Tuesday, November 24, 2009

Dukungan Sosial Membantu Mengurangi Rasa Sakit

Memikirkan orang-orang yang dicintai dapat membantu mengurangi rasa sakit, demikian hasil satu studi baru

Hasil studi tersebut menggaris-bawahi pentingnya hubungan sosial dan agar orang selalu terhubung secara sosial, demikian studi tersebut yang diselenggarakan oleh para peneliti di Universityf of California di Los Angeles (UCLA).

Dalam studi tersebut, para peneliti menanyai 25 perempuan, apakah dengan hanya memandangi gambar orang yang mereka cintai dapat mengurangi rasa sakit?

Para peserta studi tersebut memiliki pacar, dan mereka telah memiliki hubungan baik dengan pacar mereka selama lebih dari enam bulan.

Semua perempuan itu mendapatkan rangsangan panas yang cukup menyakitkan di lengan mereka sewaktu mereka melewati sejumlah kondisi yang berbeda. Pada satu rangkaian keadaan, mereka memandangi gambar pacar mereka, orang asing, dan kursi.

“Ketika semua perempuan tersebut hanya memandang gambar pasangan mereka, mereka sesungguhnya melaporkan lebih sedikit rasa sakit akibat rangsangan panas ketimbang ketika mereka sedang memandangi gambar satu objek atau gambar orang asing,” kata penulis bersama studi itu, Naomi Eisenberger, Asisten Profesor Psikologi dan Direktur Laboratorium Ilmu Syaraf Afektif dan Sosial di UCLA.

“Jadi, mengingat kepada pasangan, melalui gambar sederhana, seseorang mampu mengurangi rasa sakit.”

Dalam serangkaian kondisi lain, masing-masing perempuan memegang tangan pacar mereka, tangan seorang pria asing dan menggenggam bola. Studi itu mendapati bahwa ketika perempuan memegang tangan pacar mereka, mereka melaporkan lebih sedikit rasa sakit dibandingkan dengan saat mereka memegang tangan orang asing atau bola sewaktu mereka menerima jumlah perangsang panas yang sama.

 “Ini mengubah pendapat kita mengenai bagaimana dukungan sosial mempengaruhi orang,” kata Eisenberger, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua.

“Secara khusus, kita memikirkan dukungan sosial itu untuk membuat kita merasa nyaman. Itu harus menjadi sejenis dukungan yang sangat responsif bagi kebutuhan emosi kita. Namun, di sini, kami menyaksikan bahwa hanya foto orang yang penting buat seseorang dapat memiliki dampak yang sama.”

“Studi ini memperlihatkan seberapa banyak dampak hubungan sosial kita dapat muncul dalam pengalaman kita dan cocok dengan kegiatan lain yang menekankan pentingnya dukungan sosial bagi kesehatan fisik dan mental,” kata Eisenberger.

Para peneliti tersebut menyarankan bahwa jika nanti orang mesti melewati pengalaman yang menyakitkan atau berisi tekanan, tapi mereka tak dapat menghadirkan orang yang mereka cintai untuk mendampingi mereka, maka foto dapat menggantikannya.

Studi itu disiarkan di dalam jurnal Psychological Science, terbitan November 2009. [www.hidayatullah.com]

Riset: Pensiun Bikin 10 Tahun Lebih Muda

Jangan takut pensiun, sebab penelitian menunjukkan pensiun bisa membuat 10 tahun lebih muda. Selain itu, sakit punggung,  depresi, dan stroke ikut sirna 

Bila Anda mendekati masa pensiun kerja dan takut takkan bahagia, tak usah khawatir. Peneliti menyebutkan bahwa dengan berhenti bekerja, Anda akan merasa 10 tahun lebih muda. Sakit punggung, leher, depresi, dan stroke pun sirna jika sudah pensiun.

Studi membuktikan bahwa tekanan mental dan psikologis akan hilang seiring habisnya masa kerja dan akan terasa efeknya selama 1 dekade.

Meski sudah banyak orang tahu dan memperkirakan bahwa jika seseorang berhenti pergi ke kantor tiap hari, hidupnya akan lebih baik, namun ternyata bagi kesehatan dampaknya jauh lebih baik dari yang diperkirakan.

Studi yang menghabiskan waktu 14 tahun ini menyebutkan bahwa semakin berat tuntutan suatu pekerjaan, semakin signifikan efeknya terhadap masa pensiun. Peneliti mengatakan, sakit punggung dan leher juga dapat hilang. Begitu juga dengan depresi, asma, dan stres yang memicu stroke.

"Pensiun berdampak sangat tinggi terhadap kesehatan, tergantung dari ketidaknyamanan pekerjaan Anda saat bekerja," ujar Hugo Westerlund, salah seorang peneliti dari The Stress Research Institute di Stockholm University seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (11/11).

"Secara tidak langsung, kita akan merasa 8 hingga 10 tahun lebih muda. Ini berdampak bagi semua kalangan, mulai dari para direktur hingga pekerja rendahan," tambah Westerland.

Hasil penelitian juga menunjukkan, efek peremajaan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi bertahan lama, dan sangat cepat melepaskan beban-beban di pundak. Tidak hanya akan merasa lebih muda 10 tahun, efeknya juga akan terasa hingga 10 tahun setelah pensiun.

"Perkembangan positif terhadap kesehatan akan tetap bertahan hingga 10 tahun setelah masa pensiun. Anda juga akan tidur lebih enak setelah pensiun," kata Westerlund.

Studi ini melibatkan 14.700 orang dan dilakukan dengan cara memantau kesehatan mental dan psikologis partisipan selama 7 tahun, sebelum dan sesudah pensiun. Hasilnya, berbagai penyakit dan tekanan mental hilang permanen setelah pensiun.

Orang yang bekerja dalam tekanan adalah yang paling signifikan merasakan dampak peremajaan setelah pensiun. Studi ini berlawanan dengan studi sebelumnya, yang dilakukan para peneliti dari University of Maryland AS. Mereka menyarankan agar orang pensiun sebaiknya tetap bekerja paruh waktu atau beraktivitas apa saja untuk menghindari penyakit diabetes, rematik, dan hipertensi. [www.hidayatullah.com]

Mensos Salim Segaf Al-Jufri Mendapatkan Medali Raja Abdul Aziz I

Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al-Jufri, mendapat medali kehormatan Raja Abdul Aziz I dari Raja Abdullah, Arab Saudi

Salim Segaf yang juga tercatat sebagai mantan Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman,  mendapat medali kehormatan Raja Abdul Aziz I dari Raja Abdullah.

Momen istimewa itu terjadi, saat Salim Segaf menyampaikan laporan dan salam perpisahan kepada pihak Kerajaan dan Parlemen Saudi yang sedang melakukan rapat paripurna, Senin (16/11) lalu.

Peristiwa itu merupakan salah satu rangkaian dari farewell mission (tugas akhir masa jabatan) selaku Dubes yang berlangsung 11-18 November 2009 lalu.

“Alhamdulillah, kita mendapat kehormatan ini. Bukan untuk saya pribadi, tapi untuk bangsa dan pemerintah Indonesia secara keseluruhan. Karena kita dipandang telah meningkatkan kualitas hubungan antar kedua negara. Hubungan yang tidak hanya bersifat diplomatik formal, melainkan memberi manfaat ekonomi, pendidikan dan sosial-budaya,” ungkap Salim Segaf, yang baru tiba di Tanah Air dan langsung dipanggil untuk menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada sore harinya di Wisma Negara.

Lonjakan

Hubungan Indonesia-Arab Saudi dalam bidang ekonomi mengalami peningkatan signifikan. Volume kerjasama ekonomi sebelumnya tercatat 3 milyar USD per tahun, dan saat ini telah mencapai 5,9 milyar USD. Transaksi ekonomi non migas yang sebelumnya hanya 600 juta USD, kini telah mencapai 1,2 milyar USD.

“Tugas seorang Dubes tak hanya melakukan lobi dan berbasa-basi, tetapi harus mampu meningkatkan investasi dan kerjasama kongkrit antar negara,” ujar Salim Segaf.

Dalam bidang pendidikan, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Arab Saudi mengalami lonjakan yang luar biasa. Mahasiswa Indonesia yang belajar di kota Madinah, misalnya, semula hanya 20 orang per tahun, saat ini mencapai 67 orang. Mahasiswa yang kuliah di kota lain lebih besar lagi.

