Tuesday, September 29, 2009

Film Luar Versi Padang

Enemy at the Gates =  Lah tibo lawan di pintu
Batman Forever = Kalalauang
Remember the Titans = Lai Takana jo si Titan
The Italian Job = Karajo maliang
Die Hard = Payah matinyo
Die Hard II = Alun Juo Mati Lai?
Die Hard III With A Vengeance = Ondeh Mandeh.. ndak juo mati mati doh
Bad Boys = Anak Kalera
Sleepless in Seattle = Mangantuak..
Lost in Space = Ilang di awang awang
Brokeback Mountain = Gunuang patah tulang
lCheaper by Dozens = Bali salusin tambah murah..
You've got Mail = Ado surek tuh ha
Paycheck = Pitih Gaji
Independence Day = Hari Rayo
The Day After Tomorrow = Saisuak
Die Another Day = Ndak kini matinyo..?
There is Something About Marry = Manga si Merry yo..?
Silence of the Lamb = Kambiang pangambok
All The Pretty Horses = Kudonyo rancak-rancak
Planet of the Apes = Planet Siamang
Gone in Sixty Seconds = Barangkek lah waang Lai
Original Sin = Sabana-bana doso
Mummy Returns = Lah Baliak si One tadi..?
Crash = Balago kambiang
Copycat = Kopi Kuciang
Seabiscuit = Makan Biskuit di Lauik
Freddy vs Jason = Bacakak
Just in Heaven = Lah di Surgo
Air Bud = aia si Budi
How To Lose A Guy in 10 Days = Baa caronyo manyipak urang..
Lord Of The Ring = Juragan batu cincin
Deep Impact = Taraso dalamnyo
Million Dollar Baby = Anak Rangkayo
Blackhawk Down = Buruang itam si Don
Saving Private Ryan = Mahagia les ka si Ryan
Dumb and Dumber = Pakak jo sabana Pandia..

Anda Orang Minang/Padang Sejati Kalau

Anda Orang Minang/Padang Sejati Kalau:
1. Tidak bisa melihat dan membiarkan trotoar kosong atau nganggur.
2. Berjalan/mengendarai mobil lebih pelan di perempatan/pertigaan untuk melihat peluang membuka rumah makan.
3. Mengeluh bila belum makan masakan Padang minimal sekali sehari.
4. Tidak bisa makan tanpa cabe atau sambal pedas serta selingan kerupuk jengkol.
5. Kalo makan berkeringat, tapi kalo kerja maunya tidak berkeringat.
6. Hal pertama yang ditanya begitu sampai di suatu kota adalah dimana ada rumah makan Padang terdekat.
7. Membawa nasi rames Padang ke dalam pesawat sejak Airlines di Indonesia tidak lagi menyediakan makanan.
8. Lebih memilih rendang jengkol dan sambel pete daripada menu daging, ayam atau sambel ABC.
9. Pada saat makan pagi, anda sudah mengetahui kemana dan makanan apa yang akan dimakan untuk siang dan malam harinya.
10. Makanan kesukaan anda di daftar menu adalah yang paling murah dan paling banyak porsinya.
11. Terhimpit maunya di atas, terkurung maunya diluar.
12. Masih menawar harga barang di swalayan atau department store yang sudah ada Price Tag-nya dengan harapan bisa dapat lebih murah.
13. Hal pertama yang muncul di pikiran saat membeli barang adalah apakah bisa dijual kembali dengan sedikit keuntungan.
14. Berhasil dengan sukses menjual serta meyakinkan seseorang untuk membeli barang kelas kaki lima dengan harga swalayan.
15. Tahu perkembangan naik turun harga barang di pasar, harga emas, harga kain, upah jahit baju, ongkos cetak dan sewa tempat di pasar.
16. Berkunjung ke department store, swalayan atau toko hanya untuk mengetahui perbandingan harga barang untuk kemudian mencarinya di kaki lima.
17. Simbol matematika yang paling dikenal adalah tanda + (tambah) dan tanda X (kali), tidak mengenal tanda - (kurang) dan tanda : (bagi).
18. Lancar mengucapkan kalimat satu 5 ribu, dua 7 setengah, tiga 10 ribu.
19. Hasil perhitungan 2+2=7 karena 4 pulang modal, 2 keuntungan dagang, 1 untuk sewa tempat/ongkos.
20. Tangan menerima uang lebih cepat dan tangkas daripada tangan membayar.
21. Pelajaran yang paling diminati di sekolah adalah aritmatika, hitung dagang, harga pokok dan marketing.
22. Tempat duduk favorite anda waktu berkunjung ke cafe atau restorant adalah di dekat kasir atau pintu masuk, untuk melihat penerimaan uang masuk dan jumlah pengunjung yang datang.
23. Perintah tambahan anda saat menyuruh seseorang membeli barang di toko atau warung adalah cari harga yang paling murah dan usahakan untuk menawar.
24. Selalu naik angkutan umum atau angkot yang ada musicnya.
25. Menyetop taxi, membuka pintu depan, kemudian bertanya ke sopir taxi-nya "Jurusan mana Bang??".
26. Lebih memilih tarif taxi sistem tawar menawar daripada sistem argometer demi alasan kepastian harga dan kepuasan menawar.
27. Selalu memilih duduk paling depan kalo naik angkutan umum, bus atau pesawat dengan tujuan supaya bisa sampai lebih cepat dan lebih dulu.
28. Pesta pernikahan anda belum terasa lengkap tanpa ada panggung orgen tunggal yang menampilkan penyanyi terkenal se-kecamatan atau kabupaten.
29. Begitu keluar dari kampung halaman, langsung bisa berbahasa Indonesia Raya yang baik dengan logat Minang yang kental serta gimana gitu.
30. Selalu berprinsip "Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung, tapi kampung halaman dan pulang kampung tetap nomor satu".

PS. Sorry bagi yang tersinggung, hanya sekedar bercanda dan self critics. GO Padang, Hidup Minang.....tambuah ciek..... 
 
Sumber : www.ketawa.com

Gelar Dari Minang

Usman Chaniago, supir camat di Payakumbuh, minta berhenti karena ingin merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Mula-mula dia bekerja sebagai tukang kantau di Tanah Abang, setelah dapat mengumpulkan sedikit modal dimulai pula menggelar dagangannya di pinggir jalan di Tanah Abang.

Nasib rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar. Dia pun berkeluarga dan memiliki 2 anak. Bahkan tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan dosen UI.

Karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada Phd. dll. Usman merasa malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya.

Dibuatlah papan naman dari perak, dipesan dari Koto Gadang, dengan nama DR.Usman Chaniago MSc.

Ketika ayahnya datang berkunjung, sambil bangga dia bertanya di mana anaknya kuliah, sebab setahu dia, Usman hanya berdagang.

Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama, "Nama itu artinyo 'Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat'."

Thursday, September 10, 2009

Inilah Amerika Sekarang

Kedubes Amerika ikut campur dalam insiden Monas. Kongresnya mendikte Presiden SBY soal pembunuhan aktivis HAM, Munir. Padahal AS pelanggar HAM nomor satu. Dan kehidupan politiknya dipengaruhi Kristen.
Oleh : Amran Nasution ** Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies
Penerbitnya tak dikenal, penulisnya apalagi. Nyaris tanpa promosi. Kenyataannya The Shack kini tercatat sebagai novel terlaris di Amerika Serikat. Penerbitnya, Windblown Media, menduga novel itu telah terjual di atas 1 juta eksemplar.

Seperti dilaporkan koran The New York Times, 24 Juni lalu, pada mulanya tak ada penerbit yang berminat pada novel itu. Atas bantuan dua pendeta, Mei setahun lalu, The Shack (pondok) terbit dan beredar di kalangan aktivis Gereja, menjadi cerita dari mulut ke mulut. Dari sanalah – setelah setahun kemudian – novel itu menempati rak utama di toko-toko buka ternama, termasuk di super-market terkemuka seperti Wal-Mart dan Costco, sebagai buku laris, best seller.

Penulisnya, William P.Young, bekas pegawai tugas malam di sebuah hotel di Gresham, Oregon. Novelnya menceritakan kisah seorang ayah yang bersedih karena kehilangan anak perempuan. Ia kemudian bertemu Tuhan dalam sosok seorang wanita kulit hitam yang selalu gembira.
Singkat cerita, novel berkisah tentang cinta Tuhan kepada manusia, atau dengan kata lain ini adalah sebuah novel agamis. Dalam ukuran yang berbeda fenomena The Shack mirip dengan sukses novel dan film Ayat-Ayat Cinta di Indonesia.

Fenomena ini sesungguhnya hanya memperjelas betapa agama (Kristen-Protestan) sekarang sangat penting di dalam kehidupan mayoritas masyarakat Amerika Serikat. Amerika bukanlah seperti digambarkan kaum kapitalisme-liberal melalui film-film Hollywood: serba permisif alias serba bebas, dan agama menjadi urusan nomor delapan belas.

Survei terbaru oleh Pew Forum on Religion, lembaga riset ternama di Washington, yang diumumkan 23 Juni 2008, menunjukkan 92% responden percaya pada Tuhan. Mayoritas responden percaya malaikat dan setan aktif di dunia ini. Dan sekitar 80% responden berpendapat bahwa keajaiban memang terjadi di dalam kehidupan.
ImageSurvei ini ditujukan untuk mencari tahu secara mendalam bagaimana pandangan orang Amerika terhadap agama. Respondennya berjumlah 36.000 orang dewasa tersebar di seluruh Amerika. Pengumpulan pendapat dilakukan dengan interviu tatap muka. Kesimpulannya jelas: orang Amerika memang agamis, amat mempercayai agama.Itu bukan fenomena baru. Profesor Samuel Huntington dari Harvard University dalam bukunya Who are we? America's Great Debate (The Free Press, 2005), menyebutkan bahwa sejak 25 tahun terakhir abad 20, gerakan sekulerisme mengalami penurunan.

Di saat bersamaan terjadi kebangkitan agama hampir di seluruh dunia, kecuali Eropa Barat. Itu terjadi di Amerika Latin, Rusia, Turki, India, berbagai negara Timur Tengah dan Asia lainnya. Itu juga terjadi di Amerika Serikat.

Di Amerika, menurut Huntington, terjadi pertumbuhan cepat dan signifikan Kristen Evangelical, aliran Protestan yang konservatif. Sementara pengikut Kristen arus utama yang lebih liberal semacam Presbyterian atau United Church of Christ, menjadi anjlok. Terjadi eksodus.

Selain itu, banyak orang Amerika konsern pada kemerosotan nilai-nilai, moral, dan standar, di dalam masyarakat. Merebaknya penggunaan Narkoba, penyakit AIDS, perselingkuhan, wanita melahirkan tanpa ayah (single-parent), abortus, meningkatnya kriminalitas, ketamakan mengejar harta, dan sebagainya. Lalu muncul kebutuhan personal untuk mempercayai dan memiliki sesuatu yang tak bisa dipenuhi atau dipuaskan oleh ideologi dan institusi sekuler.

Perubahan besar itu pun terjadi. Menjadi atheis, misalnya, sekarang sesuatu yang asing bagi orang Amerika. Ada survei menunjukkan, kaum atheis lebih tak disukai dibanding kaum homo atau menjadi Muslim. Artinya, orang semacam Christopher Hitchens, penulis atheis asal Inggris yang anti-agama dan anti-Tuhan itu – bukunya terakhir God isnot Great -- bukanlah favorit Amerika.

