Oleh: Dr Syamsuddin Arif *)
Baru-baru ini sebuah diskusi tentang studi Hermeneutika dilaksanakan di Jakarta. Apakah studi yang berasal dari tradisi Kristen sebuah 'musibah' atau 'hikmah' jika diterapkan dalam Islam?
Belum lama ini sebuah buku berjudul The Koran from Vernacular Perspective dikirimkan kepada saya langsung oleh penulisnya. Setelah mengucapkan terima kasih kepadanya, saya sempat bertanya apakah ia berkenan menyatakan identitas dan latar-belakangnya.
“Kalau anda menginginkannya, bisa saja saya kirimkan curriculum vitae (daftar riwayat hidup) saya selengkapnya. Namun untuk apa? Apa relevansinya?” jawabnya.
Maka saya katakan kepadanya bahwa bagi seorang ‘Muslim scholar’ hal itu sangat signifikan dan relevan sekali. Kita dianjurkan untuk bersikap kritis mencermati dan menilai tidak hanya ‘apa’ yang dikatakan, tetapi juga ‘siapa’ yang mengatakannya. Unzur ila ma qîla wa man qâla.
Karena itu adagium populer yang sering kita dengar ini sebenarnya kurang tepat, jika bukan justru mengelirukan: meskipun keluar dari ‘lubang’ ayam, jika itu telur, ambil. Meskipun keluar dari ‘lubang’ penguasa, kalau itu najis, buang! Sebab, andaikata pernyataan ini dijadikan prinsip, maka kekacauan epistemologis menjadi tak terelakkan.
Kelak akan ada cendekiawan Muslim yang berseru: meskipun kata seorang kafir (yang berpotensi merusak dan menyesatkan), kalau itu menarik dan membebaskan, maka ambillah. Meskipun firman Tuhan (Al-Qur’an) atau sabda Nabi (hadis sahih), kalau itu membelenggu dan menjemukan, maka buanglah!
Memang, sejak dulu, salah satu persoalan perennial dan kontroversial yang senantiasa muncul ke permukaan ialah, sejauh mana orang Islam dibolehkan dan memerlukan barang impor – tentu saja ini andaikata disepakati boleh dan perlu.
Barang impor yang dipersoalkan di sini jelas bukan produk teknologi seperti sepeda motor atau laptop, akan tetapi aneka ragam ideologi dan produk pemikiran yang sesungguhnya sarat dengan berbagai pra-andaian terpendam (tacit assumptions) dan kepentingan terselubung (hidden interests).
Kalangan yang kurang peka atau tidak jeli memang cenderung memandang enteng persoalan ini. Atau bahkan menganggapnya bukan persoalan sama sekali. Alasannya, ilmu itu kan netral. Namun apakah benar demikian? Kecuali yang wahyu yang berasal dari Tuhan, boleh dikata semua produk pemikiran manusia pada hakikatnya tidaklah netral dalam arti bebas dari kepentingan para perumusnya dan pra-anggapan yang menyertainya. Hanya mereka yang lugu menganggap ilmu pengetahuan itu bebas nilai.
Selain itu, alasan yang kerap dikemukakan ialah, orang beriman diperintahkan memungut hikmah dari mana pun sumbernya, karena ia merupakan hak miliknya yang hilang (dhaallatu l-mu’min, haytsu wajadaha akhadza biha).
Namun menurut sebagian ulama seperti Ibn Hibban dan al-‘Uqayli, ungkapan yang diriwayatkan oleh Ibrahim al-Makhzumi ini sebenarnya bukanlah hadits sahih (Lihat: Imam Abu l-Faraj Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal al-Mutanahiyah fi l-Ahadits al-Wahiyah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H/1983, jilid 1, hlm. 95-96). Konon, ungkapan ini berasal dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib ra, sebagaimana disebutkan dalam kitab Nahju l-Balaghah.
Walaupun demikian, terlepas dari status hadits tersebut di atas, seorang mukmin memang perlu bersikap hati-hati dalam upaya mencari hikmah yang ‘tercecer’ di mana-mana. Sebaiknya, tidak asal pungut dan jangan salah pungut. Tapi bukan lantas serta-merta menolak secara a priori. Juga tidak berarti menerima for granted tanpa curiga.