“Mahasiswa Indonesia di Saudi tak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menggeluti bidang umum seperti teknologi perminyakan, ilmu komputer atau fakultas multimedia,” jelas Salim yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah dari fakultas ilmu syariah. Dalam pertemuan dengan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Madinah, Salim menyatakan rasa gembiranya karena sejumlah mahasiswa dan ilmuwan Indonesia diberi tanggung-jawab menangani proyek penting. Para mahasiswa menyampaikan saran kepada Salim Segaf agar sebagai Menteri Sosial tetap memegang prinsip integritas dan antikorupsi, sebab saat ini kepercayaan masyarakat internasional terhadap Indonesia sedang terguncang akibat isu penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang labil.

Program Keluarga Harapan

Salah satu program prioritas Departemen Sosial yang diadopsi Presiden sebagai Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ialah Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini merupakan bantuan tunai bersyarat yang diberikan kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) melalui kaum ibu rumah tangga.

“Sebab, kita melihat kaum ibu inilah yang di pelosok desa serta pinggiran kota berperan untuk memajukan ekonomi keluarga. Selain itu, mereka yang mendorong anak-anak untuk aktif sekolah atau belajar kelompok, serta mengantar ke Puskesmas apabila bayi atau anaknya sakit. Mereka kita beri tunjangan per bulan agar kondisi rumah tangga bisa terangkat secara bertahap,” jelas Mensos.

PKH  telah diselenggarakan Depsos sejak tahun 2007. Mula-mula ditujukan kepada 387.928 RTSM di 48 Kabupaten di 7 Provinsi dengan nilai total anggaran Rp 488,7 miliar. Pada tahun 2008, PKH dikembangkan ke 22 Kabupaten/Kota di 6 Provinsi dengan sasaran 244.932 RTSM. Pada tahun 2009 ditambah lagi jumlah sasarannya 127.683 RTSM.

“Sehingga total 726.376 RTSM yang kita bantu dengan nilai anggaran total Rp 910.367.361. Dana itu belum termasuk tunjangan untuk 3.100 pendamping dan 416 operator entry data, karena seluruh informasi penyelenggaraan PKH telah dikomputerisasi,” papar Mensos.

Presiden SBY menyambut baik program ini. Karena program ini bukan sekadar merupakan kelanjutan dari Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun mengembangkan program pemberdayaan yang lebih fundamental dengan memperbaiki ekonomi keluarga dan mendorong peran utama ibu rumah tangga.

“Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan global di millennium ketiga (MDGs). Pada tahun 2010 sasaran program akan ditingkatkan kepada 90.000 RTSMS,” tambah Salim.
 

Gereja dan Inkuisisi Spanyol

Ada tiga siksaan utama pada inkuisisi: garrucha, toca, dan potro. Tertuduh dikerek ke langit-langit ruangan, diikat dengan pemberat besi atau diangkat ke atas dan dijatuhkan 

Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan dengan berita tentang seorang pendeta di Manado, Herman Kemala, yang melakukan kekerasan terhadap jemaat gerejanya. Video yang diputar di media-media elektronik memperlihatkan betapa si pendeta begitu ringannya mengayunkan tangan dan menampar pipi beberapa orang yang menghadiri khotbahnya. Kabarnya ia memang cenderung emosional dan mudah marah hanya karena persoalan-persoalan yang sepele.

Kekerasan yang dilakukan pendeta tersebut tentu saja bukan merupakan sikap umum para pemimpin gereja pada masa sekarang ini. Hanya saja, pada kurun waktu tertentu gereja (Katholik) pernah menerapkan praktik kekerasan dan penyiksaan di luar apa yang bisa dibayangkan masyarakat modern sekarang ini. Gereja pernah membentuk sebuah lembaga yang memiliki otoritas untuk menyiksa dan menghukum mati orang-orang yang dianggap menyimpang (heretics). Kekejamannya serta korban yang berjatuhan, benar-benar membuat kita bergidik. Institusi ini dikenal dengan nama inkuisisi (inquisition).

Inkuisisi adalah sebuah lembaga gerejawi (ecclesiastical institution), sekaligus lembaga kehakiman gereja Katholik (Roman Catholic tribunal) yang bertujuan untuk menyelidiki dan menghukum penyimpangan teologi Kristen (heresy, bid’ah). Lembaga ini dibentuk langsung oleh lembaga kepausan (papal), terutama setelah dikeluarkannya Excommunicamus oleh Paus Gregory IX pada tahun 1231. Dewan inkuisisi ketika itu dibentuk untuk membersihkan Kekristenan dari bahaya penyimpangan kaum Cathar dan Albigensian. Sejak itu, dewan yang didominasi ordo Dominikan dan Fransiskan ini menjadi suatu alat yang ampuh untuk menghancurkan aliran-aliran teologi yang berseberangan dengan gereja Katholik.

Aktivitas dewan inkuisisi meliputi pembentukan dewan yang permanen ataupun temporal pada wilayah tertentu yang dicurigai terdapat kaum bid’ah. Orang-orang yang dituduh menyimpang ini kemudian diminta, atau dipaksa hadir menghadap dewan. Dua orang saksi saja sudah cukup untuk menjatuhkan vonis bersalah terhadap si tertuduh. Bagaimanapun, si tertuduh akan menjalani proses interogasi, yang sejak tahun 1252 melibatkan metode penyiksaan (torture), hingga mereka mengakui kesalahan mereka atau dibebaskan karena tak terbukti bersalah. Pelaku bid’ah yang serius akan menerima vonis mati dengan dibakar hidup-hidup (auto da fe) di depan umum.

Inkuisisi berkembang di negara-negara yang menganut Katholik. Namun tidak ada yang lebih bersemangat dalam menerapkan inkuisisi ketimbang Spanyol. Spanyol memiliki tempat yang sangat spesial dalam sejarah inkuisisi.

Reconquista Spanyol dan Inkuisisi

Kaum Muslimin telah masuk ke Spanyol (Andalusia) dan memajukan negeri itu sejak awal abad ke-8 masehi. Sejak itu, wilayah tersebut berkembang menjadi peradaban yang sangat maju di dunia. Kendati demikian, kalangan Kristen yang berhasil eksis di Utara Spanyol bertekad untuk merebut kembali negeri mereka dari tangan kaum Muslimin. Mereka membalas futuhat (pembukaan wilayah) kaum Muslimin dengan reconquista, proses penaklukkan kembali. Para penguasa Muslim yang kini terlena dengan kemegahan menjadi lemah dan tak berdaya menghadapi ancaman lawan. Akibatnya, satu demi satu wilayah Muslim berhasil direbut kembali. Kekuatan Kristen di Utara terus mendesak kaum Muslimin semakin jauh ke Selatan.

Ketika kaum Muslimin semakin jauh dari Islamnya dan berpecah-belah, musuh-musuh mereka justru merapatkan barisan dan terbakar oleh semangat Kristiani. Dampaknya sudah bisa diduga, lonceng kematian kaum Muslimin di Andalusia tinggal menunggu waktu untuk berdentang. Setelah Toledo, Cordova, dan berbagai kota lainnya jatuh ke tangan musuh, kini tinggal secuil Granada di ujung Selatan Iberia yang masih mampu bertahan hingga di penghujung abad ke-15. Isyarat kehancuran benar-benar menjadi kuat ketika Aragon dan Castile, dua kerajaan Kristen yang besar di Utara bergabung melalui pernikahan raja dan ratunya, Ferdinand dan Isabella, pada tahun 1469. Kerajaan gabungan ini dikenal sebagai Los Reyes Catolicos (the Catholic Monarchs).

Lembaga inkuisisi sendiri mulai diperkenalkan di Spanyol pada tahun 1478. Ketika itu Alonso de Hojeda, seorang pendeta Dominican, berhasil meyakinkan Ratu Isabella bahwa di wilayah kekuasaannya ada sebagian conversos (orang-orang yang pindah agama) dari kalangan Yahudi yang diam-diam tetap memelihara keyakinan dan tradisi Yahudi mereka. Mereka ini belakangan dikenal sebagai crypto-jews atau marranos.

Dewan inkuisisi kemudian dibentuk secara terbatas di Seville dan Cordova. Dan sebagai hasilnya, enam orang pelaku bid’ah dibakar hidup-hidup di Seville pada awal tahun 1981. Sejak itu, dewan-dewan inkuisisi semakin hidup dan berkembang di wilayah-wilayah Castile, walaupun masih harus menunggu beberapa tahun sebelum diterapkan juga di wilayah Aragon.

