Monday, June 2, 2008

Ayu Utami Novelis feminis Indonesia

Bagi Ayu, dunia tulis menulis tak begitu akrab di masa kecilnya. Tubrukan dengan dunia jurnalistik baru terjadi ketika secara iseng Ayu mengirim cerpen humor dalam lomba yang diadakan Majalah Humor sekitar tahun 1989 - 1990. Ia memperoleh juara harapan. Kendati begitu, darah seni bukannya tak mengalir dalam tubuh Yustina Ayu Utami begitu nama lengkap yang diberikan orang tuanya, yang dilahirkan di Bogor, 21 November 1968. Bude-nya adalah seorang penembang lagu-lagu Jawa. Ayu kecil sendiri memiliki bakat melukis. Maka tak perlu kaget jika Ayu besar bisa "melukis" dalam "kanvas" yang berbeda.


Ada cerita menarik tentang bakat melukisnya itu. Kala itu Ayu menjadi ketua sanggar seni di SMU-nya, Tarakanita Jakarta. Dalam suatu pameran, lukisan yang dipamerkan ternyata kurang jumlahnya. Sebagai ketua tentu Ayu tak ingin pameran itu gagal. Di sinilah bakat melukisnya sangat membantu.


Ayu pun mengisi kekurangan jumlah itu dengan lukisan yang dibuatnya dengan bermacam-macam gaya dan nama. Ada yang menggunakan nama lengkapnya, ada yang mencantumkan sebagian namanya. Pameran itu akhirnya sukses juga, bahkan dimuat di beberapa majalah. Yang membuat dia bangga, kebanyakan foto lukisan yang ditampilkan adalah hasil karyanya. Namun, ia menghindar dari wartawan. Takut ketahuan kalau kebanyakan lukisan yang dipamerkan itu dibuat oleh satu pelukis.

Dari lukisan itu pula Ayu bisa memperoleh uang. Ia sering memperoleh order melukis dari teman atau keluarganya. Bahkan impian banyak pelukis pernah menghampirinya, yakni tawaran dari pembimbing melukisnya untuk mengadakan pameran tunggal. Sayang, impian itu tak menjadi kenyataan sebab Ayu tak bisa menyediakan sejumlah lukisan sebagai persyaratan.

Itulah sebabnya, selulus SMU Ayu ingin meneruskan ke Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Tapi bapaknya tidak memberi izin. "Dan itu untuk terakhir kalinya saya menurut dalam perkara besar dengan Bapak," tutur Ayu dalam wawancara dengan penulis Selasa (12/06) di Utan Kayu yang menjadi komunitas tempat ia bekerja sekarang. “Alasan bapaknya, tidak mudah mencari uang dengan melukis”tuturnya lagi.


Akhirnya, ia pun masuk Fakultas Sastra Jurusan Rusia, Universitas Indonesia. Dia mengaku, sejak kecil ia memang suka bahasa; utamanya bahasa yang aneh-aneh, eksotis. Latin, misalnya. Selain itu, bapaknya bilang - bukan dalam konteks bercanda, "Udah aja, siapa tahu kamu nanti jadi 'intel' kejaksaan" ujarnya kembali.


Sedangkan pilihan UI karena tidak ingin memberatkan orang tuanya. Selain lebih murah dibandingkan dengan kuliah di "luar negeri" (maksudnya swasta), semua kakaknya kuliah di UI. Meski ayahnya sering tugas di luar kota, sejak SMP Ayu tinggal di Jakarta bersama keluarganya.

Kuliah sambil kerja

Saat masuk ke Fakultas Sastra itulah Ayu seperti kehilangan arah. Kuliah dia jalani dengan malas. "Saya lebih banyak bekerja di berbagai tempat daripada kuliah," ujarnya. Tapi ia menyebutnya hal itu bukan sebuah pemberontakan. Ia hanya merasa tak ada gunanya lulus tanpa pengalaman. Selain itu, Ayu tidak ingin tergantung soal keuangan pada orang tuanya.