Ambil sebagai contoh hermeneutika yang sekarang ini tengah digandrungi dan nyaris dinobatkan sebagai ‘manhaj tafsir alternatif’, tanpa memahami asal-usul dan seluk-beluknya. Di sini izinkanlah saya mengutip Josef van Ess, profesor emeritus dan pakar sejarah teologi Islam dari Universitas Tuebingen, Jerman:
"We should, however, be aware of the fact that German hermeneutics was not made for Islamic studies as such. It was originally a product of Protestant theology. Schleiermacher applied it to the Bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with German literature and antiquity. When such people say “text” they mean a literary artifact, something aesthetically appealing, normally an ancient text which exists only in one version, say a tragedy by Sophocles, Plato’s dialogues, a poem by Hölderlin. This is not necessarily so in Islamic studies.”
Maksudnya, perlu diketahui bahwa hermeneutika yang berasal dari Jerman itu sebenarnya memang bukan ditujukan untuk kajian keislaman.
Pada asalnya ia merupakan produk teologi Protestan. Dipakai untuk untuk mengkaji Bibel oleh Schleiermacher, dan belakangan oleh Heidegger dan Gadamer dalam kajian kesusasteraan Jerman maupun klasik.
Yang mereka maksud dengan istilah ‘teks’ ialah karya tulis buatan manusia, sesuatu yang indah lagi menarik, biasanya sebuah naskah kuno yang hanya terdapat dalam satu versi, seperti kisah tragedi karangan Sophocles, dialog-dialog karya Plato, atau pun puisi yang ditulis Hölderlin. Ini jelas tidak sama dengan konsep teks dalam kajian Islam (Lihat Irene A. Bierman (ed.), Text & Context in Islamic Societies, Reading, UK: Ithaca Press, 2004, hlm.7).
Van Ess benar belaka. Sebagai ‘anak kandung’ tradisi intelektual Barat hasil perkawinannya dengan teologi Kristen, hermeneutika memang tidak sesuai untuk diterapkan dalam studi Islam.
Kita katakan ‘tidak sesuai’, bukan ‘tidak bisa’ atau ‘tidak mungkin’, karena perkara ini lebih menyangkut dampak dan hasil, ketimbang hukumnya. Hermeneutika hanya akan membuahkan kebingungan dan keragu-raguan.
Betapa tidak, sedangkan ia bertolak dari skeptisisme dan relativisme, menghendaki ketidakpastian makna dan penafsiran, merayakan konflik dan kontradiksi. Karena itu, bagi cendekiawan mukmin, hermeneutika lebih tepat kalau dikategorikan sebagai musibah ketimbang hikmah. Wallahu l-muwaffiq ila aqwami t-thariq.
*) Penulis sedang menyelesaikan program doktornya yang kedua di Orientalisches Seminar, Frankfurt
Sunday, November 1, 2009
Hermeneutika: "Hikmah" atau Musibah?
DOSA DOSA MEDIA AMERIKA

Jerry Duane Gray
Sebuah media berita dapat diibaratkan sebagai jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia. Akan tetapi, jika media yang dipercaya sudah tak dapat lagi dipercaya, apa yang harus kita perbuat? Buku inilah sebuah jawaban. Buku ini mengajarkan kita untuk melihat kebenaran dari sebuah berita mengenai berbagai hal, melihatnya dari mata kita sendiri, bukan dari mata orang lain. Artinya, jangan pernah ragu untuk memverifikasi sebuah berita, terutama dari media barat, dalam hal ini Amerika.Awal 1970-an, pers Amerika berada di barisan terdepan berkat integritasnya. Pelaporan berbagai peristiwa dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab tanpa manipulasi fakta-fakta sehingga menghasilkan perubahan dalam kepemimpinan sebuah negara adidaya. Kini, media Amerika menjadi bahan tertawaan dunia, sebagian besar dari mereka mengalami kegagalan besar.
Jaringan televisi Amerika yang menyiarkan berita ternyata tidak banyak melaporkan kejadian sesungguhnya. Lebih heran lagi, ketika menyampaikan laporan, para reporter TV itu memasang wajah jujur seakan-akan mereka sedang menjadi jurnalis sejati. Mereka berpura-pura melakukan investigasi serius terhadap satu demi satu kejadian yang tidak relevan kemudian menyiarkan kisah-kisah tabloid sebagai �berita sesungguhnya.� Selama masa kepresidenannya, Bush belum pernah mengadakan konferensi pers yang sesungguhnya. Bush pun belum pernah menjawab pertanyaan acak oleh wartawan asli.