Kerajaan Aragon-Castile akhirnya memutuskan untuk merebut Granada, wilayah Muslim terakhir di Andalusia. Negeri yang sudah terlalu lama larut dalam kemewahan ini tak mampu bertahan, malah pemimpinnya memilih untuk menyerah tanpa perlawanan berarti. Bersamaan dengan bermulanya tahun baru masehi 1492, Boabdil, Sultan terakhir Granada, menyerahkan kunci kota itu kepada penguasa Kristen. Saat menjauhi istananya, Boabdil menangis. Tentang ini ibunya berkomentar, “Kamu menangis seperti perempuan untuk sesuatu yang tak pernah kamu pertahankan selaiknya laki-laki!”

Granada menyerah dengan syarat penduduknya tetap diizinkan menjalankan keyakinan dan agama mereka. Ferdinand dan Isabella menyetujuinya, tapi atas pengaruh gereja mereka segera mengingkarinya tak lama setelah menguasai negeri itu. Orang-orang Yahudi kemudian diusir keluar dari Spanyol. Kaum Muslimin dipaksa masuk Kristen, atau terpaksa hijrah keluar dari Spanyol. Mereka memberontak, tapi pada akhirnya dikalahkan. Banyak dari orang-orang Islam ini akhirnya setuju untuk dibaptis. Hanya saja mereka tetap mempertahankan tradisi Arab-Muslim mereka, dan sebagian lainnya tetap menjalankan ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi. Orang-orang ini dikenal sebagai Moriscos, kaum yang mirip orang-orang Islam (Moor-like). Mereka inilah yang kemudian menjadi sasaran utama dewan inkuisisi Spanyol.

Kaum Moriscos terus mendapat tekanan dan siksaan. Mereka kembali memberontak, namun pada akhirnya tetap kalah. Pada tahun 1609 mereka dipaksa keluar secara masif dari Spanyol. Jumlah mereka mencapai 300.000 orang. Sejak saat itu, sejarah Moriscos di Spanyol boleh dikatakan sudah habis. Bagaimanapun, inkuisisi masih terus berjalan hingga abad 19, bahkan abad 20, dengan orang-orang Kristen sendiri sebagai korbannya.

Kekejaman Inkuisisi

Proses interogasi dan eksekusi hukuman pada inkuisisi sangat berbeda dengan proses pada pengadilan modern. Penyiksaan pada inkusisi memang diizinkan dengan tujuan mendapatkan kebenaran dari si tertuduh. Masalahnya, dengan penyiksaan semacam itu orang yang mengaku tentunya bukan hanya mereka yang benar-benar ’bersalah,’ tapi juga mereka yang tidak tahan menghadapi siksaan. Siksaan dan hukuman pada inkuisisi memang tidak ditujukan untuk kebaikan si tertuduh, tapi demi membuat takut masyarakat umum dan mencegah mereka dari kejahatan.

Ini jelas berbeda dengan konsep qishah di dalam Islam, setidaknya dalam tiga hal mendasar. Pertama, inkuisisi secara aktif mencari dan menghukum pelaku penyimpangan, bahkan seringkali cenderung ’mencari-cari’ kesalahan. Sementara jika kita mengacu pada qishah yang diterapkan Nabi saw, beliau tidak mau mencari-cari kesalahan orang, bahkan cenderung enggan untuk langsung menghukum ketika ada yang mengakui kesalahannya (seperti pada kasus pezina yang datang pada Nabi dan melaporkan kesalahan dirinya). Kedua, pada Islam tidak ada proses penyiksaan untuk memaksa tertuduh mengaku. Ketiga, menurut Islam ketika seorang terbukti bersalah dan dihukum di depan umum, maka kebaikannya bukan hanya bagi masyarakat umum, tapi juga bagi si tersalah, karena itu merupakan bentuk taubatnya dan akan menghindarkannya dari hukuman di akhirat.

Menurut Henry Kamen dalam bukunya Spanish Inquisition (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Para Algojo Tuhan), penyiksaan dalam proses inkuisisi tidak seserius yang dituduhkan pihak-pihak yang memusuhi inkuisisi dan tidak sekejam penyiksaan pada pengadilan sekuler abad pertengahan.

Setidaknya ada tiga bentuk siksaan utama pada inkuisisi: garrucha, toca, dan potro. Garrucha berarti kerekan yang diikatkan ke pinggang tertuduh yang mengangkatnya ke langit-langit ruangan. Kaki tertuduh diikat dengan pemberat besi. Korban diangkat ke atas dan dijatuhkan ke bawah secara mengejutkan dan berulang-ulang. Hal ini bisa menyebabkan otot tangan dan kaki putus.

Toca adalah kain linen yang dimasukkan ke mulut tertuduh secara paksa. Kemudian air dituangkan secara pelahan-lahan ke dalam perut tertuduh melalui kain linen tersebut hingga ia merasa tersiksa karenanya. Potro adalah bentuk siksaan di mana tubuh tertuduh diikat kuat-kuat ke sebuah tiang. Kemudian para algojo menarik tali yang melilit tubuh korban dari arah berlawanan secara bertahap hingga tali-tali itu menembus daging. Pada semua bentuk penyiksaan ini, para tertuduh, baik laki-laki maupun perempuan, selalu ditelanjangi.

Betapapun pembelaan yang diberikan atas inkuisisi Spanyol, proses yang berlangsung di dalamnya tetap saja tidak berperikemanusiaan. Proses pada lembaga ini bersifat tertutup (hanya hukuman akhirnya yang dipertontonkan secara terbuka), saksi-saksinya dirahasiakan, dan pengacara yang membela pun dari pihak yang ditetapkan oleh pihak inkuisisi. Semua itu sangat memberatkan dan menyulitkan pihak yang dituduh bersalah.

Seorang tertuduh biasanya ditangkap dan dipenjara selama berminggu-minggu tanpa diberitahu apa sebabnya ia ditangkap. Ia dibiarkan menduga sendiri kesalahannya dan mengaku secara sukarela. Setelah dibiarkan dalam kondisi bingung seperti itu, barulah kepadanya disodorkan tuduhan-tuduhan dan ia diinterogasi untuk mengaku (biasanya disertai siksaan).

Tidak seperti pengadilan modern di mana tertuduh dianggap tidak bersalah sampai ia dibuktikan bersalah di sebuah pengadilan yang terbuka, pada inkuisisi seorang tertuduh dianggap bersalah dan ia mesti membuktikan kalau dirinya tidak bersalah pada suatu pengadilan tertutup tanpa pembelaan yang memadai. Adanya siksaan membuat para tertuduh ini menjadi lebih sulit lagi untuk mempertahankan diri.

Inkuisisi Spanyol berlangsung selama empat abad lebih dan menelan banyak korban. Keinginan gereja dan masyarakat Katholik di sana untuk memurnikan darah (limpieza de sangre) masyarakatnya telah menyebabkan wajah peradabannya yang dulunya toleran dan damai menjadi berdarah-darah. Semoga hal semacam ini tidak pernah terulang lagi dalam sejarah kita.
 
Sumber : www.hidayatullah.com]

 

Menguak Misteri Ilmiah Kiamat 2012 [Bagian 1]

Ilmuwan tidak lagi menolak terjadinya kiamat. Mereka malah membuat prakiraan ilmiah bagaimana terjadinya.
Isu akan terjadinya kiamat di tahun 2012 begitu banyak menyedot perhatian manusia. Sampai-sampai, ada film berjudul 2012 yang bercerita tentang peristiwa mahadahsyat berupa kiamat. Film yang disutradari oleh Rolland Emmerich ini menggambarkan kejadian ‘akhir dunia’ dengan efek gambar yang cukup membelalakkan mata pemirsanya.

Gedung-gedung pencakar langit yang hancur melebur, hujan meteor, bumi yang terbelah, sampai luapan samudera yang meluluhlantahkkan permukaan bumi tergambar jelas di film tersebut. Saat itu, manusia sibuk dengan urusan masing-masing, menyelamatkan diri dari bencana akbar itu. Terlepas silang pendapat mengenai cerita di balik 2012, film tersebut cukup mampu menarik penonton untuk melihatnya.

Kiamat, fakta ilmiah


Sejatinya, waktu terjadinya kiamat adalah misteri karena tak seorang pun tahu secara tepat kapan berlangsung. Ia menjadi bagian dari rahasia Allah yang pasti akan tiba waktunya di suatu hari. Meski begitu, Allah telah memberitahukan tanda-tanda yang ‘menyambut’ akhir hidup seluruh manusia di muka bumi itu. Bahkan, secara gamblang pula diceritakan melalui firman-Nya.

“Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan” (QS Al Qoori’ah 101: 1-5)

Selain beberapa ayat di atas, masih banyak gambaran serupa dituliskan dalam Al Qur’an. Tak sekedar isapan jempol, kiamat yang Allah sebutkan ternyata diakui ilmuwan bakal benar-benar terjadi. Bahkan prakiraan dahsyatnya kejadian itu secara ilmiah berupaya dipaparkan para ilmuwan melalui berbagai penelitian mereka. Berikut bagian-bagian episode kiamat yang diramalkan para peneliti berdasarkan data-data ilmiah mereka.

Ketika Bumi Dipanggang

Dalam ayat Al Qur’an, salah satu peristiwa di hari kiamat adalah dipanaskannya air laut: “Apabila matahari digulung… .…dan apabila laut dipanaskan“ (QS. At Takwiir, 81:1 & 6). Sudah pasti hanya Allah yang paling tahu bagaimana peristiwa di ayat itu bakal terjadi secara terperinci, apa yang memanaskan air laut dan bagaimana pemanasan itu terjadi. Apakah itu pemanasan dari dasar laut atau karena keseluruhan bola bumi terpanaskan. Wallaahu a’lam, hanya Allah yang Mahatahu.

Namun, setidaknya para ilmuwan kini menerima bahwa penjelasan ilmiah tentang pemanasan bumi secara keseluruhan di masa terjadinya kehancuran kehidupan di bumi adalah kemungkinan yang ilmiah dan masuk akal. Kejadian kehancuran keseluruhan bumi melalui lalapan api matahari diperkirakan secara ilmiah oleh Peter Schröder dari Universitas Guanajuato, Meksiko dan Robert Smith dari Universitas Sussex, Inggris.

Menurutnya, dalam beberapa milyar tahun, di matahari akan terjadi peleburan cadangan terakhir unsur hidrogen menjadi helium. Penyatuan tersebut mengubah matahari menjadi ‘raksasa merah’ yang ukurannya mengembang menjadi 250 kali lebih besar dari semula. Hal ini menyebabkan massanya berkurang dan memperlemah gaya tariknya ke bumi. Ini memungkinkan bumi berpindah tempat ke garis edar yang lebih jauh pada 7.6 milyar tahun dari sekarang.

Para peneliti tersebut membuat model paling rinci tentang peralihan matahari menjadi raksasa merah. Model ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap enam bintang raksasa merah terdekat.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa awalnya orbit bumi akan bertambah lebar. Namun, gaya tarik (gravitasi) bumi juga akan menyebabkan terbentuknya “tonjolan gelombang pasang” pada permukaan matahari. Tonjolan itu akan mengekor persis di belakang bumi dalam orbitnya, memperlambat peredaran bumi dengan kekuatan yang cukup untuk menyeret si planet biru kita ini ke dalam atmosfer matahari. Artinya, pada saat itu bumi tengah mengalami kehancuran akibat terseret ke lalapan api raksasa merah matahari. (Syaefudin/newscientist/hidayatullah.com)



*) Penulis, Syaefudin, adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.  



 Referensi:

Jason Palmer (2008). Hope dims that Earth will survive Sun's death. Newscientist.com, Feb 22, 2008. (http://www.newscientist.com/article/dn13369-hope-dims-that-earth-will-survive-suns-death.html, terkunjungi pada 22 Nov 2009).

Sunday, November 1, 2009

Hermeneutika: "Hikmah" atau Musibah?

 
Oleh: Dr Syamsuddin Arif *)
Baru-baru ini sebuah diskusi tentang studi Hermeneutika dilaksanakan di Jakarta. Apakah studi yang berasal dari tradisi Kristen sebuah 'musibah' atau 'hikmah' jika diterapkan dalam Islam?

Belum lama ini sebuah buku berjudul The Koran from Vernacular Perspective dikirimkan kepada saya langsung oleh penulisnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepadanya, saya sempat bertanya apakah ia berkenan menyatakan identitas dan latar-belakangnya.

“Kalau anda menginginkannya, bisa saja saya kirimkan curriculum vitae (daftar riwayat hidup) saya selengkapnya. Namun untuk apa? Apa relevansinya?” jawabnya.

Maka saya katakan kepadanya bahwa bagi seorang ‘Muslim scholar’ hal itu sangat signifikan dan relevan sekali. Kita dianjurkan untuk bersikap kritis mencermati dan menilai tidak hanya ‘apa’ yang dikatakan, tetapi juga ‘siapa’ yang mengatakannya. Unzur ila ma qîla wa man qâla.

Karena itu adagium populer yang sering kita dengar ini sebenarnya kurang tepat, jika bukan justru mengelirukan: meskipun keluar dari ‘lubang’ ayam, jika itu telur, ambil. Meskipun keluar dari ‘lubang’ penguasa, kalau itu najis, buang! Sebab, andaikata pernyataan ini dijadikan prinsip, maka kekacauan epistemologis menjadi tak terelakkan.

Kelak akan ada cendekiawan Muslim yang berseru: meskipun kata seorang kafir (yang berpotensi merusak dan menyesatkan), kalau itu menarik dan membebaskan, maka ambillah. Meskipun firman Tuhan (Al-Qur’an) atau sabda Nabi (hadis sahih), kalau itu membelenggu dan menjemukan, maka buanglah!

Memang, sejak dulu, salah satu persoalan perennial dan kontroversial yang senantiasa muncul ke permukaan ialah, sejauh mana orang Islam dibolehkan dan memerlukan barang impor – tentu saja ini andaikata disepakati boleh dan perlu.

Barang impor yang dipersoalkan di sini jelas bukan produk teknologi seperti sepeda motor atau laptop, akan tetapi aneka ragam ideologi dan produk pemikiran yang sesungguhnya sarat dengan berbagai pra-andaian terpendam (tacit assumptions) dan kepentingan terselubung (hidden interests).

Kalangan yang kurang peka atau tidak jeli memang cenderung memandang enteng persoalan ini. Atau bahkan menganggapnya bukan persoalan sama sekali. Alasannya, ilmu itu kan netral. Namun apakah benar demikian? Kecuali yang wahyu yang berasal dari Tuhan, boleh dikata semua produk pemikiran manusia pada hakikatnya tidaklah netral dalam arti bebas dari kepentingan para perumusnya dan pra-anggapan yang menyertainya. Hanya mereka yang lugu menganggap ilmu pengetahuan itu bebas nilai.

Selain itu, alasan yang kerap dikemukakan ialah, orang beriman diperintahkan memungut hikmah dari mana pun sumbernya, karena ia merupakan hak miliknya yang hilang (dhaallatu l-mu’min, haytsu wajadaha akhadza biha).

Namun menurut sebagian ulama seperti Ibn Hibban dan al-‘Uqayli, ungkapan yang diriwayatkan oleh Ibrahim al-Makhzumi ini sebenarnya bukanlah hadits sahih (Lihat: Imam Abu l-Faraj Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal al-Mutanahiyah fi l-Ahadits al-Wahiyah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H/1983, jilid 1, hlm. 95-96). Konon, ungkapan ini berasal dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib ra, sebagaimana disebutkan dalam kitab Nahju l-Balaghah.

Walaupun demikian, terlepas dari status hadits tersebut di atas, seorang mukmin memang perlu bersikap hati-hati dalam upaya mencari hikmah yang ‘tercecer’ di mana-mana. Sebaiknya, tidak asal pungut dan jangan salah pungut. Tapi bukan lantas serta-merta menolak secara a priori. Juga tidak berarti menerima for granted tanpa curiga.

Ambil sebagai contoh hermeneutika yang sekarang ini tengah digandrungi dan nyaris dinobatkan sebagai ‘manhaj tafsir alternatif’, tanpa memahami asal-usul dan seluk-beluknya. Di sini izinkanlah saya mengutip Josef van Ess, profesor emeritus dan pakar sejarah teologi Islam dari Universitas Tuebingen, Jerman:

"We should, however, be aware of the fact that German hermeneutics was not made for Islamic studies as such. It was originally a product of Protestant theology. Schleiermacher applied it to the Bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with German literature and antiquity. When such people say “text” they mean a literary artifact, something aesthetically appealing, normally an ancient text which exists only in one version, say a tragedy by Sophocles, Plato’s dialogues, a poem by Hölderlin. This is not necessarily so in Islamic studies.”

Maksudnya, perlu diketahui bahwa hermeneutika yang berasal dari Jerman itu sebenarnya memang bukan ditujukan untuk kajian keislaman.