Dulu di tahun 1960-an, Presiden J.F.Kennedy terkenal dengan ucapannya: pandangan seorang Presiden tentang agama adalah urusan privat (A President whose views on religion are his own private affairs). Sekarang tak begitu. Siapa ahli filsafat politik yang dikagumi Presiden Bush? ''Jesus. Sebab Ia mengubah hatiku,'' kata Bush di sebuah acara TV yang dipancarkan ke seluruh negeri.

Kevin Phillips, bekas ahli strategi Partai Republik, memperkuat tesis Huntington. Ia malah menyebut pemerintahan Presiden Bush mengarah pada pemerintahan agama dan Partai Republik adalah partai Kristen pertama dalam sejarah Amerika (lihat American Theocracy, Penguin Books, 2006).

Bush dulu suka minuman keras. Ia berubah (convert) setelah bertemu seorang Pendeta. Kini dia seorang Kristen Evangelical yang taat. Maka setelah terjadi serangan terror yang merubuhkan Menara Kembar WTC dan Gedung Pentagon, 11 September 2001, Presiden Bush memproklamirkan perang melawan teror (war on terror).

Katanya, itulah perang untuk memburu teroris sampai ke mana pun, dan sampai kapan pun, sehingga mereka betul-betul dikalahkan. Dan Presiden Bush menyebut perang itu sebagai crusade alias Perang Salib. Yaitu perang antara tentara Kristen melawan Islam, 1000 tahun lalu, guna memperebutkan Jerusalem. Bush rupanya merasa sebagai pemimpin tentara Salib. Kenyataannya itu memang dilakukannya: memerangi Islam. Afghanistan dihancurkan. Iraq, negeri Muslim yang lain, yang sama sekali tak ada hubungan dengan terorisme, juga dihancurkan. Sekarang sudah lebih 1 juta penduduknya meninggal dunia. Lebih 4 juta menjadi pengungsi, termasuk ke negeri tetangga, Jordania dan Suriah.
Amerika menggunakan cara kuno kolonialisme: adu domba. Penduduk Sunni dan Shiah di Iraq yang sebelumnya bisa hidup tentram, diadu domba sehingga saling membunuh. Setelah itu, orang Shiah diadu dengan Shiah yang lain, Sunni diadu dengan Sunni.
Di Lebanon juga begitu. Hizbullah yang Shiah diadunya dengan kelompok Sunni. Di Palestina, kelompok Fatah diadu dengan Hamas. Arab Saudi dan negeri lainnya di Teluk yang kaya minyak ditakut-takuti dengan isu senjata nuklir Iran.
Campur tangan dalam bentuk dukungan konkret Kedutaan Besar Amerika Serikat kepada kelompok Ahmadiyah dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), ketika kelompok penghujat Islam dan kelompok liberalis itu bentrok dengan kelompok Front Pembela Islam (FPI) di Monumen Nasional, 1 Juni yang lalu, jelas dalam rangka war on terror. Yaitu untuk mengadu domba umat Islam – kelompok FPI dengan kelompok NU pendukung Gus Dur. Selain bermaksud untuk mengeliminasi kelompok FPI yang sangat anti-Amerika.
Berbagai indikator menunjukkan upaya itu gagal. Kelompok NU tak jadi bentrok dengan kelompok FPI, berkat PB NU yang dipimpin K.H.Hasyim Muzadi, cepat turun tangan. Soalnya PB NU juga secara resmi berpendapat Ahmadiyah adalah aliran sesat.
Kelompok FPI juga tak bisa dieliminasi. Terbukti demontrasi besar-besaran pecah mendukung FPI di Jakarta dan kota lain sampai Pemerintah SBY grogi dan buru-buru mengeluarkan SKB Tiga Menteri tentang Ahmadiyah.
Yang merepotkan, kepolisian Indonesia sudah lama mendapat bantuan dana dari Pemerintah Amerika Serikat. Sehingga menjadi tanda tanya besar: apakah sikap berat sebelah polisi dalam kasus Monas berhubungan dengan bantuan dollar? Yang pasti, polisi hanya menangkap kelompok FPI, sementara AKKBB dan Ahmadiyah tak disentuh. Apalagi belakangan ketahuan, pria beratribut AKKBB dan berpistol di Monas itu adalah anggota polisi dan penganut Ahmadiyah.
Pemerintah dan lembaga bantuan dari Amerika Serikat juga banyak memberikan bantuan ke Mahkamah Agung. Sungguh mengerikan kalau dengan bantuan itu, Amerika akan mendikte Mahkamah Agung dalam keputusannya.
Itu juga yang dipersoalkan Muhammad Ali SH, pengacara Muchdi PR, bekas pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) yang ditangkap polisi karena dituduh terlibat pembunuhan aktivis HAM Munir. Dalam keterangan pers, 4 Juli yang lalu, pengacara itu memperlihatkan bukti fotocopy surat dari para anggota Kongres Amerika Serikat yang meminta Presiden SBY untuk menindak anggota BIN.
Surat kepada Presiden itu sampai dua kali, yaitu tahun 2005 lalu diulang pada 2006. Belum jelas tekanan kepada SBY yang disampaikan melalui telepon atau pertemuan langsung. Tapi karena surat itulah Muchdi ditangkap dan diperiksa polisi. ‘’Penangkapan itu politis, bukan karena alasan hukum,’’ kata Muhammad Ali. Yang jelas, Muchdi yang bekas Komandan Jenderal Kopassus itu, setelah pensiun menjadi Ketua Tapak Suci, organisasi pencak-silat Muhammadiyah. Muchdi memang berasal dari keluarga Muhammadiyah Yogyakarta.
Kasus ini memperjelas betapa dominannya pengaruh Amerika Serikat atas Indonesia. Indonesia adalah negara besar, penduduknya banyak, alamnya kaya, tapi seakan hanya protektorat Amerika Serikat. Sampai anggota Kongresnya pun bisa menekan Presiden SBY dengan dalih hak asasi manusia.
Mestinya, kalau betul Presiden SBY menjalankan politik luar negeri bebas aktif, Kongres Amerika itu harus diberitahu bahwa tangan mereka berlumuran darah orang Iraq. Karena persetujuan merekalah Presiden Bush bisa menyerbu Iraq. Karena persetujuan mereka pula sampai sekarang penjara Guantanamo masih kukuh berdiri. Anggota Kongres kayak begitu kok mau bicara HAM, apalagi menekan seorang Presiden negara berdaulat. Kenyataannya itu terjadi.
Sekadar untuk diketahui sponsor surat Kongres Amerika Serikat itu adalah Tom Lantos, anggota DPR (House of representative) dari Partai Demokrat, yang meninggal dunia Februari lalu, dalam usia 80 tahun. Ia dari Partai Demokrat tapi dia adalah pendukung utama Perang Irak dan pendukung setia penjara Guantanamo. Soalnya, Tom Lantos adalah seorang Yahudi fanatik. Dia dilahirkan di Budapest, Hungary, dari keluarga Yahudi, kemudian merantau ke Amerika Serikat.
Oktober lalu, Lantos mendamprat sejumlah anggota Parlemen Belanda yang baru mengunjungi Guantanamo. ‘’Kalau bukan karena Amerika Serikat, Belanda sampai sekarang adalah provinsi dari Nazi Jerman,’’ kata Lantos kepada anggota Parlemen Belanda yang kritis terhadap Guantanamo ketika menemuinya di Washington.
‘’Pernyataan seperti itu mematikan perdebatan, itu menyakitkan dan tak produktif,’’ kata Harry van Boumel, salah seorang anggota Parlemen Belanda (International Herald Tribune, 27 Oktober 2007).
Sponsor yang lain adalah Mark Steven Kirk, 49 tahun, anggota DPR mewakili Partai Republik. Steven Kirk seorang yang cerdas tapi sangat konservatif. Dia pendukung setia Perang Iraq dan juga anti-imigran Meksiko. Bulan lalu ia bikin heboh ketika dalam wawancara radio dia bilang setuju polisi menembak di tempat Obama. Setelah heboh, ia seenaknya meralat ucapannya dengan mengatakan yang ia maksudkan adalah Osama bukan Obama, Capres Partai Demokrat itu.
Musuh-musuh Obama memang suka memplesetkan namanya dengan Osama bin Ladin yang cuma beda huruf b dengan s. Soalnya, sampai sekarang di bawah permukaan masih beredar isu bahwa Obama adalah seorang Muslim tersembunyi.
Isu bahwa ia belajar di madrasah di Jakarta yang dipimpin seorang kiai ekstrim, walau sudah diralat, tetap dipercaya sebagian masyarakat. Apalagi Obama sulit membantah bahwa ayahnya serta leluhurnya dari garis ayah memang keluarga Muslim.
Tapi sukseskah Perang Salib Presiden Bush? Ternyata tidak. Sudah banyak artikel dan buku ditulis untuk menceritakan kegagalan Pemerintah Amerika Serikat dalam perang melawan teror. Yang terakhir, Maret lalu, Kolumnis Fred Kaplan menulis Daydream Believers – How a Few Grand Ideas Wrecked American Power (John Wiley & Sons Inc., 2008).
Buku ini membahas dengan sangat jelas bagaimana kegagalan demi kegagalan itu terjadi. Tentara Amerika Serikat terjerat di Iraq, perlawanan Taliban meningkat di Afghanistan – tahun ini terbanyak tentara Amerika tewas di Afghanistan -- dan meningkatnya permusuhan di seluruh dunia terhadap Amerika Serikat, termasuk rakyat Eropa Barat.
Semua diceritakan. Bagaimana hubungan semangat moral dan agama Presiden Bush dengan kebijakan luar negerinya yang ekspansionis. Bagaimana kebijakan baru Pemerintah terbentuk dari semangat menggebu-gebu pelaku Perang Salib itu dan nasionalisme.
Maka kesalahan demi kesalahan dilakukan Pemerintahan Bush. Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld muncul dengan konsep pasukan kecil tapi dengan peralatan sangat canggih untuk menyerang Iraq. Nyatanya jumlah pasukan yang kecil itu memang mampu mengalahkan Iraq, tapi tak mampu menjaga keamanannya, apalagi menegakkan hukum dan ketertiban.
Bekas tentara Iraq yang berjumlah ratusan ribu diberhentikan dan dibiarkan menjadi penganggur di jalan-jalan. Ternyata mereka kelak menjadi tentara perlawanan yang merepotkan dan menewaskan banyak serdadu Amerika. Apalagi Garda Republik, pasukan elit Iraq yang terlatih itu. 
Sumber : [www.hidayatullah.com]  

Negara Facebook Menguasai Dunia

Bahkan Google pun tak akan sanggup melacak Facebook. Itulah yang sedang dicanangkan oleh Mark Zuckerberg—pendiri Facebook. Seperti kita ketahui, Google adalah mesin pencari paling populer di internet saat ini, dan untuk menemukan segala hal di dunia maya, maka Google menjadi solusi utamanya.
Namun, oleh Zuckerberg yang seorang Yahudi, hal itu sedang diusahakan tak akan terjadi di Facebook. Artinya, Google tak akan bisa mengakses daleman Facebook. Zuckerberg tengah membangun sebuah megaproyek: menjadikan Facebook sebagai internet itu sendiri.

Kepopuleran Facebook tampaknya sekarang sudah melindas semua situs sejenis, seperti Twitter, My Space, Friendster (oh, masih ada ya?), dan sebagainya.

Untuk semakin membuatnya dominan di dunia maya, Zuckerberg telah berkerjasama dengan FriendFeed yang diyakini akan semakin melebar-luaskan Facebook yang saat ini mempunyai “umat” sekitar 250 juta orang di seluruh dunia.