Fakta yang raib
�Pentagon mengakui 5 tindakan yang melecehkan Al-Quran.� Fakta seperti ini pastinya belum pernah Anda dengar atau lihat dari media barat seperti CNN, Fox News, ABC, BBC atau yang lainnya. Mereka memmang sengaja menutupinya. Yang dilaporkan hanyalah berita-berita demi mengharumkan nama pemerintah AS, sedangkan yang berpotensi mengotori citra itu disingkarkan.
Lebih parah lagi, berita-berita yang berasal dari media barat juga diputar ulang oleh media televisi lokal negara-negara lain termasuk Indonesia. Sebagai contoh, kasus Irak dahulu. Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, dengan bantuan media korporat Amerika, Bush membohongi publik agar percaya pada kabar bohong tersebut dengan maksud untuk meraih dukungan dan legalitas atas invasi ke Irak.
Berkat partisipasi media Amerika, George W. Bush dapat lepas dari pelanggaran serius atas undang-undang dan hukum internasional. Tidak pernah ada satu pun investigasi serius yang dilakukan untuk menangani perilaku Bush yang tak kenal hukum walaupun sudah banyak bukti yang memberatkannya.
Sebelum invasi ke Irak, pemerintahan Bush mengklaim bahwa Muhammad Atta (terdakwa pimpinan serangan 11 September) bertemu dengan pejabat intelijen Irak di Praha. Pertemuan itu diduga sebagai bukti adanya kaitan antara Saddam dengan Al-Qaida. Walaupun presiden Ceko menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, pejabat pemerintahan Bush tetap bersikeras menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan perang.
Dua tahun setelah, lebih dari 1.700 pasukan sekutu gugur, puluhan ribu luka-luka. Sementara itu, di pihak Irak terjadi kematian hampir 100 jiwa tiap minggunya. Meski tak ada data resmi, diperkirakan puluhan ribu jiwa telah menjadi korban dan media berita tetap bungkam.
Selain tidak memberikanlaporan akurat mengenai jumlah korban, media Amerika juga tidak menginformasikan tentang kerusakan alam, property serta penderitaan rakyat Irak. Mereka hanya mempublikasikan �kejayaan� serdadu Amerika sambil menghalalkan penduduk sipil yang terbunuh hampir setiap harinya. Kebanyakan warga Amerika hidup dalam ilusi bahwa perang tidak banyak menimbulkan pertumpahan darah dan menimbulkan kerusakan. Mereka agak sulit menyadari bahwa senjata penghancur, bom dan tomahawk mereka telah merenggut jutaan nyawa manusia.
Di dalam buku ini Anda akan tercengang setelah tahu betapa hebatnya media Amerika memanipulasi pikiran pemirsanya melalui �berita� yang yang mereka sajikan. Tunggu apa lagi, jangan mau dibohongi terus-menerus. Bacalah buku ini sesering mungkin sehingga Anda dapat mempelajari trik-trik yang mereka lakukan dalam memanipulasi sebuah berita. Dengan begitu, Anda akan menjadi konsumen berita yang kritis.
Judul buku : Dosa-dosa Media Amerika
Penulis : Jerry Duane Gray
Penerbit : Ufuk Press

CIA dan Gembong Narkoba Afghanistan
CIA diam-diam menjalin hubungan dengan Ahmed Wali Karzai-saudara kandung Presiden Afghanistan, Hamid Karzai-yang dicurigai sebagai salah satu gembong perdagangan narkoba di Aghanistan.Pria Somalia Berumur 112 Tahun, Menikah Lagi Dengan Seorang Gadis
Seorang pria yang mengaku berumur 112 tahun telah menikahi seorang gadis berumur 17 tahun pada sebuah upacara pernikahan di pusat kota Somalia, pernikahan ini secara total merupakan pernikahannya yang keenam, namun merupakan pernikahan yang pertama dalam tiga perempat abad umurnya, katanya."Istri saya sepuluh kali lebih muda daripada saya, tapi kami saling mencintai satu sama lain begitu banyak dan saya percaya bahwa saya bisa memberinya jenis cinta yang tidak setiap pemuda dapat memberikannya," kata Ahmed Mohamed Dhore kepada AFP.
"Hidup dalam pernikahan adalah terkait tentang cinta dan gairah daripada sekedar usia dan kecantikan," kata penghulu pernikahan laki-laki tua tersebut, yang upacara pernikahannya sendiri berlangsung di kota Guriel dan dihadiri oleh ratusan orang pada minggu lalu.