Pada asalnya ia merupakan produk teologi Protestan. Dipakai untuk untuk mengkaji Bibel oleh Schleiermacher, dan belakangan oleh Heidegger dan Gadamer dalam kajian kesusasteraan Jerman maupun klasik.

Yang mereka maksud dengan istilah ‘teks’ ialah karya tulis buatan manusia, sesuatu yang indah lagi menarik, biasanya sebuah naskah kuno yang hanya terdapat dalam satu versi, seperti kisah tragedi karangan Sophocles, dialog-dialog karya Plato, atau pun puisi yang ditulis Hölderlin. Ini jelas tidak sama dengan konsep teks dalam kajian Islam (Lihat Irene A. Bierman (ed.), Text & Context in Islamic Societies, Reading, UK: Ithaca Press, 2004, hlm.7).

Van Ess benar belaka. Sebagai ‘anak kandung’ tradisi intelektual Barat hasil perkawinannya dengan teologi Kristen, hermeneutika memang tidak sesuai untuk diterapkan dalam studi Islam.

Kita katakan ‘tidak sesuai’, bukan ‘tidak bisa’ atau ‘tidak mungkin’, karena perkara ini lebih menyangkut dampak dan hasil, ketimbang hukumnya. Hermeneutika hanya akan membuahkan kebingungan dan keragu-raguan.

Betapa tidak, sedangkan ia bertolak dari skeptisisme dan relativisme, menghendaki ketidakpastian makna dan penafsiran, merayakan konflik dan kontradiksi. Karena itu, bagi cendekiawan mukmin, hermeneutika lebih tepat kalau dikategorikan sebagai musibah ketimbang hikmah. Wallahu l-muwaffiq ila aqwami t-thariq.

*) Penulis sedang menyelesaikan program doktornya yang kedua di Orientalisches Seminar, Frankfurt

DOSA DOSA MEDIA AMERIKA


Jerry Duane Gray
Sebuah media berita dapat diibaratkan sebagai jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia. Akan tetapi, jika media yang dipercaya sudah tak dapat lagi dipercaya, apa yang harus kita perbuat? Buku inilah sebuah jawaban. Buku ini mengajarkan kita untuk melihat kebenaran dari sebuah berita mengenai berbagai hal, melihatnya dari mata kita sendiri, bukan dari mata orang lain. Artinya, jangan pernah ragu untuk memverifikasi sebuah berita, terutama dari media barat, dalam hal ini Amerika.

Awal 1970-an, pers Amerika berada di barisan terdepan berkat integritasnya. Pelaporan berbagai peristiwa dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab tanpa manipulasi fakta-fakta sehingga menghasilkan perubahan dalam kepemimpinan sebuah negara adidaya. Kini, media Amerika menjadi bahan tertawaan dunia, sebagian besar dari mereka mengalami kegagalan besar.

Jaringan televisi Amerika yang menyiarkan berita ternyata tidak banyak melaporkan kejadian sesungguhnya. Lebih heran lagi, ketika menyampaikan laporan, para reporter TV itu memasang wajah jujur seakan-akan mereka sedang menjadi jurnalis sejati. Mereka berpura-pura melakukan investigasi serius terhadap satu demi satu kejadian yang tidak relevan kemudian menyiarkan kisah-kisah tabloid sebagai �berita sesungguhnya.� Selama masa kepresidenannya, Bush belum pernah mengadakan konferensi pers yang sesungguhnya. Bush pun belum pernah menjawab pertanyaan acak oleh wartawan asli.

Fakta yang raib
�Pentagon mengakui 5 tindakan yang melecehkan Al-Quran.� Fakta seperti ini pastinya belum pernah Anda dengar atau lihat dari media barat seperti CNN, Fox News, ABC, BBC atau yang lainnya. Mereka memmang sengaja menutupinya. Yang dilaporkan hanyalah berita-berita demi mengharumkan nama pemerintah AS, sedangkan yang berpotensi mengotori citra itu disingkarkan.

Lebih parah lagi, berita-berita yang berasal dari media barat juga diputar ulang oleh media televisi lokal negara-negara lain termasuk Indonesia. Sebagai contoh, kasus Irak dahulu. Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, dengan bantuan media korporat Amerika, Bush membohongi publik agar percaya pada kabar bohong tersebut dengan maksud untuk meraih dukungan dan legalitas atas invasi ke Irak.

Berkat partisipasi media Amerika, George W. Bush dapat lepas dari pelanggaran serius atas undang-undang dan hukum internasional. Tidak pernah ada satu pun investigasi serius yang dilakukan untuk menangani perilaku Bush yang tak kenal hukum walaupun sudah banyak bukti yang memberatkannya.

Sebelum invasi ke Irak, pemerintahan Bush mengklaim bahwa Muhammad Atta (terdakwa pimpinan serangan 11 September) bertemu dengan pejabat intelijen Irak di Praha. Pertemuan itu diduga sebagai bukti adanya kaitan antara Saddam dengan Al-Qaida. Walaupun presiden Ceko menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, pejabat pemerintahan Bush tetap bersikeras menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan perang.

Dua tahun setelah, lebih dari 1.700 pasukan sekutu gugur, puluhan ribu luka-luka. Sementara itu, di pihak Irak terjadi kematian hampir 100 jiwa tiap minggunya. Meski tak ada data resmi, diperkirakan puluhan ribu jiwa telah menjadi korban dan media berita tetap bungkam.

Selain tidak memberikanlaporan akurat mengenai jumlah korban, media Amerika juga tidak menginformasikan tentang kerusakan alam, property serta penderitaan rakyat Irak. Mereka hanya mempublikasikan �kejayaan� serdadu Amerika sambil menghalalkan penduduk sipil yang terbunuh hampir setiap harinya. Kebanyakan warga Amerika hidup dalam ilusi bahwa perang tidak banyak menimbulkan pertumpahan darah dan menimbulkan kerusakan. Mereka agak sulit menyadari bahwa senjata penghancur, bom dan tomahawk mereka telah merenggut jutaan nyawa manusia.

Di dalam buku ini Anda akan tercengang setelah tahu betapa hebatnya media Amerika memanipulasi pikiran pemirsanya melalui �berita� yang yang mereka sajikan. Tunggu apa lagi, jangan mau dibohongi terus-menerus. Bacalah buku ini sesering mungkin sehingga Anda dapat mempelajari trik-trik yang mereka lakukan dalam memanipulasi sebuah berita. Dengan begitu, Anda akan menjadi konsumen berita yang kritis.

Judul buku : Dosa-dosa Media Amerika

Penulis : Jerry Duane Gray

Penerbit : Ufuk Press

CIA dan Gembong Narkoba Afghanistan

CIA diam-diam menjalin hubungan dengan Ahmed Wali Karzai-saudara kandung Presiden Afghanistan, Hamid Karzai-yang dicurigai sebagai salah satu gembong perdagangan narkoba di Aghanistan.

Surat kabar terbitan AS, New York Times edisi Rabu (28/10) menyebutkan, sejak invasi AS ke Afghanistan tahun 2001, bahwa badan intelejen AS, CIA (Central Intelligence Agency) secara rutin membayarkan sejumlah uang pada Wali Karzai untuk berbagai keperluan.

New York Times juga menyebutkan bahwa saudara lelaki Presiden Afghanistan itu dicurigai sebagai salah satu gembong perdagangan opium ilegal di negaranya dan melakukan perekrutan untuk keperluan pembentukan pasukan paramiliter berdasarkan pengarahan dari CIA. Wali Karzai melakukan perekrutan itu di dalam dan di luar kota Kandahar, kota tempatnya tinggal. Ia juga disebut-sebut sering membantu agen-agen CIA di Afghanistan dan sering melakukan pertemuan dengan para pimpinan Taliban.

Laporan tentang hubungan dekat agen-agen CIA dengan Wali Karzai memicu tanda tanya besar terhadap strategi perang AS di Afghanistan. Apalagi beberapa bulan belakangan ini, perlawanan para pejuang Taliban terhadap pasukan AS dan NATO makin meningkat dan mematikan.

CIA menolak memberikan komentar atas laporan tersebut. Sementara, Senator John Kerry mendesak pemerintah AS untuk meminta Kongres menyelidiki hubungan antara CIA dengan Wali Karzai atau hubungan antara CIA dengan para gembong perdagangan narkoba di Afghanistan.

"Komite yang berwenang di Kongres harus segera diberi informasi yang komprehensif dan akurat tentang informasi adanya kolaborasi itu," kata Senator John Kerry yang cukup dekat dengan Presiden Obama itu.