Apalagi sistem pengajaran di UI yang menurutnya waktu itu jelek sekali. Dan ia mendengar dari salah satu dosen bahwa jurusan itu hanya untuk menampung lulusan SMU. "Dosen 10 orang dengan ruangan seluas kira-kira 30 m2 dengan meja saling berhadapan. Bagaimana mungkin bisa melakukan penelitian dan sebagainya dengan serius karena tidak memiliki tempat kerja?" tanyanya. Di samping itu gaji dosen kecil sehingga banyak yang ngobjek. Pemerintah sendiri, di lain pihak, juga masih fobi dengan komunis, tuturnya panjang lebar.

Kuliah nyambi kerja yang dilakukan Ayu juga mendobrak kebiasaan di keluarganya. Pada zaman kakak-kakaknya, hal itu tidak bisa diterima oleh ayahnya. Jika Ayu bisa memecah tembok, "Saya pikir tergantung keras-kerasannya. Siapa yang keras, lainnya pasti luluh." Sifat keras-kerasnya itu pula yang membuat bapaknya mengalah ketika Ayu pulang pagi saat bekerja di Majalah Forum. "Daripada saya pulang jam dua pagi, 'kan bahaya. Lebih baik tidur di kantor dan pulang jam enam pagi. Sudah aman."

Pekerjaan sebagai purel hotel berbintang pun dia lakoni. Bahkan Ayu pernah menyelami dunia model setelah menjadi Finalis Wajah Femina tahun 1990. "Saat itu saya sedang senang-senangnya menjadi perempuan," tuturnya. Suatu perubahan yang besar mengingat di usia sembilan tahun ia merasa terganggu dengan adanya perubahan akibat hormon wanitanya. "Waktu itu saya merasa tidak suka sekali menjadi perempuan. Saya terganggu sekali dengan perubahan itu." Apalagi teman-temannya pun mendorong Ayu untuk ikut lomba Pemilihan Wajah Femina itu.

Toh, gemerlapnya dunia model tak menyedotnya masuk lebih jauh. Kegelisahan menderak-derak dalam dirinya untuk mencari rel hidupnya. Lebih dari itu, ia cukup tahu diri. "Saya nggak bakat jadi model. Nggak tinggi, nggak indo, nggak suka ke salon. Yang jelas nggak enjoy," kata bungsu dari lima bersaudara ini. Putri pasangan YH Sutaryo dan Suhartinah ini merasa tidak betah bila harus berdandan ala model. "Rambut diacak-acak, muka ditempeli kosmetika macam-macam," tuturnya menyebut beberapa contoh.

Kemenangan cerpennya di Majalah Humor menariknya menjadi wartawan paruh waktu di majalah itu. Berhubung kantornya berdekatan dengan Majalah Matra, Ayu pun jadi dekat dengan orang-orang Matra. Ia pun menjadi wartawan di majalah khusus trend pria itu. Di sinilah Ayu menyadari ada bakat menulis. "Soalnya, beberapa tulisan saya tidak pernah diedit total," katanya.

Bahkan ia sudah mengisi kolom tetap, Sketsa, di SK Berita Buana. Isinya berupa renungan tentang berbagai soal, entah itu politik, seni, ekonomi, dll. "Saya ingin membuat parodi catatan pinggir. Atau catatan pinggir yang konyol, lucu, lebih bermain-main, meski saya akui saya tidak sekaliber Goenawan Mohammad," jelasnya.

Jika akhirnya ia pindah ke Forum Keadilan, itu tak lepas dari sifatnya yang suka bertanya-tanya. Atau pengaruh kegelisahannya? "Tidak semua kegelisahan bisa dituntaskan," ungkap gadis yang mengaku tomboi di masa kecilnya ini. Oleh sebab itu, tidaklah perlu diherani jika Ayu hanya bertahan empat tahun di majalah berita itu, meski hal itu lebih disebabkan aktivitasnya di AJI (Aliansi Jurnalis Independen); institusi wartawan di luar PWI yang waktu itu tidak sedap dipandang oleh kaca mata pemerintah.