"Pertama kali saya menikah sudah lama sekali saya tidak dapat mengingatnya dan kira-kira terakhir kali saya menikah sekitar 75 tahun yang lalu, saya masih muda pada waktu itu," katanya.
Dhore beranjak dewasa ketika pemimpin nasionalis Somalia yang bergelar "Mad Mullah," Mohammed Abdullah Hassan, yang berjuang melawan kerajaan Inggris dan menciptakan negara Darwis meninggal pada tahun 1920.
Ia mengatakan rahasia untuk berumur panjang hingga dapat menjalani tiga masa yang berbeda adalah "memakan makanan yang sehat ketika ia masih muda".
"Aku berumur 112 tahun dan dapat menjalani kehidupan seperti seorang anak muda ... Sedangkan Ide untuk menikah lagi datang dari anak-anak dan cucu-cucuk," katanya sembari menjelaskan bahwa satu-satunya istrinya yang lain yang masih hidup berumur 90 tahun dan dalam kondisi sakit-sakitan.(fq/aby)
Pendiri Google Dukung Yahudi Migrasi Ke Israel
Sergery Brin membalas jasa HIAS yang telah menolongnya dengan memberikan sumbangan jutaan dolar kepada organisasi pengurus imigran Yahudi itu
Milyuner Yahudi salah satu pendiri Google, Sergey Brin, menyumbangkan USD 1 juta kepada Hebrew Immigrant Aid Society (HIAS), sebuah organisasi yang menggerakkan Yahudi dari seluruh dunia untuk bermigrasi ke Israel dan Amerika Serikat.
Organisasitersebut merupakan salah satu organisasi terbesar yang mendukungpembangunan pemukiman ilegal Israel di tanah bangsa Palestina yangdidudukinya.
Pada tahun 1979, Brin yang ketika itu berusia 6 tahun, bermigrasi dari bekas Uni Soviet ke Amerika Serikat.
Brinmengatakan bahwa HIAS menolong ia dan keluarganya meninggalkan UniSovyet. Sumbangan itu diberikan sebagai tanda peringatan 30 tahundirinya meninggalkan Rusia.
Namun demikian, HIAS tidak puasdengan jumlah sumbangan yang diberikan dan menganggapnya sebagai"sebuah sumbangan kecil dibandingkan kekayaan yang dimiliki Brin."
Kekayaan Brin diperkirakan sekarang ini mencapai USD 16 milyar.
Menanggapikomentar itu, Brin mengatakan bahwa sumbangan tersebut merupakankomitmen awal dari dia dan istrinya yang akan terjun dalam"masalah-masalah kemanusiaan."
Milyuner muda itu mengatakanbahwa hingga saat ini dia telah memberikan sumbangan lebih dari USD 30juta. "Tapi itu bukanlah jumlah yang besar dibandingkan dengan kekayaanyang saya miliki," katanya.
HIAS dikabarkan telah menolongsekitar 4,5 juta Yahudi di seluruh dunia. Menurut mereka, tanpa itumungkin Google tidak akan ada, mengingat keberadaan Google terkaitdengan "penyelamatan keluarga Brin", dengan memindahkan mereka ke AS.
Tidakheran jika HIAS menuntut imbal balik yang besar dari orang-orang yangtelah ditolongnya. Mereka beroperasi di berbagai negara, terutama yangpenuh dengan tekanan, untuk menawarkan "kebebasan" dan kesempatanmenjadi "orang besar" bagi siapa saja yang menginginkannya. Sepertiyang mereka nyatakan di situsnya bahwa HIAS menolong siapa saja yangmembutuhkan--tanpa memandang latar belakang agama, kewarganegaraaanatau etnis.
Di Eropa, mereka banyak mengeluarkan orang dariMoskow dan Kiev. Di Iran mereka memberikan bantuan beasiswa ke AS bagiwarganya yang ingin keluar dari negara Mullah tersebut. Di Afrika, HIASberperan menjadi "sinterklas" dengan menggarap wilayah-wilayah konflik,seperti Chad, Somalia, Ethiopia, Eritrea, Rwanda, Sudan, dan Kongo. DiAmerika Latin, sebagian orang Kolombia, Ekuador, dan Venezuelamemanfaatkan bantuan HIAS.