Menurut Kerry, para pejabat pemerintahan AS berulangkali meyakinkannya bahwa tidak ada bukti atas kemungkinan CIA terlibat dalam perdagangan narkoba dari Aghanistan. "Biar bagaimanapun, setelah membaca laporan-laporan media yang menyebutkan bahwa Wali Karzai menerima pembayaran dari CIA, saya melontarkan pertanyaan serius tentang informasi yang diterima Kongres itu," tukas Kerry yang juga mengetuai Komite Hubungan Luar Negeri di Senat AS.

Produksi opium di Afghanistan dilaporkan meningkat tajam sejak invasi pasukan AS ke negeri itu tahun 2001. Laporan kantor PBB untuk urusan Kriminalitas dan Narkoba pekan kemarin menyebutkan bahwa Aghanistan memproduksi hampir 92 persen opium dan nilai produksi opium ilegal di Aghanistan mencapai 65 milyar dollar.

Selama 10 tahun terakhir, produksi opium di Aghanistan meningkat menjadi 6.900 ton. Padahal di Afghanistan terdapat 100.000 pasukan asing yang seharusnya bisa mencegah produksi narkoba berbahaya itu. PBB mempekirakan lebih dari 15 juta orang di dunia kecanduan narkoba setiap tahunnya dan 100.000 orang diantaranya meninggal dunia. PBB juga menyatakan bahwa opium ikut berkontribusi dalam penyebaran virus HIV dan penyakit AIDS di dunia. (ln/prtv)

Pria Somalia Berumur 112 Tahun, Menikah Lagi Dengan Seorang Gadis

Seorang pria yang mengaku berumur 112 tahun telah menikahi seorang gadis berumur 17 tahun pada sebuah upacara pernikahan di pusat kota Somalia, pernikahan ini secara total merupakan pernikahannya yang keenam, namun merupakan pernikahan yang pertama dalam tiga perempat abad umurnya, katanya.
"Istri saya sepuluh kali lebih muda daripada saya, tapi kami saling mencintai satu sama lain begitu banyak dan saya percaya bahwa saya bisa memberinya jenis cinta yang tidak setiap pemuda dapat memberikannya," kata Ahmed Mohamed Dhore kepada AFP.
"Hidup dalam pernikahan adalah terkait tentang cinta dan gairah daripada sekedar usia dan kecantikan," kata penghulu pernikahan laki-laki tua tersebut, yang upacara pernikahannya sendiri berlangsung di kota Guriel dan dihadiri oleh ratusan orang pada minggu lalu.
"Pertama kali saya menikah sudah lama sekali saya tidak dapat mengingatnya dan kira-kira terakhir kali saya menikah sekitar 75 tahun yang lalu, saya masih muda pada waktu itu," katanya.
Dhore beranjak dewasa ketika pemimpin nasionalis Somalia yang bergelar "Mad Mullah," Mohammed Abdullah Hassan, yang berjuang melawan kerajaan Inggris dan menciptakan negara Darwis meninggal pada tahun 1920.
Ia mengatakan rahasia untuk berumur panjang hingga dapat menjalani tiga masa yang berbeda adalah "memakan makanan yang sehat ketika ia masih muda".
"Aku berumur 112 tahun dan dapat menjalani kehidupan seperti seorang anak muda ... Sedangkan Ide untuk menikah lagi datang dari anak-anak dan cucu-cucuk," katanya sembari menjelaskan bahwa satu-satunya istrinya yang lain yang masih hidup berumur 90 tahun dan dalam kondisi sakit-sakitan.(fq/aby)

Pendiri Google Dukung Yahudi Migrasi Ke Israel

Sergery Brin membalas jasa HIAS yang telah menolongnya dengan memberikan sumbangan jutaan dolar kepada organisasi pengurus imigran Yahudi itu

Milyuner Yahudi salah satu pendiri Google, Sergey Brin, menyumbangkan USD 1 juta kepada Hebrew Immigrant Aid Society (HIAS), sebuah organisasi yang menggerakkan Yahudi dari seluruh dunia untuk bermigrasi ke Israel dan Amerika Serikat.

Organisasitersebut merupakan salah satu organisasi terbesar yang mendukungpembangunan pemukiman ilegal Israel di tanah bangsa Palestina yangdidudukinya.

Pada tahun 1979, Brin yang ketika itu berusia 6 tahun, bermigrasi dari bekas Uni Soviet ke Amerika Serikat.

Brinmengatakan bahwa HIAS menolong ia dan keluarganya meninggalkan UniSovyet. Sumbangan itu diberikan sebagai tanda peringatan 30 tahundirinya meninggalkan Rusia.

Namun demikian, HIAS tidak puasdengan jumlah sumbangan yang diberikan dan menganggapnya sebagai"sebuah sumbangan kecil dibandingkan kekayaan yang dimiliki Brin."

Kekayaan Brin diperkirakan sekarang ini mencapai USD 16 milyar.

Menanggapikomentar itu, Brin mengatakan bahwa sumbangan tersebut merupakankomitmen awal dari dia dan istrinya yang akan terjun dalam"masalah-masalah kemanusiaan."

Milyuner muda itu mengatakanbahwa hingga saat ini dia telah memberikan sumbangan lebih dari USD 30juta. "Tapi itu bukanlah jumlah yang besar dibandingkan dengan kekayaanyang saya miliki," katanya.

HIAS dikabarkan telah menolongsekitar 4,5 juta Yahudi di seluruh dunia. Menurut mereka, tanpa itumungkin Google tidak akan ada, mengingat keberadaan Google terkaitdengan "penyelamatan keluarga Brin", dengan memindahkan mereka ke AS.

Tidakheran jika HIAS menuntut imbal balik yang besar dari orang-orang yangtelah ditolongnya. Mereka beroperasi di berbagai negara, terutama yangpenuh dengan tekanan, untuk menawarkan "kebebasan" dan kesempatanmenjadi "orang besar" bagi siapa saja yang menginginkannya. Sepertiyang mereka nyatakan di situsnya bahwa HIAS menolong siapa saja yangmembutuhkan--tanpa memandang latar belakang agama, kewarganegaraaanatau etnis.

Di Eropa, mereka banyak mengeluarkan orang dariMoskow dan Kiev. Di Iran mereka memberikan bantuan beasiswa ke AS bagiwarganya yang ingin keluar dari negara Mullah tersebut. Di Afrika, HIASberperan menjadi "sinterklas" dengan menggarap wilayah-wilayah konflik,seperti Chad, Somalia, Ethiopia, Eritrea, Rwanda, Sudan, dan Kongo. DiAmerika Latin, sebagian orang Kolombia, Ekuador, dan Venezuelamemanfaatkan bantuan HIAS.

Selain Brin, HIAS telah "mencetak"cukup banyak orang terkenal, di antaranya Henry Kissinger, mantanpejabat AS dan penerima hadiah Nobel, yang dipindahkan dari Jerman pada1938. Joseph Berger, wartawan New York Times dan penulis terkenal,dipindahkan dari Rusia pada 1950. Joseph Brodsky, penyair dan pemenangNobel dibebaskan dari negara besi Rusia tahun 1972. Mila Kunis, artisyang sedang naik daun itu dikeluarkan dari Ukraina pada ahun 1991.

Padabulan November mendatang direncanakan  Presiden Barrack Obama akanberbicara di depan Majelis Umum Federasi Yahudi Amerika Utara diWashington. Hal itu dilakukan untuk melanggengkan dukungan AS kepadaIsrael dan kelompok lobi Yahudi, yang selama ini telah diberikan olehnegara Paman Sam itu.

Global News Service of the Jewish Peoplemenyatakan bahwa komunitas Yahudi mendapatkan 2 “prestasi besar”, Obama dan Brin.

Sumber : www.hidayatullah.com]

Menghitung Nikmat Rambut

Di salah satu klinik penanaman rambut di Hongkong, untuk menanam sehelai rambut membutuhkan dana sebesar $ 20 (HKD). Pernahkah kita mensyukuri atas karunia rambut yang diberikan Allah pada kita?
Oleh: Syaefudin*

Ada yang menganggap bahwa rambut adalah mahkota. Oleh karenanya, tak aneh jika banyak orang mengidamkan kepala yang terus ditumbuhi rambut. Sesekali, mereka berkunjung ke salon khusus rambut. Bahkan, ada pula yang berkala mengunjungi salon untuk sekedar menata dan memanjakan penampilan mahkota kepalanya.

Di sisi lain, ada juga yang bersikap biasa saja terhadap setiap helai rambut di tubuhnya. Mereka acuh, atau bahkan bersikap biasa saja dengan rambut yang dipunya. Tak ada waktu rutin ke salon, apalagi berkeramas khusus dengan tujuan merawat mahkota kepala.