Tujuan dari Zuckerberg sudah terlihat begitu jelas, bahwa Facebook akan bisa mengontrol jalan pikiran setiap orang pemakainya. Bayangkan, jika semua pengguna menggunakan internet memiliki akun di Facebook, maka dunia pun akan semakin mudah digenggam.

Tanda-tanda Facebook menjadi gurita dan menjadi “one man show” di internet sudah semakin jelas. Tahun ini, seperti dikutip dari Reuters, keuntungan Facebook mencapai 500 juta Dolar Amerika. Bahkan, menurut Marc Andreessen, salah satu pemilik saham Facebook, tidak lama lagi keuntungannya akan menyentuh angka milyaran dolar. Pendapatan ini tak hanya diraup dari keuntungan iklan, melainkan juga dari koneksi yang dibuat oleh situs-situs lain. Saat ini, jaringan koneksi Facebook telah mencapai 10.000 situs.

Dengan pengguna sekitar 200 juta jiwa, situs semacam ini bahkan bisa saja mendirikan negara online. Tahun lalu Zuckerberg berhasil menempati posisi teratas dalam jajaran pengusaha terkaya paling muda versi Forbes. Perusahaannya bahkan bisa bertahan, dan meningkatkan pendapatannya di saat krisis finansial melanda dunia. Dalam krisis finansial beberapa waktu lalu, nilai penjualan Facebook mencapai 300 juta Dolar Amerika. Tahun ini, dengan jumlah karyawan mencapai 1000 orang, nilai penjualan Facebook pada tutup tahun 2009 nanti diperkirakan mencapai 500 juta Dolar Amerika atau setara dengan Rp. 5 Trilyun!

Satu hal yang harap dicatat, bagi kita kaum Muslim adalah jangan sampai kita menjadi sesuatu yang idle dalam berinteaksi di internet, menyatakan bahkan hal kecil yang kita alami dan rasakan, sementara “tangan-tangan besar” yang tak terlihat sedang mempersiapkan skenario terhadap dunia Islam.
Sumber : swaramuslim

Waspadai Gejala Kecanduan Internet

Hati-hati, jika Anda banyak menghabiskan waktu di depan komputer dan berani berbohong untuk menggunakan fasilitas internet, mungkin Anda seorang pecandu internet! Ben Alexander menghabiskan hampir setiap menit waktunya untuk bermain video game "World of Warcraft." Hasilnya, ia harus terdepak keluar dari Universitas Iowa.


Alexander seorang pemuda 19 tahun yang harus menghentikan kecanduan, yang disebutnya berbahaya seperti alkohol dan narkoba. Dan ia mendapatkan pertolongan di pinggiran kota berteknologi canggih, Seattle. Tepatnya di ReSTART, sebuah pusat penanggulangan kecanduan internet.


ReSTART yang mulai dibuka pada Juli 2009, mengklaim diri sebagai pusat rehabilitasi pecandu internet pertama di Amerika Serikat. Lembaga ini menawarkan program 45 hari untuk membantu orang-orang yang kecanduan menggunakan komputer. Termasuk mereka yang berlebihan bermain game, texting (kirim pesan, membuat tulisan seperti blog, dan lainnya), eBay, Twitter, Facebook, dan kegiatan lain yang menghabiskan waktu bersama teknologi.


"Kami sudah melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun, menangani pasien rawat jalan," kata Hilarie Cash, seorang terapis yang juga direktur eksekutif pusat rehabilitasi itu. "Hingga akhirnya sekarang, sebelumnya kita tidak punya tempat untuk merawat orang-orang itu."


Kecanduan internet tidak dianggap sebagai penyakit kelainan oleh Asosiasi Psikiater Amerika. Dan pengobatannya juga tidak terlindungi oleh asuransi. Tapi, sebenarnya banyak lembaga sejenis di China, Korea Selatan, dan Taiwan. Dan banyak psikiater yang menyatakan bahwa kecanduan internet itu memang nyata ada dan berbahaya.


Alexander hingga saat ini adalah pasien satu-satunya yang mengikuti program dengan pendekatan "cold turkey", di mana ia benar-benar dijauhkan dari komputer dan internet secara mutlak.


Ia menghabiskan harinya dengan mengikuti sesi konseling dan psikoterapi, melakukan pekerjaan rumah, berkebun, pergi berjalan-jalan ke luar rumah, olahraga, dan bahkan membuat kue jahe.


Akibat buruk yang ditimbulkan kecanduan komputer dan internet ini tidak main-main. Bisa berupa kehilangan pekerjaan, kehancuran rumah tangga, bahkan mengalami kecelakaan lalulintas, terutama bagi mereka yang suka texting, ketik-ketik di jalan.


Beberapa orang telah meninggal karena bermain games selama berhari-hari tanpa istirahat. Biasanya karena aliran darah ke otaknya berhenti, akibat duduk terlalu lama.


Menurut Dr. Kimberly Young dari Center for Internet Addiction Recovery di kota Bradford, Pennsylvania, orang harus waspada terhadap gejala-gejala kecanduan internet, seperti menggunakannya berlebihan dari keperluan, adanya peningkatan jumlah waktu yang dihabiskan di depan komputer atau internet, sering tidak bisa mengendalikan hasrat untuk menggunakannya di luar keperluan, hubungan dengan pasangan mulai terganggu, waktu sekolah dan kerja yang habis digunakan untuk online, berbohong agar bisa menggunakan fasilitas internet, menggunakan internet untuk menghilangkan keresahan dan depresi, adanya perubahan berat badan, sakit kepala dan sakit di pergelangan tangan.


Kecanduan internet juga bisa merupakan tanda dari gelaja penyakit kejiwaan lainnya, seperti depresi dan autis, demikian menurut para pakar. Pecandu internet biasanya tidak melakukan hubungan dan kontak dengan manusia nyata di sekitarnya. Keadaan kebersihan diri, rumah, dan hubungan sosialnya, biasanya tidak terpelihara. Mereka juga tidak makan dan tidur sebagaimana mestinya, serta tidak berolahraga. Begitu penjelasan Cosette Dawna Rae, seorang psikoterapis.


Alexander, seorang pemuda berperawakan tinggi, dan kalem. Ia selalu mendapat nilai bagus di sekolah dan bercita-cita menjadi seorang ahli biologi. Ia mulai bermain "World of Warcraft" sekitar satu tahun lalu, dan langsung ketagihan.


"Awalnya hanya bermain beberapa jam saja dalam sehari," katanya. "Hingga di pertengahan semester pertama kuliah, saya bermain selama 16-17 jam sehari."


Alexander akhirnya harus keluar pada semester kedua. Ia kemudian mengikuti program penyembuhan secara tradisonal, yang ternyata tidak cocok.


Ia juga sudah selesai mengikuti program penyembuhan out-door selama 10 pekan di selatan Utah. Tapi, ia merasa belum berhasil mengendalikan hasratnya untuk bermain game. 

Sumber : www.hidayatullah.com

Terorisme Tanpa Amerika Serikat

Terorisme yang merebak secara global, berakar dari tindakan Amerika untuk menjatuhkan Uni Soviet. Anehnya, di mata pers kita terorisme tanpa negara superpower itu

Selama 17 jam kekuatan polisi dikerahkan menangkap gembong teroris nomor satu, Noordin Mohamad Top, yang dikabarkan bersembunyi di sebuah rumah desa di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, 7 Agustus lalu. Noordin yang asal Malaysia itu telah menjadi musuh negara nomor satu karena sebelumnya ia diberitakan merencanakan pembunuhan terhadap Presiden dengan meledakkan bom di rumah SBY di Cikeas.

Terkepung seperti itu, Noordin yang  selama ini dikabarkan amat licin dan lihai, kali ini tak mungkin lepas. Jangankan manusia, lalat pun tak mungkin lolos dari kepungan pasukan elite anti-teror Detasemen Khusus 88 Polri yang begitu ketat. Maka di layar televisi, pengepungan ini menjelma menjadi sebuah reality show.

Acara ini tentu ditunggu-tunggu pemirsa. Semua yang diinginkan untuk menjadi reality show yang menarik tersedia. Ada ketegangan (suspense), ada drama, ada desingan peluru dar….der…..dor, ada tokohnya, yaitu Noordin Top, dan tentu ada pula darah.  Semua terjadi, agaknya, berkat kerja sama yang baik antara polisi dan televisi: polisi dapat publikasi gratis, televisi dapat berita untuk mendongkrak rating – dan kemudian banjir iklan. Klop. Karenanya kian lama pengepungan dilakukan, kian bagus. Iklan kian mengalir.

Maka wartawan tak perlu lagi kritis pada polisi.  Yang penting rating melonjak, iklan masuk, pemilik modal senang. Oleh sebab itu tak ada wartawan mempertanyakan, apakah benar orang di dalam rumah adalah Noordin M.Top?  Mengapa gembong teroris yang selama ini sudah terbukti lihai, kok ngumpet di rumah desa terpencil yang gampang dikepung? Bukankah dari pengalaman selama ini Noordin selalu bersembunyi di kawasan ramai sehingga mudah melarikan diri? Mengapa pula pengepungan begitu lama? Pendek kata tak ada pertanyaan kritis dari wartawan, padahal tugas utama wartawan adalah bertanya.

Belakangan ketahuan kalau pengepungan yang begitu spektakuler salah sasaran. Tak ada Noordin M.Top di dalam rumah. Yang dikepung pasukan elite dan wartawan selama 17 jam (kata polisi) adalah Ibrohim, petugas perangkai bunga Hotel J.W.Marriott, Mega Kuningan, Jakarta. Menurut polisi, Ibrohim terlibat dalam serangan bom bunuh diri di J.W. Marriott dan Ritz Carlton, dua hotel berbau Amerika. Wajar saja kalau ‘’dikeroyok’’ polisi seperti itu. Tubuh sang perangkai bunga remuk-redam oleh peluru dan lemparan bom.

Maka sempurnalah peristiwa ini sebagai hal yang memalukan, yang disaksikan jutaan pemirsa televisi. Ratusan polisi dan pasukan elite Anti-Teror dikerahkan dengan segala peralatan canggih selama 17 jam, hanya untuk menembak mati seorang perangkai bunga. Lalu bagaimana pertanggungjawaban profesional wartawan yang dengan yakin menyebarkan  berita kepada masyarakat seolah-olah yang dikepung itu adalah gembong teroris Noordin M.Top?

Celakanya lagi, setelah ternyata yang dikepung adalah Ibrohim, wartawan pun ramai-ramai mengkreasi Ibrohim seakan teroris hebat yang kalibernya tak kalah dari Noordin M.Top. Ada yang memberitakan Ibrohim disiapkan untuk menubrukkan truk bermuatan bom ke rumah kediaman Presiden SBY di Cikeas.

Bermula dari Afghanistan

Terus-terang Noordin M.Top pantas menjadi buron nomor satu bila dilihat dari rekam jejaknya selama ini. Tapi ketika disebutkan bahwa ia juga akan mengebom rumah Presiden SBY, untuk balas dendam atas dieksekusinya tiga pelaku bom Bali, mulai muncul tanda tanya kalau aksi-aksi terorisme yang terjadi agaknya akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis demi kekuasaan. Coba ingat pernyataan pers Presiden SBY sebelumnya bahwa terorisme ada hubungannya dengan Pemilihan Presiden (Pilpres), terorisme akan menggagalkan pelantikan presiden terpilih, kantor KPU akan diduduki, dan sebagainya, dan sebagainya. Ternyata tak satu pun informasi yang kata presiden berasal dari intelijen  itu, yang menjadi kenyataan.