Selain Brin, HIAS telah "mencetak"cukup banyak orang terkenal, di antaranya Henry Kissinger, mantanpejabat AS dan penerima hadiah Nobel, yang dipindahkan dari Jerman pada1938. Joseph Berger, wartawan New York Times dan penulis terkenal,dipindahkan dari Rusia pada 1950. Joseph Brodsky, penyair dan pemenangNobel dibebaskan dari negara besi Rusia tahun 1972. Mila Kunis, artisyang sedang naik daun itu dikeluarkan dari Ukraina pada ahun 1991.
Padabulan November mendatang direncanakan Presiden Barrack Obama akanberbicara di depan Majelis Umum Federasi Yahudi Amerika Utara diWashington. Hal itu dilakukan untuk melanggengkan dukungan AS kepadaIsrael dan kelompok lobi Yahudi, yang selama ini telah diberikan olehnegara Paman Sam itu.
Global News Service of the Jewish Peoplemenyatakan bahwa komunitas Yahudi mendapatkan 2 “prestasi besar”, Obama dan Brin.
Sumber : www.hidayatullah.com]
Menghitung Nikmat Rambut
Ada yang menganggap bahwa rambut adalah mahkota. Oleh karenanya, tak aneh jika banyak orang mengidamkan kepala yang terus ditumbuhi rambut. Sesekali, mereka berkunjung ke salon khusus rambut. Bahkan, ada pula yang berkala mengunjungi salon untuk sekedar menata dan memanjakan penampilan mahkota kepalanya.Di sisi lain, ada juga yang bersikap biasa saja terhadap setiap helai rambut di tubuhnya. Mereka acuh, atau bahkan bersikap biasa saja dengan rambut yang dipunya. Tak ada waktu rutin ke salon, apalagi berkeramas khusus dengan tujuan merawat mahkota kepala.
Terlepas dari itu semua, pernahkah kita menghitung berapa besar nilai setiap helai rambut yang Allah berikan? Jadi, tak hanya merawat dan menjaga rambut agar tetap tumbuh serta elok dipandang mata. Apalagi, membiarkan begitu saja nikmat fisik yang Allah amanahkan kepada manusia. Namun, hendaknya kita mencoba menghitung berapa nilai karunia Sang Pencipta dari hanya helaian rambut di setiap jengkal kulit manusia. Dengan itu, harapannya manusia lebih bisa bersyukur dengan setiap pemberian Rabb-nya.
Sejatinya, untaian rambut di kepala bukan sekedar mahkota. Ia juga berguna sebagai pelindung tubuh, khususnya kulit kepala dari bahaya sinar ultraviolet. Setidaknya, itulah hasil penelitian ilmuwan Australia baru-baru ini.
Harga Helai Rambut
Rambut, sebagai pelindung tubuh dari panas sekaligus pemanis rupa manusia adalah nikmat Allah yang tak terkira. Betapa tidak, bila dihitung harga setiap helainya maka yang ada malah manusia akan tercengang lantaran besarnya jumlah ‘kekayaan’ yang Sang Pencipta titipkan kepada mereka.
Penghitungan paling mudah yaitu membandingkan sejumlah rambut yang dimiliki, misalnya di kepala, dengan harga seutas rambut dan biaya penanamannya ke kulit manusia. Pencangkokan tersebut merupakan salah satu cara mutakhir untuk memperbaiki penampilan. Para pakar membuat dan mengembangkan teknologi penanaman rambut bagi siapa saja, baik yang berkepala botak maupun yang hanya ingin melebatkan rambut.
Di salah satu klinik penanaman rambut di Hongkong, untuk menanam sehelai rambut membutuhkan dana sebesar $ 20 (HKD). Bila ditukar dengan nilai rupiah, setiap rambut dihargai Rp 25.459 (data Bank Indonesia pada 20 Oktober 2009). Itu hanya biaya pembelian seutas rambut, belum biaya jasa konsultasi dokter, uji pemeriksaan awal, dan pengobatan.
Bila jumlah rata-rata rambut yang dimiliki manusia normal sebanyak 80 helai/cm2 kulit kepala (orang Asia) atau 120 helai/cm2 kepala (orang Eropa), paling sedikit uang yang harus disiapkan untuk penanaman rambut sekitar Rp 2.036.720 sampai Rp 3.055.080 untuk setiap cm2-nya. Atau, jika rata-rata kepala manusia normal mengandung 100.000 utas rambut berarti setiap orang harus membayar sejumlah Rp 2.545.900.000 atau sekitar 2.5 Milyar! SubhaanaLlaah.
