Pertama, sehebat apapun terapi dari dokter tidak akan membawa banyak kesembuhan apabila pasien mengabaikan instruksi. Jika satu-satunya yang dipatuhi adalah jadwal kunjungan rutin, maka lupakan saja kesembuhan.
Kedua, jujur terhadap apa yang dirasakan. Mungkin gejala yang dirasakan cukup memalukan untuk diungkapkan dengan kata-kata, namun dokter perlu tahu untuk mendapat diagnosa dengan benar.
Ketiga, hilangkan favoritisme karena Anda dan dokter sudah saling kenal.
Seperti ditulis oleh Dr Robert Lambert, dokter keluarga yang aktif menulis untuk portal Psychology Today, dokter mempunyai banyak pasien dan bertindak profesional, termasuk menjaga hubungan emosional berjarak dengan semua pasiennnya.
Ia termasuk dokter yang tidak menyukai pasien yang bertindak sok penting dan menuntut pelayanan khusus karena kenal dengan dokter.
Keempat, jangan membebani para staf dengan hal-hal yang bukan porsi mereka. Banyak dokter yang cukup terkejut karena pasien lebih banyak menyampaikan keluhan kesehatan terhadap para staf dan perawat dibanding ke dokter.
Pasien memilih berobat ke dokter tertentu atas dasar kepercayaan. Namun pada kenyataannya banyak pasien yang bertahan pada salah satu dokter karena tidak ingin merusak hubungan, atau karena rekomendasi. Padahal jika tidak nyaman atau kurang percaya dengan dokter tersebut, segera cari dokter lain yang lebih pas di hati.
Perlu dicatat, bahwa mengajukan banyak pertanyaan ke dokter bukan berarti meragukan kemampuan. Selain ingin mengetahui lebih banyak seputar penyakit, juga untuk membangun rasa saling percaya.
Selanjutnya, jangan beranggapan bahwa dokter memanggil Anda dan keluarga hanya bila ada masalah kesehatan serius. Pada kenyataannya, kantor praktek dokter tidak melulu untuk urusan medis.
No comments:
Post a Comment