Terlepas dari itu semua, pernahkah kita menghitung berapa besar nilai setiap helai rambut yang Allah berikan? Jadi, tak hanya merawat dan menjaga rambut agar tetap tumbuh serta elok dipandang mata. Apalagi, membiarkan begitu saja nikmat fisik yang Allah amanahkan kepada manusia. Namun, hendaknya kita mencoba menghitung berapa nilai karunia Sang Pencipta dari hanya helaian rambut di setiap jengkal kulit manusia. Dengan itu, harapannya manusia lebih bisa bersyukur dengan setiap pemberian Rabb-nya.

Sejatinya, untaian rambut di kepala bukan sekedar mahkota. Ia juga berguna sebagai pelindung tubuh, khususnya kulit kepala dari bahaya sinar ultraviolet. Setidaknya, itulah hasil penelitian ilmuwan Australia baru-baru ini.

Harga Helai Rambut

Rambut, sebagai pelindung tubuh dari panas sekaligus pemanis rupa manusia adalah nikmat Allah yang tak terkira. Betapa tidak, bila dihitung harga setiap helainya maka yang ada malah manusia akan tercengang lantaran besarnya jumlah ‘kekayaan’ yang Sang Pencipta titipkan kepada mereka.

Penghitungan paling mudah yaitu membandingkan sejumlah rambut yang dimiliki, misalnya di kepala, dengan harga seutas rambut dan biaya penanamannya ke kulit manusia. Pencangkokan tersebut merupakan salah satu cara mutakhir untuk memperbaiki penampilan. Para pakar membuat dan mengembangkan teknologi penanaman rambut bagi siapa saja, baik yang berkepala botak maupun yang hanya ingin melebatkan rambut.

Di salah satu klinik penanaman rambut di Hongkong, untuk menanam sehelai rambut membutuhkan dana sebesar $ 20 (HKD). Bila ditukar dengan nilai rupiah, setiap rambut dihargai Rp 25.459 (data Bank Indonesia pada 20 Oktober 2009). Itu hanya biaya pembelian seutas rambut, belum biaya jasa konsultasi dokter, uji pemeriksaan awal, dan pengobatan.

Bila jumlah rata-rata rambut yang dimiliki manusia normal sebanyak 80 helai/cm2 kulit kepala (orang Asia) atau 120 helai/cm2 kepala (orang Eropa), paling sedikit uang yang harus disiapkan untuk penanaman rambut sekitar Rp 2.036.720 sampai Rp 3.055.080 untuk setiap cm2-nya. Atau, jika rata-rata kepala manusia normal mengandung 100.000 utas rambut berarti setiap orang harus membayar sejumlah Rp 2.545.900.000 atau sekitar 2.5 Milyar! SubhaanaLlaah.

Nilai tersebut lebih mengejutkan bila melihat kenyataan, bahwa rambut manusia ternyata tak hanya tumbuh sekali seumur hidup. Namun, bisa berulang kali. Bayangkan saja, bila setiap 10 tahun sekali rambut tersebut rontok semua dan harus ditanam ulang, maka berapa banyak uang yang perlu dibayarkan seseorang berumur 60 tahun?

Belum lagi jika orang tua memiliki anak, dan ketika anak lahir diwajibkan membayar biaya penanaman rambut. Bayangkan jika anaknya 2, 3, 4 atau lebih, maka berapa triliun yang perlu disiapkan? Ini sekedar rambut di kepala, belum di alis, bulu mata, dan tempat lainnya.

Syukuri Nikmat Allah

Demikianlah perhitungan karunia Allah hanya dari utasan rambut, belum yang lainnya. Sungguh besar kasih sayang-Nya sehingga tak sepeser pun dikeluarkan manusia untuk mendapatkan mahkota penghias raga. Maka sepatutnyalah manusia berterima kasih atas pemberian nikmat yang tak pernah ia minta ini, namun begitu saja diberi lantaran kasih sayang Allah yang tak terbatas pada manusia. Sebaliknya tidaklah pantas manusia yang lemah bersikap congkak di dunia.

Andai saja manusia mau berpikir dengan keagungan dan kemurahan Sang Pencipta, niscaya ia akan terus bersyukur dan senantiasa menghiasi diri dengan amal ibadah. Hal ini telah Allah ingatkan dalam Al Qur’an: “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Az Zumar 39:66)

Bagi manusia yang telah mengerti akan besarnya pemberian Allah, lalu diikuti syukur atas apa yang diterimanya maka Sang Pemilik nikmat akan tambahkan lagi karunia lainnya sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim 14: 7).

 Ilustrasi :wikipedia.org

Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme di Departemen Biokimia, FMIPA-IPB.


 
 
Referensi:

1.     Dr. Bertram Medical Hair Transplant Center (2009). Our Pricing Policy. Hairtransplant.hk, June, 2009. (http://www.hairtransplant.hk/price.htm, terkunjungi pada 29 Juli 2009).

2.     P&G Beauty Science. Hair Facts. Pg.Com, July, 2009. (http://www.pg.com/science/haircare/hair_twh_23.htm, terkunjungi pada 30 Juli 2009).

3.     Alvio P. Parisi et al. 2009. Solar Ultraviolet Protection Provided by Human Head Hair. Photochemistry and Photobiology, 85: 250–254.

Kelewat Narsis di Facebook Bisa Jatuh Haram

Melalui situs jejaring pertemanan dan sosial  orang akan bebas menembus privasi orang lain. Namun narsisme berlebihan bisa jadi “haram"

Jangan sembarang memajang foto diri secara berlebihan di situs jejaring sosial, seperti facebook, yang banyak dilihat orang lain. Sebab, jika berlebihan atau kelewat narsis dengan memajang foto yang melanggar syariat untuk bersenang-senang semata, maka bisa mengarah kepada haram. Pernyataan ini disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Shiddiq Al Jawi.
 
Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Biasanya hal ini ditunjukkan dengan suka memfoto diri sendiri.

"Masalah narsis ini bisa dikaji dulu, apakah karena pengaruh kejiwaan atau sikologis. Kalau wajar, tak ada masalah. Tapi jika itu (memajang diri dalam bentuk foto) malah berlebihan, maka bisa jatuh haram," kata Shiddik kepada www.hidayatullah.com, Kamis, (29/10).
 
Dikatakan Shiddik, pada dasarnya hukum Facebook adalah mubah (boleh). Hal ini cakupanya sebagai hukum dasar untuk berbagai sarana modern dalam berkomunikasi. Sama halnya dengan ponsel, faksimili, dan sebagainya. Dasar kemubahannya adalah hadis Nabi SAW yang di riwayatkan Imam Muslim, "Kamu lebih mengetahui urusan dunia kamu.".
 
"Jadi, konstruksi penetapan hukumnya jelas. Hal itu kita hubungkan dengan hukum dasar, hukum asalnya," terang dia.
 
Namun, kata dia, hukum asal facebook ini dapat berubah menjadi haram, jika facebook digunakan untuk melakukan segala perbuatan yang diharamkan. Dasar keharamannya adalah kaidah fiqih: al-wasilah ila al-haram, haram. Artinya, segala perantaraan yang membawa kepada yang haram, hukumnya haram. Kaidah ini sejalan sebagaiman yang sudah ditulis oleh para ulama.
 
Kaidah fiqih ini berarti bahwa segala sesuatu baik berupa perbuatan manusia (al-af'aal) maupun berupa materi (zat) (asy-syai`), yang diduga kuat dapat mengantarkan kepada yang haram, hukumnya menjadi haram walau hukum asalnya mubah.
 
Maka dari itu, facebook hukumnya menjadi haram, jika digunakan untuk segala sesuatu yang menjurus kepada yang haram.
"Misalnya, mengucapkan kata-kata yang membangkitkan syahwat lawan jenis, melakukan perselingkuhan, melakukan pendekatan kepada lawan jenis untuk bersenang-senang semata.

Sumber : www.hidayatullah.com

Pengguna Ponsel Beresiko Terserang Tumor Otak

Peneliti mendapati, penggunaan telepon genggam selama satu dasawarsa atau lebih lama, mengakibatkan peningkatan 18 persen resiko tumor otak 

Pengguna telepon selular menghadapi resiko lebih besar terserang tumor otak, demikian laporan media, Kamis, mengutip penelitian paling akhir dari AS yang meneliti hubungan lemah antara telepon selular dan tumor otak, namun tak ada petunjuk jelas mengenai apa resiko yang dihadapi pengguna telepon selular.