Setelah melanglang ke Majalah D&R selama setengah tahun dan di BBC selama beberapa bulan, Ayu akhirnya menemukan terminal terakhirnya: Komunitas Utan Kayu. Ia pun masih bisa mengembangkan sayap kewartawanannya sebagai redaktur Jurnal Kebudayaan Kalam. "Saya bahagia sekarang. Di sini saya baru betul-betul merasa kuliah. Bergaul dengan berbagai kalangan yang memperkaya wawasan saya." Di sinilah Ayu melahirkan Saman, yang kemudian membikin heboh di tengah masa krismon.

Padahal, dulu Ayu tidak suka menulis fiksi. "Kesannya kok mengawang-awang." Akan tetapi kesan itu berubah setelah menyadari bahwa novel - atau dalam lingkup yang lebih luas, sastra - ternyata tidak sekadar persoalan ide atau cerita, tetapi juga persoalan pergulatan bahasa, pergulatan pemikiran. Cerpen dan novel adalah ide yang disampaikan dalam bentuk fiktif”.(wawancara, 12 Juli 2005)

Pergulatan pemikiran itu bisa jadi tercermin dari pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan Ayu semasa SMP dan SMU. "Saya memberontak pada orang tua dengan tidak mau membaca buku, nggak mau belajar. Pokoknya, meremehkan aturan orang dewasa, meminimalkan usaha saya untuk belajar." Baginya, membaca buku bisa mempengaruhi hidupnya. "Saya maunya tetap orisinil." Namun, soal membaca, Ayu masih menyisakan untuk Alkitab, "Satu-satunya buku yang saya baca mulai kecil sampai dewasa." Alasannya, Alkitab ditulis oleh banyak orang dengan gaya masing-masing; ada yang berbentuk puisi, buku, dan surat-menyurat.

Wajarlah kalau dalam roman Saman, terdapat petikan-petikan ayat Alkitab, "Meski aslinya itu adalah surat pribadi saya kepada pacar saya." Lebih jauh Ayu mengakui, Alkitab sudah menjadi bagian dari dirinya. Sehingga dalam novelnya Ayu mempunyai kecenderungan menulis tentang pastor, tentang suster seperti tokoh Saman yang menjadi seorang Pater yang merupakan salah satu sebutan buat seorang Pastor. Cerita-cerita yang pernah saya tulis cenderung agak religius, cenderung dari kelompok ini." Bahkan pada waktu kecil, Ayu ingin jadi suster.

Seks, problematika wanita

Setelah Saman diterbitkan, kritikpun langsung berdatangan, akan tetapi jika ada yang mengritik Saman dari segi seksualitas yang ditampilkan, Ayu hanya menyediakan dua jawaban. Pertama, "Saya hanya mau jujur. Kedua, saya tidak menampilkan seks sebagai cerita tentang seks, tapi seks itu problem bagi perempuan. Misalnya, Yasmin dan Saman membicarakan seks dengan rasa bersalah. Seks jadi diskusi, bukan peristiwa" (Wawancara, 12 Juli 2005).

Seksualitas memang menjadi tema Saman. Banyak mitosnya yang perlu diluruskan kembali. Demikian juga dengan pengkotakan laki-laki - perempuan dalam konteks seksual. Seks secara biologis menjadi sumber diskriminatif terhadap perempuan. Misalnya soal keperawanan yang selalu dituntut oleh laki-laki. Masalah ini menjadi kontrol dari masyarakat kepada wanita agar wanita selalu bergantung pada laki-laki, "Ayu juga mempertanyakan soal keperawanan yang menempatkan perempuan dalam posisi yang kalah. "Wanita yang sudah tidak perawan dianggap sudah cacat, tetapi nilai itu tidak berlaku bagi pria".