Kalau saja berbagai teror di sini diamati sedikit seksama, akan jelas bahwa peristiwa yang terjadi selalu berkaitan dengan peristiwa global. Kaum teroris di sini selalu menjadikan kepentingan Amerika Serikat, Israel, dan negara Barat sekutunya sebagai target. Dan memang kasus terorisme di dunia ini selalu ada hubungannya dengan penjajahan Afghanistan dan Irak oleh Amerika Serikat dan NATO, atau penindasan Palestina oleh Israel.

Jadi seandainya benar Presiden SBY menjadi target teror, mungkin lebih masuk akal itu disebabkan kedekatannya dengan Amerika Serikat, atau mungkin karena pernyataan SBY sendiri yang pernah menyebut Amerika Serikat sebagai negerinya kedua. Jadi adalah amat naïf, mengulas habis terorisme di sini tanpa mengaitkannya dengan Amerika Serikat – seperti yang hari-hari ini dilakukan para wartawan di sini – terutama wartawan televisi.

Pers tampaknya seakan ingin mengamputasi hubungan terorisme di Indonesia dengan Amerika Serikat atau Israel.  Seolah-olah terorisme terjadi di Indonesia karena keinginan sekelompok orang di Indonesia yang ingin menjadikan Indonesia negara Islam. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa suburnya terorisme setelah terjadi serangan oleh Amerika Serikat ke Afghanistan, 2001, dan terutama ke Irak, 2003.    

Profesor Mahmood Mamdani, Direktur Studi Afrika Columbia University, di dalam bukunya yang amat terkenal Good Muslim, Bad Muslim (Three Leaves Press, Doubleday, New York, 2005) mengungkap bagaimana peran Amerika Serikat dikaitkan dengan terorisme sekarang. Itu dimulai dari terpuruknya Amerika Serikat setelah kalah dalam perang Vietnam, pada 1975. Perang itu menyebabkan sekitar 50 ribu tentara Amerika Serikat terbunuh.

Kekalahan itu menyebabkan trauma. Kongres, misalnya, mengeluarkan keputusan yang menyebabkan pemerintah kesulitan melibatkan pasukan Amerika di luar negeri. Keterpurukan itu ditambah lagi berbagai peristiwa lain.

Pada 1979, meletus revolusi Islam di Iran dipimpin Ayatullah Khomenei, menggusur Shah Iran dari singgasana kekuasaan. Shah Iran selama ini adalah teman baik dan rela menyerahkan tambang minyaknya kepada Amerika Serikat. Dalam revolusi ini, bukan saja hubungan Amerika – Iran memburuk, tapi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran diduduki dan 50-an stafnya disandera oleh sejumlah mahasiswa Iran. Wibawa Amerika di mata internasional tambah terpuruk. Apalagi setelah operasi pasukan khusus yang dikirimkan Washington  guna membebaskan sandera gagal total dengan amat memalukan.

Lalu di tahun yang sama, Uni Soviet, musuh utama Amerika Serikat dalam Perang Dingin, menduduki Afghanistan. Amerika Serikat tak bisa berbuat apa-apa. Berbagai peristiwa itu menjadi penyebab Presiden Jimmy Carter dari Partai Demokrat dikalahkan calon Partai Republik, Ronald Reagan, dalam Pilpres waktu itu. Sebagai bekas bintang film Cowboy, Reagan dianggap lebih galak dan berani sehingga lebih tepat memimpin Amerika yang sedang terpuruk dibanding Carter yang mengutamakan perdamaian. Apalagi Reagan didampingi George H.W.Bush sebagai calon Wakil Presiden. Bush, ayah kandung George W. Bush, Presiden Amerika Serikat yang digantikan Barack Obama. Dia adalah bekas Direktur CIA.

Pilihan itu tampaknya tepat. Presiden Reagan pun melibatkan diri di Afghanistan dengan Wapres George H.W.Bush sebagai operatornya. Wartawan senior Craigh Unger dalam bukunya House of Bush, House of Saud (Scribner, 2004), mengungkapkan bahwa dalam perang antara pasukan Uni Soviet dengan pejuang Mujahidin di Afghanistan tahun 1980-an, Amerika membantu Mujahidin.

Ketika itu ditaksir sekitar 80.000 pasukan jihad dari berbagai pelosok dunia – termasuk dari Indonesia – datang ke Afghanistan untuk mengusir Uni Soviet. Di antara para pejuang itu terdapat Usamah Bin Ladin, putra konglomerat Arab Saudi, Muhammad Awad Bin Ladin, pendiri Saudi Binladin Group (SBG), perusahaan kontraktor paling terkemuka di Arab Saudi. Unger mengungkap di bukunya bahwa keluarga Wapres George H.W.Bush mengenal baik keluarga Bin Ladin, terutama dengan Salem Bin Ladin, anak tertua keluarga Bin Ladin yang menetap dan berbisnis di Houston, Texas.

Usamah bekerja sama dengan badan intelijen Amerika, CIA. Namanya cepat menjadi buah-bibir para pejuang, sebagai anak orang kaya-raya tapi bersedia berjihad melawan komunisme Uni Soviet.  Amerika dengan menggunakan para operator CIA, menurut buku itu, membantu para pejuang Mujahidin dana 3 milyar dollar.  Amerika pula yang mengirimkan rudal jinjing Stinger yang banyak digunakan Mujahidin merontokkan helikopter tempur Uni Soviet.

Perang Pakai Perwakilan

Presiden Reagan juga bekerja sama dengan Presiden Pakistan Zia Ulhaq. Bagi mereka berdua melawan Uni Soviet di Afghanistan adalah perang ideologi, yaitu melawan setan komunisme yang tak percaya Tuhan. Maka dari sekolah-sekolah agama dan pesantren di Pakistan, anak-anak muda direkrut untuk disiapkan menjadi tentara jihad melawan setan di Afghanistan. Anak-anak muda dari Indonesia, seperti Imam Samudera – sudah dieksekusi karena kasus Bom Bali – tertarik berjihad ke Afghanistan, dengan berlatih di kawasan Filipina Selatan. Dari sana Imam Samudera dan kawan-kawan diberangkatkan ke Afghanistan.

Kalau dibaca buku Craig Unger, House of Bush, House of Saud, maupun Good Muslim, Bad Muslim oleh Profesor Mahmood Mamdani, akan sangat jelas bahwa perang yang dilakukan Imam Samudra, atau Usamah Bin Ladin, untuk mengusir Uni Soviet dari Afghanistan, ternyata dimanfaatkan betul-betul oleh Presiden Reagan dan wakilnya, George H.W.Bush, untuk menghancurkan Uni Soviet sebagai musuh utama Amerika Serikat. ‘’Dalam perang ini, tak satu pun tentara Amerika yang gugur, meski perang ini sangat banyak memakan korban,’’ tulis Unger. ‘’Rakyat Amerika,’’ lanjutnya, ‘’tak mengenal Usamah Bin Ladin, kecuali segelintir yang mengikuti perang ini dengan serius. Mereka tahu bahwa Usamah dianggap hero oleh kalangan Islam militan.’’

Maka bagi Amerika Serikat, inilah yang disebut perang by proxy, perang dengan perwakilan, yang ternyata berhasil mengalahkan dan mengusir Uni Soviet dari Afghanistan. Kekalahan itu, menurut Patrick Buchanan, kolomnis dan intelektual konservatif yang pernah mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat, menyebabkan Uni Soviet sebagai negara super-power akhirnya bubar dan terpecah-pecah. Buchanan berpendapat, banyak negara besar ambruk dimulai dengan kekalahan perang (Patrick J. Buchanan dalam Day of Reckoning, Thomas Dunne Books, 2008). Dengan bubarnya Uni Soviet, Amerika Serikat muncul sebagai super-power dunia satu-satunya.

Bila Buchanan benar, maka sesungguhnya keruntuhan Uni Soviet disebabkan kegigihan kaum Mujahidin, termasuk Usama Bin Ladin. Bukan karena kehebatan sistem kapitalisme Barat yang selama ini digembar-gemborkan berhasil mengalahkan sistem komunisme. Tapi yang memetik keuntungan adalah Amerika Serikat, walau tak seorang pun tentaranya turut bertempur di Afghanistan. Buat Amerika, apa yang terjadi di Afghanistan merupakan paradoks dari Perang Vietnam. Di Vietnam tentara Amerika terlibat langsung dengan korban yang tak sedikit, tapi perang itu tak bisa mereka menangkan.

Bagi kelompok Usamah Bin Ladin, kemenangan di Afghanistan, bukan saja menaikkan semangat dan kepercayaan diri, tapi memberi pengalaman penting tentang taktik dan strategi bertempur dengan bergerilya, kemahiran menggunakan senjata, membuat dan meledakkan bom, dan berbagai hal lain. Maka berbagai pembuatan bom untuk teror di Indonesia sekarang, misalnya, berasal dari pengalaman di Afghanistan.

Pola rekrutmen para pejuang jihad global ketika menghadapi Uni Soviet, kini menginspirasi para pejuang di Iraq atau Afghanistan yang berdatangan dari seluruh dunia. Bedanya: kini para pejuang global di Iraq atau Afghanistan adalah musuh – dan digelari teroris --, bukan teman Amerika Serikat seperti pejuang Afghanistan dulu. Walau mungkin saja orangnya masih sama.

Sebagai contoh, Gulbuddin Hekmatyar, salah satu pemimpin Mujahidin itu. Dulu dia dianggap Amerika sebagai pejuang kemerdekaan Afghanistan. Kini Gulbuddin dituduh  teroris, karena dia bergabung dengan Taliban melawan pasukan Amerika dan NATO. Begitu pula Usamah Bin Ladin. Dulu dia teman dekat CIA melawan pasukan Uni Soviet, karenanya dia pejuang. Kini dia adalah teroris nomor satu dunia yang paling diburu Amerika Serikat dan kawan-kawannya, karena dia musuh Amerika Serikat. Pemimpin puncak Al-Qaeda itu dianggap bertanggung-jawab merubuhkan Menara Kembar WTC New York. Kesimpulannya: teman Amerika Serikat adalah pejuang dan semua musuh Amerika Serikat adalah teroris, sekalipun mereka berjuang untuk memerdekakan negerinya, seperti yang sekarang terjadi di Iraq atau Afghanistan.

Tapi karena Amerika adalah super-power, maka dia adalah kebenaran. Semua tindakannya benar, semua lawannya salah. Membunuh, menyiksa tahanan, atau berdagang Narkoba adalah salah, kecuali itu dilakukan Amerika Serikat. Akibat serbuan pasukan Amerika ke Iraq, hampir 1 juta penduduk Irak terbunuh, tapi mantan Presiden Bush yang memerintahkan penyerbuan sampai sekarang tak pernah diadili.

Perang Vietnam 1964 – 1975, menyebabkan 4 juta penduduk Vietnam dan Indochina terbunuh. Jutaan lainnya luka-luka. Belum dihitung kerugian material dan moril. Amerika melakukan produksi dan perdagangan Narkoba di Laos dan sekitarnya dengan melibatkan badan intelijen CIA dan badan bantuan pemerintah Amerika Serikat, USAID. Mereka bekerjasama dengan raja-raja opium di daerah itu yang kemudian terkenal sebagai kawasan Segi Tiga Emas, produsen Narkoba terbesar di dunia pada masanya.