"Kami tak dapat membuat kesimpulan pasti mengenai ini," kata Dr Deepa Subramaniam, Direktur "Brain Tumor Center" di "Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center" di Washington DC.

"Tetapi studi ini, selain berbagai studi sebelumnya, terus meninggalkan keraguan yang menggelayuti mengenai potensi peningkatan resiko. Jadi, satu kali lagi, setelah bertahun-tahun, kami tak memiliki jawaban jalan-pintas."

Namun, Joel Moskowitz, penulis senior studi itu, mengatakan bahwa "jelas ada resiko". Ia adalah Direktur di "Center for Family and Community Health" di University of California, Berkeley.

"Saya takkan mengizinkan anak-anak menggunakan telepon selular, atau saya setidaknya akan mengharuskan mereka menggunakan perangkat `headset` terpisah," kata Moskowitz.

"Kelihatannya kita semua lalai sebagai masyarakat atau sebagai (penghuni) satu planet karena semata-mata menyebar-luaskan teknologi ini sampai tahap yang kita hadapi sekarang, tanpa melakukan penelitian yang lebih menyeluruh mengenai potensi bahaya dan cara melindungi diri dari bahaya itu. Jelas, kita perlu mempelajari jauh lebih banyak lagi mengenai teknologi ini," katanya.

Para peneliti mendapati bahwa penggunaan telepon genggam selama satu dasawarsa atau lebih lama lagi mengakibatkan peningkatan 18 persen resiko tumor otak, yang mungkin muncul di bagian tempat telepon itu digunakan, kata Moskowitz.

Namun Moskowitz, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua, percaya bahwa juga ada potensi bahaya di bagian lain tubuh --pada aurat, misalnya-- ketika telepon tersebut ditaruh di saku.

Dengan banyaknya orang di seluruh dunia menggunakan telepon selular, bahkan resiko kecil pun dapat diterjemahkan (berkembang) menjadi penyakit dan kematian, ia menegaskan.

Moskowitz memperingatkan, "Kita perlu melakukan banyak penelitian yang jauh lebih menyeluruh karena tebusannya benar-benar mahal. Kelihatannya lebih bijaksana jika Anda lebih berhati-hati mengenai ini, terutama pada anak-anak, yang memiliki jaringan masih berkembang dan ukuran tempurung serta otak yang lebih kecil."

Tahun lalu, Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan AS menyerukan penelitian lebih lanjut mengenai resiko yang ditimbulkan oleh penggunaan telepon selular untuk waktu lama.

Lembaga tersebut mendesak agar penelitian seperti itu dipusatkan pada kesehatan anak, perempuan hamil dan janin, serta pekerja, yang menjadi sasaran pajanan (exposure) tinggi dalam pekerjaan.

Sumber : www.hidayatullah.com

Poligami Bikin Pria Panjang Usia?

Poligami yang benar bisa memperpanjang usia laki-laki dan tidak menekan wanita, tapi justru membuat marah kaum feminis

Ingin hidup sedikit lebih lama? Carilah istri kedua. Begitu rekomendasi sebuah penelitian yang menemukan bahwa laki-laki yang menikah lebih dari satu kali atau berpoligami, cenderung berusia lebih panjang daripada mereka yang monogami.

Setelah menghitung perbedaan sosioekonomi, ditemukan bahwa pria berusia lebih dari 60 tahun dari 140 negara yang melakukan praktek poligami dalam berbagai tingkatan, rata-rata hidupnya 12% lebih lama dibandingkan dengan pria yang berasal dari 49 negara yang cenderung berbudaya monogami.

Penelitian Virpi Lummaa, seorang pakar ekologi di Universitas Sheffield Inggris, sepertinya menjawab pertanyaan yang cukup membingungkan di dunia biologi manusia, yaitu mengapa laki-laki dan perempuan bisa hidup begitu lama?

Untuk wanita, sudah sejak lama diketahui bahwa faktor pendukungnya antara lain adalah "efek nenek". Di mana wanita yang telah menopause bertahan hidup lebih lama, karena mereka bisa bermain-main, merawat dan memanjakan cucunya, seperti yang ditunjukkan dari hasil penelitian di India.

Untuk laki-laki, sebagian besar peneliti percaya bahwa faktor yang membuat hidup lebih lama sepertinya adalah bersifat fisik, bukan emosional. Tidak seperti perempuan, mereka bisa bereproduksi hingga usia 60-an atau bahkan 70-80-an tahun.

Lummaa dan koleganya Andy Russell ingin mengetahui, apakah ada faktor lain--seperti halnya "efek nenek"--berlaku untuk laki-laki.

Setelah menganalisa data dari 25.000 orang Finlandia pada abad 18 dan 19 yang tidak melakukan kontrasepsi dan hidup dalam aturan gereja Lutheran yang ketat memberlakukan monogami, mereka tidak menemukan jawaban. Tidak ada tanda-tanda "efek nenek" pada pria di sana.

Kemudian mereka mengalihkan perhatiannya dengan membandingkan usia, yaitu antara laki-laki yang berasal dari bangsa-bangsa yang melakukan poligami dengan laki-laki yang berasal dari bangsa monogami. Cakupan penelitian mereka perluas ke 189 negara.

Dengan menggunakan data yang berasal dari WHO, mereka merangking bangsa-bangsa itu dalam skala 1 hingga 4, dari yang sangat ketat melakukan monogami hingga yang sangat poligami. Mereka juga menghitung masalah gizi dan perbedaan lain yang terdapat di antara negara maju dengan negara yang kurang maju, seperti pendapatan nasional dan pendapatan rata-rata perkapita, dan sebagainya.

Jika lamanya usia wanita menjadi alasan pria juga hidup lebih lama, dalam kasus seperti itu, maka penelitian mengatakan bahwa usia pria yang monogami hampir sama dengan pria yang poligami.

Tapi, penelitian itu menemukan bahwa menjadi ayah atas lebih banyak anak dan lebih banyak istri adalah yang menjadi alasan mengapa pria bisa bertahan hidup lebih lama.

Lummaa menyatakan, penelitian yang pernah dipresentasikan di pertemuan tahunan International Society for Behavioral Ecology pada pertengahan Agustus 2008 itu, bukan untuk membuktikan sebuah kebodohan. Mereka memberikan skor rendah untuk monogami karena mereka bekerja melakukan penelitian dengan cara melihat pola pernikahan.

Chris Wilson, seorang pakar antropologi evolusi dari Universitas Cornell, Itacha, New York, menilai penelitian itu memiliki sebuah "hipotesis valid dan perkiraan yang baik."

"Bagi saya tidak mengejutkan jika pria dari lingkungan itu (poligami) hidup lebih lama daripada mereka yang berasal dari lingkungan monogami, di mana jika mereka telah menduda, maka tidak ada lagi yang merawat mereka."

Wanita tidak tertekan

Sementara itu berdasarkan penelitian Angela Campbell, profesor hukum dari Universitas McGill, ditemukan bahwasanya wanita-wanita yang dipoligami tetap memiliki kekuatan.

Campbell, yang dikenal sebagai seorang intelektual sekular yang sangat teliti dan tidak mendukung poligami itu, terjun langsung ke dalam komunitas Bountiful di Kanada yang melakukan praktek poligami. Komunitas yang bermukim di Creston, dekat perbatasan Amerika Serikat itu, terdiri dari sekitar 1.000 orang pengikut Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter Day Saints.  Di sana ia melakukan penelitian dan wawancara langsung dengan para wanita yang dipoligami.

"Sebuah tempat yang sangat menarik dan menakjubkan," katanya. "Sangat kompleks. Sangat beragam."

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan awal tahun ini tersebut menunjukkan bahwa "wanita-wanita di sana masih memegang otoritas yang cukup besar dalam kehidupan perkawinan mereka, keluarga, dan masyarakatnya." Meskipun tingkatannya tidak selalu sama antara wanita satu dengan yang lain.

Wanita di sana tidak dicuci otaknya, tidak disetir layaknya mesin agar jadi penurut, sehingga harus membutuhkan pertolongan (karena tertekan). Tidak seperti yang digambarkan oleh media, demikian kata Prof. Campbell.

Hasil penelitan Campbell itu menuai kritik, terutama dari kaum feminis, mulai dari reaksi yang ringan hingga penuh kemarahan.

"Saya menerima beberapa email penuh kebencian," kata pakar hukum lulusan Harvard yang menikah dan memiliki beberapa anak itu.
 
Sumber : www.hidayatullah.com
 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...