Nilai tersebut lebih mengejutkan bila melihat kenyataan, bahwa rambut manusia ternyata tak hanya tumbuh sekali seumur hidup. Namun, bisa berulang kali. Bayangkan saja, bila setiap 10 tahun sekali rambut tersebut rontok semua dan harus ditanam ulang, maka berapa banyak uang yang perlu dibayarkan seseorang berumur 60 tahun?
Belum lagi jika orang tua memiliki anak, dan ketika anak lahir diwajibkan membayar biaya penanaman rambut. Bayangkan jika anaknya 2, 3, 4 atau lebih, maka berapa triliun yang perlu disiapkan? Ini sekedar rambut di kepala, belum di alis, bulu mata, dan tempat lainnya.
Syukuri Nikmat Allah
Demikianlah perhitungan karunia Allah hanya dari utasan rambut, belum yang lainnya. Sungguh besar kasih sayang-Nya sehingga tak sepeser pun dikeluarkan manusia untuk mendapatkan mahkota penghias raga. Maka sepatutnyalah manusia berterima kasih atas pemberian nikmat yang tak pernah ia minta ini, namun begitu saja diberi lantaran kasih sayang Allah yang tak terbatas pada manusia. Sebaliknya tidaklah pantas manusia yang lemah bersikap congkak di dunia.
Andai saja manusia mau berpikir dengan keagungan dan kemurahan Sang Pencipta, niscaya ia akan terus bersyukur dan senantiasa menghiasi diri dengan amal ibadah. Hal ini telah Allah ingatkan dalam Al Qur’an: “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Az Zumar 39:66)
Bagi manusia yang telah mengerti akan besarnya pemberian Allah, lalu diikuti syukur atas apa yang diterimanya maka Sang Pemilik nikmat akan tambahkan lagi karunia lainnya sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim 14: 7).
Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme di Departemen Biokimia, FMIPA-IPB.1. Dr. Bertram Medical Hair Transplant Center (2009). Our Pricing Policy. Hairtransplant.hk, June, 2009. (http://www.hairtransplant.hk/price.htm, terkunjungi pada 29 Juli 2009).
2. P&G Beauty Science. Hair Facts. Pg.Com, July, 2009. (http://www.pg.com/science/haircare/hair_twh_23.htm, terkunjungi pada 30 Juli 2009).
3. Alvio P. Parisi et al. 2009. Solar Ultraviolet Protection Provided by Human Head Hair. Photochemistry and Photobiology, 85: 250–254.
Kelewat Narsis di Facebook Bisa Jatuh Haram
Melalui situs jejaring pertemanan dan sosial orang akan bebas menembus privasi orang lain. Namun narsisme berlebihan bisa jadi “haram"
Jangan sembarang memajang foto diri secara berlebihan di situs jejaring sosial, seperti facebook, yang banyak dilihat orang lain. Sebab, jika berlebihan atau kelewat narsis dengan memajang foto yang melanggar syariat untuk bersenang-senang semata, maka bisa mengarah kepada haram. Pernyataan ini disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Shiddiq Al Jawi.
"Masalah narsis ini bisa dikaji dulu, apakah karena pengaruh kejiwaan atau sikologis. Kalau wajar, tak ada masalah. Tapi jika itu (memajang diri dalam bentuk foto) malah berlebihan, maka bisa jatuh haram," kata Shiddik kepada www.hidayatullah.com, Kamis, (29/10).
"Misalnya, mengucapkan kata-kata yang membangkitkan syahwat lawan jenis, melakukan perselingkuhan, melakukan pendekatan kepada lawan jenis untuk bersenang-senang semata.
Sumber : www.hidayatullah.com
Pengguna Ponsel Beresiko Terserang Tumor Otak
Peneliti mendapati, penggunaan telepon genggam selama satu dasawarsa atau lebih lama, mengakibatkan peningkatan 18 persen resiko tumor otak
Pengguna telepon selular menghadapi resiko lebih besar terserang tumor otak, demikian laporan media, Kamis, mengutip penelitian paling akhir dari AS yang meneliti hubungan lemah antara telepon selular dan tumor otak, namun tak ada petunjuk jelas mengenai apa resiko yang dihadapi pengguna telepon selular.
"Kami tak dapat membuat kesimpulan pasti mengenai ini," kata Dr Deepa Subramaniam, Direktur "Brain Tumor Center" di "Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center" di Washington DC.
"Tetapi studi ini, selain berbagai studi sebelumnya, terus meninggalkan keraguan yang menggelayuti mengenai potensi peningkatan resiko. Jadi, satu kali lagi, setelah bertahun-tahun, kami tak memiliki jawaban jalan-pintas."