Amerika kemudian melakukan hal sama di Afghanistan, di tahun 1980-an. Melalui perdagangan Narkoba, CIA mempersenjatai dan membiayai pasukan Mujahidin di Afghanistan untuk melawan tentara pendudukan Uni Soviet (lihat Craig Unger dalam House of Bush, House of Saud, Scribner 2004). Sekarang Afghanistan merupakan penghasil opium terbesar dunia.

Kekejaman Amerika juga terjadi di berbagai negara Amerika Latin seperti Panama, Haiti, Guatemala, dan Cile. Tak aneh kalau selain di kawan Timur Tengah, Amerika paling dibenci di Amerika Latin.

Setelah terjadi serangan teror terhadap Menara Kembar WTC di New York dan Pentagon, 11 September 2001, Presiden Bush menuntut Pemerintah Afghanistan pimpinan Mullah Omar menyerahkan Usamah Bin Ladin yang katanya bersembunyi di Afghanistan. Mereka menuduh Mullah Omar melindungi Usamah, orang yang bertanggung jawab atas serangan teror itu.  Ketika Mullah Omar menolak, pesawat-pesawat tempur Amerika segera mengebom Afghanistan. Perang yang tak seimbang itu dimulai.

Sampai kini sudah 7 tahun operasi militer dilakukan Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya. Sekitar 50.000 pasukan dikerahkan, 33.000 di antaranya dari Amerika. Kini di bawah Presiden Obama, Amerika malah berusaha menambah lagi pasukannya.

Seth Jones analis dari Rand Corporation yang telah beberapa tahun membuat studi tentang Taliban, mengatakan wajar kemampuan Taliban meningkat setelah 7 tahun terlatih bertempur menghadapi pasukan Amerika Serikat dan NATO.

Menurut Jones, pimpinan puncak Taliban seperti Mullah Omar, Siraj Haqqani, dan Gulbuddin Hekmatyar, masih aktif dan belum berhasil ditangkap. Begitu pula Usamah Bin Ladin, pemimpin tertinggi Al-Qaeda, musuh nomor satu Amerika.

Profesor Bryan Glyn William, ahli sejarah Islam dari University of Massachusetts, Dartmouth, berpendapat sejak pertengahan 2007, Al-Qaeda di Iraq (AQI) melemah. Bersamaan dengan itu Al-Qaeda di Afghanistan menguat.

Menurut Profesor itu, sejak 2007 website jihad di seluruh dunia, dari Chechnya, Turki, sampai Timur Tengah, mulai memuat advertensi menyerukan lions of Islam (para singa Islam) di seluruh dunia untuk berjuang di Afghanistan. Baik juga bila seruan itu sampai ke Indonesia sehingga lions of Islam di sini berangkat dan berperang ke Afghanistan atau Irak, menghadapi langsung tentara Amerika dan sekutunya. Itu mungkin lebih baik daripada mengebom kepentingan dan bau Amerika di sini, tapi dampaknya sangat merugikan bangsa sendiri.

Yang ingin disimpulkan: akar semua terorisme sekarang ini adalah Amerika Serikat dan sekutunya. Indonesia dan banyak negara lain hanya korban. Jadi adalah aneh kalau kita mau membahas dan memberantas terorisme tanpa membicarakan – atau malah menyembunyikan -- keterlibatan Amerika Serikat. Tapi itulah yang terjadi sekarang.

Pers Hanya Asal Memberitakan

Pemberitaan yang berbiak ke sana-kemari, sampai jauh dari ujung pangkal persoalan terorisme, menunjukkan kelemahan peliputan media massa

Tampaknya pemberitaan yang berbiak ke sana-kemari, sampai jauh dari ujung pangkal persoalan terorisme, menunjukkan kelemahan peliputan media massa. Media hanya mampu mengambil fakta-fakta di permukaan. Manakala fakta-fakta di permukaah sudah habis, masuk ke ranah lain yang bisa jadi tidak terlalu berhubungan dengan persoalan terorisme itu sendiri. Malah masuk ke wilayah sensitif praktik beribadah.

Terbanyak peliputan itu hanya menghasilkan tulisan berita, yang bersandarkan fakta objektif. Padahal teknik penulisan ini pada media-media di negara-negara maju, seringkali tidak memuaskan kebutuhan informasi masyarakat pembaca.

Itu sebabnya untuk mengungkap persoalan-persoalan pelik di masyarakat, terdapat teknik-teknik peliputan lain semacam investigasi, interpretatif, eksplanatori, dan sebagainya. Teknik-teknik peliputan itu pun menjadi kategori dalam pemberian penghargaan Pulitzer untuk tulisan jurnalistik unggulan di Amerika Serikat. Bahkan di media The New York Times terdapat Divisi Peliputan Investigasi.

Kebutuhan teknik-teknik peliputan tersebut sebagai upaya mencari dan menggali persoalan-persoalan yang ada di masyarakat dengan lebih mendalam. Penggalian ini sampai menyentuh fakta-fakta yang belum terungkap. Fakta-fakta yang mendalam itu bisa jadi sekadar dituliskan menjadi sebuah laporan mendalam, atau juga ditulis, dianalisa, kemudian dimuat.

Di antara figur wartawan berkemampuan semacam ini dapat mencontoh  Bob Woodward dan Carl Bernstein dari Washington Post yang mengungkap skandal Watergate, yang menyebabkan Presiden AS Richard Nixon mengundurkan di tahun 1974. Kedua wartawan itu kemudian memenangkan penghargaan Pulitzer.

Skandal Watergate
itu berupa penyusupan staf Nixon ke markas besar Komite Nasional Partai Demokrat di kompleks Kantor Watergate di Washington, DC pada 17 Juni 1972. Penyelidikan yang dilakukan oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) dan kemudian oleh Komite Watergate Senat, House Judiciary Committee, dan pers mengungkapkan bahwa pencurian ini adalah salah satu dari banyak kegiatan ilegal yang dilaksanakan oleh staf Nixon.

Wartawan juga mengungkapkan lingkup kejahatan dan pelanggaran sangat besar lainnya, termasuk kampanye penipuan, spionase dan sabotase politik, audit pajak yang tidak semestinya, dan penyadapan ilegal pada skala besar.

Yang terbaru apa yang dilakukan wartawan investigasi The New York Times David Stephenson Rohde yang mencari informasi di daerah-daerah berbahaya. Ia telah pergi ke Afghanistan dan Irak untuk menulis upaya menciptakan perdamaian dan keamanan di negara-negara itu. Dia menulis penderitaan atas orang-orang yang ditahan dan dibebaskan dari pusat tahanan militer AS di Teluk Guantanamo, Kuba.  Selama tahun 2004 dan 2005 ia menulis panjang lebar tentang perlakuan terhadap tahanan di penjara Abu Ghraib yang terkenal di Baghdad dan di Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan.

Pada November 2008 ketika melakukan riset untuk sebuah buku di Afghanistan, ia dan dua rekannya diculik oleh anggota Taliban. Pada bulan Juni 2009 Rohde dan salah satu rekannya berhasil melarikan diri dari tahanan.

Selama ditawan, kolega Rohde di The New York Times mengimbau kepada anggota lain dari media massa untuk tidak membuat tulisan yang berkaitan dengan penculikan tersebut. Blackout media tentang penculikan Rohde telah menyebabkan perdebatan di kalangan media, antara kepentingan keselamatan nyawa Rohde dan tanggung jawab menuliskan berita kepada masyarakat.

Atas tulisan-tulisan Rohde di Afghanistan itu, pada bulan April 2009 mendapat penghargaan Pulitzer yang kedua kalinya. Pulitzer pertama diperolehnya pada pada tahun 1996 ketika meliput dan mengungkapkan pembantaian masal muslim Bosnia di Srebrenica.

Dalam aktivitas peliputan ini ia sempat ditawan tentara Serbia dan disidangkan di Serbia-Kroasia  tanpa didampingi penterjemah, pengacara, dan perwakilan diplomatik AS, sebagaimana ditentukan Konvensi Wina. Upaya pembebasannya kemudian dilakukan pemerintah AS dengan menekan pemerintah Bosnia Serbia.

Atas liputan Rohde di Bosnia, wartawan Henry Porter dari Inggris berkomentar, “liputan-liputan saat perang sipil di Bosnia sangat berbahaya, para wartawan tidak bisa mencegah rejim Milosevic yang begitu bernafsu, kecuali Rohde yang berani mengambil resiko mengungkapkan pembantaian masal atas ribuan orang muslim di Srebrenica. Pembantai besar-besaran itu mungkin tidak akan terungkapkan tanpa kehadiran David Rohde yang sangat pemberani.”

Keberanian para wartawan investigasi ini berangkat dari curiousity atas fakta-fakta yang terpendam, terutama terhadap kasus-kasus yang besar. Mereka bekerja dengan profesional untuk mengungkapkan kebenaran kepada masyarakat. Teknik peliputan yang sama mestinya juga dapat dilakukan wartawan di tanah air, dengan cara-cara yang benar, profesional, dan tidak bersinggungan dengan persoalan-persoalan sensitif di masyarakat.

Untuk kasus peliputan terorisme ini, Zainal Arifin Emka memberikan pandangan, polisi memang nara sumber yang punya otoritas untuk dikutip keterangan atau pernyataannya. Tapi wartawan harus juga bersikap skeptis. Selalu ada keinginan untuk menguji kebenaran. Tidak asal telan saja.

“Polisi kan juga manusia yang bisa salah duga, salah sangka, bahkan salah tangkap, seperti terjadi dalam beberapa kasus. Janganlah kita menghukum orang yang tidak bersalah dan wartawan ikut memperteguhnya karena sikap serampangan dalam liputan. Wartawan perlu dididik untuk tidak main gebyah uyah, menggeneralisasi,” katanya.

Ia mengatakan, di zaman Orde Baru pers kita tidak kritis karena alasan dikekang kebebasannya. Sekarang setelah bebas, ternyata pers kita tidak beranjak dari kungkungan, bahkan dalam kasus terorisme kehilangan sikap kritisnya. “Setidaknya ada hasrat untuk menguji kebenaran suatu informasi. Alasan saya sederhana saja. Masyarakat kita makin pinter, masak wartawannya tidak belajar. Naif sekali kalau wartawan atau media menganggap masyarakat bisa dibodohi,” ujarnya.

Menurut Mashadi, pemberitaan kasus terorisme menunjukkan media massa, khususnya televisi, tidak berada dalam posisi yang obyektif. “Banyak pemberitaan media yang sudah menyimpulkan persoalan sebelum ada pembuktian dari pihak kepolisian,” jelasnya.

Akibatnya, kata Mashadi, banyak pihak dirugikan. Seperti dialami keluarga Nurhasbi alias Nursahid. Dalam pemberitaan Nurhasbi dituduh sebagai pelaku pengeboman. Setelah tes DNA, tuduhan itu tidak terbukti.

“Meski melegakan karena terbebas dari tuduhan, tapi nama keluarga besar Nurhasbi telah tercoreng oleh stigmatisasi yang dibangun media.”

Sayangnya, tambah Mashadi, sampai detik ini belum ada satu media pun yang mengklarifikasi dan meminta maaf kepada keluarga Nurhasbi.

“Saya kira keluarga Nurhasbi dan korban-korban lainnya berhak memperkarakan media-media yang telah melakukan stigmatisasi,” jelas lelaki yang juga sebagai Ketua Forum Umat Islam (FUI) ini.

