source sendiri.
"Intinya kita menggunakan peranti lunak yang legal, namun jauh lebih murah dari Microsoft, " imbuh Romi.(novel)