Namun, Joel Moskowitz, penulis senior studi itu, mengatakan bahwa "jelas ada resiko". Ia adalah Direktur di "Center for Family and Community Health" di University of California, Berkeley.
"Saya takkan mengizinkan anak-anak menggunakan telepon selular, atau saya setidaknya akan mengharuskan mereka menggunakan perangkat `headset` terpisah," kata Moskowitz.
"Kelihatannya kita semua lalai sebagai masyarakat atau sebagai (penghuni) satu planet karena semata-mata menyebar-luaskan teknologi ini sampai tahap yang kita hadapi sekarang, tanpa melakukan penelitian yang lebih menyeluruh mengenai potensi bahaya dan cara melindungi diri dari bahaya itu. Jelas, kita perlu mempelajari jauh lebih banyak lagi mengenai teknologi ini," katanya.
Para peneliti mendapati bahwa penggunaan telepon genggam selama satu dasawarsa atau lebih lama lagi mengakibatkan peningkatan 18 persen resiko tumor otak, yang mungkin muncul di bagian tempat telepon itu digunakan, kata Moskowitz.
Namun Moskowitz, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua, percaya bahwa juga ada potensi bahaya di bagian lain tubuh --pada aurat, misalnya-- ketika telepon tersebut ditaruh di saku.
Dengan banyaknya orang di seluruh dunia menggunakan telepon selular, bahkan resiko kecil pun dapat diterjemahkan (berkembang) menjadi penyakit dan kematian, ia menegaskan.
Moskowitz memperingatkan, "Kita perlu melakukan banyak penelitian yang jauh lebih menyeluruh karena tebusannya benar-benar mahal. Kelihatannya lebih bijaksana jika Anda lebih berhati-hati mengenai ini, terutama pada anak-anak, yang memiliki jaringan masih berkembang dan ukuran tempurung serta otak yang lebih kecil."
Tahun lalu, Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan AS menyerukan penelitian lebih lanjut mengenai resiko yang ditimbulkan oleh penggunaan telepon selular untuk waktu lama.
Lembaga tersebut mendesak agar penelitian seperti itu dipusatkan pada kesehatan anak, perempuan hamil dan janin, serta pekerja, yang menjadi sasaran pajanan (exposure) tinggi dalam pekerjaan.
Sumber : www.hidayatullah.com
Poligami Bikin Pria Panjang Usia?
Ingin hidup sedikit lebih lama? Carilah istri kedua. Begitu rekomendasi sebuah penelitian yang menemukan bahwa laki-laki yang menikah lebih dari satu kali atau berpoligami, cenderung berusia lebih panjang daripada mereka yang monogami.Setelah menghitung perbedaan sosioekonomi, ditemukan bahwa pria berusia lebih dari 60 tahun dari 140 negara yang melakukan praktek poligami dalam berbagai tingkatan, rata-rata hidupnya 12% lebih lama dibandingkan dengan pria yang berasal dari 49 negara yang cenderung berbudaya monogami.
Penelitian Virpi Lummaa, seorang pakar ekologi di Universitas Sheffield Inggris, sepertinya menjawab pertanyaan yang cukup membingungkan di dunia biologi manusia, yaitu mengapa laki-laki dan perempuan bisa hidup begitu lama?
Untuk wanita, sudah sejak lama diketahui bahwa faktor pendukungnya antara lain adalah "efek nenek". Di mana wanita yang telah menopause bertahan hidup lebih lama, karena mereka bisa bermain-main, merawat dan memanjakan cucunya, seperti yang ditunjukkan dari hasil penelitian di India.
Untuk laki-laki, sebagian besar peneliti percaya bahwa faktor yang membuat hidup lebih lama sepertinya adalah bersifat fisik, bukan emosional. Tidak seperti perempuan, mereka bisa bereproduksi hingga usia 60-an atau bahkan 70-80-an tahun.
Lummaa dan koleganya Andy Russell ingin mengetahui, apakah ada faktor lain--seperti halnya "efek nenek"--berlaku untuk laki-laki.
Setelah menganalisa data dari 25.000 orang Finlandia pada abad 18 dan 19 yang tidak melakukan kontrasepsi dan hidup dalam aturan gereja Lutheran yang ketat memberlakukan monogami, mereka tidak menemukan jawaban. Tidak ada tanda-tanda "efek nenek" pada pria di sana.