Begitulah. Barangkali pers di Indonesia masih perlu bersikap arif dan profesional. Jika di masyarakat yang mayoritas non-muslim semacam di Filipina saja (lihat tulisan: Pers Mengejar Rating, Kaum Muslim Pun Tersakiti) pers bisa berniat bertenggang rasa terhadap masyarakat muslim yang minoritas untuk masalah-masalah sensitif, mengapa di negeri ini yang mayoritas muslim dan pers telah berada di alam reformasi, masih bekerja asal srundhal-srundhul dan sepak sana-sepak sini? Agaknya pers perlu introspeksi diri dalam melakukan pekerjaannya.
 
Sumber : www.hidayatullah.com

Pers Mengejar Rating, Kaum Muslim Pun Tersakiti


Jika di negara-negara mayoritas non-muslim, pers bisa bertenggang rasa terhadap masyarakat muslim. Di Indonesia justru pers menyakiti masyarakat muslim

nilah kondisi yang paradoks. Lain di Indonesia, lain pula di Filipina dalam mengambil kebijakan pemberitaan terorisme di media massa.

Awal Februari 2002 berbagai stasiun televisi Filipina menayangkan gambar pemenggalan kepala seorang tentara Filipina oleh anggota kelompok Abu Sayyaf. Tentara itu dipenggal kepalanya di sekitar orang yang tengah shalat. Gambar mengerikan itu menjadi berita hangat, sekaligus menimbulkan protes para orang tua yang khawatir pengaruh gambar itu pada anak-anak.

Presiden Gloria Macapagal Arroyo menggunakan tayangan tersebut untuk menunjukkan kepada publik agar melihat keadaan sebenarnya. “Saya ingin publik melihat wajah dari penjahat ini sebenarnya,” katanya.

Abu Sayyaf adalah kelompok kecil dari gerakan separatis Islam di Filipina selatan yang berbasis di Pulau Basilan. Abu Sayyaf dipimpin Abdurajak Janjalani. Amerika Serikat menuding Abu Sayyaf punya hubungan dengan jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Abu Sayyaf juga disebut-sebut menyandera dua misionaris berkebangsaan Amerika Serikat dan seorang juru rawat Filipina di hutan Basilan. Untuk itu Amerika Serikat menjanjikan bantuan hampir US$ 100 juta untuk memerangi Abu Sayyaf.

Evelyn O Katigbak dari Center for Media Freedom and Responsibility di Manila menilai, tayangan tadi ditujukan untuk menarik simpati publik dan dukungan tindakan militer. Sejak penyanderaan yang dilakukan Abu Sayyaf di Balikatan, dan rencana Amerika Serikat menerjunkan pasukan membantu Filipina memerangi Abu Sayyaf, politik Filipina memang hangat. Khalayak terbelah antara yang setuju dengan yang tidak setuju dengan kehadiran pasukan asing di sana.

Tayangan itu sendiri menimbulkan efek buruk, terutama terhadap citra Islam. “Pemenggalan kepala, orang yang shalat, bisa menimbulkan efek yang buruk,” kata Evelyn Katigbak. “Meskipun footage itu tidak dimaksudkan secara sengaja menghina Islam, publik bukan hanya membenci tindakan Abu Sayyaf, tapi juga bisa membenci orang Islam keseluruhan.”

Ia memandang, tayangan pemenggalan kepala juga menimbulkan asosiasi negatif terhadap Islam yang dianggap kejam. “Dalam masyarakat di mana penduduk Islam jumlahnya minoritas, pemberitaan soal terorisme demikian bisa menimbulkan kesalahpahaman. Media justru menghadirkan citra yang salah dan menyesatkan tentang satu agama dan ras tertentu.”

Seringkali penyosokan dan stereotip oleh pers menganggap komunitas sebagai satu kesatuan. Seperti orang Afghanistan yang digambarkan sebagai orang yang radikal dan menghalalkan segala cara. Padahal, tak semua orang Islam seperti yang digambarkan. Celakanya, stereotip ini seringkali diikuti oleh pemberian label negatif.

Melinda Quintos de Jesus, juga dari Center for Media Freedom and Responsibility, memberikan contoh pemakaian negative profiling dalam pemberitaan media di Filipina terhadap gerakan Abu Sayyaf. Banyak kepala berita surat kabar di Filipina mengidentifikasi Abu Sayyaf sebagai “penjahat muslim” atau “teroris Islam”.

Bagi de Jesus, ada yang keliru dalam pemberitaan mengenai Abu Sayyaf. Muslim dilihat seakan sebagai sumber masalah. Wartawan tidak sensitif dengan mengaitkan gerakan Abu Sayyaf sebagai personifikasi orang Islam. Kenyataannya, banyak orang Islam yang tidak setuju dengan kekerasan yang dilakukan Abu Sayyaf.

Berkaitan dengan persoalan-persoalan pemberitaan yang bersangkutan dengan agama dan ras, pada tahun 2002 itu pula saat peringatan Hari Pers Sedunia di Filipina, Unesco menggelar Konferensi Internasional tentang Media dan Terorisme. Oliver F. Clarke, Direktur Koran The Gleaner, Jamaica yang mengawali presentasi, menyebutkan, meliput terorisme harus dengan kepekaan dan profesionalitas tinggi. Media harus sensitif, terutama ketika berhubungan dengan ras atau agama.

Berita yang dimaksudkan mengkritik kelompok teroris, jika tak hati-hati bisa mengarah kepada penyosokan negatif terhadap ras atau agama tertentu. Tanpa memperhatikan hal-hal semacam itu, pemberitaan terorisme bisa menimbulkan masalah baru. Apalagi kalau media dibaca oleh khalayak yang beragam.

Begitulah pengamat media dan tokoh media asing memperhatikan sensitifitas suatu pemberitaan, terutama yang bersangkutan dengan ras dan agama. Sebaliknya dengan apa yang terjadi di Indonesia, yang mayoritas berpenduduk muslim, pemberitaan mengenai terorisme seakan-akan royal dengan penyosokan dan pengkaitan dengan agama. Ini terlontar dari ucapan aparat keamanan atau media. Padahal, rasio antara jumlah penduduk muslim dan pelaku terorisme, amat sangat kecil.

Ambil contoh ketika terjadi peristiwa ledakan bom di Hotel Marriot dan Ritz Charlton di Jakarta pada Jumat pagi (17/7), secara tidak langsung mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono menuding pelakunya kelompok Wahabi. Saat diwawancarai sebuah TV swasta  via sambungan telepon Jumat malam, ia mengatakan, pemerintah hendaknya lebih mengantisipasi gerakan Wahabi di Indonesia.

Dalam pemberitaan ini, media pun tidak melakukan klarifikasi ulang berkaitan penyebutan Wahabi. Padahal dengan menyebut istilah Wahabi ini, malah justru bisa menimbulkan persoalan di masyarakat. Kategori Wahabi ini sangat longgar sekali.

Ada sebagian masyarakat yang menganggap kelompok Wahabi adalah kelompok atau golongan yang tidak suka dengan kegiatan tahlil dan ziarah kubur. Ini tentu bisa menimbulkan benturan antarormas keagamaan yang memiliki kebiasaan berbeda. Sementara di antara ormas keagamaan itu masing-masing pasti tidak mengembangkan kegiatan yang bersifat teror, kecuali hanya mengembangkan kegiatan pendidikan dan dakwah.

Tak salah jika kemudian Ketua PP Muhammadiyah Dr Yunahar Ilyas menyebutkan, ajaran yang dikembangkan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab  (yang dianggap Wahabi, Red) adalah ajaran memurnikan tauhid. Tak ada hubungannya dengan tindakan teror. (www.hidayatullah.com, Selasa (4/8).

Sementara Ketua Umum DDII KH Syuhada Bahri mengungkapkan, ada keinginan dari kelompok tertentu yang tidak ingin melihat Islam berkembang maju. Caranya, dengan mengkaitkan aksi teror dengan ajaran Wahabi.

“Ajaran Wahabi itu mengajak untuk kembali kepada ajaran yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah,” katanya. Kalau ajaran Wahabi ini dilaksanakan dan diketahui oleh umat Islam secara sadar, akan menjadi kekuatan yang dahsyat yang bisa membawa umat kepada kemajuan. Umat Islam tidak akan terpuruk jika berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah.

Dia menjelaskan, dahulu yang dianggap Wahabi itu organisasi Muhammadiyah, Persis, dan al-Irsyad. Dia mempertanyakan, apakah organisasi-organisasi Islam ini mau disebut teroris. Padahal organisasi Islam tersebut telah lama memberikan kontribusi nyata untuk negeri ini.

Kekurangpekaan media terhadap sensitivitas di masyarakat, juga terjadi saat aparat menahan 17 anggota Jamaah Tabligh berkewarganegaraan Filipina yang sedang melakukan khuruj (perjalanan dakwah dari masjid ke masjid) beberapa waktu lalu. Dari anggota Jamaah Tabligh tersebut, sembilan orang ditangkap di Purbalingga dan delapan orang di Solo. Dalam pemberitaan itu media bahkan menyebut-nyebut penggunaan jubah terhadap 17 orang yang ditahan itu.

Bahkan busana dan penampilan umat Islam pun menjadi bahan pembahasan di media massa. Sampai-sampai salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Novriantoni Kahar di sebuah stasiun TV, Jumat, (21/8) malam, berkomentar lepas dari adab beragama dengan mendesak agar sebagian umat Islam sementara waktu melepaskan simbol-simbol  Islam. Yang dimaksudkan simbol-simbol Islam itu berjenggot, jubah, dan cadar.

Tampak sekali upaya-upaya menanggulangi aksi terorisme telah berjalan di luar relnya. Media dan aparat keamanan bergerak jauh menyinggung sensitivitas yang ada di masyarakat, terutama berkaitan dengan wilayah pelaksanaan ibadah.

Ketua PBNU, Said Aqil Siradj, sampai berpendapat, stigmatisasi negatif dan banyaknya kasus salah tangkap sebagai fenomena fitnah. Padahal, sebelum aksi teroris terjadi, sebagian besar masyarakat menghormati orang yang mengenakan sejumlah simbol keagamaan itu. Hal itu karena menunjukkan simbol ketaatan kepada sunnah Rasul. Saat ini, sejumlah simbol itu malah diidentikkan dengan teroris. ''Ayah saya sendiri berjenggot. Saat shalat Jumat, ayah saya bergamis. Ini yang dinamakan zaman fitnah,'' katanya.

Said juga menyesalkan, stigmatisasi negatif atas pesantren karena memang tidak benar. Pesantren merupakan lembaga pendidikan untuk mendidik santri menjadi teladan bagi keluarga dan bangsa. Karena itu, tidak bisa menggeneralisasi kesalahan yang dilakukan segelintir alumnus pesantren sebagai alasan menstigmatisasi negatif semua pesantren.

''Di Indonesia, ada 15 ribu pesantren. Masak, kalau misalnya 1-2 pesantren terlibat, puluhan ribu dianggap terlibat,'' katanya. Ia mengimbau polisi tidak menggeneralisasi simbol keagamaan sebagai teroris.

Menurut Zainal Arifin Emka, mantan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Surabaya Post yang kini menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya-Akademi Wartawan Surabaya, pemberitaan media massa terhadap kasus terorisme bukan hanya tidak bijak, tapi juga serampangan dan tidak sensitif. Karena itu wajar kalau pemberitaan terorisme bukan memunculkan kesadaran, tapi justru memperkuat kecurigaan bahwa ada rekayasa kepentingan di balik aksi terorisme itu sendiri.