Penyuka Don de Lilo ini mengharap bahwa wanita jangan terlalu mengagungkan keperawanan. Dalam wawancara dengan penulis, Ayu Utami mengungkapkan pendapat ekstrimnya menanggapi masalah virginitas ini,

" Menanggapi keperawanan, maksud saya bukannya menganjurkan seks pranikah, tetapi cobalah menempatkan keperawanan itu sewajarnya saja. Karena bila wanita begitu memuja keperawanan, ia sendiri yang akan rugi. Keperawanan hilang, ia merasa sudah tidak berarti. Untuk soal keperawanan saya menganjurkan dihapus saja, biarpun eksrtrim tapi buat saya hukum yang berlaku dari satu pihak dan tidak berlaku pada pihak lain, itu batal demi keadilan. Karena itu mengagung-agungkan keperawanan itu tidak adil karena hanya bisa diterapkan pada perempuan saja”(wawancara, 12 Juli 2005)

Ayu merasa, masalah seks yang dia sajikan dalam Saman masih dalam batas yang wajar. "Karena saya menyajikan seks di situ bukan merupakan teknik persetubuhan, tetapi berupa pemaparan problematika seks untuk direnungkan karena banyak dialami oleh wanita". Dan bagi Ayu banyak hal yang dipersoalkan, bukan hanya masalah seks. Seks bukan masalah utama karena banyak persoalan lain, seperti sosial, pendidikan dan hukum yang juga dinilai tidak adil.

Eksplorasi penulisan dan bahasa
Mengacu kepada popularitas Saman, menurut Ayu, sastra tidak bisa dilepaskan dengan publikasi. Dengan begitu banyaknya media massa, tak ada satu pihak pun yang bisa menentukan baik-buruknya sebuah karya sastra. Apalagi orang sekarang sama sekali tidak bisa dipisahkan dengan publikasi. "Jadi, apresiasi pun tidak bisa dipisahkan dari publikasi."

Ia berpendapat bahwa sastra seharusnya menjadi eksperimen dari berbagai eksplorasi penulisan dan bahasa. "Dan mungkin bisa lebih bervariasi." Konsekuensinya, sastra menjadi elit dan tidak mudah diterima oleh banyak orang. Ayu mencoba membandingkan dengan adibusana yang jarang bisa dipakai oleh masyarakat awam. "Tapi toh ia berpengaruh dalam menentukan arah perkembangan mode. Jadi, saya membayangkan sastra sebagai eksplorasi yang gila-gilaan, akibatnya tidak bisa diterima orang banyak, namun berperan penting dalam perkembangan sastra selanjutnya." Semisal, dalam perkembangan kosa kata maupun bahasa. Untuk itu, penulis pun harus siap bahwa karyanya tidak akan menjangkau jumlah pembaca yang cukup luas.


Ayu tak setuju jika masalah perut menjadi ganjalan mengkonsumsi - dan akhirnya mengapresiasi - produk-produk susastra. "Bagaimanapun jika karya sastra tersebut memberikan pencerahan, maka hal itu sudah memberikan hiburan. Kalau kemudian sastra direduksi sebagai hiburan, maka sastra tidak bisa disebut hanya sebagai kebutuhan orang yang perutnya 'kenyang'. Jadi, sastra bukanlah karya yang demikian berat. Dalam beberapa hal sifatnya sama dengan hiburan. Ambil contoh cerpen dalam koran minggu yang bisa dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat". Memang, novel baru tidak banyak dibuat. "Tapi saya tidak setuju kalau kemudian dibilang sastra Indonesia tidak berkembang." Menulis novel itu pekerjaan yang berat, dalam arti perlu banyak waktu. Selain itu belum bisa diandalkan sebagai penghidupan keluarga. Lain dengan di luar negeri yang menyediakan grant.


Makanya, kalau orang itu bukan termasuk pengarang yang terkenal dan tidak ada pembajakan, sulit mengharapkan dari penjualan buku. Untuk itu, perlu diciptakan struktur yang memungkinkan pengarang bisa terus menulis. "Seperti zaman dulu seniman dipelihara oleh kerajaan." Pola seperti itu sudah dijalankan oleh Amerika atau Australia, "Seperti yang diperoleh Umar Kayam". Kesuksesan Saman ternyata tak menguburkan bakat melukisnya. Beberapa lukisan masih dia simpan, biasanya berupa sketsa. Ayu masih terobsesi untuk menjadi pelukis dan membikin komik.