Kemudian mereka mengalihkan perhatiannya dengan membandingkan usia, yaitu antara laki-laki yang berasal dari bangsa-bangsa yang melakukan poligami dengan laki-laki yang berasal dari bangsa monogami. Cakupan penelitian mereka perluas ke 189 negara.
Dengan menggunakan data yang berasal dari WHO, mereka merangking bangsa-bangsa itu dalam skala 1 hingga 4, dari yang sangat ketat melakukan monogami hingga yang sangat poligami. Mereka juga menghitung masalah gizi dan perbedaan lain yang terdapat di antara negara maju dengan negara yang kurang maju, seperti pendapatan nasional dan pendapatan rata-rata perkapita, dan sebagainya.
Jika lamanya usia wanita menjadi alasan pria juga hidup lebih lama, dalam kasus seperti itu, maka penelitian mengatakan bahwa usia pria yang monogami hampir sama dengan pria yang poligami.
Tapi, penelitian itu menemukan bahwa menjadi ayah atas lebih banyak anak dan lebih banyak istri adalah yang menjadi alasan mengapa pria bisa bertahan hidup lebih lama.
Lummaa menyatakan, penelitian yang pernah dipresentasikan di pertemuan tahunan International Society for Behavioral Ecology pada pertengahan Agustus 2008 itu, bukan untuk membuktikan sebuah kebodohan. Mereka memberikan skor rendah untuk monogami karena mereka bekerja melakukan penelitian dengan cara melihat pola pernikahan.
Chris Wilson, seorang pakar antropologi evolusi dari Universitas Cornell, Itacha, New York, menilai penelitian itu memiliki sebuah "hipotesis valid dan perkiraan yang baik."
"Bagi saya tidak mengejutkan jika pria dari lingkungan itu (poligami) hidup lebih lama daripada mereka yang berasal dari lingkungan monogami, di mana jika mereka telah menduda, maka tidak ada lagi yang merawat mereka."
Wanita tidak tertekan
Sementara itu berdasarkan penelitian Angela Campbell, profesor hukum dari Universitas McGill, ditemukan bahwasanya wanita-wanita yang dipoligami tetap memiliki kekuatan.
Campbell, yang dikenal sebagai seorang intelektual sekular yang sangat teliti dan tidak mendukung poligami itu, terjun langsung ke dalam komunitas Bountiful di Kanada yang melakukan praktek poligami. Komunitas yang bermukim di Creston, dekat perbatasan Amerika Serikat itu, terdiri dari sekitar 1.000 orang pengikut Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter Day Saints. Di sana ia melakukan penelitian dan wawancara langsung dengan para wanita yang dipoligami.
"Sebuah tempat yang sangat menarik dan menakjubkan," katanya. "Sangat kompleks. Sangat beragam."
Hasil penelitian yang telah dipublikasikan awal tahun ini tersebut menunjukkan bahwa "wanita-wanita di sana masih memegang otoritas yang cukup besar dalam kehidupan perkawinan mereka, keluarga, dan masyarakatnya." Meskipun tingkatannya tidak selalu sama antara wanita satu dengan yang lain.
Wanita di sana tidak dicuci otaknya, tidak disetir layaknya mesin agar jadi penurut, sehingga harus membutuhkan pertolongan (karena tertekan). Tidak seperti yang digambarkan oleh media, demikian kata Prof. Campbell.
Hasil penelitan Campbell itu menuai kritik, terutama dari kaum feminis, mulai dari reaksi yang ringan hingga penuh kemarahan.
"Saya menerima beberapa email penuh kebencian," kata pakar hukum lulusan Harvard yang menikah dan memiliki beberapa anak itu.
Wednesday, October 21, 2009
SISI GELAP HARRY POTTER
Harry Potter adalah fenomena dunia sastra. Banyak kontroversi di sana. Sebagian kalangan menyebut tujuh serialnya sebagai "The Handbook of Occult". Mengapa?
Dalam suatu acara di Bogor dua pekan lalu, beberapa orang ibu meminta agar rubrik ini tidak melulu menyorot “persoalan orang dewasa” seperti politik dan sebagainya. Mereka minta agar “persoalan anak-anak” juga dikupas, khususnya bahaya fenomena Harry Potter dilihat dari akidah Islam. “Persoalan akidah sekecil apa pun bukan masalah yang bisa dianggap remeh kan, apalagi ini menyangkut jutaan anak-anak yang tersihir Harry Potter!” ujar mereka. Benar juga.