“Kalau penyebutan simbol-simbol agama seperti itu dilakukan oleh Sydney Jones (analis terorisme dari International Crisis Group), saya masih bisa memahami. Konyolnya atau bodohnya, ada presenter televisi yang menanyai reporternya di lapangan dengan pertanyaan: apakah si tersangka teroris itu suka mengaji, sering ke surau, menjadi imam shalat, dan kadang-kadang berkhotbah. Identifikasi seperti itu hanya menyakitkan umat Islam, sekaligus mengadu domba dan membangun sikap curiga di masyarakat,” katanya.

Sedang menurut Pemimpin Redaksi www.eramuslim.com Mashadi, pemberitaan terkait terorisme yang gencar dilakukan berbagai stasiun televisi, salah satu tujuannya sebagai upaya mengejar rating. “Mereka hidup dari iklan, maka dibuatlah program-program, termasuk program berita, yang dapat memperoleh rating tinggi,” ungkapnya di Jakarta.

Isu terorisme adalah isu yang saat ini hangat diberitakan. Itu sebabnya stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan berita terkait terorisme yang bersifat eksklusif, beda, aneh, dan terbaru. Jangan heran kalau banyak media televisi mengait-ngaitkan liputannya dengan beberapa hal, meski sama sekali tidak ada kaitannya dengan isu terorisme.

Hal senada disampaikan Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Saat ini, berita terorisme sangat diminati para pemirsa. “Ini bisa kita saksikan dari penayangan secara live penggrebekan Densus 88 di Temanggung oleh beberapa stasiun televisi. Jutaan pemirsa selama belasan jam tersihir oleh tayangan itu,” katanya.
Banyaknya pemirsa yang menonton, jelas Ismail, tentu akan mempengaruhi rating program berita tersebut. 

Rupa Guna Air Seni Manusia


Air seni manusia mampu perbaiki ketahanan pangan. Selain itu, ada pula lidah pengecap urin. 

Air seni, air kencing, atau urin adalah nama yang semakna. Ia merupakan cairan sisa reaksi biokimiawi rumit yang terjadi di dalam tubuh. Meski zat buangan, urin manusia masih mengandung bahan kimia seperti nitrogen, fosfor, dan potasium. Bila menumpuk dan tidak dikeluarkan, maka akan menjadi racun yang malah membahayakan tubuh.
Sebanyak 70% bahan makanan (nutrisi) yang dikonsumsi manusia dikeluarkan dalam bentuk air seni. Dalam setahun, seseorang dapat mengeluarkan air kencing kira-kira sebesar 500 liter. Jumlah ini setara dengan 4 kg nitrogen, 0.5 kg fosfor, dan 1 kg potasium. Ketiganya termasuk unsur penting dalam pertumbuhan tanaman.

Pupuk Urin
Walaupun terkadang berbau menyengat, air kencing ternyata membawa manfaat. Contoh penggunaan urin yang kini tengah berkembang adalah sebagai pupuk tanaman. Di beberapa negara, pupuk urin merupakan bagian dari program pemanfaatan limbah yang disebut Ecosan.

Ecological Sanitation (Ecosan) diilhami oleh banyaknya permasalahan lingkungan, terutama yang berkaitan dengan limbah rumah tangga seperti kotoran manusia. Dahulu, sebagian menganggap limbah tersebut tak berguna sehingga sering dibuang begitu saja. Namun, sebenarnya kotoran tersebut dapat diolah sedemikian rupa sehingga lebih berdaya guna. Di samping mampu menjaga kesuburan tanah, teknologi ini juga dapat membantu mewujudkan ketahanan pangan.

Sejumlah negara sudah mulai menggalakkan program daur ulang limbah manusia ini. Sebut saja Cina, Zimbabwe, Meksiko, India, dan Uganda. Bahkan, beberapa negara Eropa juga turut serta dalam program ini, misalnya Jerman dan Swedia.
Menurut Ian Caldwell dan Arno Rosemarin dari Stockholm Environment Institute, Swedia, penggunaan urin dan kotoran manusia sebagai pupuk adalah cara utama dalam menerapkan pertanian berkelanjutan. Lebih jauh lagi, hal tersebut dapat membantu tercapainya ketahanan pangan dan mendukung tersedianya nutrisi yang lebih baik.

Sementara itu, penelitian air seni manusia sebagai pupuk juga telah dilakukan oleh MnKeni bersama teman-temannya dari Universitas Fort Hare, Afrika Selatan. Secara umum, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan urin sebagai sumber nitrogen sebanding dengan pupuk urea. Kendati demikian, hasil ini bergantung pada kepekaan tanaman yang dipanen terhadap kadar garam (salinitas) lahan tempat bercocok tanam. Oleh karenanya, perlu pengawasan dalam penggunaan pupuk air seni ini.

Banyak Kelebihan
Pupuk urin memiliki banyak keunggulan, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Dalam lingkungan, penggunaan pupuk ini memperbaiki penanganan kesehatan masyarakat. Penggunaan pupuk air seni juga mampu meningkatkan hasil panen sehingga taraf hidup masyarakat membaik. Dengan kata lain, air kencing dapat menurunkan angka kemiskinan.

Salah satu masalah yang dikhawatirkan dari pemanfaatan pupuk jenis ini adalah rasa produk tanamannya. Logikanya, penggunaan air seni sebagai pupuk berkemungkinan mempengaruhi mutu hasil tanaman. Namun, permasalahan ini ditepis oleh penelitian Surendra K. Pradhan dan rekannya dari Universitas Kuopio, Finlandia.

Mereka membandingkan penggunaan air kencing manusia sebagai pupuk kubis dengan pupuk buatan industri. Hasilnya, kemampuan pupuk urin sama dengan pupuk buatan industri pada dosis 180 kg N/ha.

Bahkan pertumbuhan, biomassa, dan kandungan klorida tanaman sedikit lebih tinggi jika menggunakan pupuk air seni. Serangga yang biasanya ikut mati akibat penggunaan pupuk industri juga berkurang dengan menggunakan pupuk alami ini.
Penelitian ilmuwan ini membuktikan bahwa air seni manusia dapat digunakan sebagai pupuk tanpa mengancam nilai kehigienisan tanaman yang berarti. Selain itu, rasa produk makanannya juga tak berkurang meski tanaman yang menjadi bahan bakunya diberi pupuk urin.

Lidah Pengecap Air Seni

Keberadaan air kencing manusia yang banyak mengandung zat sisa reaksi biokimiawi tubuh tak hanya dimanfaatkan sebagai pupuk. Cairan berbau ini juga mendorong peneliti untuk menciptakan lidah elektronik. Lidah yang terdiri atas bermacam sensor kimia potensiometrik tersebut digunakan sebagai pendeteksi kegagalan fungsi sistem urin dan kadar kreatinin.
Kreatinin adalah hasil pemecahan kreatinin fosfat di dalam otot. Senyawa ini normal ada dalam urin, yakni sebesar 0.5-1 mg untuk perempuan, dan 0.7-1.2 mg untuk laki-laki. Namun, jumlah yang berlebih menandakan ada kerusakan dalam ginjal.

Di samping dapat mengelompokkan contoh urin yang diteliti, lidah buatan juga mampu membedakan contoh urin orang sehat dengan yang mempunyai penyakit tumor kandung kemih. Dengan data analisis urin yang dihasilkan mungkin bisa mengetahui jenis tumornya, baik yang ganas  maupun tidak ganas.
Tanda Kebesaran Allah

Air kencing manusia, ternyata bukan sekedar cairan tak berguna. Sederet manfaat dimiliki oleh cairan tersebut. Inilah satu lagi bukti kebesaran Allah. Sungguh, tiada yang sia-sia segala apa yang telah diciptakan-Nya tak terkecuali air seni.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya manusia bersyukur atas apa yang Allah berikan. Sejatinya, hanya Dialah yang mampu menjadikan barang hina seperti urin manusia, dapat berfungsi laksana pupuk dan pendeteksi penyakit. Ini karena Allah adalah satu-satunya Tuhan yang memiliki sifat Maha Pencipta dan Maha Mengetahui, sebagaimana firmanNya: ”Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Hijr 15:86)

Sumber :www.hidayatullah.com)

Referensi:

Ian Caldwell, Arno Rosemarin (2009). Human urine and faeces as a fertilizer. Grida.no. (http://www.grida.no/publications/et/ep5/page/2823.aspx, terkunjungi pada 24 Juni 2009)

Lvova L et al. (2009). Clinical analysis of human urine by means of potentiometric Electronic tongue. Talanta Vol. 77 (3):1097-1104.

Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (2009). Ecological sanitation closes the loop between sanitation and agriculture. Gtz.de, Juli, 2009. (http://www.gtz.de/en/themen/umwelt-infrastruktur/wasser/8524.htm, terkunjungi pada 19 Juli 2009).

Pearson NS Mnkeni et al. (2008). Evaluation of human urine as a source of nutrients for selected vegetables and maize under tunnel house conditions in the Eastern Cape, South Africa. Waste Management & Research, Vol. 26 (2): 132-139.

Pradhan SK et al. (2007). Use of Human Urine Fertilizer in Cultivation of Cabbage (Brassica oleracea)  Impacts on Chemical, Microbial, and Flavor Quality. J. Agric. Food Chem., 55 (21):8657-8663.

Hakan Jonsson, et al. (2004). Ecosanres: Guidelines on the Use of Urine and Faeces in Crop Production. Report 2004-2.
 

Angop, Mahakarya Luar Biasa

Menguap bukanlah sekedar mulut yang terbuka lebar. Angop adalah perangkat supercanggih pendingin otak.

Apa yang terjadi jika seseorang mengantuk? Kemungkinan besar, ia menguap sebagai pertanda menginginkan istirahat. Namun, pernahkah Anda mencari tahu alasannya?

Sebelumnya mungkin kita pernah mengenal ada suatu teori yang menyebutkan bahwa angop disebabkan menipisnya kadar oksigen di dalam tubuh. Tapi, menguap ternyata masih saja terjadi meskipun bernafas 100% dengan oksigen. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan ini berlangsung?

Ternyata para ilmuwan pun belum tahu dengan pasti apa sebenarnya yang memicu perilaku angop tersebut. Meski sudah lama meneliti, para pakar yang hidup di zaman superkomputer dan teknologi pesawat antariksa ini ternyata selama ini baru sebatas menduga-duga saja, apa fungsi menguap.

Inilah satu bukti bahwa pengetahuan manusia tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan Penciptanya, Allah SWT. Dialah yang mengajarkan ilmu kepada manusia apa yang tidak diketahuinya ketika manusia itu meneliti segala ciptaan-Nya, termasuk angop. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al Alaq, 96:5)

Allah yang Maha Mengetahui, mendidik manusia dengan sedikit membukakan tabir pengetahuan yang dimiliki-Nya yang melekat pada setiap ciptaan-Nya. Oleh karena itu, perlahan-lahan manusia mampu menguak tanda kebesaran Rabb Pencipta semesta, tak terkecuali mengetahui rahasia di balik menguap.

Pendingin terhebat

Sejatinya, menguap bukanlah peristiwa biasa. Sebaliknya, ia merupakan cara kerja yang Allah buat sebagai bentuk kasih sayang kepada makhluk-Nya. Secara sederhana, apa yang seringkali dianggap sebagai penanda kantuk ini berfungsi layaknya kipas pendingin pada prosesor komputer sehingga kerjanya tetap prima.