Perkawinan

Mengenai perkawinan yang dulu dia rencanakan saat berumur 23 - 25? Ayu agak gamang menjawabnya. "Ini masalah terlalu banyak penduduk. Untuk itu, perlu ada orang yang harus punya keputusan untuk tidak menambah jumlah penduduk di bumi. Problem penduduk itu harus disadari betul" .

Dalam tulisan essainya Si Parasit Lajang, Ayu menyatakan beberapa alasan untuk tidak menikah yang dijadikan sikap politik seorang Ayu Utami yakni:

  1. Memangnya harus menikah?
  2. Tidak merasa perlu
  3. Tidak peduli
  4. Amat peduli. Awalnya sederhana saja saya melihat banyak masyarakat mengagungkan pernikahan yang ideal seperti dongeng. Tapi sebenarnya bahwa pernikahan tidak ideal. Selain kasih sayang , juga ada kebosanan, penyelewengan, pemukulan. Tapi itu tabu dibicarakan. Sebaliknya masyarakat mereproduksi terus nilai yang mengagungkan pernikahan. Sementara menikah konstruksi sosial belaka dan selalu ada yang tidak beres dengan konstruksi sosial. Pada umumnya pernikahan masih melanggengkan dominasi pria dan wanita. Di masyarakat begitu banyak pengaduan kasus kekerasan domestik terhadap perempuan. Tapi puncak pengesahan supremasi pria atas wanita ada dalam poligami. Seorang lelaki boleh memiliki banyak isteri, tapi seorang isteri tidak dibenarkan memiliki banyak laki-laki. Saya anti poligami tetapi bukannya tidak bisa melihat rasionalisasi dibalik kawin ganda ini. Poligami adalah masuk akal didalam masyarakat yang amat patriarkal, yang berasumsi bahwa pria superior, bahwa pria menyantuni perempuan dan tak mungkin sebaliknya, sehingga tanpa lelaki seorang perempuan tidak memiliki pelindung. Dan saya peduli dan jengkel dengan idealisme tadi.
  5. Trauma. Saya punya trauma tetapi bukan pada lelaki sebagaimana yang dikira banyak orang, melainkan pada sesama perempuan yang tidak sadar bahwa mereka tunduk dan melanggengkan nilai-nilai patriarki.
  6. Tidak berbakat. Rasanya saya tidak berbakat untuk segala yang formal dan institusional.
  7. Kepadatan penduduk. Saya tidak ingin menambah pertumbuhan penduduk dengan membelah diri.
  8. Seks tidak identik dengan perkawinan. Pertama ini konsekwensi alasan ke-5 tadi: saya harus membuktikan bahwa perawan tua dan tidak menikah tidak berhubungan. Kedua, siapa bilang orang menikah tidak berhubungan seks dengan bukan pasangannya.
  9. Sudah terlanjur asyik melajang
  10. Tidak mudah percaya. Ibu saya mengatakan bahwa bahwa menikah membuat kita tidak kesepian di hari tua. Tapi, siapa yang bisa jamin bahwa pasangan tak akan bosan dan anak tidak akan pergi? Tak ada yang abadi di dunia ini, jadi sama saja (Utami, 2003:168-176)
Abstaraksi Novel

Novel Saman (1988)

Novel yang bertajuk “Saman” merupakan novel debutan pertama dari Ayu Utami dan menjadi kontroversi dalam sejarah sastra Indonesia karena perihal seks dan sastra. Novel yang dicetak pertama kali pada bulan April 1998 dan sampai tahun sekarang Novel Saman ini sudah mengalami cetakan sampai cetakan ke-24. Saman adalah pemenang sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998. karena karyanya dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya, sehingga mengantarkan novel Saman dalam meraih Prince Claus Award pada tahun 2000. Ketika pertama kali terbit, Saman dibayangkan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu yang mulanya berjudul Laila tak Mampir di New York. Dalam proses pengerjaan , beberapa sub plot berkembang melampaui rencana.

