Monday, September 15, 2008

Habiburrahman el-shirazy lahirkan tujuh karya

Penulis novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) Habiburrahman El Shirazy atau dikenal dengan sebutan Kang Abik semasa di sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) dan di tempat tinggalnya. Ia merasa marah sekali saat menonton televisi acara infotainment yang memberitakan film AAC.

Pasalnya pemberitaan karya besarnya itu diberitakan satu-satunya karya Kang Abik, padahal pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 30 September 1976 tersebut telah melahirkan tujuh novel dan tiga di antaranya berhasil di filmkan.

”Saya marah sekali kepada wartawan infotainment itu, sebab dia itu gak tahu apa-apa tentang karya-karya saya, saya sudah punya tujuh cerita kok dibilang satu,” ujar Kang Abik kepada wartawan beberapa waktu lalu di Masjid Agung Badrul Kamal Pemerintah Kota Depok.

Dengan adanya pemberitaan itu Kang Abik mengklarifikasinya di dalam Masjid setelah sholat dhuhur yang berlokasi di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Pemerintahan Kota Depok itu.

Menurut sastrawan religi tersebut klarifikasi saja tidak cukup, supaya wartawan lebih mengenal siapa dirinya dan karya-karya besarnya, Pria alumnus Universityas Al Azhar Kairo tersebut, berniat, selalu mengajak wartawan jika karya-karya bedsarnya di filmkan. Dan dia pun membawa beberapa wartawan ke lokasi syuting film 'Ketika Cinta Bertasbih'.

Pantaslah bila Kang Abik berbangga hati dirinya menjadi besar berkat karya-karyanya yang difilmkan. Satu lagi yang akan difilmkan adalah berjudul dari 'Sujud ke Sujud', kemungkinan akan ditayangkan di bulan puasa nanti. Selain itu juga rasanya dia orang yang lebih pantas dikenal daripada pemain film, produser dan sutradaranya.

Namun sayang Kang Abik dengan karyanya itu lebih dikenal di negeri Jiran daripada di negeri sendiri. Dia merasa di Indonesia aneh karena yang dikenal adalah aktor dan aktrisnya bukan penciptanya. Berbeda dengan di Malysia dan Brunei Darussalam, di negara tetangga karya dia sangat dikenal bahkan menjadi best seller yang digemari.

Siapa (red—terkenal)

Sebuah karya yang besar bisa mengubah seseorang dari bukan siapa-siapa menjadi Siapa dengan "S" besar (red—terkenal). Lewat karyanya, AAC, saat ini dia menjadi salah seorang novelis yang cukup ternama di negeri ini. Kang Abik, bukan penulis baru. Cukup banyak novel yang telah ditulis dan diterbitkannya. Rata-rata karyanya bernuansa agamis sesuai background-nya sebagai santri.

Sebelum AAC yang melambungkan namanya, Kang Abik menulis 'Bercinta Untuk Surga', 'Di Atas Sajadah Cinta', 'Pudarnya Pesona Cleopatra',' Dalam Mihrab Cinta', dan 'Ketika Cinta Bertasbih' jilid satu dan dua.

Film AAC laku keras di masyarakat. Bukan hanya remaja, film itu juga ditonton orang-orang penyelenggara negara bersama keduataan asing yang berada di Indonesia terkenal di negeri ini. Sebut saja, Presiden RI SBY dan Istri, mantan Presiden RI B.J. Habibie dan Wapres Jusuf Kalla.

Kekuatan AAC memang terletak pada jalinan cerita yang berurut. Itulah ciri khas dari setiap tulisan Kang Abik semua ditulis peristiwanya secara berurut.

Bukan hanya filmya yang laku keras. Novel yang diterbitkan tahun 2005 itu juga menjadi best seller dalam waktu cukup singkat.

Lalu, apa kiat suksesnya dalam menulis karya sastra? Pertama, harus punya niat yang kuat. Kedua, berani menulis. "Banyak orang yang punya niat tapi tidak berani menulis. Kiat lainnya adalah menulis, menulis, dan menulis," sarannya
Mulai Menulis Dari Kecil

Di dalam acara klarifikasi itu Kang Abik mengatakan setiap orang harus punya keahlian, terutama menulis. Dia sendiri sejak kecil sudah mulai menulis.

Saat masih di Tsanawiyah ia sering membuat tulisan dan disuruh oleh gurunya untuk membuat majalah dinding (mading), agar semua karya-karyanya serta teman-temannya tertampung dan dapat dinikmati bersama.

Dia merupakan lulusan pesantren di Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Di pesantren itulah, bakat menulis mulai terasah. Dia banyak belajar syi'ir-syi'ir Arab dan ilmu balaghoh (sastra Arab) yang mengasah kemampuannya menuangkan ide dalam tulisan.

”Di sekolah itu mulanya saya berkenalan dengan sastra. Kemudian, didukung dengan belajar di madrasah program khusus di Surakarta. Di sana saya mendirikan teater bersama beberapa teman. Saya sebagai penulis skenario dan sutradara," papar Kang Abik.

Kang Abik, pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se- Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006.

Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Selama di Kairo sebagai mahasiswa Kang Abik seperti mahasiswa lainnya sangat banyak membutuhkan biaya hidup, kuliah serta kegiatan lainnya, namun ia tidak mau meminta uang kepada orang tuanya. ia memilih mencari uang di negeri Spinx itu.

Saat masih kuliah di Al Azhar, Kang Abik diberikan proyek oleh pihak Kedutaan untuk mentranslate dan mengedit tulisan yang akan dijadikan buku sebanyak 2000 halaman. Ia senang diberikan tugas karna mendapatkan imbalan yang sangat besar bila dibanding bekerja di Indonesia selama dua tahun.

Meskipun senang, bukan berarti tidak ada masalah, muncul masalah baru, dia tidak mempunyai komputer untuuk mengedit dan mengerjakan semua proyeknya itu. Akhirnya ia mencoba untuk membeli komputer bekas milik teman kuliahnya yang satu kost. Pertama sahabatnya itu tidak mau menjualnya karena sayang dan masih membutuhkannya, sampai ketriga kalinya barulah Kang Baik berhasil membekli komputer bekas itu. Meskipun bekas yang penting masih bisa dipakai pikir Kang Abik waktu itu.

Semua yang dialami Kang Abik selama kuliah dan mengerjakan proyek tulisan yang diberikan dari pihak kedutaan, dia tuangkan dalam cerita AAC dan diabadikan dalam bentuk novel.

Sekarang karya-karya Kang Baik semakin banyak, sebab penulis yang juga merupakan seorang da’i tersebut tidak akan pernah berhenti menulis, meskipun seumpama kedua tangannya harus diamputasi.

Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.

Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih 1 (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening], dan Bulan Madu di Yerussalem.

Di Kairopun Juga Menulis

Kang Abik adalah sosok yang tidak hanya gemar menulis, tetapi ia juga sangat gemar berirganisasi, maka dia salah satu lulus Kairo yang cumloude dan organisatoris.

Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Kairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti “Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua” yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu, ia berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan tersebut. Pernah aktif di Mejelis Sinergi Kalam (Masika) Ikatan Cendikiaean Muslilm Indonesia (ICMI) Orsat Kairo (1998-2000). Pernah menjadi koordinator Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastrawan muda ini pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.

Selanjutnya, bakat sastranya terus terasah saat belajar di Al Azhar University, Kairo, Mesir. Di sana, dia banyak mempelajari karya dan literasi karya ulama terkenal dari berbagai dunia. "Banyak yang saya dapat saat saya belajar di Mesir," tuturnya.

Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo).

Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), Dan lain-lainnya.

Pulang

Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu.

Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).

Sepulang dari Mesir, dia meneruskan hobi di bidang sastra. Kang Abik menulis beberapa cerpen yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul Kisah-Kisah Islami. Selain menulis, Kang Abik mengajar di Madrasah Aliyah Program Keagamaan Madrasah Aliyah (MA) Negeri 1 Yogyakarta.

Pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedi Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).

Namun, sebuah kecelakaan yang terjadi pada tahun 2003 menjadi titik balik hidupnya. Saat akan pulang ke rumahnya di Semarang, dia mengalami kecelakaan di Magelang. Kaki kanannya patah sehingga dia tidak bisa mengajar lagi dan dia harus menggunakan tongkat penyangga, sampai akhirnya sembuh bisa berjalan lagi secar anormal seperti sekarang in.

Saat sakit itulah, Kang Abik menumpahkan waktu untuk menulis novel AAC dalam kondisi yang memang saya tidak bisa ke mana-mana. Siang malam saya nulis novel ini," katanya.

Dia mengaku inspirasi AAC itu berasal dari ayat Alquran Surat Al-Zuhruf ayat 67. Dalam surat tersebut, Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang saling mencintai satu sama lain pada hari kiamat akan bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.

"Jatuh cinta dan saling mencintai tetap akan bermusuhan juga pada hari kiamat, kecuali orang yang bertakwa. Jadi, hanya cinta yang bertakwa yang tidak mengakibatkan orang bermusuhan. Itu yang kemudian menjadi renungan saya. Saya pengin juga menulis novel tentang cinta, tapi yang sesuai dengan ajaran Islam, yang menurut saya benar," ungkapnya.

Kang Abik mengakui, setiap karyanya merupakan perpaduan antara sastra dan pesantren. Dia banyak mengambil literasi dan rujukan karya ulama terdahulu. "Rujukan saya adalah karya para ulama dulu. Pedoman menulis saya adalah Alquran. Dengan Alquran, Insya Allah orang akan selamat dan sukses," tuturnya.

Lalu, apa kiat suksesnya dalam menulis karya sastra? Pertama, harus punya niat yang kuat. Kedua, berani menulis. "Banyak orang yang punya niat tapi tidak berani menulis. Kiat lainnya adalah menulis, menulis, dan menulis," sarannya.

Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya dan pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia bersama adik dan temannya. Iaw/Berbagai Sumber

1 comment:

  1. assalamu alaikum,,,
    saya agung, orang jogja. Kebetulan saya juga nunggu versi bukunya kang abik. Tapi dimana nyarinya? Kalau boleh, munculin sinopsisnya.

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...