Sebagaimana diketahui, sebuah komputer akan bekerja dengan baik dalam suhu dingin. Setelah lama bekerja, suhu prosesor komputer akan meningkat. Jika suhu komputer itu tidak diturunkan dengan kipas pendingin, maka hal ini akan mengurangi kinerjanya, bahkan berkemungkinan mematikan atau merusakkan komputer itu.

Begitu pula otak manusia. Dibutuhkan perangkat khusus untuk menjaga suhu otak agar tidak kepanasan, sehingga tetap berfungsi dengan baik.

Allah yang menciptakan manusia, sudah barang tentu mengetahui yang terbaik untuk apa yang diciptakan-Nya. Menurut Andrew Gallup, ilmuwan dari Binghamton University, jalan keluar permasalahan meningginya suhu dalam otak akibat terus bekerja dapat diatasi dengan perangkat pendingin cerdas bernama ‘angop’.

Cara kerja yang sama dapat pula menjelaskan alasan manusia seringkali menguap ketika baru saja bangun tidur atau kelelahan. Aktivitas menguap akan mempermudah otak guna menghadapi situasi peralihan, semisal dari tidur ke kondisi terjaga (bangun tidur).

Buru
ng angop diteliti

Para ilmuwan menguji dugaan bahwa angop merupakan cara menurunkan suhu otak pada sejumlah burung betet (Melopsittacus undulatus). Dugaan ini berlanjut bahwa jika suhu ruangan meningkat dan mendekati (tapi tidak melebihi) suhu tubuh, maka hal ini akan mendorong peningkatan aktifitas menguap.

Sebanyak dua puluh ekor burung tersebut diletakkan dalam ruangan yang dapat diatur suhunya. Suhu ruangan diatur sedemikian rupa sehingga menunjukkan tiga keadaan suhu yang berbeda, yakni suhu rendah atau kontrol (22°C), suhu meningkat (22-34°C), dan suhu tinggi (34-38°C).

Dengan lama setiap keadaan suhu sebesar 21 menit, hasil penelitian membenarkan dugaan para ilmuwan yang menelitinya. Berdasarkan pengamatan, pada kondisi suhu meningkat, rata-rata setiap burung menguap sebanyak 4,20 kali. Sedangkan pada suhu tinggi dan suhu rendah (kontrol), berturut-turut terjadi 2,05 dan 1,25 angopan setiap ekornya. Jumlah angop pada keadaan yang berlainan tersebut berbeda secara nyata.

Sebagai kesimpulan, penelitian ini membuktikan secara ilmiah dugaan bahwa menguap merupakan sebuah cara untuk mengatur suhu di dalam otak.

Kebaikan Allah

Itulah sekilas gambaran fungsi menguap. Jadi, terbukanya mulut yang oleh sebagian orang dianggap pula sebagai tanda bosan itu bukanlah sekedar menimba oksigen dari udara bebas. Lebih dari itu, ia adalah rahasia Sang Pencipta untuk mencegah otak manusia dari gagal berfungsi dengan baik.

Allah yang Maha Mengerti kebutuhan organ-organ tubuh hamba-Nya, dengan cerdas menciptakan suatu proses jitu agar setiap organ itu berfungsi prima. Dialah yang telah menjadikan menguap sebagai pengatur suhu otak agar senantiasa bekerja dengan sempurna.

Informasi ilmiah ini juga membalik anggapan terdahulu, yakni yang percaya bahwa menguap hanyalah tanda mengantuk. Sebaliknya, angop merupakan proses pendinginan otak agar tetap terjaga. Dengannya, manusia pun bisa tetap berkonsentrasi, termasuk saat membaca artikel ini.

Sudah sepantasnyalah manusia yang lemah mensyukuri segala nikmat Allah. Sungguh, Dialah yang tiada henti mengurusi manusia, termasuk urusan berupa angop ini, agar otaknya tetap bekerja sebaik mungkin. Ini karena Allah tidak pernah lalai, apalagi tertidur, dalam mengurus makhluk yang diciptakan-Nya. Dalam Al Qur’an yang mulia, Allah berfirman:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Baqarah, 2:255) (sfd/hidayatullah.com) --
ilustrasi :http://commons.wikimedia.org/
Penulis :Syaefudin, Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.

Refrensi:
  1. Andrew C. Gallup et al. (2009). Yawning and thermoregulation in budgerigars, Melopsittacus undulates. Animal Behaviour, Vol 77(1):109-113.

   2.  Jenniver Viegas (2008). Yawning cools the brain. Abc.net.au, Dec 16, 2008. (http://www.abc.net.au/science/articles/2008/12/16/2447520.htm, terkunjungi pada 16 Juli 2009).

   3. Karl S. Kruszelnicki (2000). Yawning Is Contagious. Abc.net.au, Jan 26, 2000. (http://www.abc.net.au/science/articles/2000/01/26/95628.htm
, terkunjungi pada 16 Juli 2009

Thursday, September 3, 2009

Gaya berpakaian wanita menjadi kajian ilmiah di AS. Direk

Gaya berpakaian wanita menjadi kajian ilmiah di AS. Direktur perempuaun berbusana menggiurkan dinilai kurang cerdas dan kurang cakap

Hidayatullah.Com – Di zaman yang serba bebas, manusia menikmati beragam kebebasan yang seolah tanpa batas dalam segala hal, tak terkecuali dalam berpakaian. Seberapa bebaskah manusia sebaiknya menutup atau mengumbar auratnya? Temuan-temuan ilmiah terkini tampaknya memberi masukan bermanfaat dalam memutuskan bagaimana seharusnya orang menutup tubuhnya.

Para ilmuwan AS meneliti perilaku orang yang melihat pakaian kaum wanita. Sebagaimana diberitakan Hidayatullah.Com sebelumnya, wanita berbikini dikenali oleh otak pria yang memandangnya sebagaimana benda atau barang yang siap digunakan, dan bukan sepenuhnya manusia yang berkehendak. (Baca: Wanita berbusana minim terlihat bukan manusia). Selain itu, para peneliti juga menemukan, kaum hawa yang memiliki jabatan tinggi tapi mengumbar aurat di tempat kerjanya dinilai kurang cakap dan kurang cerdas.

Hasil temuan itu dipaparkan Melissa L. Wookey dan rekan-rekannya dari Southwest Minnesota State University, Amerika Serikat (AS) di Journal of Social Psychology tahun 2009 ini. Karya ilmiah ini mengulang sekaligus mendukung kebenaran hasil penelitian ilmiah sebelumnya di tahun 2005 oleh Peter Glick dkk. dari Departemen Psikologi, Lawrence University, AS.

Tidak cakap

Menurut Glick dkk., meskipun sulit mengubah daya pikat tubuhnya, perempuan dengan mudah dapat menonjolkan atau mengurangi daya tarik birahinya melalui cara berpakaian dan bertingkah laku. Mengubah pesona syahwat dalam berpenampilan berkemungkinan memiliki dampak lebih besar pada orang-orang yang memandang si wanita. Ini disebabkan penampilan diri semacam itu adalah pilihan pribadi, dan karenanya dapat dipahami sebagai cerminan kepribadian dan nilai yang ada dalam diri perempuan itu.

Di awal penelitian, para ilmuwan asal Lawrence University tersebut mengemukakan sejumlah hipotesa, yakni dugaan yang kemudian diuji melalui penelitian ilmiah. Hipotesa mereka adalah bahwa seorang manajer yang menonjolkan daya pikat kewanitaannya (seksualitas) akan dipandang (1). sangat tidak layak menduduki jabatan kerjanya, (2). memunculkan tanggapan berupa perasaan buruk (reaksi emosi negatif), dan (3). anggapan bahwa ia tidak memiliki kecakapan.

Para peneliti itu juga berhipotesa sebaliknya: perempuan yang menonjolkan daya pikat tubuhnya tidak akan memicu emosi negatif atau buruk sangka dari orang lain ketika perempuan itu bekerja di lapangan pekerjaan berstatus rendah, dan yang umumnya memang diperuntukkan bagi wanita. Contohnya dalam hal ini adalah resepsionis atau penerima tamu.

Penelitian pun dilakukan untuk menguji benar tidaknya dugaan di atas. Mahasiswa dan mahasiswi S1 sebanyak 66 orang dilibatkan sebagai sasaran kajian tersebut. Mereka diminta menilai wanita dalam tayangan video. Dalam video itu, penampilan raga sang wanita dibiarkan tetap tidak berubah, namun cara berbusananya diperlihatkan berbeda: berkemeja rapi atau berpakaian tidak penuh alias merangsang; dan dikatakan bahwa wanita itu bekerja sebagai seorang manajer atau penerima tamu.

Hasil kajian itu menunjukkan, mereka memperlihatkan tanggapan buruk terhadap manajer wanita berbusana menggairahkan, dan menilainya kurang cakap dibandingkan manajer wanita berpakaian netral (wajar). Sebaliknya, ketika wanita itu bekerja pada tingkat rendahan, dalam hal ini sebagai penerima tamu, cara berpakaiannya tidak mempengaruhi emosi orang maupun penilaian orang mengenai kecakapan sang wanita itu.

Glick dkk. menerbitkan karyanya di jurnal ilmiah Psychology of Women Quarterly (2005). Mereka menyimpulkan: penampilan diri yang mengundang birahi merugikan perempuan yang bekerja di jabatan tinggi, tapi tidak pada kaum hawa yang bekerja di jenis pekerjaan rendahan.

Diulang, hasilnya sama

Berdasarkan informasi yang diterima redaksi hidayatullah.com, beberapa lama kemudian peneliti lain mengulang penelitian Glick dkk. di atas. Melissa L Wookey dan rekan-rekannya dari Departemen Ilmu Sosial, Southwest Minnesota State University, AS, melakukan penelitian serupa namun dengan melibatkan lebih banyak orang (102) dan menggunakan metoda yang tidak sama. Mereka menggunakan jenis pekerjaan yang berbeda dan foto, untuk menggantikan tayangan video.

Mereka yang dilibatkan diminta untuk memberi nilai angka terhadap perempuan di foto tersebut. Penilaian ini meliputi kemungkinan nilai rata-rata kuliahnya, kemampuan menjadi teladan, kecakapan berinteraksi dengan sesama, kecerdasan, kepemimpinan, berkomunikasi, pengetahuan mengenai pekerjaan, organisasi dan keterampilan mengawasi (supervisi), kepeloporan, keandalan, dan sikap profesional.

Kesimpulan penelitian Wookey dkk. secara keseluruhan memiliki pola yang sama dengan penelitian sebelumnya. Seorang CEO (direktur utama) dengan pakaian yang mengundang syahwat mendapatkan penilaian terendah.

Yang paling mengejutkan adalah pembantu kantor yang berpakaian menggiurkan mendapatkan nilai tinggi dalam hal kemampuan bersosialisasi. Ini menunjukkan bahwa penampilan yang merangsang syahwat berhubungan dengan keterampilan bersosialisasi dalam pekerjaan yang tergolong rendah. Namun jika perempuan berbusana merangsang itu berada pada jabatan tinggi, cara berpakaian seperti itu dapat dipandang sebagai tidak pantas dan tidak cakap. (wwn/jsp/pwq/www.hidayatullah.com)

Referensi:

1). ML Wookey et al (2009). “Effects of a Sexy Appearance on Perceived Competence of Women”. The Journal of Social Psychology, Vol 149 (1) February 2009: 116-118.

2). P Glick et al (2005). “Evaluations of Sexy Women in Low-And High-Status Jobs”. Psychology of Women Quarterly, Vol 29 (4) December 2005: 389-395.




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...