Ayu Utami mengungkapkan apa yang menjadi awal kenapa dia menulis novel yakni “ Secara tekhnis karena saya tidak mempunyai kesempatan menulis di media lagi secara terbuka karena waktu itu terjadinya pembredelan terhadap pers, jadi saya punya waktu untuk menulis novel, alasan kedua, karena ketidakpuasan saya terhadap eksplorasi bahasa di media massa yang terlalu terbatas karena fitrahnya bicara kepada publik yang luas” tutur ayu. Selain itu karena dorongan dan dukungan teman-temannya di komunitas Utan Kayu, yang menjadi alasan Ayu selanjutnya untuk menulis sebuah karya sastra” (wawancara, 12 Juli 2005).

Adalah Laila dan tiga temannya yakni Sakuntala, Jasmin dan Cok yang awalnya ingin dijadikan tokoh utama dari Novel Laila tidak Mampir di New York atau sekarang judul Novelnya berubah menjadi Saman. Meskipun perubahan peran utama yang awalnya empat tokoh perempuan menjadi Saman ini tidak disadari betul oleh penulisnya. “saya tidak tahu pasti kenapa jadi beralih ke Tokoh Saman, ini hanyalah proses, jadi ketika saya mau menceritakan laki-laki saya menceritakan perempuan begitu juga sebaliknya. Saya selalu melihat sesuatu dari lawannya atau titik yang lain” ujar Ayu menanggapi perubahan dari tokoh utamanya (wawancara, 12 Juli 2005). Tapi novel ini juga tidak kehilangan napasnya dalam mengungkapkan masalah-masalah yang banyak dialami oleh wanita.

Saman merupakan novel yang menceritakan tentang berbagai masalah yang dulu terjadi ketika Saman ini terbit yaitu tahun 1998 saat rezim Soeharto berkuasa dan tahun itu merupakan tahun dimana merupakan jaman Orde Baru dimana kekuasaan yang sewenang-wenang menjadi raja. Saman mampu menangkap carut marut zamannya dan mengisahkannya dengan fasih, bahkan tanpa beban. Dan dalam novel ini juga banyak menggugat banyak hal, bukan sekedar seks, melainkan bila kita membaca dengan jeli yang lebih kental dalam novel itu adalah nuansa politisnya, terutama gugatan terhadap kekuasaan Orde Baru yang militerisme dan segala kekuasaan patriarkis. Dan tahun itu merupakan suatu zaman yang hiruk pikuk dengan peristiwa maupun lalu lintas informasi kultural, sehingga sukar untuk dipahami. Dengan meminjam terminology Mikhail Bakhtin, novel ini mengandung hetroglossia, keragaman , layaknya sebuah karnaval. Novel ini berkisah tentang pemogokan buruh, kolusi pengusaha perkebunan dengan militer local, penyiksaan aktivis, fenomena gaib, sekaligus mempertanyakan iman katolik, dominasi laki-laki atas perempuan, juga seksualitas dan cinta, dibalut bahasa yang indah dan ekploratif.

Pembicaraan tentang seks dijadikan Ayu sebagai wacana pemberontakannya terhadap dominasi dan kesewenang-wenangan laki-laki, wacana disini dimaksudkan Ayu untuk menuntut kesetaraan perempuan yang selama ini dieleminasi oleh kuasa kaum laki-laki. Penentangan terhadap dominasi laki-laki pun tidak luput ayu tuangkan dalam novelnya dimana ayu mengangkat berbagai isu sentral tentang masalah dunia patrialkal yang selama ini banyak merugikan perempuan. Lalu Cinta, politik, dan agama serta perasaan-perasaan yang saling bertaut antar para tokoh digambarkan tanpa rigiditas, tanpa beban, bebas sebebas-bebasnya. Setiap rinci peristiwa dibangun berdasarkan riset yang rigid, keleluasaan dalam menggunakan bahasa kemungkinan dipengaruhi pula oleh pandangan betapa ambigu sesungguhnya moralitas itu. Perselingkuhan, tugas pastoral yang suci, percintaan yang sembunyi-sembunyi, ketidakadilan terhadap kaum yang lemah sampai kesewenang-wenangan militer pada waktu itu tidak didudukkan dalam sebuah kursi moralitas yang hitam dan putih.

