Saturday, September 13, 2008

Jual beli Database di Internet

Menurut Priyadi Iman Nurcahyo, seorang praktisi sekaligus pengamat informatika memaparkan dalam blogsitenya www.priyadi.net seputar kemungkinan penipuan berkedok lowongan kerja yang bertujuan mendapatkan database pribadi si pelamar. Bagaimana database itu dimanfaatkan? Inilah menariknya, ternyata setiap database yang didapat mempunyai nilai jual, dari mulai 100 – 500 rupiah.
Bayangkan jika tiap minggunya didapat 500 database dari setiap surat elektronik. Salah satu nara sumber kami, sebut saja Mpoes, nama samaran, dalam waktu satu bulan mampu mendapatkan 4500 database segar dengan memanfaatkan internet.

Database tadi dibeli oleh pembeli yang kebanyakan berasal dari kalangan perusahaan. Database tersebut dimanfaatkan berbeda-beda. Bagi perusahaan asuransi dan bank database tersebut dimanfaatkan untuk mencari nasabah, sedang bagi perusahaan pialang dimanfaatkan untuk mencari investor. Begitu pula dengan perusahaan outsourcing tenaga kerja dijadikan referensi bagi klien mereka. Menariknya lagi ternyata perusahaan tersebut tidak langsung secara resmi membeli database tadi, melainkan melalui oknum pegawainya.
Transaksi jual beli database itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Setidaknya antara penjual dengan pembeli sudah saling mengenal. “Biasanya saya menjual database pada orang yang sudah saya kenal, kalaupun kenal melalui internet saya selidiki dulu orangnya,” katanya. Selanjutnya dibuat pertemuan yang dilakukan hingga dua kali sampai proses transaksi. Itu pun tidak lantas mendapatkan database. Data yang berisi data-data lengkap orang lain disimpan dalam notebook. “Dan pada saat ketemuan saya transfer kedalam flashdisk si pembeli. Ada masa garansi 1 minggu untuk mengecek validitas data misalnya kelengkapan alamat dan nomor telepon,” papar Mpoes.
Selain menjual database, Mpoes juga menjual aplikasi data berupa formulir onnline, website palsu, dan email target database. “Biasanya saya hanya dapat data emailnya saja, lalu untuk urusan menjebak, ya pinter-pinternya pengguna,” jelasnya. Caranya, Mpoes membuat aplikasi yang menawarkan barang gratis, partisipasi lelang gratis, termasuk properti dan otomotif hingga voucher makan, liburan gratis, sampai seks gratis. Hasilnya, banyak yang tergiur untuk mendapatkannya.
Rupanya, transaksi jual beli database di internet sudah menjadi rahasia umum. Rita (bukan nama sebenarnya) karyawan dari salah satu perusahaan pialang di gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) mengaku mengetahui praktik jual beli database yang marak dikalangan rekan-rekannya. Ia sendiri kerap bertransaksi database. Namun cara mendapatkannya ia lakukan dengan sistem “barter” database dengan kenalannya. “Lebih enak kalau barter dengan orang bank, apalagi kalau yang dikasih data nasabah kartu kredit, kan lebih pasti jumlah kekayaannya,” ujar Rita.
Menurut Rita perusahaannya mematok target untuk mendapatkan calon investor yang ingin menanamkan modal minimal 100juta rupiah. Selain dari database nasabah kartu kredit bank, Rita juga terkadang membeli database pembelian apartment dari perusahaan properti. “Memang lebih mahal ketimbang membeli database di internet yang hanya berkisar 100 – 500 rupiah per data, namun akurasinya cukup memuaskan karena rata-rata yang beli apartment kan orang berduit,” tambah Rita yang mengaku pernah membeli database pembelian apartemen senilai 2000 rupiah per data. Database yang dijual di internet dalam segi kuantitas memang lebih banyak, sekali lepas bisa mencapai 3000-5000 database setiap bulan.
Lain halnya dengan Helmi (bukan nama sebenarnya) yang juga karyawan dari salah satu perusahaan pialang di BEJ, Helmi mengaku lebih cenderung membeli database di internet, karena dari segi kuantitas lebih banyak, murah, dan datanya segar. Helmi harus mengeluarkan kocek 500 ribu untuk 5000 data setiap kali pembelian. Helmi juga sering menjual database yang dimilikinya kepada marketing perusahaan telekomunikasi dan perusahaan tv kabel asal Malaysia. “Kadang saya jual lebih mahal, bisa sampai dua kali lipat, tergantung negonya aja,” tukas Helmi yang juga pernah menggunakan jasa dari Mpoes.
Sebenarnya, modus penipuan seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Di luar negeri justru lebih banyak orang yang tertipu. “makanya kalo ada orang bule yang coba menipu orang Indonesia dengan cara mengirim email konfirmasi pemenang undian berhadiah, saya suka heran, bukannya orang-orang disana lebih bloon dan kaya, kenapa pasang target orang Indonesia yang intuisinya cenderung lebih terasah” tambah Mpoes yang bekerja sebagai Product Development pada salah satu perusahaan swasta di Jakarta.
Saat ini kasus scam melalui iklan lowongan kerja dikoran memang banyak terjadi di Indonesia. Biasanya mereka menawarkan lowongan kerja dengan posisi menggiurkan hanya bermodalkan ijazah SLTA. Jadi, hati-hati deh kalo ada iklan lowongan kerja seperti itu. Nin.

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...