Novel Larung (2001)

Setelah sukses dengan novel pertamanya “Saman”, lalu Ayu Utami mengeluarkan novel keduanya pada bulan November 2001 yakni “Larung”. Larung adalah merupakan dwilogi yang masing-masing berdiri sendiri. Meskipun pada awalnya, Saman dan Larung yaitu dua novel yang direncanakan sebagai sebuah buku berjudul Laila tidak mampir di New York.

Tidak kalah menariknya dengan Saman, Larung sendiri masih menceritakan kegelisahan-kegelisahan dari penulisnya. Disana berbagai konflik dan masalah-masalah disuguhkan dengan apik. Masih dengan tokoh yang sama dengan tokoh-tokoh yang ada dalam novel Saman, Larung mencoba mengungkapkan lebih gamblang tentang eksistensi seks perempuan, politik juga budaya patriarki.

Dalam hal ini Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan tersebut, lewat diary tokoh Cok, tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman, Laila dan Sihar” (hal.77). Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan.

Problema-problema seks perempuan, yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal, pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. Tokoh Yasmin yang sempurna, cantik, cerdas, kaya, beragama, berpendidikan, bermoral pancasila, setia pada suami kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman, sang bekas frater.

Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. Hanya saja, seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya.

Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. Naik gunung, berkemah, turun tebing, cross country, dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. Juga, tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu, menyangkal hal-hal yang lembek, dan ia merasa ada supremasi pada dirinya” (hal. 118).

Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Tapi keperawanan Laila yang terjaga seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia justru menjadi problema. Ekspresi libido seks Laila terhambat. Lelaki takut padanya. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab.

Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. Gabungan sosok Saman dan Sihar, dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. Penggambaran tentang dunia lesbian, yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah.

Didalam Larung juga diceritakan berbagai masalah politik, seperti tokoh-tokoh yang pernah ditahan karena afiliasi politiknya atau karena kekeliruan yang tak pernah diakui dimunculkan secara manusiawi. Tapol atau mereka yang dicap "antek komunis" itu tampil sebagai orang yang mencintai negaranya, yang menekuni profesinya, dan sebagai pribadi yang bisa menyayangi, membenci, punya cita-cita, rasa sakit, lapar, dan kesepian. Dalam novel Larung karya Ayu Utami, di balik stereotip-stereotip "Gerwani", "PKI", "Penimbun beras" ditunjukkan orang-orang kecil yang tak tahu apa-apa, seperti ayah tokoh Larung, seorang tentara yang mengatasi gaji kecilnya dengan menjual sisa beras jatah bersama sobatnya pedagang kelontong orang Cina. Keduanya dibunuh, yang satu dicap oknum PKI ketika sesama tentara terpaksa menyebut kawannya untuk menyelamatkan nyawa, dan sang pedatang dibantai sebagai "penimbun beras”

(Dina Mardiana, S.Sos, Alumni Fikom Unisba)

karya lainnya :
Essai Si Parasit Lajang terbit tahun 2002

Alamat : Jalan Utan Kayu, 68 H Jakarta Timur hanphone 08129696821 E-mail Ayutami@yahoo.com

Sumber :

Utami, Ayu. 1998. Saman. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

--------------. 2001. Larung. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

---------------. 2003. Si Parasit Lajang. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta

Kurnia, Anton. 2004. Sastra Feminis dalam Tiga Diskusi http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906Jakarta.

Tiana Rosa, Helvy. 2004. Seks dan Penokohan Perempuan dalam Tiga Novel Indonesia mutakhir, http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906,Jakarta.

Magdal, Mer. 2004. Ketika Seks (Lagi-lagi) Menjadi Bumbu Sastra, http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3379,Jakarta.

http://www.indomedia.com/intisari/1998/september/sex.htm.

Wawancara Ayu Utami, Jakarta, 12 Juli 2005

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...